NovelToon NovelToon
SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

Status: tamat
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA


Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.

Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.

Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Rahman mengarang cerita dengan wajah yang sangat meyakinkan.

Maya dan Rina saling pandang kebingungan.

Mereka tidak merasa punya hutang sebesar yang disebutkan oleh Rahman.

Namun mereka memilih diam, menyadari bahwa bapak kos mereka sedang merencanakan sesuatu.

"Lalu apa urusannya denganku?!"

"Pokoknya hari ini mereka harus bayar!" sergah preman gondrong di belakang Bang Jali.

"Urusannya adalah, semua uang yang mereka miliki itu hak milikku sepenuhnya!"

"Setiap sen uang mereka adalah untuk membayar hutang kepadaku."

"Kalau kalian merampas uang mereka, itu sama saja kalian merampok uang milikku!" bentak Rahman tepat di depan wajah Bang Jali.

Bang Jali sedikit terkejut dengan gertakan pria tua yang biasanya selalu menghindar itu.

"Bapak jangan cari masalah dengan saya ya!"

"Saya bisa pukuli bapak sampai masuk rumah sakit sekarang juga!"

Mendengar ancaman itu, Rahman sama sekali tidak mundur.

Ia justru memajukan dadanya dan menepuk lehernya sendiri.

"Pukul aku sekarang juga, Jali."

"Pukul orang tua berumur enam puluh delapan tahun ini sekeras yang kau bisa."

Ucap Rahman dengan tatapan mata yang sangat tajam dan menantang.

"Bapak pikir saya tidak berani?!" Bang Jali mengangkat tangannya bersiap memukul.

"Pukul saja, tapi ingat satu hal."

"Tulangku ini sudah keropos, sekali kau memukulku, aku jamin aku akan langsung mati di tempat."

"Dan saat aku mati, kau dan anak buahmu ini akan membusuk di penjara dengan pasal pembunuhan berencana, bukan sekadar pemerasan."

Rahman tersenyum sinis, memainkan logika hukum untuk menakut-nakuti preman kelas teri itu.

Tangan Bang Jali langsung tertahan di udara.

Nyali preman itu seketika ciut membayangkan ancaman penjara seumur hidup hanya gara-gara uang receh.

Ia tahu betul bahwa memukul orang tua renta memang bisa berakibat fatal.

"Lagipula, kau tidak lihat sekelilingmu ini?"

Rahman melanjutkan serangannya sambil menunjuk ke arah tembok biru dan mesin cuci baru di belakang.

"Kau pikir orang tua pelit sepertiku mau mengeluarkan uang puluhan juta untuk mengecat tembok dan beli fasilitas mewah?"

Rahman memancing rasa penasaran Bang Jali.

"M-memangnya uang dari mana?" tanya Bang Jali mulai ragu.

"Asal kau tahu, kontrakan ini baru saja dibeli sahamnya oleh keponakan Komandan Surya dari kepolisian resor kota."

"Aku sekarang hanyalah orang suruhan yang menjaga aset propertinya."

"Kalian lihat di pojok atap sana? Ada CCTV kecil yang langsung terhubung ke ponsel komandan."

Rahman menunjuk asal ke sebuah kabel antena TV yang putus di atap.

Bang Jali dan anak buahnya langsung menelan ludah dan melihat ke arah yang ditunjuk.

Wajah mereka berubah pucat pasi mendengar nama petinggi polisi dibawa-bawa.

"Jadi kalau kau mau memeras di sini, silakan berurusan langsung dengan kepolisian resor besok pagi."

"Sekarang, tentukan pilihanmu."

"Pergi dari aset milik polisi ini, atau aku teriak sekarang biar terekam CCTV kalau kau memukulku?" ancam Rahman dengan nada sangat tenang.

Anak buah berambut gondrong itu langsung menarik jaket Bang Jali.

"Bang, gawat Bang, kita mending cabut saja."

"Saya tidak mau masuk sel lagi, Bang," bisik anak buah itu ketakutan.

Bang Jali mendengus kesal sekaligus panik.

Ia tahu bapak kos tua ini memang terkenal licik, tapi ia tidak berani mengambil risiko jika cerita tentang polisi itu benar adanya.

"Cih, awas bapak ya!"

"Kali ini bapak beruntung, kita pergi dari sini!" perintah Bang Jali kepada anak buahnya.

Keduanya langsung berlari menuju motor bebek mereka dan menyalakan mesin.

Brummm!

Mereka kabur terbirit-birit meninggalkan halaman kontrakan tanpa menoleh ke belakang lagi.

Maya dan Rina langsung menghela napas lega yang sangat panjang.

Lutut Maya sampai lemas hingga ia terduduk di kursi kayunya.

"Terima kasih banyak, Pak Rahman."

"Kalau tidak ada bapak, saya tidak tahu harus bagaimana tadi," ucap Rina sambil menangis haru.

"Ya Tuhan, bapak tadi keren sekali."

"Saya baru tahu kalau bapak jago berakting dan mengancam orang," puji Maya dengan mata berbinar kagum.

Rahman segera memutar bola matanya malas.

Ia harus segera memperbaiki citranya agar tidak terlihat seperti pahlawan yang baik hati.

"Siapa yang bilang aku berakting dan menolong kalian?"

"Aku serius saat bilang semua uang kalian adalah milikku!"

"Kalian itu ladang uangku, aku tidak akan biarkan preman tengik mengambil jatah uang sewaku bulan depan," sungut Rahman dengan wajah galak.

Maya hanya tersenyum miring mendengar alasan tsundere bapak kosnya itu.

"Iya, iya, terserah bapak saja."

"Yang penting uang kami aman dan laptop saya tidak jadi disita," balas Maya santai.

"Jangan senang dulu anak kuliahan."

"Karena aku sudah menyelamatkan uang kalian hari ini, aku akan menaikkan biaya giling mesin cuci jadi dua belas ribu mulai besok!"

"Anggap saja itu biaya perlindungan dari tuan tanah," ancam Rahman sambil berbalik menuju kamarnya.

"Yah, Pak Rahman kok malah begitu sih!" protes Maya merengut kesal.

Namun Rina hanya tersenyum maklum.

Ia tahu betul bahwa ancaman bapak kosnya itu hanyalah cara untuk menutupi kebaikannya.

Ceklek.

Rahman masuk ke kamarnya dan segera mengunci pintu dari dalam.

Begitu pintu terkunci, kakinya yang sedari tadi ditahan agar tetap tegak akhirnya lemas juga.

Bruk.

Rahman duduk bersandar di balik pintu sambil memegang dadanya yang berdebar kencang.

"Gila, jantungku rasanya mau copot berhadapan dengan preman pasar tadi."

Ting!

[Misi Utama Harian Selesai.]

[Pengguna berhasil melindungi penyewa dan mengusir ancaman menggunakan kecerdikan tingkat tinggi.]

[Penyewa Maya dan Rina merasa sangat aman berada di bawah perlindungan pengguna.]

[Hadiah: Tambahan umur 5 hari telah didistribusikan.]

[Hadiah: Skill Pasif Aura Tuan Tanah berhasil diaktifkan.]

"Skill pasif apa lagi ini?" gumam Rahman bingung.

[Penjelasan Skill Aura Tuan Tanah:]

[Setiap kali pengguna menagih hutang atau memberikan ancaman verbal, lawan bicara akan merasakan tekanan psikologis yang membuat pengguna terlihat berwibawa dan menakutkan.]

[Efek ini sangat berguna untuk menertibkan penyewa yang bandel atau orang luar yang mengganggu.]

Rahman tersenyum lebar membaca penjelasan sistem tersebut.

"Wah, ini baru hadiah yang sangat berguna."

"Dengan skill ini, tidak akan ada lagi penyewa yang berani menunda pembayaran uang kos bulanan."

Rahman langsung membayangkan dirinya menagih uang sewa dengan gaya mafia kelas kakap.

Kini sisa umurnya terus bertambah, dan ia juga mendapatkan kemampuan baru yang menguntungkan bisnisnya.

Siapa sangka, berbuat baik demi sistem ternyata membawa banyak kemudahan dalam hidupnya yang selama ini terasa sunyi.

1
REY ASMODEUS
sistemnya pelit kasih hadiahnya bisa gini thor : 1 . peremajaan kulit
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.

ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...
REY ASMODEUS
lanjutkan........ pilih nomor 2..... 🤣🤣🤣
Nissa Safira: SIAP KAK! Nomor 2 emang paling memuaskan 🤣🤣
Lanjut ya kak, besok Budi bangun lihat gepokan duit di bantal + surat "jangan mabuk lagi atau sewa naik 3x lipat" pasti nangis kejer peluk kaki Rahman.
Makasih kak udah pilih nomor 2! malam ini saya lanjutin lagi misi renovasi kamar mandi gratisnya 🤣🤣😁🙏
total 1 replies
REY ASMODEUS
saya akan lawan,,, hidup rahman💪💪💪💪💪
REY ASMODEUS
siap tuan takur 🤣🤣
Nissa Safira: Siap! Bagus. Karena kamu siap, uang sewa komen naik 100rb ya. Bayar pake love & bintang 5. Jangan lupa setoran! 🤣🤣
total 1 replies
REY ASMODEUS
rasain loe tuan takarrrr🤣🤣🤣🤣
Nissa Safira: Rasain emang kak 😂 50rb aja pelitnya minta ampun, giliran sisa umur 7 hari baru panik. Tungguin kak bakal nangis tuh si rahman 🤣🙏
total 1 replies
Diana Lely
semangat thor
Nissa Safira: Semangat juga buat kakak! 🔥🔥
Makasih banyak kak udah mampir di kos pelitnya Pak Rahman🥰
Doain Rahman biar gak jantungan lagi pas disuruh sedekah🤣🤣
total 1 replies
xebeck D ron
Yoo novel baru
Nissa Safira: Hallo kak 🤣🔥 Iya kak novel baru😂
Selamat datang di kos-kosan dan kontrakan paling pelit se-Indonesia
Kenalin kak, ini Rahman 68 tahun bapak kos paling perhitungan, surga neraka baginya cuma soal uang sewa🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!