"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.
Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!
Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Logika yang Mematahkan Keraguan
“Kate,” panggil Salvatore begitu ia menyelesaikan sarapan paginya.
Pria yang sudah rapi dengan seragam militernya itu meletakan peralatan makannya kembali dengan rapi diatas meja, memandang istrinya dengan tatapan penuh rasa penasaran.
Sebenarnya, bohong kalau Salvatore tidak sadar kalau akhir-akhir ini Kate berubah dan banyak diam. Sangat jauh dari Kate yang dia tahu, Kate yang berisik dan banyak tingkah. Padahal, hal-hal itu selalu mengisi hari-hari Salvatore yang biasanya kaku menjadi lebih berwarna.
Kini, begitu hari-harinya kembali hening dan kaku, barulah Salvatore menyadari ada yang salah dengan istrinya.
Setelah menahan diri untuk tidak bertanya, akhirnya Salvatore ada di titik ini juga. Dia terlampau penasaran untuk bersikap biasa saja seperti biasanya.
“Ada yang ingin Anda bicarakan, Jenderal?” tanya Kate.
Salvatore tertegun. Anda? Bahkan dia lebih suka dipanggil “Jenderal Batu” daripada disapa dengan panggilan seformal itu. Dia merasa mereka agak menjauh.
“Apa ada yang salah dengan harimu akhir-akhir ini?” Lanjut Salvatore bertanya. Murni karena dia memang tidak tahu apa yang salah, bukan sedang menguji.
Kate terdiam, tangannya yang mencoba menggapai cangkir tehnya seketika menggantung di udara. Apakah akhirnya dia sadar? Batinnya berharap.
Tapi, Kate tidak akan berharap secepat itu. Tidak mungkin, dia tidak bisa berharap secepat itu atau dia akan dihancurkan secepat kilat juga. Sebelum membalas, Kate sempat menegakkan badannya.
Ia berdehem pelan. “Apa maksudnya, Jenderal?” katanya bertanya tenang.
Salvatore menatap Kate lama. Dia jelas tahu Kate berubah, tapi dia tidak mengerti apa alasan dari perubahan sifat yang ditunjukkan istrinya. “Kamu tampak lebih pendiam akhir-akhir ini,” ujar Salvatore akhirnya.
“Apa kamu baik-baik saja?”
Pertanyaan itu menggantung di udara. Jelas sekali dia tidak mengerti, gumam Kate dalam hati. Pupus sudah harapannya bahwa mungkin Salvatore sudah mengerti.
“Aku baik-baik saja. Hanya saja, aku memang cukup lelah akhir-akhir ini. Mungkin itu alasannya aku agak berbeda.”
Kate membalas dengan sedikit kebohongan. Lelah? Diamnya tidak sesederhana hanya karena lelah. Tetapi dia juga tidak mau menjelaskan lebih rinci tentang alasan yang sebenarnya.
Salvatore menatap istrinya datar, seperti biasanya. Namun kalau dilihat dari dekat, ada guratan kelegaan yang terlihat. “Kamu harus banyak beristirahat, Kate. Jika ada yang membuatmu tidak nyaman, katakan saja apa yang kamu butuhkan.”
Kate hanya mengangguk kecil.
Berbarengan dengan itu, Salvatore bangun dari kursinya. Salvatore membenahi posisi seragam militernya, merapikan sarung tangan kulit yang melekat di tangannya. Pengakuan Kate tentang rasa lelah sudah cukup rasional baginya. Dalam logika berpikirnya yang lurus dan lugas, kata 'baik-baik saja' berarti memang tidak ada masalah, dan 'lelah' berarti sang istri hanya butuh istirahat yang cukup.
Pria itu melangkah mendekati sisi meja Kate, lalu membungkukkan badannya sedikit. Seperti rutinitas biasanya, Salvatore mendaratkan satu kecupan singkat yang hangat di dahi istrinya.
"Kalau begitu, beristirahatlah hari ini. Jangan memaksakan diri," ucap Salvatore dengan nada bariton yang tenang, benar-benar merasa lega dan yakin bahwa semuanya sudah kembali baik-baik saja.
Pria itu menegakkan tubuhnya kembali, memberikan satu tatapan datar yang hangat sebelum berbalik melangkah meninggalkan ruang makan dengan langkah tegap dan pasti.
Sementara itu, Kate hanya bergeming di tempatnya, menatap punggung suaminya yang perlahan menghilang di balik pintu—menyadari bahwa bagi Salvatore, masalah itu telah selesai sebelum pernah benar-benar dimulai.
***
Hari ini pun, pekerjaan Salvatore tidak jauh-jauh dari tempat pelatihan militer. Langkah kakinya yang tegap memasuki area barak yang sudah ramai dengan para ksatria muda yang sedang berlatih dengan penuh semangat, mereka juga sempat memberikan sapaan penuh hormat kepada sang jenderal agung.
“Hari ini kau lebih lambat sepuluh menit, Sal,” sapa suara yang sangat Sal kenali.
Sal menoleh ke sumber suara. Sonia berdiri tegas dengan seragam militernya, bersedekap dada menghadap ke arah lapangan sambil memperhatikan para ksatria muda berlatih dan sesekali menegur jika ada gerakan yang salah.
“Oh, kau sudah disini untuk mendisiplinkan mereka seperti biasanya ya, Sonia?” Ujar Salvatore membalas sapaan Sonia.
Sonia berbalik, senyumannya terbentuk di bibirnya yang berwarna merah pekat. “Jadi…” dia menatap Salvatore dari atas sampai bawah. “...apa yang menyebabkan jenderal agung yang selalu tepat waktu sepertimu tiba-tiba terlambat sepuluh menit?” Lanjutnya kembali bertanya.
Salvatore melangkah mendekati, mensejajarkan dirinya di samping Sonia, turut memperhatikan para ksatria muda di depannya. “Hanya masalah kecil dengan Kate.”
“Oh?” Sonia menaikan satu alisnya. “Nyonya Ardan? Ada yang salah?” Tanyanya sedikit tertarik dengan topik pembicaraan ini.
“Dia akhir-akhir ini lebih banyak diam,” balas Salvatore membuka pembicaraan. Dia menaruh tangannya di atas pagar pembatas, memandang lurus sambil mengingat-ingat tingkah istrinya. “Aku merasa ada yang aneh.”
Sonia turut serta menaruh tangannya di pembatas pagar, lengannya hampir menyentuh lengan Sal. "Oh ya? Perempuan pada umumnya memang begitu, Sal. Kalau ada masalah, mereka tidak mau bicara langsung dan malah berharap kita menebak sendiri. Benar-benar membingungkan dan tidak efisien—sangat berlawanan dengan cara kerja kita yang terbiasa butuh kejelasan.”
Perempuan itu menoleh ke arah Sal, melanjutkan kalimatnya. “Memangnya kau sudah bertanya langsung padanya?”
Salvatore menghela napas pelan. “Sudah. Dia bilang dia baik-baik saja dan hanya kelelahan.”
Sonia mendengus kecil, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. Wanita itu menggeser posisinya sedikit, mempertegas jarak kedekatan di antara mereka berdua di pembatas lapangan.
"Nah, itu dia masalahnya," kata Sonia ringan, nadanya terdengar sangat rasional dan meyakinkan di telinga Salvatore. "Kalau dia sendiri sudah bilang baik-baik saja dan hanya lelah, ya berarti memang itu masalahnya, Sal. Jangan dibuat rumit dengan menerka-nerka hal yang tidak ada."
Salvatore terdiam. Sejenak, tatapannya menerawang ke depan, memperhatikan para prajurit yang saling beradu pedang. Jauh di dalam sudut pikirannya yang paling dalam, ada sebuah perasaan janggal yang tertinggal—sebuah insting kecil yang merasa bahwa jawaban 'lelah' dari Kate tidak sesederhana itu. Ada nada yang tertahan, ada sorot mata yang menyembunyikan badai.
Namun, sebelum keraguan itu sempat merayap lebih jauh ke dalam kepalanya, kalimat Sonia kembali meluncur dengan mantap, meruntuhkan kepekaan tipis yang hampir terbangun.
"Pikiranmu sudah terlalu penuh dengan strategi perbatasan dan kedisiplinan barak, Sal," sambung Sonia sambil menepuk pelan pembatas kayu di hadapan mereka. "Jangan membebani kepalamu lagi dengan hal-hal yang sudah jelas jawabannya. Kalau dia butuh waktu istirahat, biarkan dia istirahat. Mengartikan sesuatu di luar apa yang diucapkan wanita hanya akan membuatmu pusing sendiri."
Logika Sonia itu bekerja dengan sangat cepat di kepala Salvatore. Sebagai seorang jenderal yang terbiasa hidup dalam garis komando yang tegas, di mana perkataan adalah instruksi dan fakta adalah kebenaran, penjelasan Sonia terasa masuk akal dan efisien. Tidak ada gunanya memikirkan masalah yang oleh pemiliknya sendiri dikatakan tidak ada.
Salvatore mengangguk pelan, membiarkan keraguan tipis yang sempat mengganjal di dadanya buyar begitu saja. Keyakinannya kembali utuh bahwa istrinya hanya butuh waktu tenang.
"Ya... kau benar," balas Salvatore datar.
Pria itu meluruskan punggungnya, kembali memasang topeng dingin dan tegas seorang panglima militer. Ia mengalihkan sepenuhnya atensi pada barisan ksatria di lapangan, mengubur dalam-dalam sisa-sisa kepekaan yang tadi sempat mencoba mengetuk pintu logikanya.
Di bawah langit barak yang cerah, Salvatore memilih untuk percaya pada permukaan yang tenang, sama sekali tidak menyadari bahwa di balik pintu kamar utama kediaman mereka, badai es yang jauh lebih besar sedang dipersiapkan dalam diam oleh istrinya.
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭