NovelToon NovelToon
Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rizza Khan

Aisha Senjani mahasiswa matematika yang baru menyelesaikan pendidikannya di universitas luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. Setelah kurang lebih sebulan ia mengambil cuti untuk pulang ke tanah air, sejak menyelesaikan pendidikannya ia belum pernah sama sekali pulang kampung. Dihari kepulangannya ternyata di rumah sedang ada acara pernikahan sang kakak, ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.

Namun, sang kakak kabur disaat mempelai Pria dan rombongan sudah datang. Pihak pria tidak ingin membatalkan karena akan merusak nama baik keluarganya. Sehingga sang mempelai meminta Aisha jadi penggantinya.

Apakah Aisha akan menerima perkawinan tiba-tiba ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizza Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Ibu merangkul tubuh Melani yang terguncang hebat oleh isak tangis keputusasaan.

Usapan lembut jemari Ibu di bahunya seolah menjadi satu-satunya perlindungan yang tersisa bagi Melani di tengah reruntuhan dunianya.

Ibu menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca seraya mengelus punggung Melani.

"Sudah ya, Yah... Sudah," panggil Ibu lirih.

"Jangan dipojokkan terus Melaninya. Dia sudah kapok, Yah... Dia sudah mengerti kesalahan dia."

"Nggak bisa, Bu!" sahut Ayah dengan suara berat. "Nggak bisa Ayah diamkan begitu saja!"

Ayah lalu menurunkan pandangannya, menatap Melani yang tertunduk dalam-dalam dengan air mata yang tak henti-hentinya menetes membasahi pangkuan.

"Ayah melakukan ini semua demi kamu, Lani... Demi masa depan kamu!" ujar Ayah, "Kalau dari awal kamu bilang suka sama laki-laki itu... kalau dari awal kamu cerita sama Ayah dan Ibu kalau kamu menaruh hati sama Aditya... Ayah pasti akan menyetujuinya, Nak. Ayah akan buka pintu rumah ini lebar-lebar buat dia!"

Melani makin terisak, menyembunyikan wajahnya di bahu Ibunya yang hangat.

"Tapi coba kamu lihat sekarang..." lanjut Ayah seraya menunjuk lurus ke arah Melani.

"Ini yang kamu namakan cinta, Melani?! Ini yang kamu bela-belain sampai kamu tega membohongi orang tuamu sendiri?!"

Melani tidak sanggup menjawab.

"Ini bukan cinta!" tegas Ayah dengan suara menggelegar.

"Ini nafsu namanya! Kamu cuma dimanfaatkan sama nafsu dan rasa terobsesi laki-laki itu!"

Ayah berdehem keras, mengusap wajahnya yang memerah menahan amarah.

"Kalau dia memang laki-laki baik-baik... Dia bakal datang ke rumah ini secara terhormat! Dia bakal menemui Ayah, mengetuk pintu ini baik-baik, dan meminta kamu dari Ayah dengan cara yang sah dan mulia! Bukan malah merusak kamu seperti ini!"

Ibu mengusap air matanya sendiri yang meluncur pelan, lalu mengeratkan pelukannya pada Melani.

"Sekarang Ayah tanya sama kamu... Siapa yang paling rugi dari semua kekacauan ini, Melani?!" ujar Ayah tajam, suaranya kembali meninggi. "Siapa?!"

Melani hanya bisa menggeleng pelan di dalam pelukan Ibunya, suaranya tenggelam dalam tangis.

"Kamu!" bentak Ayah, menunjuk Melani. "Kamu yang paling rugi! Laki-laki itu bisa saja melenggang bebas tanpa beban, sementara kamu? Masa depanmu dipertaruhkan, nama baikmu hancur, dan kamu harus menanggung beban ini sendirian kalau Ayah dan Ibu tidak mengambil sikap!"

Ayah menarik napas panjang, memejamkan matanya sejenak seolah mencoba mengusir bayangan buruk yang hampir saja terjadi pada keluarga mereka.

"Untung Ibu cepat tahu kalau kamu sedang mengandung..." bisik Ayah.

"Coba kalau Ibu tidak tahu? Apa yang bakal kamu lakukan?! Kamu bakal gugurkan kandunganmu?!"

Pertanyaan itu menghantam ulu hati Melani begitu keras.

"Jawab Ayah, Melani!" desak Ayah. "Kamu mau gugurkan anak itu demi menutupi kelakuan kalian?!"

"Enggak, Yah... Enggak..." bisik Melani parau, menggelengkan kepalanya panik di tengah derasnya air mata. "Melani nggak pernah berpikir sampai sejauh itu, Yah..."

"Bagus kalau kamu masih punya otak!" seru Ayah getir, "Sudah dosa berzina... apa kamu mau menambah dosa lagi dengan membunuh nyawa yang tidak berdosa di dalam perutmu itu?! Mau jadi manusia seperti apa kamu, Melani?!"

Ibu menundukkan kepala, tak sanggup lagi menahan rasa perih yang menjalar di dadanya. "Sudah, Yah... Cukup, kasihan Melaninya..."

"Nggak, Bu! Biar dia sadar! Selama ini kita sudah beri dia perhatian lebih dari adiknya, tapi...apa yang telah ia perbuat." potong Ayah.

"Kamu sama sekali tidak memikirkan perasaan Ayah saat kamu melakukan perbuatan hina itu, Nak?"

Suara Ayah mendadak pecah di akhir kalimatnya.

"Kurang apa Ayah dan Ibu memberikan perhatian buat kamu?" tanya Ayah lirih, menatap Melani penuh kepedihan. "Fasilitas apa yang kurang? Kasih sayang apa yang tidak kamu dapatkan di rumah ini? Semua keinginanmu selalu kami dahulukan, semua kebutuhanmu kami cukupi!"

Melani memukuli dadanya sendiri yang terasa sesak luar biasa. Rasa bersalah yang teramat sangat kini meremas ulu hatinya tanpa ampun.

"Maafkan Melani, Yah... Maafkan Melani..." teriak Melani di sela tangisnya.

"Padahal Ayah sudah sering mengingatkan kamu..." tutur Ayah seraya menggelengkan kepala lambat.

"Berulang kali Ayah bilang sama kamu dan adikmu... jangan pernah gampang terbuai sama kata-kata manis dan janji cinta laki-laki! Laki-laki yang benar-benar tulus tidak akan pernah membawamu ke dalam kemaksiatan! Tapi apa? Kamu malah menelan mentah-mentah semua janji palsu laki-laki penipu itu!"

Ayah memalingkan wajahnya ke arah jendela ruang tamu. Helaan napas berat berembus dari dadanya yang naik turun.

"Ayah tidak bisa membiarkan kamu makin hancur," tegas Ayah kembali dengan suara rendah. "Penyesalanmu tidak akan bisa memutar balik waktu. Anak di dalam kandunganmu itu butuh kepastian, butuh status yang sah, dan butuh perlindungan."

Ibu menoleh menatap suaminya, lalu kembali menatap Melani seraya mengusap lembut sisa-sisa air mata di pipi putri sulungnya itu.

"Dengarkan Ayahmu ya, Nak..." bisik Ibu lembut. "Ini semua demi kebaikan kamu dan anak yang kamu kandung. Minta ampun sama Allah... Buka lembaran baru."

"Iya, Yah... Bu..." bisik Melani pasrah.

"Melani akan turuti semua kata Ayah... Melani siap menikah dengan Zavran..."

Ayah menoleh sekilas, menatap putrinya. Meski rasa kecewa itu masih membakar dada, ketegasan seorang kepala keluarga tetap harus dijalankan.

"Masuk ke kamarmu," perintah Ayah pelan. "Mulai besok, tidak ada lagi pembahasan tentang laki-laki itu. Fokus persiapkan dirimu untuk pernikahan minggu depan."

Melani mengangguk pelan. Dengan tubuh yang gemetar dan langkah yang gontai, ia perlahan beranjak dari sofa. Didampingi Ibu yang terus memegangi lengannya, Melani melangkah memasuki kamarnya.

Pintu kayu itu tertutup rapat, menyisakan Ayah yang terduduk sendirian di ruang tamu yang hening, menatap dua cangkir teh yang kini telah dingin sepenuhnya.

1
Rian Moontero
mampiir👍
Rizza: Makasih udh mampir Kak🙏 semoga suka ceritanya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!