Bosan dengan kisah cinta biasa? Siap-siap dibuat gemas, terharu, dan ketagihan lewat kisah Hazelia!
Gadis muda yang super ceria, tengil, dan penyayang ini terpaksa menunda mimpinya demi menjadi office girl di perusahaan raksasa demi membiayai pengobatan sang ibu dan sekolah adiknya. Siapa sangka, ketidaksengajaannya menabrak sang CEO dingin, Tuan Mahrup, justru memercikkan benih cinta tak terduga!
Dari ruang pantry penuh gosip hingga diangkat menjadi asisten pribadi, Hazel harus menghadapi cemburu rekan kerja, tuduhan miring, hingga kembalinya masa lalu Sang Tuan yang penuh rahasia. Bisakah ketulusan gadis sederhana ini meluluhkan hati pria sekaku es dan melewati badai ujian cinta mereka?
Penasaran bagaimana kelanjutan hubungan beda kasta yang penuh drama dan kejutan ini? Yuk, baca selengkapnya dan ikuti liku-liku cinta Tuan Mahrup dan Hazel sekarang juga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OGMTM-28
..."Hazel..." bisik Hazel pelan sebelum tubuhnya limbung ke samping.
Sebelum tubuh Hazel menyentuh lantai, dengan refleks secepat kilat Mahrup melangkah maju dan menangkap tubuh mungil gadis itu ke dalam dekapan hangatnya.
Mahrup dengan sigap memapah Hazel, menggendongnya pelan keluar dari ruang perawatan VIP agar tidak mengganggu istirahat Ibu Maria.
Pria itu membawa Hazel menuju bangku taman rumah sakit yang sepi di bawah naungan pohon rindang, membawa hembusan angin malam yang sejuk untuk memulihkan kesadaran gadis itu.
Hazel perlahan membuka matanya, mengerjap canggung saat menyadari kepalanya tersandar pasrah di dada bidang Mahrup.
Kehangatan tubuh sang CEO dan detak jantung pria itu yang berdegup kencang terasa begitu nyata di pipinya.
"T-Tuan... maaf,Saya sedikit Pusing.." bisik Hazel hendak menegakkan tubuhnya dengan canggung.
Namun, jemari hangat Mahrup menahan lembut bahu Hazel, tak membiarkan gadis itu menjauh. "Tetap di sini, Hazelia.Liat Kamu belum pulih sepenuhnya."
Suara rendah Mahrup yang sarat akan perhatian murni itu mendadak meruntuhkan seluruh benteng ketahanan emosi yang selama ini Hazel bangun rapat-rapat.
Hazel menyembunyikan wajahnya di balik dada Mahrup, meremas ujung jas pria itu, dan menangis terisak-isak. Lelehan air mata hangatnya merembes menembus kemeja putih Mahrup.
"Hazel takut banget, Tuan..." tangis Hazel pecah, suaranya parau dan begitu rapuh. "Hazel takut Ibu kenapa-napa... Hazel takut sendirian di dunia ini..."
Mahrup terpaku. Untuk pertama kalinya, ia melihat betapa rapuhnya sosok gadis yang selama ini selalu tersenyum tegar dan bertingkah konyol demi menghibur orang lain.
Tanpa ragu sedikit pun, Mahrup melingkarkan kedua lengan kokohnya, merengkuh Hazel semakin erat ke dalam pelukannya. Tangannya yang besar mengusap lembut kepala Hazel, memberikan perlindungan mutlak tanpa sekat.
Di bawah naungan pendar lampu taman dan semilir angin malam, Mahrup menunduk menatap puncak kepala Hazel. Kehangatan yang membakar dadanya saat ini bukan lagi sekadar rasa kasihan atau tanggung jawab seorang atasan. Detak jantungnya yang bergemuruh liar di balik dada adalah bukti nyata yang tak bisa lagi ia sangkal.
Saya sudah jatuh cinta padamu, Hazelia... sepenuhnya, bisik batin Mahrup penuh kepasrahan, mengakui perasaan yang selama ini ia kunci rapat di dasar hatinya.
Pria yang dulu bersumpah tak akan pernah memberikan hatinya lagi pada wanita mana pun kini ternyata Hatinya malah kepincut dengan Asisten nya sendiri.
Hazel perlahan meredakan tangisnya, merasa aman dan sangat dilindungi di dalam dekapan hangat tersebut. Momen emosional di antara mereka terasa begitu pekat, mengikat dua jiwa dalam getaran cinta yang tak terucapkan namun saling meresap.
Namun, kedamaian malam di taman rumah sakit itu mendadak terusik oleh takdir lain yang mulai bergerak di seberang kota.
Di Terminal Kedatangan Internasional Bandara Soekarno-Hatta,lampu sorot menyinari sosok wanita berpenampilan sangat elegan dengan kacamata hitam berbingkai emas dan gaun perancang ternama.
Clarissa Oktaviani melangkah keluar dengan langkah anggun bersama serombongan pengawal pribadi . Ia menghentikan langkahnya di ambang pintu keluar, menyunggingkan senyum licik nan dingin sembari menatap pendar lampu kota Jakarta di kejauhan.
Clarissa melepas kacamata hitamnya, memancarkan iris mata penuh ambisi dan racun yang siap menghancurkan siapa saja.
"i Kembali, Mahrup..." bisik Clarissa dingin, meremas ponsel di tangannya yang menampilkan foto sosok Hazel. "Dan aku pastikan, harta, tahta, serta posisimu akan kembali ke tanganku. termasuk menyingkirkan parasit kecil yang mencoba menggantikan posisiku."