Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 - BERMANUVER DI AMBANG MAUT
Hujan peluru makin beringas menghantam bodi Range Rover hitam itu. Suara desingan logam yang beradu terdengar sangat memekakkan telinga. Kaca anti peluru yang sejak tadi menahan gempuran akhirnya mulai menyerah. Lubang sebesar kepalan tangan di kaca depan yang menembus bahu Riko kini membiarkan angin dingin badai dan air hujan masuk menyapu kabin mobil.
"Riko, lepas kakimu dari pedal!" bentak Kael keras.
Riko yang udah setengah sadar cuma bisa mengerang kesakitan, tubuhnya merosot ke samping.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Kael melepaskan sabuk pengamannya. Dengan gerakan luar biasa gesit, pria bertubuh raksasa itu memaksakan dirinya melompati konsol tengah mobil. Tangan kirinya mencengkeram kerah belakang baju Riko, lalu menarik pria itu dengan kasar ke kursi penumpang kiri, bertukar tempat dalam hitungan detik.
Kael menggertakkan giginya menahan nyeri yang luar biasa dari bahu kanannya. Jahitan kasarnya pasti udah robek lagi, tapi adrenalin yang mendidih di pembuluhnya menekan semua rasa sakit itu ke dasar otak. Saat ini, dia bukan manusia yang bisa terluka. Dia adalah perisai ratunya.
Begitu pantat Kael menyentuh kursi kemudi, tangan kirinya langsung mencengkeram setir kulit itu dengan sangat erat, sementara tangan kanannya yang terluka dipaksa memindahkan tuas persneling.
"Val, tetap merunduk! Tutup telinga dan kepalamu!" perintah Kael mutlak, matanya menatap liar lewat kaca spion tengah untuk memastikan Valeria masih aman di kursi belakang.
"Aku percaya padamu, Kael! Bawa kita keluar dari neraka ini!" teriak Valeria dari belakang. Wanita itu meringkuk sedekat mungkin ke lantai mobil, menutupi kepalanya dengan kedua lengan yang dibalut jaket kulit anti peluru. Di balik kepanikannya, ada rasa aman yang aneh tiap kali dia mendengar suara bariton Kael yang penuh kendali.
Kael menginjak pedal gas dalam-dalam.
Mesin V8 *supercharged* Range Rover itu mengaum marah, mengalahkan suara tembakan dan badai di luar. Ban mobil berdecit nyaring bergesekan dengan aspal yang licin karena air hujan dan tumpahan oli dari mobil Bastian yang meledak di depan mereka.
Dari arah jembatan penyeberangan, pasukan Viper menyadari bahwa target mereka mulai bergerak.
"Woi! Mobilnya jalan! Tembak ban-nya! Tembak!" teriak salah satu komandan Viper terdengar sayup-sayup.
Rentetan tembakan kembali terkonsentrasi ke arah mereka. Kael nggak peduli. Matanya setajam silet memindai celah sempit antara bangkai mobil Bastian yang sedang berkobar hebat dan pembatas beton jalan tol di sebelah kanan. Celah itu maksimal cuma selebar dua meter. Sangat mepet untuk ukuran SUV sebesar ini. Salah perhitungan sedikit saja, mereka bakal menabrak dan ikut meledak.
"Pegangan!" peringat Kael.
Mobil melesat maju. Kael sengaja memiringkan setir ke arah kanan.
*BZZZZT!*
Suara gesekan logam yang memekakkan telinga terdengar saat sisi kanan bodi Range Rover itu menyerempet pembatas beton jalan tol. Bunga api memercik terang di tengah kegelapan. Kael sengaja menggunakan dinding beton itu sebagai jalur rel untuk menstabilkan mobilnya yang sedikit selip, sementara sisi kiri mobil mereka nyaris menyentuh kobaran api dari mobil Bastian.
Hawa panas yang luar biasa menyengat langsung masuk melalui kaca depan yang pecah, membuat udara di dalam kabin terasa seperti di dalam oven.
Tepat saat Kael berhasil melewati separuh bangkai mobil itu, dari sudut matanya, dia melihat kilatan cahaya terang kedua dari atas jembatan.
Seorang prajurit Viper kembali memanggul peluncur roket RPG, membidik tepat ke arah atap mobil mereka yang sedang terjepit di celah sempit.
"RPG kedua! Kael!" jerit Valeria yang sempat mengintip dari celah kursi. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Di posisi terjepit begini, mereka nggak punya ruang buat menghindar.
Tapi otak Kael nggak bekerja seperti manusia normal. Di ambang maut, persepsi waktu Kael melambat. Dia nggak membanting setir untuk menghindar, karena itu percuma. Sebaliknya, Kael justru menginjak pedal rem dengan kaki kirinya secara tiba-tiba, membuat mobil itu mengerem mendadak dalam hitungan sepersekian detik, lalu kembali menginjak pedal gas dalam-dalam.
*WUSSSSH!*
Manuver rem kejut itu membuat ritme laju mobil mereka berubah drastis, merusak akurasi tembakan si pemegang RPG. Roket itu melesat meleset beberapa sentimeter di depan moncong kap Range Rover mereka, dan langsung menghantam tangki bensin mobil Bastian yang udah terbakar di sebelah kiri.
*BLAAAAAARRRRR!*
Ledakan kedua itu berkali-kali lipat lebih masif dari yang pertama. Bola api raksasa meledak ke udara. Gelombang kejut (shockwave) dari ledakan itu menghantam sisi kiri Range Rover dengan kekuatan brutal.
Dampak ledakan itu membuat SUV seberat nyaris tiga ton itu terangkat dari aspal. Dua roda sebelah kiri melayang tinggi di udara. Mobil itu nyaris terguling ke kanan, siap menghantam dinding pembatas tol dan terbalik.
"Tahan!" geram Kael mengerahkan seluruh sisa tenaga di kedua lengannya.
Pria itu membanting setir ke kiri melawan arah gravitasi. Otot bahu kanannya menjerit parah, jahitan lukanya jebol sepenuhnya. Darah segar kembali merembes deras membasahi kemeja hitamnya. Tapi Kael nggak peduli. Dia menyeimbangkan beban mobil itu dengan keahlian mengemudi tingkat dewa.
*BAM!*
Keempat ban Range Rover itu akhirnya kembali menghantam aspal basah secara bersamaan. Guncangannya begitu keras sampai gigi Valeria beradu.
Gelombang tekanan udara dari ledakan tadi menjadi pukulan terakhir bagi sisa-sisa kaca jendela mobil mereka. Seluruh kaca di sisi kiri dan belakang akhirnya pecah berantakan, menyemburkan ribuan serpihan kaca tajam ke dalam kabin.
Valeria memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan jaket kulitnya menahan serpihan-serpihan kecil itu. Kael menundukkan kepalanya sedikit, tapi pandangannya tetap lurus ke depan.
Mereka berhasil lolos dari celah maut itu.
Kael tidak melepaskan pijakannya dari pedal gas. Mobil SUV yang kini kondisinya udah hancur lebur kayak kaleng rombeng itu terus melesat menjauhi zona penyergapan, menembus sisa badai hujan di jalan tol lingkar luar. Rentetan tembakan dari belakang perlahan-lahan mereda, tertinggal jauh oleh kecepatan mereka.
Hening yang memekakkan telinga perlahan turun di dalam kabin mobil, hanya diselingi deru angin kencang yang masuk dari jendela yang bolong.
"Val..." panggil Kael dengan napas tersengal. Suaranya serak dan putus-putus. Kael melirik ke kaca spion tengah yang ajaibnya masih utuh sebelah. "Anda... tidak terluka?"
Di belakang sana, Valeria perlahan mengangkat kepalanya dari lantai mobil. Rambutnya berantakan, ada sedikit goresan tipis di pipinya akibat serpihan kaca, tapi secara keseluruhan, sang ratu mafia baik-baik saja.
"Aku nggak apa-apa," jawab Valeria dengan napas yang memburu. Matanya langsung tertuju pada punggung Kael. "Bahu kamu, Kael. Astaga, darahnya..."
"Hanya... darah," gumam Kael santai, seolah yang keluar dari badannya itu sirup stroberi.
Valeria mendecak kesal sekaligus lega luar biasa. Dia merangkak naik kembali ke atas jok. "Riko gimana?"
Kael melirik ke kursi penumpang di sebelahnya. Riko terkapar tak sadarkan diri, bibirnya membiru, tapi dadanya masih naik turun dengan lambat. "Dia pingsan karena syok dan kehabisan darah. Pelurunya masih bersarang di bahunya. Kita harus segera mencari tempat aman."
Tiba-tiba, suara alarm melengking dari arah dasbor mobil menginterupsi percakapan mereka. Lampu indikator mesin berkedip merah terang.
"Mesinnya *overheat*," lapor Kael datar, matanya membaca panel instrumen. "Radiator kita hancur tertembus peluru. Ban belakang kanan juga bocor halus. Mobil ini tidak akan bertahan lebih dari lima kilometer."
"Sial," rutuk Valeria mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin. "Viper pasti udah nyebar anak buahnya buat ngejar kita. Kita nggak bisa balik ke markas utama dengan kondisi mobil kayak gini, bakal jadi sasaran empuk di jalan raya."
Kael menatap lurus ke jalan tol di depannya. Sekitar tiga kilometer lagi, ada plang penunjuk jalan menuju pintu keluar tol sektor industri barat. Kawasan itu dulunya adalah pabrik-pabrik tua yang sekarang banyak ditinggalkan. Gelap, sepi, dan banyak lorong tikus. Sangat cocok buat ajang petak umpet.
"Kita keluar di pintu tol depan," putus Kael, membanting setir sedikit untuk pindah jalur. "Kita tinggalkan mobilnya di kawasan pabrik tua. Area itu sulit ditembus kendaraan besar. Kita akan bergerak dengan berjalan kaki."
"Jalan kaki? Kamu lagi pendarahan parah, Kael. Dan kita harus gotong Riko," debat Valeria nggak setuju, raut wajahnya benar-benar khawatir.
"Saya masih bisa menggendong Riko dan melindungi Anda sekaligus, Val," ucap Kael keras kepala, sama sekali nggak mau kompromi kalau soal taktik bertahan hidup. "Berada di dalam mobil rongsokan ini jauh lebih berbahaya. Kalau mereka menembakkan RPG lagi, kita tamat."
Valeria menggigit bibir bawahnya, tapi akhirnya mengangguk. Kael benar. Berdiam diri di mobil yang mau mogok ini sama aja bunuh diri.
Saat SUV itu berbelok menuruni jalan keluar tol, mesinnya mulai mengeluarkan bunyi batuk yang kasar. Asap putih mengepul dari kap depan, menandakan mesinnya sudah benar-benar mencapai batas.
Kael memaksakan mobil itu melaju melewati gerbang tol yang palangnya udah hancur, lalu masuk ke jalanan tanah berbatu yang mengarah ke kawasan pabrik baja yang terbengkalai. Hujan perlahan mereda, menyisakan gerimis tipis dan kabut malam yang dingin.
Tepat saat Kael memarkirkan mobil itu di balik sebuah kontainer berkarat yang tak terpakai, mesin mobil itu akhirnya mati total dengan suara mendesis panjang.
"Kita sampai," ucap Kael mencabut kunci mobilnya.
Pria itu memutar badannya menatap Valeria. Wajah Kael benar-benar pucat, tapi sepasang mata elangnya menyala liar. Ini adalah habitat aslinya. Di saat mereka diburu dalam kegelapan, di situlah sang bayangan menjadi entitas yang paling mematikan.
"Isi penuh peluru Anda, Val. Permainan petak umpetnya baru saja dimulai," seringai Kael, aura membunuh kembali menyelimuti tubuhnya.
Valeria menatap senyum maut itu, dan untuk pertama kalinya malam ini, sang ratu mafia membalas senyuman itu dengan seringai yang tak kalah kejamnya.
"Pastikan kita berburu tikusnya sampai habis, Kael."