NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala 2

Kutukan Jiwa Niskala 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Fantasi
Popularitas:315
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!

****

Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Pudar di Balik Air Sungai dan Rahasia yang Menembus Batas

Di dalam salah satu ruang arsip Cheon Gi Won yang sunyi, Baek Chae Won duduk dengan gelisah.

Di jemarinya yang gemetar, ia terus menggenggam gulungan surat rahasia milik Baek Seo Jun yang ia temukan kemarin. Rasa penasaran yang teramat besar dan membakar batinnya membuat Chae Won tidak bisa lagi menahan diri untuk mematuhi etika pesan pribadi.

Setelah menimbang risiko cukup lama di bawah temaram lampu minyak, ia akhirnya memutuskan untuk membuka dan membaca isi surat rahasia tersebut sendirian.

Mata Chae Won membelalak lebar, napasnya seketika tercekat di tenggorokan. Lembar demi lembar kalimat di dalam surat itu mengalirkan fakta yang teramat gila.

“...Jiwa yang mendiami raga Jin So Hwa saat ini adalah Nara.”

"Ini... ini mustahil!" bisik Chae Won dengan wajah pucat pasi.

Bagaimana bisa pembunuh bayangan yang dikabarkan tewas tiga tahun lalu kini hidup kembali sebagai putri sulung bangsawan terkaya di Niskala?

Demi memastikan kebenaran horor tersebut dengan matanya sendiri tanpa salah tebak, Chae Won segera beranjak menuju lemari ramuan medis. Ia mengambil sebuah botol kaca kecil berisi cairan kimia spiritual penanda mantra kelam—sebuah ramuan khusus Jinyowon yang memiliki reaksi instan untuk memperlihatkan bekas atau tanda pudar berwarna biru pada kulit seorang pemindah jiwa yang sedang menyembunyikan identitasnya.

****

Singkat cerita, setelah mengirimkan pesan kilat, keduanya akhirnya bertemu di sebuah lokasi yang sudah ditentukan bersama, tepatnya di tengah hutan rimbun yang dipenuhi oleh ratusan tumpukan batu sakral milik Han Seol. Suasana hutan tampak sepi dan berselimut kabut tipis.

Jin So Hwa berjalan mendekat dengan dahi berkerut heran. "Chae Won, ada apa kau memanggilku ke tempat sesunyi ini?"

Tanpa membuang waktu untuk berbasa-basi atau memberikan penjelasan apa pun, Baek Chae Won yang didera kepanikan massal langsung melangkah maju dan menyiramkan seluruh isi botol ramuan tersebut tepat ke arah tubuh Jin So Hwa.

Byurr!

Cairan biru itu membasahi jubah dan merembes ke kulit leher So Hwa. Chae Won dengan napas memburu segera menatap lekat-lekat ke arah kulit selangka dan leher gadis di hadapannya.

Namun, setelah beberapa detik berlalu dalam ketegangan yang mencekam, ia sama sekali tidak menemukan adanya bekas pudar atau tanda guratan biru seorang pemindah jiwa yang muncul di permukaan kulit So Hwa. Raga tersebut murni dan bersih dari mantra hwanhon.

Merasa tidak puas dan menduga bahwa ramuannya belum bekerja maksimal, Chae Won yang panik kembali mengangkat botol cadangannya, berniat menyiramkan ramuan kimia itu sekali lagi ke arah wajah So Hwa. Namun, sebelum cairan itu melayang di udara, sesosok bayangan melompat cepat dari balik semak-semak.

Plak!

Tangan Chae Won ditepis dengan kasar hingga botol kacanya jatuh berdentang di atas batu. Baek Seo Jun telah datang. Dengan wajah yang tegang menahan amarah, ia langsung berdiri menghadang dan menghentikan aksi nekat sepupunya tersebut.

"Hentikan, Chae Won! Apa yang kau lakukan?!" bentak Baek Seo Jun dengan suara tertahan.

Sementara itu, Jin So Hwa yang sempat terkena cipratan cairan kimia misterius itu tepat pada pelupuk dan sudut matanya, merintih kesakitan karena rasa perih yang teramat sangat mulai membakar pandangannya. Air matanya menetes deras, pandangannya mengabur total.

Mencari keselamatan, So Hwa langsung berlari terhuyung-huyung meninggalkan mereka berdua, bergerak mencari sumber aliran air terdekat yang bisa ia dengar dari gemercik sungai di balik bukit hutan.

Sesampainya di tepi sungai yang jernih, Jin So Hwa berlutut di atas batu kali. Dengan tangan gemetar, ia menciduk air sungai berkali-kali untuk membasuh wajah dan matanya yang perih dari sisa racun ramuan Chae Won. Namun, tepat di saat rasa perih itu perlahan memudar dan matanya kembali terbuka di bawah permukaan air... Sebuah fenomena spiritual yang dahsyat menghantam kesadarannya.

Wusss!

Melalui pantulan air sungai yang jernih bagai cermin tersebut, gerbang amnesianya runtuh seutuhnya. Potongan-potongan ingatan masa lalunya sebagai Nara sang pembunuh bayangan melesat keluar dengan teramat jelas dan nyata menembus retinanya. Ia melihat rekaman kilas balik saat dirinya sedang merapalkan mantra kelam ritual pemindah jiwa di masa lalu, melihat ceceran darah, dan merasakan dinginnya kematian.

Dan yang paling menghancurkan batinnya, ingatan visual itu mendadak disusul oleh gema suara Han Seol di masa lalu yang berbisik begitu lembut namun sarat akan luka—suara saat pria pemilik Batu Es itu pertama kali melihat dan mengenali tanda pelarian di raga sosok Seol Ah saat mereka berada di Rumah Mawar dahulu.

“Ada tanda biru di matanya... yang merekah indah bagaikan kelopak bunga.”

Suara Han Seol terdengar begitu nyata, jernih, dan bergaung kuat di dalam gendang telinga So Hwa saat ini. Kenyataan besar bahwa dirinya adalah pembunuh yang telah menusuk dada pria yang kini teramat ia cintai seketika membuat dada Jin So Hwa terasa sesak dan terhimpit luar biasa.

Ia meremas dadanya sendiri, terengah-engah di tepi sungai dengan air mata yang menetes deras, menyadari bahwa identitas aslinya adalah malapetaka bagi kebahagiaan mereka.

,****

Di sudut lain hutan tumpukan batu, suasana konfrontasi antara dua bersaudara keluarga Baek masih berlangsung tegang. Chae Won menatap Seo Jun dengan pandangan menuntut penjelasan setelah botolnya dihancurkan.

"Kenapa kau melindunginya, Seo Jun?!" seru Chae Won dengan mata berkilat.

"Suratmu... aku sudah membaca semuanya! Dia adalah Nara, monster yang telah membunuh sahabatmu, Park Ji Hoon, dan hampir merenggut nyawa Han Seol! Mengapa kau membiarkan pembunuh massal itu berkeliaran dengan bebas?!"

Baek Seo Jun menarik napas panjang, menatap puing-puing batu di bawah kakinya dengan sorot mata yang dipenuhi beban kepedihan masa lalu.

Di bawah kesunyian hutan, ia akhirnya meluapkan seluruh isi hatinya dan menjelaskan secara mendalam terkait motif serta alasan emosional mengapa ia memilih diam dan membiarkan pergerakan Nara sejak tiga tahun lalu hingga detik ini.

"Karena dia adalah cinta pertamaku, Chae Won," ucap Baek Seo Jun, suaranya terdengar bergetar namun sarat akan ketulusan yang rapuh.

"Aku tumbuh bersamanya di Dahyangguk sebelum Jin Wu merubahnya menjadi senjata pembunuh. Aku tahu tangannya bersimbah darah, namun jiwanya menderita. Aku membiarkannya kala itu karena ego perasaanku yang menolak untuk melihatnya mati di tiang gantungan istana."

Seo Jun menoleh, menatap mata sepupunya dengan pandangan memohon. "Dan kau harus tahu fakta medisnya sekarang... raga itu murni milik Jin So Hwa, dan jiwa putri sulung yang asli saat ini sedang bersiap terbangun. Begitu pemilik asli tubuh itu bangkit, jiwa Nara akan lenyap dan terkikis selamanya dari dunia ini tanpa perlu kita sentuh dengan pedang. Sisa waktunya sudah tidak banyak, Chae Won. Aku hanya ingin dia merasakan kebahagiaan singkat sebelum sukmanya musnah."

Mendengar rentetan penjelasan emosional yang teramat jujur serta mengetahui fakta kejam mengenai batas waktu lenyapnya jiwa di raga tersebut, kemarahan di wajah Baek Chae Won perlahan mulai memudar, digantikan oleh rasa iba yang mendalam.

Sebagai seorang wanita, ia akhirnya pun bisa memaklumi dan menerima keputusan berat yang diambil oleh Seo Jun demi melindungi sisa napas terakhir dari cinta pertamanya yang malang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!