NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Tubuh Putri Mahkota

Transmigrasi Ke Tubuh Putri Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Time Travel / Fantasi
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

⭐ Novel dengan 20 BAB Terbaik 🏆🏅 ⭐

Mati konyol di dunia modern, jiwanya justru bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis lemah yang dijadikan bidak catur. Keluarganya sendiri menjualnya ke istana demi harta dan posisi, sementara sang Putra Mahkota mendominasi pernikahan mereka sebagai transaksi dingin demi takhta.
Semua orang mengira dia akan pasrah dan hancur di dalam lingkaran intrik istana. Namun, mereka tidak tau bahwa jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi gadis penurut yang bisa diinjak-injak.
Saat keluarga yang memanfaatkannya dan calon suami yang meremehkannya mulai menyadari perubahan drastis dalam dirinya, permainan kekuasaan di istana berubah total.

Akankah sang calon putri mahkota melarikan diri membawa kebebasannya, atau justru membalikkan keadaan dan merebut seluruh isi istana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep. 21: Riak di Dapur Utama

Kemenangan Shen Yue di perjamuan istana menjadi pukulan telak bagi fraksi Jiang Xiuwei.

Pengakuan langsung dari Kaisar mengenai kecerdasan dan kelayakan Shen Yue sebagai calon Putri Mahkota membuat posisi gadis itu di Kediaman Shen langsung tidak tersentuh oleh hukum resmi kediaman.

Pagi itu, suasana di Paviliun Barat jauh lebih tenang dan teratur. Para pengawal kediaman yang dulunya memandang sebelah mata kini menunduk hormat setiap kali Shen Yue melintas di selasar kayu.

Namun, di balik ketenangan tersebut, Jiang Xiuwei yang sudah terdesak mulai menggunakan cara paling kotor dan membahayakan.

Di dalam ruangan rahasia Kediaman Utama, Jiang Xiuwei berdiri di hadapan seorang pria bertopeng hitam yang membawa sebuah botol porselen kecil berwarna hijau pekat.

"Ini adalah Racun Bunga Darah," bisik pria bertopeng itu dengan suara serak. "Racun ini tidak berbau dan tidak berasa. Korban yang meminumnya akan mengalami lumpuh bertahap pada organ dalamnya, tampak seperti serangan penyakit jantung mendadak tanpa meninggalkan jejak racun biasa saat diperiksa tabib."

Jiang Xiuwei meraih botol porselen itu dengan jemari gemetar akibat amarah dan dendam yang membara.

"Gadis sialan itu tidak boleh sampai melangkah ke Istana Timur sebagai Putri Mahkota," desis Jiang Xiuwei. "Jika dia menjadi Putri Mahkota, hal pertama yang akan dilakukannya adalah menghabisi aku dan anak-anakku. Pelayan Bi!"

Pelayan Bi yang pergelangan tangannya masih terbalut kain bergegas maju. "Hamba, Nyonya Besar!"

"Campurkan racun ini ke dalam sup sarapan pagi Shen Yue besok," perintah Jiang Xiuwei dengan sorot mata penuh racun. "Gunakan pelayan baru yang penakut di dapur umum untuk membawanya, agar jika terjadi hal yang tidak diinginkan, kita bisa melemparkan kesalahan padanya."

"Baik, Nyonya Besar! Pelaksanaan ini tidak akan gagal!" sahut Pelayan Bi dengan seringai kejam.

Keesokan harinya saat fajar baru menyingsing, Shen Yue sedang menyelesaikan latihan pemanasan fisiknya di halaman belakang Paviliun Barat.

Pendengarannya yang sangat tajam, hasil dari latihan refleks bela diri bertahun-tahun, menangkap suara langkah kaki yang terburu-buru dan napas yang tidak teratur dari arah lorong samping.

Shen Yue menyapu keringat di pelipisnya dengan kain handuk, lalu melangkah pelan dan bersembunyi di balik pilar kayu besar.

Dari persembunyiannya itu ia melihat seorang pelayan muda dari dapur umum berjalan membawa nampan berisi mangkuk sup Daging Sapi Herbal yang masih mengepul panas.

Wajah pelayan itu pucat pasi, matanya terus melirik ke kiri dan ke kanan dengan gestur tubuh yang sangat mencurigakan. Tangannya gemetar hebat hingga kuah sup di dalam mangkuk porselen beberapa kali hampir tumpah.

Shen Yue memicingkan matanya. Gestur ketakutan, napas memburu, dan tubuh gemetar... "Orang ini bukan sekadar membawa makanan," batinnya.

Sret!

Tanpa membuat suara, Shen Yue muncul secara mendadak di hadapan pelayan muda itu bagaikan siluet hantu.

"AAAKKKHK!" jerit pelayan muda itu tertahan, dan hampir saja menjatuhkan nampan kayu di tangannya.

Shen Yue meraih pergelangan tangan pelayan itu dengan cengkeraman kunci presisi, dan menahan pergerakannya seketika. Sup panas di dalam mangkuk pun berhasil distabilkan oleh tangan kiri Shen Yue yang sigap.

"N-Nona Sulung! Ampun, Nona!" tangis pelayan muda itu dan seketika berlutut di atas tanah setapak, sementara tubuhnya gemetar hebat bagai disiram air es.

"Siapa yang menyuruhmu mengantarkan sup ini?" tanya Shen Yue dengan suara pelan namun menembus hingga ke sumsum tulang.

"H-hamba... hamba hanya menjalankan tugas dari dapur umum, Nona!" gagap pelayan itu.

Shen Yue tidak menjawab. Ia lantas mengambil jarum perak kecil yang selalu disimpannya di dalam lipatan lengan baju, sebuah alat uji sederhana yang dibelinya saat menyamar di pasar kota kemarin.

Ia mencelupkan ujung jarum perak itu ke dalam kuah sup gurih tersebut.

Hanya dalam hitungan tiga detik, ujung jarum perak yang bening seketika berubah warna menjadi kehitaman pekat!

Mata pelayan muda itu membelalak lebar, wajahnya mendadak hilang darah. "R-racun?! Hamba tidak tau, Nona! Demi Langit, hamba benar-benar tidak tau!"

Shen Yue menatap warna hitam di jarum peraknya dengan tatapan dingin yang mematikan.

"Pelayan Bi yang menyuruhmu, bukan?" tebak Shen Yue tepat sasaran.

Pelayan muda itu menangis sesenggukan sambil membenturkan dahinya ke tanah. "P-Pelayan Bi mengancam akan menjual adik hamba jika hamba tidak membawa sup ini langsung ke meja Nona... Ampunkan hamba, Nona Sulung!"

Shen Yue menghela napas dengan pelan, lalu melepas cengkeramannya pada pelayan itu. Logika modernnya tau bahwa pelayan kecil ini hanyalah bidak catur yang dimanfaatkan oleh pemandangnya.

"Berdirilah," ujar Shen Yue datar. "Aku tidak akan membunuhmu. Tetapi jika kau ingin adikmu dan dirimu selamat... kau harus menuruti permainanku."

"H-hamba siap melakukan apa saja, Nona! Asal adik hamba selamat!" seru pelayan itu pasrah.

Shen Yue menyunggingkan senyum miring yang sangat dingin. "Bagus. Kita akan menukar sup ini. Bawa sup beracun ini bukan ke kamarku... melainkan ke meja sarapan Nyonya Besar Jiang Xiuwei di Kediaman Utama."

Sementara itu...

Di aula makan Kediaman Utama, Jiang Xiuwei sedang duduk bersama Shen Zia, putri kandungnya yang baru kembali dari perjalanan dan Pelayan Bi. Wajah Jiang Xiuwei tampak sangat berseri-seri pagi itu, ia mengira sebentar lagi kabar kematian atau kelumpuhan Shen Yue akan bergema dari Paviliun Barat.

"Ibu, apakah hari ini Kakak Yue-er benar-benar tidak akan bisa menghadiri latihan musik istana?" tanya Shen Zia dengan senyum kejam.

"Tentu saja, Zia-er," jawab Jiang Xiuwei anggun seraya meminum tehnya. "Sebentar lagi tempat itu akan dipenuhi isolasi dan tangisan. Tidak ada lagi yang bisa menghalangi jalanmu."

Tak lama kemudian, pelayan muda dari dapur umum masuk membawa nampan sarapan khusus untuk Jiang Xiuwei, sepiring hidangan sarapan lengkap dan semangkuk Sup Herbal Khusus penambah stamina yang tampak identik dengan sup yang disiapkan untuk Shen Yue.

"Nyonya Besar, sarapan khusus Anda sudah disiapkan," ujar pelayan itu dengan menundukkan kepala dalam-dalam.

"Meja ini," perintahkan Pelayan Bi dengan nada angkuh.

Tanpa curiga sedikit pun, Jiang Xiuwei meraup mangkuk sup herbal tersebut. Karena merasa sangat puas dan menang hari itu, ia menyendok kuah sup yang masih hangat itu dan meminumnya hingga beberapa suapan besar.

"Kuahnya cukup gurih pagi ini," puji Jiang Xiuwei santai.

Namun, baru lima menit berlalu usai sarapan dihabiskan, wajah Jiang Xiuwei mendadak berubah pucat pasi.

Clang!

Cangkir teh di tangannya terlepas dan hancur di lantai. Jiang Xiuwei mendadak memegangi lehernya, napasnya memburu cepat dan dadanya terasa tercengkeram oleh rasa sakit yang luar biasa hebat.

"Ibu?! Ada apa dengan Ibu?!" jerit Shen Zia panik saat melihat ibunya mulai merintih kesakitan dan sudut bibirnya meneteskan darah hitam.

"R-racun..." cicit Jiang Xiuwei dengan suara tercekat, matanya mendadak melotot menatap Pelayan Bi dengan rasa syok yang tak membendung. "I-ini... ini Racun Bunga Darah...!"

"APA?!" pekik Pelayan Bi histeris, wajahnya seketika hilang warna. "B-bagaimana mungkin?! Sup itu seharusnya—"

Brak!

Pintu aula Kediaman Utama mendadak terdorong dan terbuka lebar.

Shen Yue melangkah masuk dengan anggun, diiringi oleh Jenderal Shen Longwei dan lima pengawal pribadi kediaman. Shen Yue mengenakan jubah sutra putih bersih, dan menatap Jiang Xiuwei yang merayap di atas lantai dengan tatapan dingin penuh dominasi.

"Ayah!" seru Shen Yue. "Hamba baru saja menemukan pelayan dapur yang berniat meracuni makanan di kediaman ini. Dan sepertinya... racun yang disiapkan oleh Pelayan Bi justru salah dan terbalik menyajikan ke meja Nyonya Besar sendiri."

"APA-APAAN INI?!" bentak Jenderal Shen Longwei dengan suara menggelegar bagaikan singa murka, lalu menatap Pelayan Bi dan Jiang Xiuwei yang tersungkur di lantai.

Pelayan Bi seketika berlutut ketakutan setengah mati. "A-ampun Jenderal! Ampun! Ini perintah Nyonya Besar! Nyonya Besar yang menyuruh hamba membeli racun untuk membunuh Nona Sulung!"

Shen Zia menangis histeris memeluk ibunya yang mulai kejang-kejang ringan. "Ayah! Selamatkan Ibu! Panggil tabib! Ibu bisa mati!"

Jenderal Shen Longwei mengepalkan tangannya hingga bergetar keras. Rasa kecewa, amarah, dan rasa dikhianati meluap di dalam dadanya saat menyadari betapa busuknya wanita yang dipercayainya selama ini untuk mengurus kediaman.

"Tabib! Panggil Tabib Istana sekarang!" perintah Jenderal Shen Longwei lantang, lalu menoleh pada para pengawal. "Tahan Pelayan Bi dan seluruh kroni Kediaman Utama! Setelah Nyonya Besar sadar dari racunnya... kurung dia di paviliun terisolasi dan cabut seluruh hak kekuasaannya atas Kediaman Shen!"

"Baik, Jenderal!"

"Sua-miku."

Di tengah kekacauan, tangisan, dan kepanikan yang melanda Kediaman Utama, Shen Yue berdiri tegap di samping ayahnya. Ia menatap Jiang Xiuwei yang ditandu keluar dengan senyuman tipis yang tak terlihat oleh orang lain.

"Senjata yang kau siapkan untuk membunuhku... akhirnya memakan dirimu sendiri, Jiang Xiuwei," batin Shen Yue modern dengan kepuasan.

Bersambung...

1
Dewi Habibah
lagi donk😍
Aurora: Siap... othor up besok ya... 🤗
total 1 replies
merry
gpp si lkimu agk pengecut dan buta gk tau mn tipu muslihat,, asal ceraikan selir jgn ambil selir ckp satu istri sah ajjj🤭🤭🤭🤭
Aurora: di jamannya punya istri banyak itu sudah biasa, apalagi keluarga kerajaan 😅🤭
total 1 replies
merry
jgn smpai kmu ksh kesucian kmu putri gk ikls wlpun hak mslhnya lkimu pyn bini muda,,, 🤭🤭🤭🤭licik lggg
merry
moga cerai lh sm suami mu yg pengecut bodoh itu 🤭🤭🤭🤭
merry
penghianat ap cb bos kau ajj nikh istri mu sexgus nkhin kekasih gelapmu,, mls dech sm kmu atrnn she Yue nkh sm kakak mu itu
merry
tumis rebung enk bgtt ap lg yg ada ruas ya itu 🤭🤭🤣🤣
Aurora: bener, renyah n lembut...🤗
total 1 replies
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
aku lanjut baca lagi nanti . Kren k👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!