NovelToon NovelToon
Dekapan Atasan Suamiku

Dekapan Atasan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Pengkhianatan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

retaknya kebohongan

Wajah Siska berubah pucat begitu mendengar ucapan Dimas.

Untuk sesaat, perempuan itu hanya berdiri membeku. Jemarinya mencengkeram tas tangan begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih. Tatapan yang tadi tajam kini bergerak gelisah, berpindah dari Raka kepada Dimas, lalu kepada Arga.

“Apa maksudnya rekaman kamera?” tanya Siska.

Suaranya terdengar lebih pelan dari sebelumnya.

Raka menatapnya tanpa ekspresi.

“Tim audit menemukan rekaman dari area parkir gedung lama,” jawabnya. “Rekaman itu menunjukkan kamu bertemu Bayu pada malam ketika dokumen Proyek Puri Sagara dipindahkan dari sistem internal.”

Siska menggeleng cepat.

“Itu tidak membuktikan apa-apa.”

“Benar,” ucap Raka tenang. “Satu rekaman tidak membuktikan semuanya. Tapi rekaman itu bukan satu-satunya bukti.”

Arga menoleh kepada Siska.

“Kamu bilang kamu cuma bertemu Bayu untuk urusan pemasaran,” katanya.

Siska langsung menatap Arga. “Memang itu urusan pemasaran.”

“Jam sebelas malam?” Raka bertanya.

Siska terdiam.

Lobi belakang yang tadi sudah tegang kini terasa semakin dingin. Petugas keamanan berdiri tanpa bicara. Beberapa pegawai yang lewat tampak memperlambat langkah, tetapi begitu melihat tatapan Raka, mereka segera menjauh.

Nayla berdiri beberapa langkah dari Arga.

Ia tidak lagi merasa takut seperti sebelumnya. Ada sesuatu yang berubah ketika melihat Siska mulai kehilangan kendali. Selama ini, perempuan itu selalu berbicara seolah mengetahui semuanya. Seolah ia bisa mengatur siapa yang salah dan siapa yang benar.

Namun sekarang, wajahnya menunjukkan kepanikan.

“Aku tidak tahu apa-apa soal dokumen itu,” kata Arga tiba-tiba.

Semua orang menoleh kepadanya.

Arga menatap Raka, lalu Siska.

“Aku memang pernah memberi Siska akses ke beberapa berkas,” lanjutnya. “Tapi dia bilang itu untuk persiapan materi promosi. Aku tidak tahu ada pemindahan data atau apa pun.”

Siska membelalakkan mata.

“Arga, kamu serius mau lempar semuanya ke aku?”

“Aku cuma bilang yang sebenarnya.”

“Yang sebenarnya?” Siska tertawa pendek, tetapi suaranya gemetar. “Kamu sendiri yang membuka aksesnya. Kamu sendiri yang bilang bisa mengambil apa pun dari sistem.”

Arga memucat.

“Aku tidak pernah bilang begitu.”

“Kamu bilang kamu mau bantu aku.” Siska melangkah mendekat. “Kamu bilang kita bisa dapat keuntungan dari proyek itu. Kamu pikir aku lupa?”

“Jangan bohong!” bentak Arga.

Suara Arga membuat Nayla refleks mundur setengah langkah.

Raka langsung berdiri lebih tegak.

“Cukup,” katanya tegas. “Tidak ada yang akan berteriak di sini.”

Arga menatap atasannya dengan napas berat.

Siska mengalihkan pandangannya.

Namun ketegangan itu tidak hilang.

Nayla melihat sesuatu yang selama ini belum ia sadari. Arga dan Siska bukan pasangan yang saling mencintai dengan tulus. Mereka adalah dua orang yang sama-sama menyimpan rahasia. Dua orang yang saling memakai, lalu mulai saling menjatuhkan ketika masalah datang.

“Kalian boleh bicara apa pun,” kata Raka. “Namun seluruh klarifikasi akan dilakukan melalui pemeriksaan resmi. Untuk saat ini, Arga dan Siska diminta menyerahkan akses perangkat kerja dan tidak melakukan tindakan apa pun yang berkaitan dengan Proyek Puri Sagara.”

“Apa?” Siska menatap Raka tidak percaya. “Bapak tidak bisa seenaknya menuduh saya.”

“Saya tidak menuduh.” Nada Raka tetap datar. “Saya menjalankan prosedur pemeriksaan berdasarkan bukti yang ada.”

“Bukti yang Bapak dapat dari siapa?” Siska melirik Nayla. “Dari istri Arga? Jadi ini semua memang permainan Bapak dan Nayla?”

Nayla menegang.

Namun sebelum ia sempat menjawab, Raka berbicara lebih dulu.

“Jangan membawa Nayla ke dalam urusan yang bukan tanggung jawabnya.”

Siska tersenyum sinis.

“Kenapa? Takut dia terluka?” tanyanya. “Atau takut orang-orang tahu Bapak memang punya hubungan khusus dengannya?”

Raka menatapnya dingin.

“Apa pun yang ingin kamu katakan tentang saya, sampaikan melalui jalur yang tepat. Tapi kalau kamu kembali mengancam atau menyebarkan informasi palsu tentang Nayla, perusahaan akan mempertimbangkan langkah hukum.”

Wajah Siska berubah.

“Kamu mengancam saya?”

“Tidak,” jawab Raka. “Saya menjelaskan konsekuensi.”

Arga menatap Raka dengan wajah gelap.

“Bapak memang sudah merencanakan semua ini, ya?” katanya. “Bapak mendekati Nayla, membuat dia tidak percaya sama saya, lalu memakai masalah ini untuk menghancurkan kami.”

Raka tidak tampak marah.

“Tidak ada seorang pun yang memaksa kamu berselingkuh,” ujarnya. “Tidak ada yang memaksa kamu membuka akses dokumen kantor. Kamu bertanggung jawab atas keputusanmu sendiri.”

Kata-kata itu membuat Arga terdiam.

Nayla menatap suaminya.

Dulu, ia selalu melihat Arga sebagai laki-laki yang kuat. Pria yang punya mimpi dan ambisi. Pria yang bersedia bekerja keras untuk masa depan mereka.

Namun sekarang, Nayla melihat seseorang yang begitu sibuk menyalahkan orang lain hingga tidak mampu mengakui kesalahannya sendiri.

“Aku tidak menyangka kamu bisa seperti ini,” ucap Nayla.

Arga menoleh kepadanya.

Tatapan mereka bertemu.

“Aku tidak sengaja terlibat,” kata Arga cepat. “Aku cuma membantu Siska. Aku tidak tahu semuanya akan seperti ini.”

“Dan perselingkuhan kita?” tanya Nayla. “Kamu juga tidak sengaja?”

Wajah Arga mengeras.

“Nayla, jangan bahas itu di sini.”

“Kenapa tidak? Kamu berani menuduh aku di depan semua orang karena satu foto. Sekarang aku hanya bertanya tentang sesuatu yang memang kamu lakukan.”

Arga tidak menjawab.

Siska menatap Nayla dengan kebencian.

“Kamu senang, ya?” katanya. “Lihat kami jatuh seperti ini?”

Nayla menarik napas perlahan.

“Tidak,” jawabnya. “Saya tidak senang melihat siapa pun jatuh. Tapi saya juga tidak akan lagi menanggung akibat dari kesalahan kalian.”

Siska membuka mulut untuk membalas, tetapi ponselnya kembali bergetar.

Kali ini, ia tidak melihat layar dengan santai. Wajahnya langsung berubah tegang. Ia menjauh beberapa langkah, mengangkat telepon, lalu berbicara dengan suara yang sangat pelan.

Namun Nayla masih bisa menangkap beberapa kata.

“Jangan telepon aku sekarang.”

“Tenang, aku bisa bereskan.”

“Bayu, dengar—”

Siska langsung menutup mulutnya sendiri ketika sadar semua orang melihat ke arahnya.

Raka menatap Dimas.

“Catat itu,” katanya.

Siska mematikan panggilan dengan tangan gemetar.

“Ini tidak ada hubungannya dengan Bayu,” katanya cepat.

Tidak ada yang menjawab.

Keheningan itu justru membuat Siska semakin gelisah.

Raka memberikan isyarat kepada petugas keamanan.

“Silakan dampingi Bu Siska dan Pak Arga ke ruang HR. Tim audit dan legal akan datang untuk menjelaskan prosedur pemeriksaan.”

“Aku tidak mau,” kata Siska.

“Ini bukan permintaan,” jawab Raka.

Arga menghembuskan napas kasar.

Ia sempat menatap Nayla, seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun Nayla tidak menoleh lagi. Ia sudah terlalu lelah memberi Arga kesempatan untuk mengubah kenyataan dengan kata-kata.

Petugas keamanan berdiri di sisi Arga dan Siska.

Akhirnya, keduanya berjalan menuju lift dalam diam. Siska masih menggenggam tasnya erat-erat. Arga tampak pucat dan kehilangan arah.

Pintu lift tertutup.

Lobi kembali sunyi.

Nayla baru menyadari bahwa sejak tadi ia menahan napas.

Raka menoleh kepadanya.

“Kamu tidak apa-apa?”

Nayla ingin mengangguk.

Namun tubuhnya terasa lemas.

“Aku tidak tahu,” jawabnya jujur.

Raka mengangguk kecil.

“Tidak apa-apa kalau kamu belum tahu.”

Kalimat itu entah mengapa membuat mata Nayla kembali panas.

Selama ini, semua orang meminta jawaban darinya.

Apakah ia akan memaafkan Arga?

Apakah ia akan pulang?

Apakah ia akan bercerai?

Apakah ia punya perasaan pada Raka?

Namun Raka tidak meminta keputusan apa pun.

Ia hanya mengizinkan Nayla untuk belum tahu.

Dimas mendekat setelah memastikan petugas keamanan membawa Arga dan Siska dengan aman.

“Pak, media di depan masih cukup ramai,” katanya. “Kita bisa mengantar Bu Nayla keluar lewat parkir bawah tanah.”

Raka menatap Nayla. “Kamu mau pulang sekarang?”

Nayla mengangguk.

“Iya.”

“Baik. Saya akan pastikan Dimas mengantar kamu sampai bertemu ibu kamu.”

Nayla menatapnya. “Bapak tidak ikut?”

Raka terdiam sesaat.

“Saya harus kembali ke ruang rapat. Ada pemeriksaan yang harus saya tangani.”

Jawaban itu masuk akal.

Namun Nayla tidak bisa mengabaikan rasa kecewa kecil yang muncul. Ia segera membuang perasaan itu. Raka bukan orang yang harus selalu berada di sisinya. Ia punya pekerjaan. Ia punya tanggung jawab.

“Terima kasih,” ucap Nayla.

Raka mengangguk.

Saat Nayla hendak mengikuti Dimas menuju lift, suara Raka memanggilnya.

“Nayla.”

Ia menoleh.

Raka berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wajahnya masih serius, tetapi tatapannya lebih hangat.

“Jangan baca semua komentar tentang foto itu,” katanya. “Jangan membiarkan orang yang tidak mengenal kamu menentukan nilai diri kamu.”

Nayla menahan napas.

“Baik,” jawabnya pelan.

***

Di dalam lift menuju parkir bawah tanah, Nayla berdiri di samping Dimas tanpa bicara.

Pintu lift tertutup.

Baru beberapa detik, ponselnya bergetar.

Pesan dari Arga.

**Arga:** Aku tidak pernah bermaksud menghancurkan hidup kamu.

Nayla membaca pesan itu tanpa ekspresi.

Pesan kedua masuk.

**Arga:** Tolong jangan percaya semua yang Raka katakan.

Nayla hendak mematikan layar ketika satu pesan lagi muncul.

**Arga:** Dia tidak sebersih yang kamu pikir.

Jantung Nayla berdetak lebih cepat.

Ia menatap layar cukup lama.

Apa maksud Arga?

Apakah ini hanya cara lain untuk menanamkan keraguan?

Atau ada rahasia tentang Raka yang belum pernah Nayla ketahui?

Lift berhenti di lantai parkir.

Pintu terbuka.

Namun sebelum Nayla melangkah keluar, pesan baru dari nomor tidak dikenal masuk.

Pesan itu hanya berisi satu foto lama.

Foto Raka berdiri bersama seorang perempuan berambut panjang di depan sebuah gedung hotel.

Di bawahnya, tertulis satu kalimat.

**Nomor tidak dikenal:** Tanyakan kepada Raka siapa perempuan itu, dan mengapa dia menghancurkan hidupnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!