NovelToon NovelToon
KAMPUNG JIN

KAMPUNG JIN

Status: tamat
Genre:Horor / Rumahhantu / Misteri / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Devi Wahyuni Halim

Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.

Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.

Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.

Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.

Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 : Tanda Kampung Jin Kafir Bangkit

Subuh setelah Tahajud penjaga itu, aku tidur sampai jam 10 pagi.

Aku terbangun karena bau busuk. Bau bangkai yang sangat menyengat, lebih busuk dari bau bangkai di Alas.

Keluarga Kiai Jirji tidak ada di rumah. Tidak ada cahaya penjaga. Rumah benar-benar kosong. Untuk pertama kalinya, aku panik.

"Kiai Jirji! Malik! teriakku.

Tidak ada jawaban.

Aku keluar ke teras

Kampung Jin Kafir sudah bangkit.

Tanda pertama: Matahari tidak ada.

Padahal jam 10 pagi, seharusnya matahari Banyuwangi terik. Tapi di Dusun Krajan, langit mendung hitam pekat seperti mau hujan badai. Bukan mendung air, tapi mendung asap. Asap hitam tipis menutupi seluruh dusun, datang dari arah Alas Purwo. Baunya kemenyan busuk dan darah.

Tanda kedua: Suara.

Dusun yang selama 9 hari ini hening seperti kuburan, pagi itu ramai. Tapi bukan ramai manusia. Ramai suara aneh.

Dari hutan, dari sungai, dari bawah tanah, terdengar suara gamelan. Gamelan Jawa yang fals, temponya cepat, seperti gamelan untuk mengiringi orang kesurupan. Bersamaan dengan itu, terdengar suara orang tertawa cekikikan, menangis, dan mengaji yang salah tajwid.

Tanda ketiga: Hewan.

Ayam-ayam milik warga yang selama ini diam di dalam kandang, pagi itu semua mati. Mati dengan leher terpuntir. Di halaman setiap rumah, ada bangkai ayam bertumpuk. Kucing-kucing liar menghilang. Anjing desa menggonggong ke arah hutan tanpa henti sampai suaranya serak.

Tanda keempat: Air.

Aku ke sumur di belakang rumah untuk wudhu. Air sumur yang biasanya bening, pagi itu hitam. Hitam seperti kopi, dan di permukaan air ada rambut-rambut panjang wanita mengambang. Bau anyir.

Aku lari ke sungai kecil di belakang dusun, sungai tempat anak Pak Min dulu hilang.

Sungainya kering. Padahal kemarin masih mengalir deras. Dasar sungai yang berlumpur kini penuh dengan jejak kaki. Bukan jejak kaki manusia. Jejak kaki panjang, dengan kuku tiga, seperti jejak kaki ayam raksasa, mengarah dari Alas Purwo masuk ke kampung.

Aku kembali ke tengah dusun, ke pos ronda.

Di pos ronda, aku menemukan Pak Min. Akhirnya aku melihat manusia. Tapi Pak Min tidak seperti kemarin yang hanya diam di dalam rumah.

Pak Min duduk di pos ronda, matanya kosong, tangannya memegang kentongan tapi memukulnya tanpa irama. Tok... tok... tok... tok... pelan, terus menerus.

"Pak Min! ucapku.

Pak Min menoleh. Wajahnya pucat, bibirnya hitam. "Mereka sudah bangun, Nak Arga... mereka sudah bangun..."jawab pak Min.

"Siapa, Pak? tanyaku.

"Yang di bawah Beringin... yang dikunci bapakmu... sesajennya tadi malam ada yang kasih..."jawab pak Min.

Sesajen! Aku ingat pesan Malik semalam di masjid tanpa karpet: "Jangan sampai ada warga yang kasih sesajen di Beringin Kembar malam ini."

Aku lari ke ujung dusun, ke Pohon Beringin Kembar. Pohon besar yang akarnya seperti gerbang, yang kata Malik adalah gerbang antara dua dunia.

Di bawah pohon itu, aku melihat sesuatu yang membuat darahku berhenti.

Ada sesajen baru. Sesajennya masih segar.

Piring berisi nasi kuning, ayam panggang utuh, bunga tujuh rupa, dan... mangkuk darah. Darah segar, masih merah, masih mengepul di udara pagi yang dingin. Di sampingnya ada foto seorang gadis.

Dan dupa masih menyala. Asap dupanya tidak naik ke atas, tapi masuk ke dalam akar beringin, seperti dihisap.

Ada warga yang melanggar larangan. Ada warga yang kasih makan Jin Kafir tadi malam, saat aku sibuk tahajud menutup segel masjid.

Saat aku mendekat, dari balik akar beringin, muncul anak kecil bermata hitam, tapi kali ini bukan 20. Lebih banyak. 30 sampai 40. Mereka duduk di atas akar, memakan sesajen itu dengan rakus, dengan tangan hitam mereka.

Mereka melihat aku. Mereka tersenyum.

"Kak Arga terlambat... gerbangnya sudah dikasih makan..."ucap mereka semua.

Tanda kelima dan yang paling mengerikan: Gerbang terbuka sedikit.

Akar Beringin Kembar yang biasanya rapat seperti dinding, pagi itu menganga sedikit, sekitar sejengkal. Dari celah itu keluar angin dingin yang sangat kuat, dan dari dalam celah itu aku bisa dengar ribuan suara memanggil.

Tanda Kampung Jin Kafir Bangkit sudah lengkap.

Bukan hanya rumahku yang diteror lagi.

Satu kampung akan diteror.

Aku harus cari siapa yang kasih sesajen itu. Karena foto gadis di sesajen itu... aku kenal. Itu Sari, anak gadis Pak Lurah, gadis yang tiga hari lalu mengintip aku dari jendela.

Dan dari arah rumah Pak Lurah, terdengar jeritan perempuan yang melengking.

"SARIIII!!!"

Kesurupan massal akan dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!