NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cinta

Dua Wajah Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Setelah mandi dan mengenakan setelan jas formalnya, Raka segera melangkah keluar dari kamar hotel menuju ke ballroom utama tempat rapat kolega bisnis diselenggarakan.

Setibanya di dalam ruangan yang luas dan megah itu, matanya langsung menangkap sosok Praduta.

Adik tirinya tersebut berdiri di dekat meja undangan, menyunggingkan senyuman sinis yang menyebalkan sambil dengan sengaja mengedipkan sebelah matanya ke arah Raka, menikmati sisa-sisa ketegangan yang mereka ciptakan di parkiran tadi.

Raka membuang muka, menahan kepalan tangan di sisi tubuhnya agar amarahnya tidak kembali tersulut di hadapan para kolega penting.

"Baiklah, sebelum rapat inti kita mulai, mari sejenak menikmati hidangan ringan dan kopi hangat yang sudah disiapkan di sisi sebelah sana," ucap Pak Faris, selaku perwakilan penyelenggara acara, melalui pengeras suara kecil.

Para tamu undangan mulai beranjak menuju meja buffet dan sudut minuman.

Mengingat pikirannya yang masih penat dan tenggorokan yang terasa kering, Raka memilih berjalan perlahan menuju ke arah meja penyajian kopi.

Ia mendekati wadah dispenser kopi dan berdiri di samping termos stainless besar.

Raka mengambil sebuah cangkir keramik putih bersih, menaruh bubuk kopi racikan khusus yang tersaji di sana, lalu menuangkan air panas perlahan-lahan hingga uap mengepul membawa aroma khas yang langsung menusuk indra penciumannya.

Raka mengangkat cangkir itu, meniupnya pelan, lalu menyesapnya seteguk.

Deg!

Seketika itu juga, mata Raka membelalak lebar. Tubuhnya menegang kaku di tempat.

Rasa pahit yang pas, berpadu dengan sentuhan aroma manis rempah rahasia yang mengalir lembut di lidahnya—itu adalah rasa dan racikan kopi yang sangat, sangat ia kenal.

Rasa kopi yang selama bertahun-tahun selalu dibuat dengan penuh cinta oleh Gladys, istrinya, setiap kali mereka akan menikmati sarapan pagi bersama di rumah.

Jantung Raka berdegup liar menghantam tulang rusuknya.

Bayangan wajah Gladys, tulisan tangan di kertas parkiran tadi, dan rasa kopi ini berputar jadi satu di dalam kepalanya.

Kopi ini., racikan Gladys! Tidak salah lagi! batin Raka berteriak histeris di dalam dada.

Di sisi lain ballroom, Praduta yang sedari tadi mengawasi gerak-gerik kakaknya turut mengambil secangkir kopi hangat dari meja penyajian.

Dengan gaya angkuh, ia menyesap cairan hitam pekat itu ke dalam mulutnya.

Seketika itu pula, gelas di tangan Praduta nyaris terlepas.

Alisnya bertaut tajam, napasnya tertahan. Rasa khas yang tertinggal di lidahnya begitu identik—rasa kopi buatan tangan wanita yang selama ini mati-matian ia buru dan obsesikan.

"G-Gladys," gumam Praduta tertahan, matanya langsung mendelik tajam mencari sosok Raka.

Ia mendapati Raka berdiri membeku dengan cangkir di tangan, sebelum akhirnya pria itu meletakkan cangkirnya dengan kasar dan bergegas melangkah keluar ruangan dengan langkah lebar.

Praduta yang diliputi rasa curiga dan panik langsung bersiap mengekorinya.

Raka berjalan cepat keluar dari ballroom menuju udara terbuka di selasar hotel.

Tangannya yang sedikit bergetar merogoh kantong jasnya, mengeluarkan secarik kertas robekan buku harian yang tadi ia temukan di wiper mobilnya.

Tanpa membuang waktu, ia mengetik deretan angka nomor telepon tersebut pada layar ponselnya dan menekan tombol panggil.

Tut... tut... tut.

Sementara itu, di sebuah warung nasi pecel sederhana tak jauh dari kawasan hotel, Gladys dan Bima tengah duduk santai menikmati sarapan pagi mereka setelah perjalanan jauh.

"Bim, aku beli roti dulu ya buat oleh-oleh Elsa di seberang jalan," ujar Gladys sambil berdiri dari bangkunya.

"Iya, Bu, silakan," balas Bima.

Gladys melangkah pergi sejenak, meninggalkan tas kecil berisi ponselnya di atas meja warung.

Tak lama kemudian, layar ponsel Gladys menyala terang, mengeluarkan suara dering panggilan masuk.

Bima yang duduk di dekatnya sontak menoleh. Melihat ponsel bosnya berdering, ia langsung mengambil benda pipih itu dan mengangkatnya tanpa berpikir panjang.

"H-Halo," ucap Bima ragu-ragu.

Di ujung sambungan sana, Raka yang tadinya berharap mendengar suara lembut istrinya mendadak mengernyitkan dahi.

Alih-alih suara wanita yang ia rindukan, yang terdengar justru suara seorang pria asing.

Ternyata bukan Gladys, gumam Raka dalam hati, rasa kecewa kembali menghantam dadanya.

Meski begitu, ia tetap melanjutkan panggilan untuk urusan mobilnya.

"Halo, Mas. Tadi Anda yang menabrak mobil saya, kan?" tanya Raka dengan suara baritonnya yang dingin dan berat.

Bima menelan ludah kelat mendengar nada bicara di seberang sana yang terdengar mengintimidasi.

"I-Iya, Pak. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Bos saya siap untuk mengganti kerugian mobil Bapak."

Raka menghela napas panjang, mengabaikan ketegangan suara di ujung sana.

"Nanti malam jam tujuh, datang ke hotel dan selesaikan pembayarannya."

"I-Iya, Pak. Baik," jawab Bima cepat.

Klik.

Raka langsung memutus sambungan telepon secara sepihak.

Ia memasukkan kembali ponselnya ke saku, lalu berbalik badan untuk melangkah masuk kembali ke dalam hotel, sama sekali tidak menyadari bahwa nomor yang baru saja ia hubungi berasal dari wanita yang sedari tadi ia cari di tempat ini.

Tak berselang lama, Gladys kembali ke meja warung sambil membawa kantung berisi beberapa bungkus roti untuk Elsa di rumah.

Ia mendapati Bima duduk dengan wajah agak pucat.

"Ada apa, Bim? Siapa yang menelepon?" tanya Gladys heran.

Bima mendongak, menatap Gladys dengan kikuk. "Bu, ini tadi pemilik mobil yang kita tabrak menelepon. Nanti malam jam tujuh, kita diminta datang ke hotel untuk membayar ganti ruginya, Bu."

Gladys mengangguk tenang, sama sekali tidak panik.

"Ya sudah, kalau begitu kita bayar, Bim."

Gladys membuka tasnya, mengambil lembaran uang pecahan seratus ribuan dalam jumlah total dua juta rupiah, lalu menyelipkannya rapi di dalam halaman buku hariannya. Ia menyerahkan buku tersebut kepada Bima.

"Ini, nanti malam kamu bawa dan berikan uangnya ke pemilik mobil itu ya," ujar Gladys mempercayakan tugas tersebut.

Bima menerima buku harian itu dengan tangan sedikit gemetar.

"I-Iya, Bu."

"Ayo, lekas habiskan makananmu dan kita pulang ke kota kecil. Aku sudah mengantuk sekali setelah perjalanan semalam," pungkas Gladys sambil membereskan barang-barangnya, bersiap meninggalkan tempat di mana bayang-bayang masa lalunya nyaris bersinggungan erat tanpa ia sadari.

Setelah Bima menghabiskan sisa makanannya, mereka berdua segera beranjak dari warung pecel tersebut dan naik ke dalam mobil pengantar.

Perjalanan pulang membelah jalanan antarkota terasa begitu tenang.

Gladys yang kelelahan menyandarkan kepalanya di dekat jendela, membiarkan kantuk menyergapnya perlahan.

Tak terasa, setengah jam kemudian mobil pengantar Bima sudah sampai di pekarangan ruko kafe minimalis mereka.

Gladys merapikan pakaiannya, mengambil tas dan bungkus roti oleh-oleh, lalu melangkah masuk ke dalam kafe yang masih bertuliskan pengumuman tutup sementara.

Elsa yang sedang menyapu ruangan langsung menyambut kedatangan mereka dengan senyuman lega.

Gladys menghampiri Elsa dan menyerahkan kantung roti yang baru dibelinya.

"Ini roti untukmu, Elsa," ujar Gladys lembut.

"Wah, terima kasih banyak ya, Bu Gladys!" balas Elsa dengan mata berbinar ramah.

Gladys membalasnya dengan senyuman tipis, lalu menepuk pelan bahunya.

"Saya tidur dulu, ya. Mengantuk sekali," ucap Gladys jujur, menahan berat di kelopak matanya yang sudah tak sanggup lagi ditahan setelah memikul kelelahan fisik dan emosional sejak subuh tadi.

"Iya, Bu Gladys. Istirahat saja, biar kafe dan sisa pengemasan saya sama Bima yang rapikan," jawab Elsa penuh perhatian.

Gladys mengangguk pelan, lalu berjalan menuju kamarnya di lantai bawah, bersiap untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya—tanpa menyadari bahwa jam tujuh malam nanti, Bima akan melangkah kembali ke hotel tersebut membawakan uang ganti rugi yang terselip di dalam buku hariannya untuk diserahkan langsung kepada Raka.

1
nining cahyaningrum
akur jelas cerita bagud
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!