NovelToon NovelToon
The Actress Who Fell For A Hidden Heir

The Actress Who Fell For A Hidden Heir

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Duniahiburan
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: sphinxeditz77

Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.

Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.

Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.

Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.

Arka bukan sekadar mahasiswa.

Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.

Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.

Karena mencintai seseorang ternyata mudah.

Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebetulan yang Terus Berulang

Pagi itu, kampus sudah ramai bahkan sebelum matahari benar-benar terasa menyengat.

Suara knalpot motor dan obrolan mahasiswa memenuhi area parkir. Beberapa orang berjalan tergesa-gesa memeluk laptop, sementara sebagian lainnya santai menghabiskan sarapan di bangku taman sebelum masuk kelas.

Di antara keramaian itu, Arka Pratama berjalan santai menuju gedung fakultas.

Tas ransel hitam tersampir santai di bahu kirinya. Di tangan kanannya, ada segelas kopi es yang dibeli dari kedai murah dekat gerbang kampus. Wajahnya terlihat datar dan biasa saja.

Tidak ada satu pun yang menyangka bahwa pemuda berjaket denim sederhana yang sedang membaur di antara mahasiswa biasa itu adalah putra tunggal keluarga Pratama.

Lebih tepatnya, pewaris utama Skysea Group.

Tapi bagi Arka, semua status itu adalah beban yang tak perlu dibawa ke kampus. Ia hanya ingin menikmati sisa masa kuliahnya dan lulus layaknya mahasiswa normal.

"Arka!"

Suara panggilan melengking terdengar dari belakang.

Arka mendesah pelan dan berhenti. Tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemilik suara itu.

"Rendy."

Rendy berlari kecil menghampirinya sambil mengipasi diri dengan dua lembar kertas print-out. Napasnya sedikit terengah.

"Lu jalan apa lagi kabur dari utang, sih? Cepat banget."

Arka menatapnya tanpa ekspresi. "Kalau gue punya utang sama lu, gue nggak bakal jalan, Ren. Gue bakal lari."

"Jahat banget mulut lu pagi-pagi." Rendy menyejajarkan langkah di sampingnya. "Eh, kemaren gue tungguin lu sampai sore di perpus, lu ke mana?"

"Kan gue udah bilang di chat, gue ada urusan."

"Urusan apa?"

"Urusan kelangsungan hidup."

Rendy mengernyit bingung. "Jawaban macam apa itu? Lu abis ke mana sebenarnya?"

Arka hanya menyeruput kopinya dengan tenang, tidak berniat menjawab. Tentu saja ia tidak akan menceritakan insiden dirinya mengobrol panjang lebar di kedai kopi.

Mereka terus berjalan menyusuri koridor gedung fakultas. Namun, setelah beberapa meter melangkah dalam diam, Rendy tiba-tiba tersenyum penuh arti.

Senyum miring yang membuat insting Arka langsung memberikan alarm bahaya.

"Kenapa muka lu begitu?" tanya Arka waspada.

"Enggak."

"Lu senyum mencurigakan."

"Emang gue warga negara yang dilarang senyum?" balas Rendy membela diri.

"Boleh." Arka meliriknya tajam. "Tapi biasanya kalau lu senyum begitu, habis itu bakal ada masalah."

Rendy tertawa pelan, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Arka. "Gue cuma mau konfirmasi sesuatu aja."

"Konfirmasi apa?"

"Lu..." Rendy sengaja memanjangkan kalimatnya. "Masih ketemu sama dia?"

Arka langsung tahu siapa yang dimaksud. Namun, ia memasang wajah seolah sedang berpikir keras.

"Siapa?"

Rendy berhenti melangkah. "Jangan sok amnesia deh."

Arka ikut berhenti. "Seriusan. Siapa, Ren?"

Rendy menatapnya selama beberapa detik sebelum akhirnya berkata dengan artikulasi jelas, "Alya Renata."

Arka membuang napas panjang. "Nah kan."

"Nah apanya?"

"Baru juga jam delapan pagi."

"Terus kenapa?"

"Kenapa nama itu yang harus pertama kali keluar dari mulut lu hari ini?"

Rendy langsung tertawa puas. "Karena gue penasaran banget, Ka!"

"Penasaran sama apa?"

"Sama lu."

"Gue kenapa lagi?"

Rendy menunjuk dada Arka dengan jari telunjuknya. "Lu ketemu artis terkenal tiga kali. Secara kebetulan pula. Bahkan lu bilang lu ngobrol. Tapi pagi ini ekspresi lu masuk kampus masih sedatar kayak habis ketemu tukang fotokopi. Aneh banget!"

Arka mengangkat sebelah alisnya. "Memangnya gue harus bereaksi kayak gimana?"

"Minimal lu heboh sedikit kek! Pamer kek!"

"Buat apa?"

"Ya... karena dia itu Alya Renata!"

Suara Rendy tanpa sadar sedikit meninggi. Beberapa mahasiswa yang berjalan melintas di dekat mereka langsung menoleh karena mendengar nama sang artis.

Arka refleks menarik kerah kemeja Rendy dan menyeretnya sedikit menjauh. "Pelan-pelan volume lu, toa masjid."

Rendy menurunkan suaranya menjadi bisikan. "Lu takut ada yang dengar?"

"Enggak."

"Terus kenapa gue ditarik?"

"Gue malu jalan sama orang berisik."

Rendy merengut. "Kurang ajar emang lu."

Arka kembali melangkah santai menuju kelas. Rendy bergegas menyusul dari belakang.

"Jadi, Ka?"

"Jadi apa lagi?"

"Kalian masih ketemu lagi nggak habis dari minimarket kemarin?"

Arka diam sebentar, menimbang jawabannya. Kemudian ia menjawab dengan nada sedatar mungkin. "Enggak penting."

Rendy memicingkan matanya seperti detektif. "Jawaban lu ngeles. Sangat mencurigakan."

"Kenapa mencurigakan?"

"Karena kalau emang nggak ada apa-apa dan kalian nggak pernah ketemu lagi, lu pasti bakal langsung jawab 'enggak'. Cepat dan lugas."

Arka berhenti tepat di depan pintu ruang kelas mereka. Ia memutar tubuhnya dan menatap Rendy lekat-lekat.

"Rendy."

"Apa?"

"Dia artis papan atas."

"Iya, tahu."

"Gue cuma mahasiswa."

"Iya."

"Udah. Selesai."

Rendy terdiam. Ekspresi wajahnya yang semula usil perlahan berubah menjadi agak serius.

"Jadi, lu mau bilang kalau... dunia kalian itu berbeda jauh?"

Arka menatap mata temannya. "Kurang lebih."

Rendy mengangguk pelan, terlihat bisa menerima logika itu. "Masuk akal sih. Levelnya beda."

Arka baru saja hendak mendorong kenop pintu, tapi Rendy kembali buka suara.

"Tapi berarti, lu sadar kan kalau dia itu cantik banget?"

Tangan Arka terhenti di udara. Ia menoleh perlahan ke arah Rendy. "Pertanyaan apaan lagi itu?"

"Tinggal jawab aja susah amat. Sadar nggak?"

Arka terdiam sebentar, terlihat menimbang-nimbang sesuatu.

"Ya..." Arka menjawab pelan. "Dia emang cantik."

Rendy langsung menjentikkan jarinya sambil tersenyum lebar. "Nah!"

"Tapi."

Senyum Rendy langsung membeku. "Tapi apa?"

"Enggak ada hubungannya sama gue." Arka akhirnya menekan kenop pintu kelas. "Orang cantik juga kan sama-sama makan nasi dan tetap manusia."

Rendy hanya bisa bengong menatap punggung Arka yang menghilang ke dalam kelas. Ia berjalan mengekor sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Kadang gue beneran nggak ngerti jalan pikiran lu, Ka."

"Bagus," sahut Arka dari bangku deretan tengah.

"Bagus apanya?"

"Berarti lu emang nggak perlu ngerti."

Kelas pertama hari itu berlangsung cukup membosankan selama hampir dua jam.

Arka duduk di barisan tengah bersama Rendy. Dosen menjelaskan materi di depan kelas sambil sesekali menuliskan poin penting di papan tulis. Arka mencatat hal-hal yang dirasa penting saja di buku catatannya.

Sementara itu, Rendy di sebelahnya justru asyik menggambar sesuatu di pojok kertas binder-nya.

Arka melirik sekilas dari sudut mata. Itu gambar karikatur seseorang dengan rambut berantakan, kacamata melorot, dan gigi agak tonggos.

"Gambar apaan lu?" bisik Arka.

Rendy buru-buru menutupinya dengan telapak tangan. "Jangan dilihat."

"Kenapa?"

"Privasi artistik."

Arka mendengus pelan, matanya kembali ke depan. "Padahal jelas-jelas itu gambar dosen di depan."

Rendy langsung panik dan menendang kaki Arka di bawah meja. "Ssshhh! Pelan-pelan!"

Arka menunduk menahan tawa.

Sejujurnya, rutinitas kehidupan kampus yang receh seperti inilah yang paling ia sukai. Tidak ada yang memanggilnya dengan sebutan hormat. Tidak ada pengawal bayangan yang berdiri mengawasinya. Dan yang terpenting, tidak ada yang membicarakan manuver bisnis atau laporan keuangan perusahaan di meja makan.

Di sini, ia hanya Arka.

Mahasiswa tingkat akhir biasa yang sering telat masuk kelas, yang selalu dipusingkan oleh revisi skripsi, dan yang sesekali harus meladeni kelakuan absurd temannya seperti Rendy.

Sangat sederhana, tapi sangat nyaman.

1
joikendil joikendil
Gokil sih kak, bab ini definisi "kamu boleh masuk ke duniaku, tapi duniaku juga bakal ngebongkar duniamu". Alya pulang happy bawa definisi kampus = liburan, Arka ditinggal sama berita nasional nama lengkap + wajah HD. Jurnalisnya udah mulai ngetik Skysea Group. Gak sabar bom kebohongan besar Arka meledak.
joikendil joikendil
Jujur awalnya agak takut baca age gap karena biasanya cringe, tapi di sini age gap nya justru bikin nyaman.

Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.

Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!

Semangat kak, ditunggu update-nya!
sphinxeditz77: Wah, makasih banyak kak sudah kasih 5⭐ dan review sepanjang ini 😭🙏 Senang banget bacanya, apalagi karena kakak sampai nangkep detail tentang Arka yang protective tapi tetap kasih Alya ruang untuk berkarier.

Aku memang pengin hubungan mereka terasa seperti dua orang yang saling menghargai, bukan sekadar trope age gap. Jadi komentar seperti ini jujur bikin semangat banget buat lanjut nulis 😂🔥

Semoga bab-bab berikutnya tetap bikin kakak betah ngikutin Arka dan Alya. 🙏
total 1 replies
joikendil joikendil
Alya: "Besok datang lagi kan Ka?"

Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"

AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭

Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
joikendil joikendil
Bab ini definisi "respect" kak. Arka yang awalnya mikir akting itu cuma hafal dialog + akting manis, sekarang lihat sendiri harus inget blocking, ekspresi, nada suara, arah kamera, vas bunga kesenggol aja harus ulang. Diulang 7x tanpa ngeluh. Terus Arka bilang "Aku respect sama kamu, Al" - bukan "cantik" bukan "akting bagus" yang klise. Alya aja kaget karena jarang ada yang ngomong gitu. Suka banget pergeseran Arka dari lihat Alya sebagai artis terkenal, jadi lihat Alya sebagai manusia pekerja keras. Tapi nomor portal gosip itu masih neror ya? Takut!
sphinxeditz77: Nahhh ini dia 😂🙏 Aku memang pengin momen itu jadi titik perubahan cara Arka melihat Alya. Bukan lagi sekadar “aktris terkenal”, tapi seseorang yang benar-benar bekerja keras di balik kamera. Dan setelah lihat take berkali-kali, menurut Arka kata “respect” jauh lebih tepat daripada sekadar bilang “cantik” atau “aktingmu bagus.” 😭🔥
total 1 replies
joikendil joikendil
Jujur nangis baca part ini kak. Arka gak muji gaun mahal, gak muji cantik, gak muji akting. Dia cuma bilang "Ngerti alasan logis kenapa tiap kita ketemu mata kamu selalu kelihatan sangat capek". ITU DALEM BANGET.

Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
sphinxeditz77: Waduh sampai nangis 😭😂 makasih banyak kak! Bagian Arka melihat rasa capek Alya sebagai manusia memang penting banget buat perkembangan hubungan mereka. Tapi soal “Selamat sore Mas Arka Pratama?”... wkwkwk mulai masuk wilayah berbahaya itu 🤣
total 1 replies
joikendil joikendil
Akhirnya! Arka diajak lihat syuting langsung. Suka detailnya kak, bangunan heritage disulap jadi rumah mewah, kabel seukuran lengan, lampu HMI raksasa, take diulang 7 kali cuma gara-gara bayangan mic bocor.

Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
sphinxeditz77: Wkwkwk makasih kak 😂 Aku memang sengaja masukin detail-detail kecil di lokasi syuting supaya Arka dan pembaca sama-sama bisa melihat kalau dunia Alya ternyata nggak sesederhana “datang, cantik, lalu akting” 🤣 Dan 2 es kopi itu memang bentuk perhatian Arka yang paling sederhana 😂
total 1 replies
joikendil joikendil
Arka: "Punya foto kamu bukan keharusan buatku"

Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya

Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!
joikendil joikendil
Bab ini favorit aku sejauh ini kak! Alya yang biasanya dipuja-puja, histeris dimintain foto, tiba-tiba ketemu Arka yang cuma bilang "Oh." doang pas tau dia Alya Renata. No pansos, no minta tanda tangan. Justru itu yang bikin Alya insecure: "Apa muka aku biasa aja kalau tanpa makeup?" Padahal dia kangen diperlakukan normal. Psikologisnya dapet banget! Dan plot foto buram jaket denim di grup WA angkatan udah mulai nyebar, duhhh...
sphinxeditz77: Wkwkwk ini salah satu bagian yang paling aku suka juga 😂 Karena Alya sebenarnya bukan butuh orang yang terus-terusan mengaguminya, tapi orang yang bisa memperlakukannya sebagai Alya biasa. Dan Arka malah “Oh.” doang pas tahu dia Alya Renata 🤣
total 1 replies
joikendil joikendil
Kak ini bab paling tegang sejauh ini! Dari Alya nge-remas gelas kopi sampe plastiknya bunyi, terus Arka yang langsung "Ikut ke belakang. Percaya sama aku" - itu keren banget, gak banyak cing-cong. Tapi endingnya... ya ampun 😭 yang moto dari balkon lantai 2 fakultas itu siapa?? Foto Alya senyum-senyum sama Arka udah kesebar kayak virus katanya. Plis jangan cliffhanger lama kak!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!