NovelToon NovelToon
TERIKAT DENDAM SANG CEO

TERIKAT DENDAM SANG CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​"Kamu menghancurkan mimpiku demi ambisimu, dr. Naya. Sekarang, giliran aku yang akan menghancurkan segalanya darimu."

​Tujuh tahun lalu, Aksa Dirgantara dibuang secara tak hormat dari fakultas kedokteran akibat sebuah skandal kelam. Ia kehilangan masa depan, harga diri, dan wanita yang paling dicintainya, Naya—yang ia yakini telah memfitnahnya demi merebut satu-satunya kuota beasiswa spesialis bedah ke luar negeri.

​Kini, Aksa kembali. Bukan lagi sebagai pria yang bermimpi memakai jas putih, melainkan sebagai CEO miliarder dingin dan tak kenal ampun yang baru saja mengakuisisi rumah sakit tempat Naya bekerja. Niat Aksa hanya satu: menghancurkan karir gemilang Naya yang kini telah sukses menjabat sebagai Kepala Bedah, dan memaksanya berlutut di bawah kakinya.


​Siksaan demi siksaan diberikan. Aksa mencekiknya dengan jadwal operasi yang mustahil, tekanan dari para direksi, dan hinaan yang menggores harga diri. Namun, betapapun kerasnya Aksa menyiksa, Naya tetap berdiri tegak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Di Luar Ruang Operasi

​​"Siapkan alat kejut jantung sekarang juga! Jangan diam saja!" jerit Naya menggelegar, memecah lengkingan mematikan dari mesin monitor. Kepanikannya nyaris meledakkan isi kepala, tapi insting dokternya menolak tunduk pada ketakutan.

​"Saturasi oksigen anjlok, Dok! Jalan napasnya terganggu!" lapor paramedis muda yang memompa ambulans dengan tangan gemetar parah.

​"Minggir! Biar aku yang kompresi!" Naya mendorong bahu paramedis itu kasar.

​Dengan mengabaikan gips kotor di tangan kanannya, Naya menumpukan kekuatan penuh pada lengan kirinya untuk menekan dada Aksa kuat-kuat. Satu. Dua. Tiga. Empat.

​"Ayo, Aksa! Kembali padaku! Jangan mati di depanku!" raung Naya kalap. Keringat dingin bercampur air hujan menetes membasahi kemeja robek pria itu. "Isi daya dua ratus joule! Siapkan alat kejutnya sekarang!"

​Paramedis itu menempelkan pedal kejut ke dada Aksa. "Menjauh!"

​Bruk! Tubuh besar Aksa tersentak keras ke atas tandu.

​Naya menahan napas, menatap monitor dengan mata membelalak lebar. Garis hijau itu masih lurus tak bernyawa. Keputusasaan mulai merobek jantungnya.

​"Isi daya lagi! Tiga ratus joule!" perintah Naya beringas. Ia kembali memberikan kompresi dada satu tangan dengan sisa tenaga terakhirnya. Napas Naya terengah-engah hebat. "Kamu berutang nyawa padaku, Aksa! Bangun!"

​"Tembak!"

​Bruk! Hantaman kedua kembali membuat tubuh Aksa melompat.

​Hening sesaat menyelimuti kabin ambulans yang terus melaju kencang menembus badai. Tiba-tiba, lengkingan panjang itu terputus. Garis hijau di layar monitor melonjak membentuk gelombang tajam.

​Tit. Tit. Tit.

​"Jantungnya kembali berdetak, Dokter!" seru paramedis dengan keringat membanjiri wajahnya. "Tekanan darahnya naik!"

​Naya jatuh terduduk di lantai ambulans. Kakinya lemas tak bertulang. Ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya, menangis lega menatap dada Aksa yang kembali memompa napas tepat saat ambulans mengerem mendadak di depan lobi IGD Rumah Sakit Medika Jaya.

​Pintu belakang terbuka lebar. Angin malam menyapu wajah Naya.

​"Cepat bawa dia ke ruang resusitasi! Hubungi dokter bedah saraf yang berjaga malam ini! Pasien mengalami trauma kepala berat!" teriak Naya sambil melompat turun mengikuti pergerakan ranjang dorong Aksa.

​Belasan perawat dan dokter IGD berhamburan keluar menyambut bos besar mereka yang datang bersimbah darah. Roda ranjang dorong beradu bising dengan lantai pualam.

​"Dokter Naya, tangan Anda butuh perawatan. Gips Anda rusak," tegur dokter jaga IGD yang berlari di sebelahnya.

​"Abaikan tanganku! Fokus pada pendarahan di kepalanya! Miringkan kepalanya agar jalan napasnya tidak tertutup darah!" balas Naya tegas tanpa melepaskan genggamannya pada tepi ranjang Aksa.

​Namun, saat ranjang dorong itu berbelok tajam memasuki area steril ruang bedah saraf, dua perawat menahan bahu Naya.

​"Maaf, Dokter. Anda tidak diizinkan masuk dalam kondisi kotor dan terluka seperti ini," ucap perawat itu cepat sambil menutup pintu ganda ruang operasi rapat-rapat.

​Lampu merah bertuliskan SEDANG OPERASI menyala terang di atas pintu kayu itu.

​Naya terpaksa mundur. Tenaganya tersedot habis. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding koridor, lalu merosot turun duduk di lantai. Pakaiannya kotor oleh lumpur, dan wajahnya sepucat mayat. Bau anyir darah Aksa masih menempel pekat di tangan kirinya.

​Langkah kaki berderap cepat terdengar dari ujung lorong. Dimas berlari panik ke arah Naya dengan napas memburu.

​"Dokter Naya! Bagaimana keadaan Pak Aksa?!" tanya asisten pribadi itu tegang. "Saya baru selesai mengurus Bima di kantor polisi dan langsung menyusul ke sini!"

​Naya mendongak menatap Dimas dengan mata merah dan kosong. "Mereka sedang mengoperasi kepalanya, Dimas. Benturannya sangat parah. Dia sempat henti jantung di ambulans."

​Dimas membelalakkan matanya ngeri. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu berjongkok di sebelah Naya.

​"Pak Aksa sangat mencintai Dokter," bisik Dimas pelan, suaranya bergetar menahan sedih. "Beliau hancur saat tahu kebenaran tujuh tahun lalu. Beliau memacu mobil menembus badai cuma untuk memastikan Dokter aman. Beliau rela menukar nyawanya asalkan Dokter tidak terluka."

​Mendengar itu, air mata Naya kembali jebol. Dadanya sesak luar biasa bagai dihantam batu.

​Naya bangkit berdiri pelan-pelan. Ia mondar-mandir di depan pintu ruang operasi seperti orang linglung. Otaknya terus memutar ulang detik-detik Aksa menerjangnya, mendorongnya menjauh dari hantaman mobil Bima.

​"Aku bodoh, Dimas. Aku benar-benar bodoh," isak Naya sambil meremas rambutnya dengan tangan kiri. "Aku terus memupuk ego dan kemarahanku. Aku terus mengusirnya karena sakit hati. Padahal di lubuk hatiku, aku tahu aku tidak pernah bisa membencinya."

​Naya menatap lampu merah ruang operasi itu dengan pandangan kabur. Semua rasa gengsi yang ia pelihara kini terasa sangat tidak berarti. Apalah arti ego jika ia harus kehilangan pria itu selamanya?

​"Kalau terjadi apa-apa padanya... aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri," ratap Naya memukul dinding koridor. "Bertahanlah, Aksa. Kamu harus hidup."

​Waktu merangkak lambat bagai siksaan neraka. Naya menolak meninggalkan depan pintu itu meski Dimas sudah berkali-kali membujuknya membersihkan luka.

​Satu jam berlalu. Dua jam terlewati penuh ketegangan mematikan.

​Tiba-tiba, bunyi klik pelan terdengar. Lampu indikator merah di atas pintu itu padam seketika.

​Naya membeku di tempatnya. Jantungnya berdebar gila-gilaan menabrak tulang rusuk.

​Pintu ganda itu terbuka pelan. Dokter bedah saraf senior keluar dari ruangan dengan bahu menurun dan wajah luar biasa lelah. Dokter itu menarik turun masker hijaunya perlahan, lalu menatap lurus ke arah Naya dalam diam.

1
Muft Smoker
semangat Naya ,,
semoga km bisa sembuh kembali ,, rasa sakit ini akan terbayar dg kembali ny tangan mu yg berfungsi dg normal
Muft Smoker: 🤭🤭🤭😁😁😁😁
total 2 replies
Muft Smoker
waah garcep. juga nih Pak CEO ,,


si bima jgn sampe kluar lagi dr penjara ,, biarin bocah tantrum tu duduk manis di penjara selama-lamanya 😏
Muft Smoker: butut aj kak ,, udh cukup si bima nikmati kemewahan ,, 🤭😁
total 2 replies
Muft Smoker
duuuh bisa aj bayi beruang akal ny😒😒😒
Muft Smoker: bnr kak ,, 🤭🤭🤭anak ny sypa siih ,, jitak dkit boleh laa🤭😁
total 2 replies
Muft Smoker
udh nikah kah mereka kak???
koq gx ngundang2🤔
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
ElHi
ya..ya..ya
pijat aja semua...obatin aja...kalo perlu operasi jg sendiri...dokter lain mah cm remahan peyek...serah lu dah...gw yg cm baca tapi pengen nyakar lu Aksa 😤
ElHi: udah kak...tarik napas..keluarkan...tarik...keluarkan...yg ada malah lebih jengkel nih gmn Yoo??😤
total 3 replies
ryuka
eeaaaa... bisa banget
Savana Liora: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
ryuka
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Savana Liora: 💪💪💪💪💪
total 1 replies
ryuka
eeaaaaa... ada yg panasss 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Savana Liora: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Muft Smoker
duuuh bayi gede niih gx liat tempat cemburu ny ,, 😒😒😒 ,,
mau liat Naya cepat sembuh gx ,, cemburu ny simpan dlu di kantong celana pak bos ,,
Muft Smoker: hihihihi greget kak🤭
total 2 replies
ElHi
mulai...mulai dah......heh
..yg bikin kek gini sapa cobak??? trus skrg butuh tenaga fisioterapi msh jg dicemburuin??? mau kau apa Bambang???😤😤😤
Savana Liora: ada besti adaa
total 3 replies
Muft Smoker
lanjuuuut kak Savana ,,
cerita ny seruuu ,,
semoga Naya bisa sembuh lgi tangan ny ,,
Jelita S
jgn lama2 up nya y thor
ryuka
👍👍👍👍👍👍🔥🔥🔥🔥🔥🔥
ElHi
percakapan billionaire yg baru saja siuman dari koma kyk gini ya ternyata...mo beli kacang goreng yg wujudnya rumah sakit??😤😤
Muft Smoker: bnr kak 🤭😁
total 4 replies
MamDeyh
Lagiii dong kak
Savana Liora: sabar
total 1 replies
MamDeyh
/Sob//Sob//Sob/
Muft Smoker
koq deg2an yx ,, ayoo aksaa km harus baik2 kalo gx mau Naya pindah k RS sebelah ,,
ryuka
aksa kamu harus brrtahan biar naya ga gila
Muft Smoker
aduuuuuh kak Savana ,,, di gantuung ,, semoga mereka baik2 aj ,,


lanjuuut kak
Muft Smoker: yx pake perasaan 🤭🫣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Muft Smoker
apa bnr gx bisa di sembuhin tangan Naya kak ,, Mimpi ny loo tu ,, 😭😭😭😭😭
Muft Smoker: udh sabar banget loo nii 😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!