Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Kringgg.
Suara alarm dari ponsel memecah keheningan pagi di ruang istirahat dokter.
Bima Aditya membuka matanya yang terasa berat setelah hanya tidur selama dua jam.
Semalaman dia terus mengawasi monitor detak jantung Kiara di kediaman keluarga Pratama.
Setelah memastikan kondisi wanita itu benar-benar stabil, Bima langsung meluncur kembali ke rumah sakit.
Dia tidak punya waktu untuk beristirahat dengan santai.
Waktu tiga puluh hari yang diberikan oleh sistem terus berdetak mundur tanpa ampun.
Bima bangkit dari sofa dan membasuh wajahnya di wastafel.
Air dingin yang membasahi wajahnya membuat pikirannya kembali tajam dan fokus.
"Aku harus menaikkan level reputasiku menjadi Spesialis Senior secepat mungkin."
Bima menatap pantulan dirinya di cermin sambil bergumam pelan.
"Satu-satunya cara adalah dengan mengambil alih semua kasus medis yang dianggap mustahil oleh dokter lain."
Langkah kakinya segera membawanya keluar dari ruang istirahat menuju ruangan Direktur Wira.
Tok tok tok.
Bima mengetuk pintu dan langsung membukanya setelah mendengar sahutan dari dalam.
Direktur Wira terlihat sedang menyeruput kopi paginya saat Bima masuk.
"Selamat pagi, Direktur Wira."
"Bima? Kenapa kamu sudah ada di sini pagi-pagi sekali?"
Direktur Wira meletakkan cangkir kopinya dengan raut wajah heran.
"Bukankah aku sudah memberimu cuti satu hari setelah kejadian semalam?"
Bima menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Saya tidak butuh cuti, Direktur."
"Saya datang ke sini untuk meminta izin khusus dari Anda."
"Izin khusus apa yang kamu maksud?" tanya Direktur Wira semakin penasaran.
Bima berjalan mendekati meja direktur dan menatap atasannya itu dengan serius.
"Saya ingin Anda memindahkan semua pasien dengan status kritis atau tidak bisa disembuhkan ke dalam daftar penanganan saya."
"Dari semua departemen, baik itu bedah, penyakit dalam, maupun saraf."
Direktur Wira membelalakkan matanya mendengar permintaan gila tersebut.
"Kamu bercanda, Bima?"
"Pasien-pasien itu adalah kasus yang sudah menyerah ditangani oleh dokter spesialis senior kita."
"Bahkan Dokter Hendra pun angkat tangan untuk beberapa kasus tumor ganas di ruang ICU."
"Jika kamu mengambil semuanya dan mereka meninggal di tanganmu, reputasimu akan hancur lebur."
Bima tersenyum tipis mendengar kekhawatiran itu.
"Reputasi rumah sakit ini justru akan melesat naik jika saya berhasil menyembuhkan mereka."
"Dan jika terjadi sesuatu yang buruk, saya yang akan menanggung semua risikonya secara pribadi."
"Direktur, Anda sudah melihat sendiri apa yang bisa saya lakukan."
Direktur Wira terdiam sejenak dan menatap mata Bima yang penuh dengan keyakinan absolut.
Pria paruh baya itu akhirnya menghela napas panjang dan mengangguk.
"Baiklah, aku akan memberikan otorisasi penuh padamu mulai hari ini."
"Suster Nita akan menjadi asisten pribadimu untuk mengurus semua perpindahan pasien tersebut."
"Terima kasih, Direktur Wira," ucap Bima sambil menundukkan kepala.
Bima segera keluar dari ruangan itu dan langsung menemui Suster Nita di meja resepsionis lantai dua.
"Suster Nita, kumpulkan semua berkas rekam medis pasien paling kritis di rumah sakit ini sekarang."
Suster Nita yang baru saja datang untuk pergantian giliran jaga tampak kebingungan.
"Semuanya, Dokter Bima?"
"Tapi itu jumlahnya ada lebih dari dua puluh orang."
"Bawa semuanya ke ruang periksaku dalam waktu sepuluh menit," perintah Bima dengan nada tidak terbantahkan.
Tiga puluh menit kemudian, Bima sudah berdiri di ruang ICU memakai pakaian steril.
Suster Nita berdiri di sampingnya sambil membawakan setumpuk tebal rekam medis.
"Pasien pertama adalah Bapak Ridwan, usia enam puluh tahun," lapor Suster Nita.
"Beliau didiagnosis tumor otak ganas stadium akhir dan divonis hanya punya waktu hidup dua hari lagi."
Bima mendekati ranjang pasien pria tua yang sudah tidak sadarkan diri itu.
"Sistem, aktifkan Pandangan Sinar-X," perintah Bima dalam hatinya.
Tiba-tiba, pandangan Bima menembus tulang tengkorak pasien tersebut.
Dia melihat gumpalan massa hitam di otak pasien, namun ada sesuatu yang aneh.
"Itu bukan tumor otak."
Ucapan Bima membuat Suster Nita terkejut.
"Bukan tumor? Tapi hasil MRI dari rumah sakit pusat mengatakan itu adalah kanker ganas, Dok."
"Ini adalah infeksi parasit langka jenis neurocysticercosis yang membentuk kista sekeras tumor," jelas Bima.
"Kista itu menekan saraf motoriknya hingga dia koma."
Suster Nita hanya bisa melongo mendengar diagnosis cepat Bima.
"Siapkan ruang operasi bedah saraf sekarang juga."
"Aku hanya butuh pisau bedah presisi dan alat penyedot vakum mikro."
Hanya dalam waktu satu jam, Bima berhasil mengeluarkan kista parasit itu dari otak pasien tanpa merusak jaringan saraf sekitarnya.
Tit tit tit.
Monitor detak jantung yang tadinya sangat lemah kini berdetak dengan stabil.
[Misi Penyelamatan berhasil.]
[Mendapatkan 100 Poin Reputasi Medis.]
Bima tidak membuang waktu dan langsung beralih ke pasien kedua.
Seorang anak kecil berusia tujuh tahun yang menderita gagal ginjal akut tanpa penyebab yang jelas.
Dengan Bantuan Anatomi Tingkat Lanjut, Bima menemukan penyumbatan racun logam berat di pembuluh darah mikro ginjal anak itu.
"Dia keracunan timbal dari air minum di lingkungannya," kata Bima pada Suster Nita.
Bima kemudian mengakses Perpustakaan Medis di kepalanya.
Dia meracik obat khelasi khusus yang langsung mengikat dan membuang logam berat itu lewat urin.
Dua jam kemudian, anak kecil itu sudah bisa membuka matanya dan meminta minum.
[Misi Penyelamatan berhasil.]
[Mendapatkan 150 Poin Reputasi Medis.]
Begitulah Bima menghabiskan waktu dari pagi hingga menjelang sore.
Dia berpindah dari satu ruang operasi ke ruang operasi lainnya tanpa henti.
Tangannya bergerak dengan kecepatan dan presisi yang tidak masuk akal.
Para dokter spesialis lain yang awalnya meragukan Bima kini hanya bisa berdiri diam menonton dari kaca ruang operasi dengan mulut terbuka.
Bima benar-benar terlihat seperti dewa medis yang sedang turun ke bumi.
Namun, di saat Bima sedang mengelap keringatnya setelah operasi kelima, Suster Nita berlari menghampirinya.
Wajah perawat itu terlihat sangat pucat dan ketakutan.
"Dokter Bima, ada pasien gawat darurat baru di lobi bawah."
"Lalu kenapa kamu terlihat ketakutan begitu, Suster?" tanya Bima heran.
"Pria itu sangat menyeramkan, Dok."
"Dia berdarah-darah tapi dia menolak ditangani oleh dokter jaga."
"Dia mengamuk dan secara khusus hanya meminta Dokter Bima yang menanganinya."
Mendengar itu, alis Bima sedikit berkerut.
Firasatnya mengatakan bahwa ini bukan pasien kecelakaan biasa.
"Baiklah, ayo kita temui pria itu."