Renzo, mantan prajurit elite nomer satu indonesia dengan julukan beruang baja, dipenjara di Nusakambangan setelah membantai geng yang membunuh tunangannya. Ia berniat hidup tenang, sampai kabar adiknya dianiaya anak pejabat tertinggi dan keluarganya di sembunyikan membangkitkan amarahnya. Diliputi amarah, Renzo mengumpulkan para tahanan paling berbahaya—algojo kartel, yakuza, psikopat, ahli kungfu, hingga perancang bom—membentuk geng kriminal paling berbahaya dalam sejarah untuk kabur dari penjara, membalas dendam, dan menumbangkan penjahat manipulatif yang bahkan dilindungi pasukan militer!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kabutmalam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DOMINASI NAGA NERAKA!
Sementara itu, di sisi lain arena yang berdebu dan retak, Pangeran Kael yang sebelumnya terhempas begitu keras akibat tendangan Rwnzo bangkit seketika.
Debu tebal masih menempel di pakaian oranye tahanannya yang kini robek. Napasnya memburu, kasar dan terputus-putus, darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Namun matanya — matanya tidak padam. Justru menyala tajam, liar, menatap lurus ke satu titik: Renzo.
Otaknya berputar cepat. Ia paham betul bahayanya. Terlalu paham.
Jika Renzo sampai berhasil bergabung dengan Ivan di tengah arena, maka keseimbangan rapuh yang selama ini susah payah ditahan oleh Zevan, Lucas, dan Axel akan hancur seketika. Tidak akan ada yang bisa menahan mereka. Semuanya akan runtuh.
Tidak ada waktu untuk berpikir lebih lama.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Kael menghentakkan kedua kakinya ke tanah.
DUAK!
Tanah di bawahnya pecah, dan tubuhnya melesat maju menerjang seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Begitu cepat, hingga angin di sekitarnya meraung.
Dalam sekejap ia sudah melayang di udara, tubuhnya meluncur rendah dan cepat. Gerakannya bersih, efisien, mematikan. Kaki kanannya menyapu lurus, mengincar pelipis Renzo dengan kecepatan yang bisa mematahkan leher banteng, sementara tangan kanannya merapat, jari-jarinya lurus menajam bak bilah pedang yang siap menembus tengkorak lawan sampai ke otak.
Itu adalah teknik pembunuh yang ia asah bertahun-tahun di jalanan.
Namun Renzo tidak bergeming sama sekali.
Ia tetap berdiri diam di tempatnya, kedua tangannya di saku. Bahkan ia tidak mengangkat alis. Ia hanya menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya — senyum yang dingin, tenang, penuh perhitungan. Senyum seorang pemain catur yang melihat lawannya akhirnya masuk ke dalam jebakan yang sudah ia siapkan sejak lama. Jebakan yang kini akhirnya terkunci rapat.
Dan Kael melihat senyum itu.
Jantung Kael berdegup kencang, bukan karena lelah, tapi karena alarm bahaya. Insting liar yang ditempa bertahun-tahun di jalanan, di antara pertarungan hidup dan mati, di antara tikaman dari belakang, tiba-tiba berteriak keras di dalam kepalanya.
_ADA BAHAYA!
Ada sesuatu yang salah. Ada bahaya yang jauh lebih besar di sini. Bukan firasat biasa.
Ia sempat ragu sesaat, ingin menarik kembali serangannya, namun semuanya sudah terlambat.
Sebuah bayangan hitam melesat dari sisi kanan — begitu cepat, begitu senyap, hingga mata hampir tak bisa menangkapnya. Menyambar cepat bagaikan elang hitam yang menukik dari langit untuk menyambar mangsanya.
BUCH!
Pukulan berat, padat, dan brutal mendarat telak di rusuk kiri dada Kael. Bukan pukulan biasa. Rasanya seperti dihantam palu godam seberat satu ton. Suara daging dan tulang beradu terdengar basah.
Kael terpaksa mengubah arah gerakannya di tengah udara. Ia memutar tubuhnya secara paksa untuk menyeimbangkan diri, menahan rasa sakit yang menjalar, lalu mengayunkan tangan kanannya dalam sebuah lengkungan lebar untuk menangkis serangan berikutnya yang pasti akan datang.
BLARR!!
Dua kekuatan bertabrakan di udara. Dentumannya menggema ke segenap penjuru arena, membuat debu-debu beterbangan dan beberapa penonton di barisan depan refleks menutup telinga. Gelombang kejutnya terasa sampai ke dada.
Mata Kael membelalak. Ia masih belum sempat melihat dengan jelas siapa penyerangnya. Sosok itu terlalu cepat.
Saat ia hendak membalas dengan sikutan, tangan lawan tiba-tiba terbuka lebar dan mencengkeram telapak tangan kanannya. Cengkeramannya tidak seperti cengkeraman manusia. Kekuatannya mustahil. Jari-jari itu seperti jeruji baja yang hidup, mengunci dan meremukkan.
KRAAAKKK!!
Suara tulang yang hancur terdengar nyaring, mengerikan, dan sangat jelas di tengah arena yang mendadak senyap. Tangan Kael terpelintir paksa ke sudut yang tak wajar, ke arah yang tidak seharusnya bisa dilakukan oleh sendi manusia. Pergelangan tangannya patah, kulitnya memelintir, bentuknya berubah secara mengerikan bahkan sebelum rasa sakitnya sempat sampai ke otak Kael.
Kayden tidak berhenti. Wajahnya datar tanpa emosi.
Ia menarik tangan yang sudah patah itu ke samping, seperti menarik boneka rusak, lalu kakinya menyapu pergelangan kaki Kael hingga kaki Kael tertekuk memaksa Kael berlutut.
Kael tersentak hebat. Napasnya tercekat di tenggorokan. Mulutnya terbuka lebar namun tidak ada suara yang keluar. Tekanan datang bertubi-tubi tanpa jeda. Tangan kanan dan bahunya ditahan kuat ke bawah hingga tubuhnya berlutut paksa, sementara lutut Kayden sendiri terangkat dan menghantam tubuh Kael bertubi-tubi dari bawah ke atas — menghantam ulu hati dan menghantam dagu.
Semuanya terjadi dalam hitungan dua detik. Terlalu cepat bagi mata penonton biasa untuk mengikuti gerakan demi gerakan. Yang mereka lihat hanyalah bayangan yang bertabrakan.
Tak sampai di situ, pemandangan mengerikan kembali mereka lihat, Kayden meletakan telapak kakinya di samping rusuk kael, sementara kedua tangannya menarik tangan Kael sekuat tenaga.
KRAAAKKK... CRRROOOSSSSHHH...!!!!
"AAAAARGHHH...!!!"
Jeritan kesakitan Kael akhirnya pecah, melengking memecah udara, beriringan dengan semburan darah segar yang memancar tinggi ke udara, menghujani wajah Kayden.
Tangan kanan Pangeran Kael putus sepenuhnya. Terlepas dari bahunya. Dicengkeram dan diangkat tinggi-tinggi ke udara oleh Kayden yang berlumuran darah, seperti seorang algojo yang memamerkan trofi.
Seluruh arena mendadak hening. Hening yang mematikan.
Ribuan pasang mata terpaku, tidak ada yang bergerak, tidak ada yang bersuara. Seakan waktu berhenti berdetak. Tidak ada yang menyangka. Tidak ada yang pernah menduga bahwa Kayden bisa bertarung sebrutal ini... itu semua hasil dari latihan gila tanpa kenal lelah berbulan-bulan lamanya.
Kematian Kael yang mengenaskan itu mengguncang pasukan Singa Perkasa hingga ke akar-akarnya. Melihat pemimpin mereka, pangeran mereka, tewas dengan tangan putus dan tubuh menggelepar, semangat bertarung mereka luruh seketika. Wajah-wajah pucat, kaki-kaki gemetar.
Sebaliknya, Pasukan Naga Neraka meraung. Mereka menjadi makin beringas, mata mereka merah karena adrenalin, memanfaatkan kekacauan itu untuk menekan, membantai, dan menghabisi musuh yang mulai goyah dan berlarian.
Kayden tidak berhenti untuk menikmati kemenangannya. Darah masih menetes dari tangannya. Ia membuang potongan tangan itu ke tanah seperti sampah, lalu melompat kembali, tubuhnya melesat menuju Rengoku yang sedang berduel sengit dengan Damian.
Renzo masih menyaksikan dari samping, dengan senyum tipisnya yang sama. Kedua tangannya masih di saku. Ia tidak ikut turun. Ia adalah kartu as terakhir. Ia akan bertindak hanya saat temannya benar-benar terdesak.
Satu pukulan lurus, keras, dan tanpa basa-basi mendarat di wajah Rengoku.
BUGH!
Rengoku terlempar, tubuhnya membentur tanah dengan keras hingga tanah retak.
Damian yang melihat kematian sahabatnya, Kael, tidak lagi bisa menahan amarah dan kekuatannya. Matanya menyala merah padam. Ia melesat cepat ke arah Kayden tanpa ragu, tanpa takut. Tangan Kayden menjulur hendak mencekik lehernya, namun Damian berkelit dengan gerakan yang jauh lebih cepat, menangkap pergelangan tangan Kayden yang berlumuran darah itu, dan memelintirnya dengan sekuat tenaga — berniat membalas dengan cara yang sama persis, mematahkan tangan musuhnya.
Tangan Kayden terpelintir, ototnya menegang, tulangnya berderit di ambang hancur — namun sebuah tendangan datang menyelamatkan.
Gavien datang menolong. Kakinya menghantam keras perut Damian hingga Damian terhuyung mundur beberapa langkah, darah keluar dari mulutnya. Tanpa memberi jeda sedetik pun, Gavien melompat tinggi ke udara, tubuhnya berputar, dan kakinya menukik tajam ke bawah seperti kapak, mengincar kepala Damian.
Damian berguling cepat ke samping.
BRAAAK!
Hantaman kaki Gavien menghancurkan tanah kosong. Tanah meledak, retakan menjalar ke mana-mana seperti jaring laba-laba. Damian bangkit seketika, menghentakkan kakinya ke tanah, dan kembali menerjang Gavien dengan kemarahan yang tak terpadamkan.
Di sudut lain arena, Zevan dan Lucas terpaku. Napas mereka berat. Rencana yang mereka susun begitu rapi, langkah demi langkah yang mereka hitung semalaman, runtuh tanpa mereka pahami bagaimana caranya. Setiap langkah mereka sudah dibaca sejak awal oleh Aditya Wijaya.
Saat mereka masih diliputi kebingungan, Petra muncul di hadapan mereka tanpa suara. Tanpa bayangan.
Kaki kirinya menancap kuat ke tanah hingga tanah di bawahnya amblas, lalu kaki kanannya diayunkan rendah, menyapu dan menghantam betis Zevan dengan kekuatan penuh seperti cambuk besi.
Zevan terhuyung, lututnya terlipat, keseimbangannya hancur total.
Riko tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Di tangannya tergenggam sebilah kayu runcing yang berkilau karena darah — patahan kursi ranjang di selnya yang ia asah sendiri menjadi senjata.
Ia melesat cepat, secepat kilat, dan menghujamkan kayu runcing itu tepat ke dada Zevan yang terbuka.
CRAAASSSSHHH...!
Bukan sekadar tusukan lurus. Riko menekan lebih dalam, lalu dengan brutal ia menyayatnya ke samping, mengoyak daging, otot, dan tulang rusuk hingga luka lebar menganga.
Darah segar memancar deras, melengkung indah dan mengerikan di udara, sebelum jatuh menetes dan meresap ke tanah arena yang mulai memerah pekat.