Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.
Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.
Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Amara melangkah sedikit maju, suaranya terdengar berusaha tenang. "Alina, jangan salah paham. Kami hanya ingin pergi makan siang saja. Lagipula kami tidak berdua, ada Revan juga yang ikut bersama kami."
Ia menoleh ke arah Revan, matanya meminta dukungan. "Bukan begitu, Revan?"
Tapi Revan hanya berdiri diam, tatapannya tertuju pada wajah Alina.
Rafael melangkah mendekat, lalu menyentuh lengan Alina perlahan.
"Kenapa datang tidak bilang‑bilang dulu? Aku bisa menyuruh Revan untuk menjemputmu," ucapnya dengan nada yang berusaha terdengar lembut, meskipun napasnya sedikit terengah karena gugup.
"Kalau aku bilang, aku tidak akan melihat suamiku sedang berjalan dengan mantan kekasihnya di sini." jawab Alina.
Ia menarik tangannya dari pegangan Rafael dengan cepat. Rafael melirik sekeliling, menyadari banyak mata karyawan yang tertuju ke arah mereka, lalu kembali menatap wajah istrinya.
"Alina, jangan seperti ini. Kita bicara di ruang kerjaku saja."
Saat ia hendak meraih tangan Alina, Alina langsung menepisnya dengan tegas.
"Tidak perlu. Aku malas di sini menonton kemesraan kalian berdua."
Alina berbalik dan melangkah cepat menuju pintu utama. Rafael hendak berlari mengejar, tapi Revan maju lebih dulu.
"Biar saya saja yang mengejar Nyonya, Tuan."
Tanpa menunggu jawaban Rafael, Revan segera melangkah cepat mengejar Alina yang sudah sampai di halaman depan kantor, meninggalkan Rafael dan Amara yang berdiri diam di tengah tatapan orang‑orang yang lewat.
Sesampainya di halaman kantor, Revan langsung meraih pergelangan tangan Alina yang hendak membuka pintu mobil. Melihat mata Alina yang berkaca‑kaca, ia berbicara dengan suara rendah.
"Aku akan mengantarmu."
Alina tidak menjawab, ia hanya mengangguk pelan. Revan membuka pintu mobil belakang untuk Alina. Setelah Alina masuk, Revan berjalan memutari mobil dan duduk di kursi kemudi.
Dari pintu utama kantor, Rafael dan Amara keluar tepat saat mobil itu melaju perlahan meninggalkan halaman. Amara menatap Rafael sebentar, lalu kembali menatap ke arah mobil yang semakin jauh. Ia tersenyum tipis dan berbisik.
"Sepertinya asistenmu pandai mengendalikan istrimu."
Rafael tidak menjawab, tatapannya terus tertuju pada mobil istrinya yang perlahan menghilang berbaur di keramaian jalan raya. Tangannya tanpa ada sadar mengepalkan di sisi tubuhnya.
-
-
-
Mobil terus melaju, meninggalkan gedung kaca perkantoran yang makin mengecil di pantulan kaca spion bersama dua sosok yang masih berdiri diam di depan pintu utama.
Di dalam mobil hanya ada keheningan, diselingi suara desis AC dan napas Alina yang masih berantakan.
"Revan, tepikan mobilnya."
Tiba‑tiba suara Alina terdengar, pelan tapi jelas. Revan meliriknya sekilas lewat kaca spion, tidak bertanya apa‑apa. Ia memutar setir perlahan ke kiri, menepikan mobil merah itu di bawah pohon angsana yang rindang, di pinggir jalan yang sepi.
Mobil pun berhenti. Tanpa menunggu lama, Alina membuka pintu belakang dan turun. Ia membuka pintu penumpang depan, masuk ke dalam, lalu menutup pintu dengan lembut. Tangannya segera bergerak, menggenggam tangan Revan yang bertengger di atas konsol tengah.
Perlahan Alina menyandarkan kepalanya di bahu pria itu, rambut panjangnya yang tergerai menyentuh kain jas hitam Revan. Matanya terpejam rapat.
"Jangan antar aku pulang ke rumah sekarang," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Aku tidak mau pulang."
Revan menatap sosok wanita yang akhirnya berhenti berusaha tampak kuat itu. Tangan yang tadi digenggam Alina berbalik, kini ia yang menguncinya dengan erat.
"Kita tidak pulang," jawabnya dengan suara rendah yang tenang. "Sekarang katakan, tuan putri ini mau diantar ke mana, supaya hatinya bisa tenang kembali."
Alina tidak langsung menjawab. Kepalanya masih bersandar di bahu Revan, tapi napasnya mulai teratur. Beberapa detik berlalu, hanya suara angin yang menyelinap lewat celah jendela mobil merah itu.
Perlahan, ia mengangkat kepalanya. Matanya yang tadi terpejam rapat kini terbuka, ia menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat, meletakkan dagunya di atas bahu Revan, membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
Revan menoleh sedikit, dan tatapan mereka bertemu. Tidak ada lagi jarak antara seorang nyonya dan asisten suaminya.
Alina tersenyum. Bukan senyum formal yang biasa ia pakai untuk menutupi luka. Senyum kecil, tulus, yang membuat matanya sedikit melengkung.
"Kemana saja," bisik Alina. Ia tersenyum, senyum yang membuat matanya sedikit melengkung. "Asalkan denganmu."
Kalimat itu menggantung di udara. Tangan Revan yang mengunci tangan Alina di konsol tengah sedikit mengencang. Rahangnya yang tadi mengeras kini melembut. Ia menatap wanita di bahunya itu lama, seolah memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"Tuan putri yakin?" tanyanya akhirnya, suaranya hampir berbisik, "Karena jika mobil ini sudah melaju, tidak ada kesempatan untuk berubah pikiran."
Alina mengangguk, "Aku tidak akan berubah pikiran. Aku hanya ingin pergi denganmu."
Revan terdiam. Lalu ia mengangkat tangan bebasnya, dengan sangat pelan merapikan anak rambut Alina yang menempel di pipinya. Gerakannya sopan, tidak melewati batas, tapi cukup untuk membuat Alina memejamkan mata sejenak menikmati sentuhan itu.
"Baik," jawab Revan. "Kalau begitu pakai sabuk pengamannya, tuan putri. Kita tidak akan pulang hari ini."
Alina terkekeh kecil, akhirnya melepaskan dagunya dari bahu Revan dan duduk dengan patuh, tapi tangannya tetap tidak melepaskan genggaman Revan.
"Kau yang memakaikannya untukku," katanya manja, setengah berbisik.
Revan menatapnya, lalu tanpa banyak bicara menarik sabuk pengaman dan memasangkannya untuk Alina. Jarak mereka kembali dekat, aroma parfum Alina yang lembut menyusup di antara mereka.
Setelah sabuk terpasang, Revan menyalakan mesin kembali. Mobil merah itu melaju perlahan, meninggalkan bayangan pohon angsana yang rindang di balik kaca spion.
Ia tidak memacu kecepatan, hanya membiarkan mobil melaju tenang. Alina menatap ke luar jendela, saat keramaian kota yang padat perlahan berganti menjadi jalan panjang yang berkelok membelah perbukitan hijau. Di sisi kiri, tebing‑tebing berwarna hijau tua dengan pohon‑pohon tinggi menjulang menutupi langit. Di sisi kanan, hamparan laut biru berkilau terkena sinar matahari, bergerak selaras dengan ombak yang tak pernah berhenti. Angin sepoi‑sepoi menyelinap lewat celah jendela, membawa aroma garam laut yang lembut. Di dalam mobil, hanya ada suara mesin yang rendah dan napas mereka yang tenang, seolah semua beban yang tadi menumpuk mulai tertinggal di belakang.
Satu jam berlalu, tak ada satu pun kata yang terucap. Bukan karena canggung, tapi karena keduanya tenggelam dalam keheningan yang sama‑sama menenangkan. Tangan mereka sesekali bersentuhan di atas konsol tengah, sentuhan kecil yang cukup untuk saling menguatkan.
Hingga akhirnya mobil berhenti di sebuah pantai yang sepi. Tak ada orang selain mereka berdua, hanya hamparan pasir putih halus dan deru ombak yang berulang membasahi tepi pantai.
Alina membuka matanya lebar. Senyuman kecil yang tadi tersembunyi, kini melebar tulus di bibirnya.
"Revan... ini..."
Belum selesai kalimatnya, ia sudah membuka pintu mobil dan turun. Ia menatap hamparan air biru di depannya, angin laut menerbangkan rambutnya. Tanpa pikir panjang, ia melepas sepasang high heels krem yang sedari pagi mengikat kakinya dan melemparnya begitu saja ke pasir, lalu ia berlari ke arah air dengan tawa yang lepas.
Revan berdiri bersandar pada bodi mobil merah itu. Tangannya terlipat, menatap perempuan yang berlari itu dengan senyum yang tidak bisa ia tahan. Senyum tulus pertama yang ia tunjukkan hari itu.
Perlahan Revan melepas jas hitamnya, lalu melemparkannya ke dalam mobil. Ia melepaskan sepatu kulitnya, menggulung lengan kemeja hitamnya sampai ke siku, memperlihatkan urat‑urat lengan yang tegas. Lalu ia berlari mengejar Alina.
"Alina! Tunggu aku!" serunya, ada nada tawa yang terselip di suaranya.
Alina menoleh sambil terus berlari mundur ke arah laut. Rambut panjangnya berantakan tertiup angin, kakinya sudah basah terkena buih ombak.
"Revan! Ayo kejar aku!"
Revan tidak menjawab dengan kata‑kata. Ia hanya mempercepat langkah larinya.
Pasir putih yang lembut membuat setiap langkah terasa berat, tapi tidak menghambat Revan. Dengan beberapa langkah panjang, jarak di antara mereka pun menyusut.
Alina tertawa, tawanya pecah bercampur dengan deru ombak. Ia mencoba berbelok ke kiri, tapi kakinya tersandung ombak kecil yang datang menghampiri. Tubuhnya oleng ke depan.
"Ah!"
Belum sempat ia terjatuh, sepasang lengan yang kuat sudah melingkar di pinggangnya, menariknya kembali dengan erat.
"Kamu tidak apa-apa?" suara Revan rendah, hampir tenggelam sama suara ombak.
Alina tidak jawab, dia hanya menatap mata Revan yang khawatir itu. Wajahnya hanya beberapa senti dari dada pria itu yang tertutup kemeja hitam dengan lengan tergulung.
"Kau menangkapku," bisik Alina akhirnya. Senyum masih tersisa di bibirnya, tapi matanya kini berkaca‑kaca.
Revan menatapnya lekat, tangannya tetap melingkar di pinggang Alina, tidak berniat melepas.
"Sejak awal aku tidak pernah berniat melepaskanmu," jawabnya pelan. Suaranya nyaris kalah oleh suara laut, tapi Alina mendengarnya dengan jelas. "Kau yang terus berlari."
Alina terdiam sejenak. Lalu, dengan keberanian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, ia mengangkat tangannya dan menyentuh rahang Revan yang sedikit basah oleh air laut.
"Kalau begitu… jangan pernah lepaskan," bisiknya.
Tanpa mereka sadari, dari balik jendela mobil hitam yang terparkir di atas tebing, lensa tele 400mm berdesis pelan menyesuaikan fokus.
Klik. Klik. Klik.
-
-
-
Bersambung...
Maybe gt🤭
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.
Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.
cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰