Sinopsis
Zain Arvendra Atmaja, seorang remaja yang seakan tak pernah lelah terlibat masalah di sekolahnya. Setelah berbagai kejadian yang menumpuk, ayahnya akhirnya mengambil keputusan Zain harus pindah ke sebuah SMA berbasis asrama yang dikenal mampu membimbing anak-anak yang sedang kehilangan arah.
Awalnya Zain menolak keras. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan mulai menerima kenyataan itu. Di asrama inilah ia bertemu dengan Vanya, seorang gadis ceroboh yang dengan polosnya kerap menyeret Zain ke dalam berbagai situasi baru yang tak terduga.
Cerita terasa semakin rumit ketika Keira Cattleya Wiratama, kekasihnya yang selama ini jauh dari sana, tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke asrama yang sama pula.
Tiga orang, satu atap, dan hati-hati yang mulai saling bersilang. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ? Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 KEBERANIAN MENGATAKAN KEBENARAN
Beberapa minggu berlalu, dan kehidupan di asrama berjalan dengan damai. Namun kedamaian itu diuji ketika pengumuman lomba pidato antar asrama terdengar di seluruh area sekolah, tema lomba kali ini sangat dekat dengan hati mereka ‘Belajar Memaafkan, Belajar Mencintai Diri Sendiri’.
Keira yang biasanya pendiam dan enggan tampil di depan umum, tiba-tiba merasa ada dorongan kuat di hatinya. Cerita yang selama ini ia simpan rapat-rapat, mungkin saatnya dibagikan. Namun saat ia hendak mendaftar, keraguan datang menghantam. Apa yang akan dipikirkan orang lain jika tahu ia pernah cemburu buta dan menyakiti teman yang tidak bersalah ? Apakah mereka akan menertawakannya?
Zain menyadari perubahan sikap Keira, gadis itu sering terlihat menatap formulir pendaftaran di mejanya dengan tatapan bimbang. Sore itu di taman belakang, mereka duduk berdua di bangku kayu yang biasa.
"Kamu ingin ikut lomba itu, bukan ?" Tanya Zain lembut.
Keira mengangguk pelan, lalu menunduk menatap kedua tangannya yang saling meremas.
"Aku ingin sekali, tapi aku takut... kalau aku bercerita tentang kesalahanku semua orang akan tahu aku bukan gadis baik yang mereka kira. Mungkin mereka akan menilai aku buruk selamanya" Jawab Keira
Mendeagr itu Zain tersenyum tulus.
"Orang yang benar-benar mengenalimu tidak akan menghakimumu karena satu kesalahan, justru keberanianmu mengakuinya yang akan membuat mereka menghormatimu. Kamu tidak perlu sempurna untuk layak didengar, Keira. Kamu hanya perlu jujur" Ujar Zain
Kata-kata itu memberi kekuatan, Keira menarik napas dalam-dalam lalu berjalan menuju ruang pengawas asrama dan menyerahkan formulir pendaftarannya.
*****
Hari-hari persiapan terasa tidak mudah, Keira sering terjaga di malam hari, membaca ulang naskah pidatonya dengan hati berdebar. Vanya yang menyadari kegelisahan temannya itu, datang membawa secangkir teh hangat ke meja belajar Keira.
"Boleh aku membacakan untukmu, Leya ? Sebagai latihan sekaligus pendengar pertama" Tawar Vanya lembut.
Keira ragu sejenak, lalu mengangguk. Saat ia selesai bercerita tentang ketakutannya, cemburunya, dan pertobatan tulusnya, Vanya tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
"Itu sangat indah dan tulus, Leya. Kebenaran memang menyakitkan di awal, tapi setelah terucap, rasanya akan jauh lebih ringan. Aku yakin semua orang akan merasakan ketulusanmu" Ucap Vanya tulus.
Hari perlombaan tiba. Aula utama penuh sesak. Saat nama Keira dipanggil, jantungnya berdetak kencang seakan ingin melompat keluar. Ia berjalan ke atas panggung dengan kaki yang terasa sedikit gemetar. Dari atas panggung, ia melihat Zain berdiri di sisi pintu masuk, memberikan anggukan yakin. Di barisan depan, Rian, Bima, Dimas, dan Vanya tersenyum memberinya semangat. Keira menarik napas panjang, lalu mulai berbicara.
"Aku berdiri di sini bukan sebagai orang yang bijaksana atau yang sudah selesai dengan masalahnya" Keira mulai dengan suara yang pelan namun jelas.
"Aku berdiri di sini sebagai seseorang yang baru saja belajar satu hal penting yaitu bahwa cemburu bukan tanda cinta, tapi tanda ketakutan yang belum aku selesaikan dalam diriku sendiri" Ucap Keira
Ia bercerita tentang perasaannya saat pindah ke sini, tentang rasa tersisih yang ia rasakan, tentang bagaimana ia salah memperlakukan Vanya, dan bagaimana ia belajar meminta maaf serta memaafkan dirinya sendiri. Ia tidak menyembunyikan apa pun, suaranya bergetar di beberapa bagian, air matanya menetes, tapi ia terus berbicara sampai selesai.
Saat ia menutup pidatonya dengan senyum yang lega, keheningan menyelimuti ruangan sejenak. Kemudian tepuk tangan terdengar perlahan di awal, lalu semakin riuh dan hangat. Banyak dari hadirin yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca, seakan melihat sebagian dari diri mereka sendiri dalam cerita Keira.
Keira tidak memenangkan juara pertama, piala kemenangan itu diraih oleh siswa lain yang pidatonya sangat menyentuh hati. Namun saat ia berjalan turun dari panggung, Vanya adalah yang pertama menyambutnya dengan pelukan hangat.
"Kamu hebat sekali, Leya. Kamu memenangkan hati kami semua hari ini" Bisik Vanya tulus.
Zain berjalan mendekat, menatapnya dengan bangga yang tulus.
"Aku bangga padamu, Leya. Bukan karena kamu menang, tapi karena kamu berani jujur pada dirimu sendiri dan itu kemenangan yang jauh lebih berharga" Ucap Zain
*****
Malam itu di bawah langit yang sama, Keira menyadari satu hal yang berharga yaitu piala akan lama berdebu di rak tapi keberanian untuk jujur akan selalu bersinar di dalam hati selamanya. Dan di asrama ini, ia menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga dari penghargaan apa pun karena ia menemukan teman-teman yang menerimanya apa adanya, dan cinta yang tumbuh semakin kuat karena dibangun di atas pondasi kepercayaan dan kejujuran.
😏 jdi jalanin seadanya aja, gk usah milih
hehe pis ya mas Zain...