Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2. Keadilan
Elden memutar kepala lalu menatap Dea.
Tatapannya begitu dalam, seolah ingin langsung menembakkan kebencian yang ada di dadanya langsung kepada perempuan itu.
“Karena saya ingin dia tahu bagaimana rasanya kehilangan.”
Rahangnya mengeras. “Saya ingin dia hidup dengan beban yang tidak bisa ia lepaskan. Saya ingin setiap hari yang dijalaninya menjadi pengingat bahwa seseorang telah kehilangan kehidupan karena dirinya.”
Elden diam sejenak menatap dengan wajah dinginnya. “Biar dia tahu, seperti saya yang saya rasa karena kehilangan Linjaryani.”
Dea menggeleng pelan. Air matanya jatuh satu per satu. “Sa-saya tidak membunuhnya....”
Akhirnya, suara Dea terdengar dengan jelas. “Obat yang saya berikan memang sudah cocok. Saya juga tidak tahu kenapa malah jadi seperti ini. Saya tidak pernah berniat menyakitinya.”
“Diam!” Bentakan Elden membuat Dea tersentak. “Saya tak butuh pembelaanmu.”
“Tapi saya—”
“Cukup!” Elden bangkit.
Ia merapikan ujung lengan kemeja dengan gerakan tenang yang terasa lebih mengintimidasi dibanding kemarahan yang meledak-ledak.
Ia berdiri di hadapan Dea yang masih membeku di kursinya.
“Tiga hari,” katanya dingin. “Gunakan waktumu untuk menangisi hidupmu yang sudah berakhir.”
Setelah itu, Elden melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun. Pintu tertutup di belakangnya.
Ruangan kembali hening, kecuali suara tangis Dea yang akhirnya pecah.
Ia menundukkan kepala, menggenggam jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih.
Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Linjaryani. Ia tidak tahu siapa yang telah menuliskan obat itu dalam catatan medis tanpa sepengetahuannya. Ia bahkan belum mendapatkan kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.
Namun, Elden sudah menjatuhkan hukuman. Bukan hanya terhadap kariernya. Melainkan terhadap seluruh hidupnya.
.
.
Di Hadapan Nisan Linjaryani
Langit menggantung mendung kelabu, seolah turut berkabung. Tanah merah itu masih basah, sementara nisan baru bertuliskan Linjaryani Putri Ardiansyah berdiri anggun dalam diam.
Di sekelilingnya, taburan bunga melati mulai layu, menguar aroma pilu yang bercampur dengan bau tanah setelah hujan.
Elden berdiri seorang diri.
Setelan hitamnya masih sama seperti saat ia meninggalkan rumah sakit. Tangan kirinya menggenggam sebuket bunga lili putih, sedangkan tangan kanannya terselip di saku celana, berusaha menyembunyikan gemetar yang sesekali muncul.
Ia terbiasa menghadapi masalah tanah, sengketa lahan, dan orang-orang yang mencoba mengambil keuntungan dari kekayaannya. Sebagai pewaris sekaligus pengelola tanah luas milik keluarga Zarreti, ia terbiasa menyelesaikan persoalan dengan keputusan tegas.
Namun, kematian Linjaryani adalah satu-satunya persoalan yang tak bisa ia selesaikan dengan kekuasaan.
Ia menatap nisan itu dengan tatapan kosong, tetapi tajam. Tak ada air mata. Hanya ada dendam yang semakin subur, menyirami luka yang belum sempat mengering.
“Lin....” bisikan terdengar serak. “Maaf... aku datang terlambat.”
Elden berjongkok, meletakkan bunga di atas pusara. Jemarinya menyentuh batu nisan yang dingin, seakan ingin menggapai kenangan yang tak sempat dituntaskan.
“Seharusnya esok adalah hari pernikahan kita,” gumamnya. “Seharusnya kamu duduk di pelaminan bersamaku. Kamu yang harusnya berdiri di sampingku.”
Bayangan Linjaryani melintas di benaknya.
Senyumnya. Tawanya. Cara perempuan itu memanggil namanya dengan lembut, bahkan ketika Elden terlalu sibuk dengan urusan perkebunan dan tanah-tanah miliknya.
Dulu, Linjaryani pernah mengatakan bahwa kekuasaan tidak akan membuat seseorang bahagia jika ia kehilangan orang-orang yang dicintainya.
Kini, Elden mengerti arti kalimat itu.
Sayangnya, ia baru memahaminya setelah kehilangan perempuan yang hendak dijadikannya pendamping hidup.
Ia menghela napas panjang, menahan sesak yang bergemuruh di dadanya. Kepalanya tertunduk sebelum akhirnya terangkat kembali.
Kali ini, sorot matanya menyala dengan bara yang belum padam. “Tapi, aku harap kamu jangan sedih.”
Bibirnya menyeringai tipis.
“Aku tetap akan menikah. Dengan perempuan yang telah merenggutmu dariku.”
Ia tertawa kecil, getir dan menakutkan.
Angin berembus kencang, membuat beberapa kelopak bunga melati beterbangan dari pusara.
“Aku akan memastikan dia tidak pernah bisa tidur nyenyak setelah itu. Aku akan membuat ia bagai hidup di neraka yang tak pernah berakhir.”
Suaranya semakin rendah. “Aku akan menjadikannya istriku, bukan untuk memberinya kebahagiaan, melainkan agar setiap langkahnya mengingatkannya pada kehilangan yang telah kualami.”
Ia terdiam sesaat, menatap nama Linjaryani yang terukir di batu nisan. “Aku bersumpah di hadapanmu, Lin....”
Elden merapatkan jasnya ketika gerimis mulai turun. “Aku akan membayar air matamu dengan air matanya. Kesakitanmu dengan kesakitannya. Setiap malamnya akan menjadi malam penuh tangis. Setiap siangnya akan menjadi siang penuh penyesalan.”
Ia membiarkan kata-kata itu menggantung di antara pepohonan pemakaman.
Satu hal yang ia yakini di dalam benaknya, keputusan itu merupakan sebuah keadilan yang pantas diterima oleh orang yang merenggut nyawa calon istrinya.
.
.
Sementara jauh dari pemakaman itu, Dea sedang menghadapi kehancuran yang tidak pernah ia pilih.
Dan tanpa disadari keduanya, sebuah kesalahan besar baru saja membuka jalan menuju rahasia yang kelak akan mengubah segalanya.
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella