" Tolong keluarkan saya darisini...!! Saya mau keluar... Tolong bukain pintunya....!! " Triakan
keras Heru salah seorang eks pekerja pabrik garmen yang berlokasi di sentra industri terkemuka tak satupun ada yang merespon.
Entah tujuannya apa ia berkunjung ke area gudang yang sudah lama tutup akibat krisis yang berkepanjangan. Gudang kimia yang dulunya merupakan salah satu pabrik textile
terbesar yang pernah menyerap tenaga kerja
mencapai ribuan orang itu, kini tinggal nama saja karena sudah di alihfungsikan menjadi gudang penyimpanan zat kimia kain, sangat berbahaya bagi manusia . Gudang itu sendiri dulunya merupakan pabrik Garment terbesar yang pernah ada di negeri ini. Dan sekarang keberadaan gudang itu sendiri terbengkalai, tidak terawat sebagai mana mestinya. Kotor dan berdebu serta sebagian beberapa mesin operatornya banyak yang berkarat. Namun dibalik itu pun gudang kimia yang letaknya tak jauh dari deretan pabrik pabrik lainnya banyak menyimpan misteri kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martin deBs Komarudin1670, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jumadi mantan residivis
" Mas Heru gak ada kabar....Vira dan
Wisnu juga gak jelas.... Apa jangan
jangan dia udah ketemu pak Chan ,
jadi gak ngomong ngomong sama
kita, bang....? " Sambung rekannya yang bernama Fahri menimpali ucapan Supri sambil meneguk kopi hitamnya dan salah satu kakinya di sebelah di atas kursi panjang. Mirip ngobrol di warung kopi memikirkan nasib yang sudah beberapa bulan menjadi pengangguran setelah terkena pemberhentian pekerjaan secara massal di pabrik Garmen milik Pak Chandra Lie.
" Nungguin si Robin kelamaan....Dia
nunggu keputusan pengadilan, mau
sampe kapan, coba.... Kalo yang
namanya urusan perut, ngapain
mesti nunggu pengadilan, yang ada
keburu mati, kita..... " Cetus Supri sambil mencaplok sisa gorengan di tangannya lalu menenggak kopinya yang tinggal setengah gelas.
" Betul, bang.... Mau sampe kapan
coba.... Kalo keputusan akhirnya
dimenangkan pihak pekerja.... Tapi
pihak perusahaan yang menang....
Sia sia aja kita bang.....? " Kata Fahri merespon ucapan Supri yang
sejak awal memang gak sejalan dengan Robin yang lebih dinilainya sangat lamban dalam mengambil setiap tindakan dan membuat rekan rekan kerjanya menjadi kesal dan ada sebagian rekannya mengambil caranya sendiri. Robin sendiri pun sebenarnya pemuda pintar yang dalam setiap tindakannya selalu berhati-hati dan mencermati dengan teliti setiap persoalan untuk itu ia baru mengambil keputusan yang tepat serta akurat. Ia pun juga tidak gegabah, setiap tindakannya selalu mengedepankan dialog, bukan berarti Robin lemah atau tidak punya keberanian dalam menangani setiap kasus yang sering terjadi , terutama yang berkaitan dengan dinamika pekerjaan di lingkungan pabrik, pasti ada aja macam macam problem yang menyangkut masalah hak dan
kewajiban pekerja.
" Ya, tapi kan kita belum dapat kabar
dari Wisnu atau Vira.... Takutnya
mereka diam diam udah dikasi
jatah pesangon dari pak Chand.....
Kita mah nungguin aja disini kayak
sapi perah....! " Kata Supri dengan gaya humorisnya yang polos sambil membetulkan posisi duduknya. agar
lebih nyaman.
" Semoga aja mereka berhasil bang,
jadi bisa ke wujud juga niat saya
mau bikin usaha ternak lele..... " Jawab Fahri dengan rencana angan angannya yang hingga kini belum terlaksana. Padahal ia sudah hampir
puluhan tahun mengabdi di pabrik garmen yang dipimpin pak Chandra itu. Akibat dampak krisis yang melanda negeri ini, mau gak mau perusahaan sangat kesulitan untuk membeli bahan pokok ditambah lagi biaya produksi jadi membengkak, sementara daya beli menurun. Dan dengan sangat terpaksa Pak Chand
menutup perusahaan garmen itu yang membuat hampir ribuan pegawainya kehilangan pekerjaan, termasuk puluhan security harus kehilangan sumber penghasilannya.
Kini hanya Jumadi yang akhirnya bisa bertahan dan dipercaya oleh pak Chandra , yang lain harus relah melepaskan seragamnya. Padahal dulu Jumadi sempat di pecat pak Konan staff kepegawaian pabrik hanya gara gara laporan dari Sarta yang menyebut Jumadi itu punya penyakit kelainan jiwa ditambah lagi punya penyakit sejenis kusta atau sejenis lepra yang bisa menular. Dan Jumadi pun masih juga menerima beberapa tuduhan lagi yang sengaja di bikin rekayasa atau fitnah, seolah olah Jumadi seringkali bertindak di luar kewenangannya terhadap para buruh atau pekerja pabrik. Secara garis besarnya Jumadi tidak disukai
beberapa pegawai disitu. Yang jadi faktor persoalannya adalah cuma masalah penyakit yang dimiliki Jumadi saja sebenarnya. Dan hanya
itu yang menyebabkan dirinya di jauhkan dari habitatnya bekerja. Akhirnya staff bagian kepegawaian pabrik mengambil tindakan absurd yang memutuskan memberhentikan
Jumadi secara tidak hormat. Ada sebagian buruh yang menyayangkan keputusan pak Konan yang dianggap terburu-buru , seharusnya di selidiki terlebih dahulu sebelum memberi putusan tapi sebagian lagi senang Junaidi di berhentikan karena para buru juga tidak mau tertular oleh penyakit yang dibawa security yang wajahnya beruntusan kasar itu.
Kemudian sering dengan perjalanan waktu, tingkat produktivitas pabrik itu perlahan semakin turun , karena dampak krisis ekonomi yang landa negeri ini membuat pabrik gulung tikar. semua karyawan dirumahkan tanpa penjelasan yang dapat di mengerti. Jelas saat itu juga para pekerja marah besar lalu langsung mempertanyakan kebijakan pak Chandra yang dinilai merugikan para buruh pabrik yang saat sedang bekerja. Sebagian pekerja langsung mendatangi kantor Pak Chandra yang masih berada area pabrik itu juga. Para buru protes atas ucapan pak Chandra yang dinilai sangat merugikan pekerja. Buntutnya para buruh emosi lalu melampiaskan kemarahannya dengan merusak apa yang ada disitu. Melihat itu Chandra panik dan secepatnya melarikan diri karena petugas security tak cukup untuk menghalau sebagian buruh yang kecewa. Chandra kabur dan tidak sempat menggunakan mobil pribadinya karena di halang halangi
sebagian buruh yang ada disitu. Akhirnya dengan bersusah-payah Chand bisa keluar dari area pabrik namun sebagian buruh yang tidak terima terus mengejarnya hingga ke komplek atau kawasan pabrik dan disitulah tiba-tiba muncul Jumadi menggunakan sepeda motornya yang sudah jadul menyuruh Chandra untuk naik sepeda motornya jika ingin selamat. Pria keturunan itu menurut, ia dibonceng Jumadi sekedar buat menghindari amukan para buruh tersebut. Pak Chandra pun selamat hingga ia harus pesan taxi menuju tempat tinggalnya. Dan awal dari itulah kepercayaan Chand terhadap Jumadi mulai terbina. Jum akhirnya menceritakan seputar pemecatan dirinya beberapa waktu lalu oleh Konan yang notabene staff bawahannya Pak Chandra. Pabrik yang memproduksi kain saat itu pun ditutup dalam jangka waktu yang tak bisa ditentukan. Hingga dalam perkembangannya berubah fungsi menjadi gudang kimia, tempat untuk menyimpan zat zat kimia berbahaya
dan kini Jumadi yang bisa dipercaya
oleh Pak Chandra untuk menjaga sepenuhnya gudang kimia itu. Akan tetapi rasa dendamnya tidak akan surut terhadap orang-orang yang pernah menyakiti dirinya. Jumadi tak mudah begitu saja melupakan sebagian kaum buruh termasuk rekan seprofesinya sendiri security tak luput dari dendam kesumatnya.
Apalagi dirinya pernah punya masa silam yang sangat buruk yakni menjadi residivis dalam satu kasus pembunuhan. Ingatan itu muncul tiba-tiba akhirnya pria itupun mengepresikannya dalam bentuk penyekapan yang berujung dengan kematian. Jum tidak puas sampai
disitu saja, ia bahkan menjadi king monster yang mengerikan. Sikap para buruh itulah yang menjadikan Jumadi harus kembali ke masa lalu nya dalam dunia kriminalitas. Jumadi yang tadinya ingin tobat dan sadar menjadi security, kini terpaksa harus kembali pada dunia kejahatan yang sempat dikuburnya beberapa tahun lalu. (sekilas flashback) soal profil Jumadi yang kini merambat menjadi psikopat. Tidak ada yang bisa merintangi aktivitas kejahatan Jumadi secara sistematis itu, termasuk gak ada seorang pun yang dapat memecat dirinya lagi, karena Pak Chand sendiri yang memulihkan
kepercayaannya menjadi security di gudang kimia yang kini jadi tempat pelampiasan dendam Jumadi. Dulu gudang itu adalah pabrik garmen besar yang dipenuhi hampir ribuan buruh yang bekerja termasuk tempat Jumadi untuk mengabdikan dirinya menjadi petugas keamanan saat itu.