Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buku Terbalik, Kertas Lipat, dan Aturan Backstreet Sang Ketua
Udara di tangga darurat lantai empat itu masih terasa panas, padahal angin musim gugur bertiup cukup kencang dari ventilasi.
Lin Xiao masih menyandarkan punggungnya di pintu besi, berusaha keras meraup oksigen sebanyak mungkin. Tangannya memegangi dadanya sendiri, merasakan detak jantungnya yang berdentum gila-gilaan, seolah ingin melompat keluar dari tulang rusuknya. Bibirnya... ya ampun, bibirnya masih terasa basah dan sedikit kebas.
Di depannya, Lu Feng berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana *tracksuit*-nya. Cowok itu menatap Lin Xiao dengan senyum puas yang kelewat tampan, sama sekali tidak terlihat berdosa setelah merampok ciuman pertama sang ketua kelas.
"Berhenti menatapku seperti itu!" omel Lin Xiao, suaranya masih bergetar. Dia menutupi setengah wajahnya dengan kedua tangan, menyembunyikan pipinya yang memerah hebat.
"Gue cuma lagi menikmati pemandangan hasil karya gue," kekeh Lu Feng, suaranya berat dan menggoda. Dia maju selangkah, berniat mengusap kepala cewek itu lagi.
"Mundur!" Lin Xiao refleks mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat berhenti layaknya polisi lalu lintas. Matanya melotot panik. "Jangan mendekat lagi! Kalau otakku korslet, aku tidak akan bisa mengerjakan soal ujian sesi siang nanti!"
Lu Feng tertawa lepas, mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Oke, oke. Gue mundur. Galak banget pacar gue."
Deg!
Kata *pacar* itu sukses membuat lutut Lin Xiao kembali lemas. Selama delapan belas tahun hidupnya, dia tidak pernah membayangkan kata itu akan ditujukan padanya, apalagi oleh murid pindahan berandal yang awalnya paling ia hindari.
"Kita..." Lin Xiao menarik napas panjang, berusaha kembali ke mode ketua kelas yang rasional, meski sangat sulit. "...kita tidak boleh ketahuan. Mingde punya aturan ketat soal pacaran di sekolah. Kalau Pak Zhang tahu, orang tua kita akan dipanggil, dan kita bisa dikeluarkan dari kelas intensif GaoKao."
Lu Feng menghela napas malas. "Jadi maksud lo, kita *backstreet*? Pacaran diam-diam?"
"I-iya! Untuk saat ini," Lin Xiao menunduk, meremas ujung roknya. "Di dalam kelas, aku tetap ketua kelas, dan kamu tetap... murid. Kita tidak boleh terlihat mencurigakan."
Lu Feng terdiam sejenak, menatap cewek mungil yang sedang berusaha keras menyusun strategi itu. Senyum tipis mengembang di bibirnya.
"Oke, sepakat," ucap Lu Feng santai. "Tapi dengan satu syarat."
Lin Xiao mendongak waspada. "Syarat apa?"
"Kalau lagi berduaan, atau di luar sekolah, lo milik gue sepenuhnya. Nggak ada aturan sekolah, nggak ada poin kedisiplinan," Lu Feng mencondongkan tubuhnya sedikit, mengunci pandangan Lin Xiao. "Setuju?"
Lin Xiao menelan ludah. Hawa dominan cowok itu benar-benar tidak bisa dilawan. Dengan ragu, cewek itu mengangguk pelan. "S-setuju. Sekarang, aku akan kembali ke kelas duluan. Kamu tunggu lima menit di sini, baru menyusul. Jangan sampai kita masuk kelas bersamaan."
Tanpa menunggu balasan Lu Feng, Lin Xiao berbalik, membuka pintu besi dengan cepat, dan setengah berlari menuruni anak tangga, melarikan diri dari pesona cowok yang baru saja memporak-porandakan dunianya itu.
Lu Feng hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan sambil terkekeh. "Lucu banget, anjir."
***
Di dalam Kelas 11-3, ujian sesi kedua belum dimulai. Guru Sastra Klasik, Bu Mei, sedang duduk di meja guru sambil memeriksa lembar jawaban ujian sesi pertama. Suasana kelas cukup tenang, sebagian besar murid sedang membaca ulang materi.
Lin Xiao masuk melalui pintu depan dengan napas sedikit terengah. Dia berjalan menunduk menuju bangkunya di barisan depan. Wajahnya masih memerah, dan bibirnya yang sedikit bengkak membuatnya terus menundukkan kepala.
"Xiao, kamu dari mana saja? Ujian sastra sepuluh menit lagi dimulai," bisik Li Na, teman sebangkunya.
"A-aku habis dari toilet. Perutku sedikit mulas," bohong Lin Xiao cepat.
Dia buru-buru menarik kursi, duduk tegak, dan mengeluarkan buku teks Sastra Klasik dari dalam tasnya. Lin Xiao membuka buku itu lebar-lebar, meletakkannya di atas meja, dan mulai menatap halaman buku dengan ekspresi sangat serius, seolah sedang menghafal puisi kuno yang sangat rumit.
Lima menit kemudian.
Pintu geser belakang kelas terbuka. Lu Feng melangkah masuk dengan gaya santai andalannya. Aura cowok itu terasa sangat berbeda. Jika pagi tadi dia terlihat seperti mayat hidup karena kurang tidur, sekarang dia terlihat begitu hidup, segar, dan... bersinar?
Chen Hao yang duduk di bangkunya langsung memicingkan mata melihat sahabatnya itu berjalan mendekat.
"Woy, Bos. Lo dari mana? Terus kenapa muka lo senyum-senyum cengengesan gitu? Lo habis menang lotre?" selidik Chen Hao saat Lu Feng mendaratkan pantatnya di kursi.
"Lebih dari sekadar lotre, Bro," jawab Lu Feng sambil meregangkan tangannya ke atas, wajahnya kelewat cerah. "Gue baru aja memenangkan dunia."
Chen Hao memutar bola matanya malas. "Halah, paling juga lo senang karena nggak jadi didepak dari tim basket kan? Btw, lo lihat deh si Ketua Kelas di depan. Kayaknya dia lagi kesurupan roh cendekiawan kuno."
Lu Feng menoleh ke depan. Dari belakang, dia bisa melihat punggung Lin Xiao yang duduk sangat tegak, kaku seperti papan. Matanya fokus menatap buku Sastra Klasik di depannya.
Tapi ada satu hal yang membuat Lu Feng harus menggigit bibir bagian dalamnya kuat-kuat untuk menahan tawa yang nyaris meledak.
Lin Xiao membaca bukunya... dengan posisi terbalik.
Ya. Sang ketua kelas teladan se-SMA Mingde, saking panik dan korsletnya, membuka buku teksnya terbalik 180 derajat dan menatapnya dengan sangat serius seolah sedang membacanya.
Lu Feng tidak tahan lagi. Insting isengnya meronta-ronta.
Cowok itu merobek selembar kecil kertas dari buku catatannya, mengambil pulpen hitam, dan menuliskan sesuatu dengan cepat. Setelah selesai melipatnya menjadi persegi kecil, Lu Feng menendang pelan kaki kursi Lin Xiao dari belakang.
*Tuk.*
Lin Xiao tersentak kecil. Dia tidak menoleh, tapi tubuhnya semakin kaku.
Lu Feng lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, menjatuhkan kertas lipat itu tepat di atas pangkuan Lin Xiao secara diam-diam.
Lin Xiao menelan ludah. Dia melirik ke kiri dan kanan, memastikan Li Na dan Bu Mei tidak melihatnya, lalu perlahan membuka lipatan kertas kecil itu di bawah meja.
Tulisan tangan Lu Feng yang agak berantakan terpampang di sana:
> *"Sejak kapan Ketua Kelas punya skill baca huruf Mandarin kebalik? Atau otak lo masih ketinggalan di bibir gue pas di tangga tadi?"*
Wajah Lin Xiao yang sudah merah, kini berubah menjadi warna tomat rebus yang nyaris meledak!
Dia langsung menatap buku Sastra di atas mejanya, dan benar saja... huruf-huruf Mandarin kuno itu posisinya terbalik semua. Pantas saja daritadi dia merasa pusing membacanya!
Dengan gerakan super panik, Lin Xiao memutar bukunya ke posisi yang benar, menghasilkan bunyi gesekan kertas yang cukup keras di kelas yang sunyi.
Bu Mei yang sedang mengoreksi di depan kelas langsung mendongak. Matanya menatap tajam ke arah barisan depan.
"Lin Xiao," panggil Bu Mei tegas, menaikkan kacamatanya.
Tubuh Lin Xiao tersentak. Dia buru-buru berdiri dari kursinya. "Y-ya, Bu Mei!"
"Kulihat kamu dari tadi sangat fokus membaca buku Sastra. Coba bacakan dan jelaskan makna bait ketiga dari puisi *Ode to the Red Cliff* karangan Su Shi yang akan masuk di ujian nanti."
Seisi kelas terdiam. Li Na menatap Lin Xiao dengan cemas. Masalahnya, bait ketiga itu adalah materi tersulit yang bahkan belum dibahas secara mendalam.
Pikiran Lin Xiao kosong melompong. Jangankan puisi Su Shi, mengingat nama sendirinya saja dia nyaris lupa karena kertas kecil dari Lu Feng yang masih ia genggam erat di tangannya. Dia membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya.
Melihat kepanikan pacar barunya, Lu Feng tidak tinggal diam.
Lu Feng, yang semalaman suntuk dipaksa menghafal seluruh materi oleh Lin Xiao, mengingat persis halaman puisi tersebut. Di saat semua orang sedang menatap Lin Xiao, Lu Feng diam-diam menggunakan ujung sepatunya untuk menyenggol betis Lin Xiao dari bawah meja.
Lin Xiao sedikit tersentak. Sayup-sayup, dari belakang, ia mendengar suara berat Lu Feng yang membisikkan deretan kalimat dengan sangat cepat namun jelas.
"Hidup bagaikan mimpi... tuangkan segelas anggur ke sungai bulan..." bisik Lu Feng, membacakan intisari bait tersebut.
Mendengar bisikan itu, ingatan Lin Xiao langsung kembali. Otak cerdasnya seketika merangkai kata kunci dari Lu Feng menjadi penjelasan yang komprehensif.
"Bait ketiga menggambarkan kesadaran penulis akan kefanaan hidup manusia dibandingkan dengan keabadian alam semesta, Bu," ucap Lin Xiao lancar, suaranya kembali stabil dan tegas. "Penulis menggunakan metafora menuangkan anggur ke sungai sebagai bentuk penyerahan diri pada takdir dan kedamaian batin."
Bu Mei terdiam sejenak, lalu tersenyum puas dan mengangguk pelan. "Sangat bagus, Lin Xiao. Pemahaman yang sangat mendalam. Silakan duduk kembali."
Lin Xiao menghela napas panjang, kakinya lemas saat kembali duduk di kursinya. Li Na memberinya acungan jempol, sementara murid lain berbisik kagum.
Dari bawah meja, Lin Xiao diam-diam mengulurkan tangan kanannya ke arah belakang, berniat mengambil pulpennya yang terjatuh di dekat kaki kursi.
Namun, bukannya menemukan pulpen, jari-jari Lin Xiao justru menyentuh tangan seseorang. Tangan besar yang hangat, dengan kapalan tipis di ruas jarinya.
Itu tangan Lu Feng.
Cowok itu rupanya juga menurunkan tangannya ke bawah meja. Dengan gerakan yang sangat natural dan cepat, Lu Feng menggenggam tangan Lin Xiao erat-erat, menautkan jari-jari mereka di ruang sempit di bawah meja yang tak terlihat oleh siapa pun.
Lin Xiao tersentak, mencoba menarik tangannya. Namun genggaman Lu Feng terlalu kuat, kokoh, namun anehnya sangat menenangkan. Ibu jari cowok itu mengusap punggung tangan Lin Xiao perlahan, seolah menyalurkan pesan *'gue ada di sini'*.
Jantung Lin Xiao kembali berdetak liar. Di tengah kelas yang dipenuhi puluhan murid, dengan guru sastra yang sedang mengawasi dari depan, sang ketua kelas yang selalu mematuhi aturan itu kini diam-diam bergandengan tangan dengan murid berandal di bawah kolong meja.
Lin Xiao akhirnya berhenti meronta. Dia membiarkan tangan Lu Feng menggenggam tangannya. Cewek itu menatap buku sastranya dengan senyum tipis yang tak bisa lagi ia sembunyikan, senyum termanis yang pernah terlukis di wajahnya.
Chen Hao yang sedari tadi sedang melamun menatap awan, tiba-tiba menoleh ke bawah karena pulpennya jatuh. Mata cowok itu tak sengaja melihat dua tangan yang saling bertaut erat melintasi batas meja baris depan dan belakang.
Mata Chen Hao membelalak maksimal. Mulutnya terbuka lebar, nyaris menjerit kalau saja dia tidak ingat ini sedang di dalam kelas.
Chen Hao perlahan kembali duduk tegak, menatap Lu Feng yang sedang tersenyum menatap punggung Lin Xiao.
*Gila,* batin Chen Hao, merinding. *Dunia beneran udah mau kiamat. Si berandal pasar sama Ibu Negara pacaran?! Nyawa gue bisa terancam kalau sampai keceplosan ini mah!*
Hari itu, rahasia terbesar dan paling manis di SMA Mingde resmi dimulai. Aturan *backstreet* sang ketua kelas mungkin akan menjadi hal paling mendebarkan sekaligus paling sulit yang pernah mereka jalani.