NovelToon NovelToon
Zero Hunter

Zero Hunter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:556
Nilai: 5
Nama Author: LetterFromJusticia

Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 — Dua Minggu Tanpa Ampun

--

Pukul lima pagi.

Suara alarm dari smartphone ESIA memecah kesunyian kamar.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 𝗡𝗼𝗶𝗿 membuka mata perlahan. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap langit-langit sebelum mengulurkan tangan dan mematikan alarm.

Tubuhnya masih terasa pegal.

Terutama bagian rusuk yang terluka selama ujian Survival Field.

Namun, rasa sakit itu tidak lagi separah beberapa hari sebelumnya.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bangkit dari tempat tidur, lalu mengambil kartu Hunter yang tergeletak di meja.

HUNTER RANK: NOVIE.

Ia membaca tulisan itu sekali lagi, seolah hurufnya bisa berubah kalau tidak diperhatikan.

"𝘕𝘰𝘷𝘪𝘦," gumamnya. Senyum kecil muncul tanpa bisa ia tahan. "𝘗𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳."

Ia meletakkan kembali kartu itu, lalu membuka lemari dan mengambil pakaian olahraga.

Hari ini adalah hari pertamanya berlatih sejak memperoleh lisensi.

Namun, ketika hendak mengenakan sepatu, pandangannya tertuju pada obat dan surat pemeriksaan dokter di sudut meja.

Jangan melakukan aktivitas fisik berat sampai pemeriksaan lanjutan.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terdiam.

Bayangan pertarungannya melawan Brindle Prowler kembali terlintas.

Tubuhnya terlempar, pertahanannya ditembus, dan hampir setiap serangan yang ia lancarkan gagal mengenai sasaran.

Bahkan melawan BETA dengan BP 66 saja, ia nyaris kehilangan nyawa.

Bagaimana kalau suatu hari ia menghadapi monster yang jauh lebih kuat?

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengencangkan tali sepatunya.

"𝘋𝘪𝘢𝘮 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯," gumamnya. Ia melirik surat itu sekali lagi. "𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘳𝘶𝘴𝘶𝘬 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘶𝘱𝘢𝘬𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘢𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘭𝘢𝘮𝘢."

Hari pertama dimulai dengan berjalan cepat mengelilingi lapangan.

Tidak ada lari jarak jauh ataupun latihan beban.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 hanya melakukan latihan pernapasan, peregangan ringan, serta gerakan kaki tanpa hentakan berlebihan.

Meski terlihat sederhana, setiap kali ia memutar pinggang terlalu jauh, bekas lukanya langsung memberi peringatan.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 meringis dan menekan sisi rusuknya.

"𝘖𝘬𝘦. 𝘖𝘬𝘦. 𝘉𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘪𝘵𝘶."

Ia memperlambat gerakan.

Dua hari berikutnya dihabiskan dengan rutinitas serupa, diselingi latihan membaca pola serangan melalui rekaman pertandingan Hunter.

Pada hari keempat, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menjalani pemeriksaan lanjutan.

Dokter menyatakan pemulihannya berlangsung lebih cepat daripada perkiraan awal. Meski begitu, intensitas latihan tetap harus dinaikkan bertahap dan dihentikan jika menimbulkan nyeri.

Mendengar itu, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 akhirnya bisa bernapas sedikit lebih lega.

Sore harinya, ia menelepon 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.

"𝙎𝙚𝙗, 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘤𝘢𝘳𝘢?"

Dari seberang telepon terdengar bunyi tombol yang ditekan cepat-cepat, bercampur musik permainan video.

"𝘛𝘦𝘳𝘨𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘮𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘶𝘵𝘯𝘺𝘢 '𝘢𝘺𝘰 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯', 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘪𝘣𝘶𝘬." Bunyi tombol itu tidak berhenti. "𝘒𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵, 𝙑𝙖𝙣? 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘨𝘪𝘭𝘢-𝘨𝘪𝘭𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘳𝘪𝘯."

"𝘋𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘥𝘪. 𝘉𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘯𝘢𝘪𝘬 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘢𝘴𝘢𝘭 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘱." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menggaruk tengkuk. "𝘔𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢, 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘶𝘳 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪... 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭𝘯𝘺𝘢."

Bunyi tombol di seberang berhenti.

"𝘛𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶. 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣 𝙉𝙤𝙞𝙧 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘥𝘪𝘢𝘸𝘢𝘴𝘪?"

"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩 𝘭𝘢𝘪𝘯."

"𝘗𝘦𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘳𝘶𝘴𝘮𝘶?" Suara 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 terdengar puas. "𝘠𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩. 𝘋𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬. 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘳𝘰𝘨𝘳𝘢𝘮 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘴𝘪𝘦𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵."

"𝘊𝘢𝘳𝘢 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯."

"𝘚𝘢𝘮𝘢-𝘴𝘢𝘮𝘢." Musik permainan kembali terdengar, disusul gerutuan pendek. "𝘕𝘢𝘩, 𝘬𝘢𝘯. 𝘈𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘨𝘢𝘳𝘢-𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘶."

Hari kelima.

Bunyi benturan logam terdengar dari ruang latihan keluarga Greyad.

Clang!

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 meletakkan barbel setelah menyelesaikan satu set deadlift.

Keringat mengalir melewati pelipisnya.

"𝘙𝘦𝘱𝘦𝘵𝘪𝘴𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳, 𝘱𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘯𝘨𝘬𝘶𝘯𝘨," kata 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻. Ia berdiri di samping dengan tangan terlipat, matanya masih tertuju pada barbel. "𝘛𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢?"

"𝘛𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyeka pelipis dengan punggung tangan. "𝘉𝘦𝘣𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘴𝘢𝘩 𝘫𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘱𝘰𝘴𝘪𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳."

"𝘔𝘢𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘳𝘦𝘱𝘦𝘵𝘪𝘴𝘪𝘮𝘶 𝘬𝘶𝘱𝘰𝘵𝘰𝘯𝘨. 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘬𝘯𝘪𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘣𝘶𝘯𝘨 𝘤𝘦𝘥𝘦𝘳𝘢."

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengetuk pinggang 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 dengan dua jari, lalu lututnya.

"𝘗𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘬𝘶𝘯𝘤𝘪. 𝘗𝘦𝘳𝘶𝘵 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯. 𝘓𝘢𝘯𝘵𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘥𝘰𝘳𝘰𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘬𝘪. 𝘗𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨𝘮𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘳𝘦𝘬, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘪𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 kembali membungkuk ke arah barbel.

Kali ini gerakannya lebih terkontrol.

Setelah latihan kekuatan, mereka beralih ke teknik dasar pertarungan jarak dekat.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengenakan sarung tangan pelindung, sementara 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memakai pelindung tangan latihan biasa.

Bukan Regalia aktif.

Gauntlet yang ia gunakan ketika ujian masih tercatat sebagai inventaris W.H.O.

"𝘎𝘶𝘢𝘳𝘥 𝘥𝘢𝘯 𝘧𝘰𝘰𝘵𝘸𝘰𝘳𝘬 𝘥𝘶𝘭𝘶," kata 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻. "𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘬𝘪𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩, 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menaikkan kedua tangan.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 melancarkan pukulan lurus yang terkontrol.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menggeser tubuh untuk menghindar.

Namun, ketika ia hendak membalas, 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 sudah menarik tangan dan bergeser ke samping.

"𝘚𝘵𝘰𝘱."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menurunkan tangan. "𝘈𝘱𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨?"

"𝘔𝘢𝘵𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘱𝘦𝘭 𝘥𝘪 𝘵𝘪𝘯𝘫𝘶𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴." 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menunjuk bahunya sendiri, lalu pinggulnya. "𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪. 𝘗𝘶𝘬𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯. 𝘉𝘢𝘩𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶𝘭 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘥𝘶𝘭𝘶𝘢𝘯."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terdiam.

Ia teringat Brindle Prowler.

"𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘗𝘳𝘰𝘸𝘭𝘦𝘳 𝘪𝘵𝘶," katanya pelan. "𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘬𝘢𝘮, 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘶𝘭𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘯𝘢 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪."

"𝘉𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘩𝘢𝘭." 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 kembali memasang kuda-kuda. "𝘓𝘢𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪, 𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢-𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢. 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘭𝘴𝘶."

"𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘨𝘶𝘴 𝘤𝘶𝘳𝘪𝘨𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘪𝘵𝘶."

"𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯-𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯." 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengangkat guard. "𝘓𝘢𝘨𝘪. 𝘒𝘢𝘭𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶."

Hari kedelapan.

Rutinitas 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 semakin padat.

Pagi untuk latihan daya tahan. Siang diisi pekerjaan paruh waktu kalau jadwal minimarket mengharuskannya masuk. Sore atau malam menjadi waktu memperbaiki teknik.

Hari istirahat tetap dipertahankan sesuai program 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.

Setelah bisa berlari tanpa keluhan pada lukanya, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mulai menambah jarak serta beban secara bertahap.

Target akhirnya adalah berlari sejauh lima kilometer dengan tambahan beban lima kilogram.

Percobaan pertamanya setelah beban ditambah tidak berjalan mulus.

Baru beberapa kilometer, napasnya sudah memburu.

Kedua kakinya terasa berat.

Hah... hah...

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memperlambat langkah.

"𝘓𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘪𝘭𝘰..." Ia menelan ludah di sela napas. "𝘊𝘶𝘮𝘢... 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘪𝘭𝘰..."

Ia berhenti sebentar untuk mengatur napas.

CORE miliknya memang telah aktif sepenuhnya, tetapi itu tidak membuat tubuhnya kebal terhadap kelelahan.

Terlebih lagi, berlari dengan tambahan beban membutuhkan penyesuaian.

Ia akhirnya menyelesaikan sisa jarak dengan kombinasi lari pelan dan jalan cepat.

Meski hasilnya belum sesuai keinginan, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak kecewa.

Setidaknya hari itu ia tahu di mana batasnya.

Perubahan kecil mulai muncul pada hari-hari berikutnya.

Gerakan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 semakin hemat tenaga.

Ia tidak lagi mengangkat bahu berlebihan ketika berlari. Langkah kakinya lebih stabil, dan waktu yang ia butuhkan untuk memulihkan napas mulai berkurang.

Hal serupa terjadi dalam latihan pertarungan.

Pada suatu sore, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berdiri di depan samsak gantung.

Duk! Duk!

Dua pukulan menghantam permukaannya.

Ia melanjutkan dengan gerakan menghindar, kemudian memutar pinggul untuk melepaskan pukulan berikutnya.

Namun, samsak yang berayun tiba-tiba kembali ke arahnya dengan sudut yang tidak ia perhitungkan.

Wush!

Kepala 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bergerak ke samping.

Samsak itu melintas beberapa sentimeter dari wajahnya.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membeku.

"𝘛𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶..."

Ia menatap samsak yang masih berayun.

Barusan tubuhnya bergerak bahkan sebelum ia sempat memikirkan cara menghindar.

Mungkin cuma refleks.

Ia melanjutkan latihan.

Tetapi kejadian serupa terulang ketika botol minumnya tersenggol jatuh.

Sebelum botol itu menyentuh lantai, tangan kanannya sudah lebih dulu menangkapnya.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memandangi botol di tangannya.

"...𝘚𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪?"

Ia sengaja menjatuhkan botol itu sekali lagi.

Kali ini tangannya terlambat.

Tok!

Botol menghantam lantai dan menggelinding ke bawah bangku.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menggaruk kepala.

"𝘠𝘢. 𝘒𝘦𝘣𝘦𝘵𝘶𝘭𝘢𝘯. 𝘑𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘵𝘶𝘭𝘢𝘯."

Ia membungkuk memungut botol itu.

Tidak ada notifikasi. Tidak ada suara asing di kepalanya.

Hanya dua kejadian kecil yang tidak bisa ia jelaskan, dan satu kegagalan yang terasa jauh lebih masuk akal.

Hari kesebelas.

"𝘌𝘯𝘢𝘮 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘬𝘪𝘭𝘰." 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 berdiri di samping barbel. "𝘉𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘢𝘱."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengatur posisi kedua kakinya.

"𝘚𝘪𝘢𝘱. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘬𝘯𝘪𝘬𝘬𝘶 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘳𝘶𝘴𝘢𝘬, 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢."

"𝘔𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘺𝘢𝘳𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢, 𝘬𝘢𝘯? 𝘈𝘬𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘴𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘤𝘢𝘩 𝘳𝘦𝘬𝘰𝘳 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tertawa pendek.

Ia menggenggam batang barbel, menarik napas dalam-dalam, kemudian mulai mengangkat.

Otot-otot lengannya menegang.

Beban itu terangkat perlahan.

Satu repetisi.

Dua repetisi.

Pada repetisi berikutnya, gerakannya mulai melambat.

"𝘊𝘶𝘬𝘶𝘱. 𝘛𝘶𝘳𝘶𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘯."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menurut.

Clang!

Barbel kembali menyentuh lantai.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengatur napas sambil menatap pelat beban di kedua ujung batang.

"𝘚𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯, 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘶𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵." Ia mengusap keringat di dagunya. "𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘦𝘯𝘢𝘮 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪. 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘶𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘪𝘱𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘰𝘣𝘳𝘰𝘭."

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengambil botol minumnya dan memutar tutupnya.

"𝘙𝘶𝘴𝘶𝘬𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘩, 𝙑𝙖𝙣. 𝘔𝘶𝘯𝘥𝘶𝘳 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘪𝘵𝘶 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘳." Ia meneguk sekali. "𝘋𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘳𝘦𝘵 𝘬𝘦 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘶𝘮𝘶𝘳 𝘦𝘯𝘢𝘮 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯. 𝘐𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯. 𝘐𝘵𝘶 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘬𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terdiam.

"𝘓𝘢𝘨𝘪 𝘱𝘶𝘭𝘢," lanjut 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻, "𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘦𝘳𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘪𝘭𝘰 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨. 𝘒𝘶𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪, 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘤𝘶𝘭 𝘭𝘢𝘨𝘪."

"𝘔𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘯𝘦𝘩?"

"𝘉𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘰𝘮𝘦𝘭𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘭𝘪-𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘦𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨. 𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘤𝘦𝘳𝘢𝘮𝘢𝘩."

"𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘣𝘢𝘳 𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴?"

"𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘮𝘶. 𝘉𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘢𝘳𝘪𝘦𝘳𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩 𝘨𝘢𝘭𝘢𝘬."

Nadanya bercanda. Namun, sebelum berbalik ke rak beban, mata 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 sempat tertahan pada 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sedikit lebih lama dari biasanya.

Pada hari kedua belas, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berhasil mengangkat tujuh puluh kilogram dalam satu repetisi deadlift yang terkontrol.

Ia tidak langsung mencoba menambah beban.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 bahkan memaksanya mengakhiri latihan kekuatan begitu melihat otot kakinya mulai gemetar.

Sore itu, 𝗔𝗺𝗺𝘆 datang membawa makanan dan minuman.

Ia berhenti di ambang pintu ruang latihan, memandangi kaus 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 yang basah kuyup dan handuk yang tersampir di leher 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.

"𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘳𝘪?"

"𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵," jawab 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻. "𝘈𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘶𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢. 𝙎𝙚𝙗 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘥𝘸𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢."

𝗔𝗺𝗺𝘆 menoleh pada 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.

"𝘚𝘺𝘶𝘬𝘶𝘳𝘭𝘢𝘩. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘸𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘪𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢, 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪-𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪."

"𝘏𝘦𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶."

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 langsung menyeringai. "𝘖𝘩, 𝘺𝘢? 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘥𝘶𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵?"

"𝘐𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘮𝘢!"

𝗔𝗺𝗺𝘆 tertawa kecil. Ia mengeluarkan satu kotak makanan dari kantong plastik dan menyodorkannya pada 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘣𝘶𝘬𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯. 𝘔𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘭𝘶, 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘪𝘵𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘶𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘭𝘪𝘴𝘦𝘯𝘴𝘪."

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 melongok ke arah kantong. "𝘗𝘶𝘯𝘺𝘢𝘬𝘶?"

"𝘋𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮. 𝘈𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menerima kotak itu. Masih hangat.

"𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩, 𝘼𝙢𝙢𝙮. 𝘒𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘳𝘦𝘱𝘰𝘵-𝘳𝘦𝘱𝘰𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪."

"𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘳𝘦𝘱𝘰𝘵, 𝘬𝘰𝘬." 𝗔𝗺𝗺𝘆 merapikan ujung kantong plastik yang sebenarnya sudah rapi. "𝘏𝘢𝘣𝘪𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢. 𝘒𝘰𝘵𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶."

Ia menunduk, tetapi 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sempat melihat sudut bibirnya terangkat.

Hari keempat belas.

Langit mulai berubah jingga ketika 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyelesaikan sesi latihan terakhirnya.

Lima kilometer.

Tambahan beban lima kilogram.

Kali ini, ia berhasil mempertahankan tempo lari yang stabil hingga garis akhir.

Napasnya masih berat, tetapi kondisinya jauh lebih baik dibandingkan percobaan pertama.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membungkuk dengan kedua tangan bertumpu pada lutut.

Butiran keringat jatuh membasahi tanah.

Hah... hah...

Perlahan, sebuah senyum muncul.

"𝘈𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢... 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘫𝘶𝘨𝘢."

Dua minggu latihan tidak membuatnya menjadi Hunter hebat.

Ia masih belum menguasai Aura.

Kemampuannya menggunakan Regalia juga belum meningkat jauh karena kesempatan berlatih dengan unit aktif sangat terbatas.

Namun, fondasi fisik dan tekniknya kini lebih baik.

Dan yang terpenting, ia mulai memahami bahwa kekuatan bukan sekadar kemampuan memukul lebih keras.

Melainkan tahu kapan harus bergerak, bertahan, menyerang, ataupun mundur.

Malam harinya, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 kembali ke panti.

Setelah mandi dan makan malam, ia duduk di tepi tempat tidur sambil membuka rekaman pertarungannya melawan Brindle Prowler.

Ia memperhatikan setiap kesalahan yang ia lakukan.

Serangan yang terlalu terburu-buru.

Pertahanan yang terbuka.

Langkah kaki yang terlambat.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menghentikan rekaman tepat ketika Prowler itu merendahkan bagian depan tubuhnya, bersiap menerkam.

"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨..." gumamnya pada layar yang membeku. "𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘩. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶."

Tidak ada yang menjawab.

Dan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak cukup bodoh untuk menganggap dirinya sudah bisa menang dengan mudah.

Ia baru hendak mematikan layar ketika smartphone ESIA miliknya tiba-tiba bergetar.

BEEP! BEEP! BEEP!

Bunyi notifikasi yang belum pernah ia dengar memenuhi kamar.

Layar perangkat berubah merah.

Sebuah pemberitahuan resmi muncul dari aplikasi HUNTER.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

HUNTER — W.H.O

[ NEW ]

NEW MISSION ASSIGNMENT

Pemberitahuan Penugasan Resmi

Hunter 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 𝗡𝗼𝗶𝗿, Anda telah menerima penugasan operasional pertama.

HUNTER RANK : NOVIE

STATUS : AWAITING RESPONSE

Buka rincian penugasan untuk melihat informasi misi dan persyaratan operasi.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terpaku.

Selama beberapa detik, matanya tidak berpindah dari layar.

Kemudian ia menoleh ke arah kartu Hunter yang tergeletak di meja.

Dua minggu lalu, ia masih mempersiapkan diri.

Sekarang, dunia yang selama ini hanya ia lihat lewat berita, rekaman pertandingan, dan ruang ujian akhirnya memanggilnya secara langsung.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menelan ludah.

"𝘔𝘪𝘴𝘪... 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢?"

Jarinya bergerak menuju pemberitahuan itu.

Dan untuk pertama kalinya sejak memperoleh lisensi, ia menyadari satu hal.

Besok atau lusa, ia mungkin benar-benar harus mempertaruhkan nyawa, tanpa pengawas yang siap menghentikan pertarungan.

1
Renjana
keren👍
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊
ラマSkuy
nice 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!