NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA
Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.
Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.
Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Sinar matahari pagi kembali menyinari halaman Kos Putra Putri Melati.
Suasana pagi ini terasa sangat damai setelah insiden pengusiran preman kemarin siang.
Rahman Affandi duduk di kursi kayunya sambil menyeruput teh hangat.
Teh itu sudah diseduh untuk ketiga kalinya sampai warnanya berubah menjadi sangat bening.
"Ah, nikmatnya hidup tenang tanpa ada yang meminta uang padaku," gumam Rahman puas.
Ia merasa posisinya sebagai bapak kos semakin dihormati oleh para penyewa.
Ting!
Suara dengingan sistem kembali muncul di dalam kepalanya.
Rahman tersenyum santai, mengira ia akan mendapatkan misi mudah lagi.
Namun senyumnya langsung luntur saat melihat layar biru yang muncul di depannya.
Layar itu berkedip merah dengan peringatan tanda bahaya yang menyilaukan mata.
[Peringatan Kritis: Misi Tersembunyi telah kedaluwarsa!]
"Misi tersembunyi apa?"
"Kapan kau memberikanku misi tersembunyi, dasar sistem rusak?!" teriak Rahman panik.
[Kemarin sore, setelah pengguna mengusir preman, penyewa Rina menyapu halaman depan yang kotor oleh jejak sepatu preman.]
[Sistem telah memberikan notifikasi Misi Tersembunyi untuk sekadar mengucapkan terima kasih kepada Rina.]
[Namun pengguna mengabaikan notifikasi tersebut karena terlalu sibuk menghitung koin dari mesin cuci.]
Rahman menelan ludah dengan susah payah.
Ia memang ingat kemarin sore ada notifikasi kecil di sudut matanya, tapi ia malas membacanya.
Baginya, waktu adalah uang, dan membaca notifikasi tidak penting hanya membuang waktunya.
"Hanya karena aku tidak bilang terima kasih, kau bilang itu misi gagal?"
"Lalu apa hukuman konyol yang akan kau berikan padaku sekarang?" Rahman mencoba menantang.
[Status Misi: Gagal Total.]
[Hukuman Kegagalan: Pengurangan sisa umur sebanyak 20 hari.]
[Hukuman Tambahan: Serangan jantung ringan seketika.]
Mata Rahman membelalak sempurna membaca baris hukuman tersebut.
Dua puluh hari?
Sisa umurnya yang susah payah ia kumpulkan selama ini langsung dipotong begitu saja?
Belum sempat ia memaki sistem itu, dadanya tiba-tiba terasa seperti ditimpa balok beton.
"Argh!"
Bruk!
Cangkir teh di tangannya jatuh ke lantai hingga pecah berkeping-keping.
Prang!
Rahman mencengkeram dadanya dengan kedua tangan.
Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari dada kiri hingga ke lengan dan lehernya.
Napasnya seketika terputus dan pandangannya menjadi sangat gelap.
Tubuh tua itu ambruk ke lantai kamarnya dengan suara berdebum yang cukup keras.
Gubrak!
Di kamar nomor tujuh, Budi sedang memasang sepatu untuk berangkat kerja.
Telinganya mendengar suara pecahan kaca dan benda jatuh dari arah kamar bapak kosnya.
"Suara apa itu dari kamar Pak Rahman?" gumam Budi curiga.
Ia segera berdiri dan berjalan menuju kamar nomor satu.
Tok tok tok!
"Pak Rahman? Bapak tidak apa-apa di dalam?" panggil Budi dari luar pintu.
Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar.
Hanya terdengar suara napas tersengal yang sangat pelan.
Dimas yang baru saja keluar dari kamar nomor lima ikut menghampiri.
"Ada apa, Mas Budi?" tanya Dimas penasaran.
"Gak tahu nih, tadi ada suara barang jatuh dari dalam."
"Tapi Pak Rahman tidak menyahut sama sekali," jawab Budi mulai panik.
Budi mencoba memutar gagang pintu, tapi ternyata tidak dikunci dari dalam.
Ceklek.
Pintu terbuka dan keduanya langsung melongo terkejut melihat pemandangan di depan mereka.
Rahman tergeletak di lantai dengan wajah pucat pasi dan mata setengah tertutup.
Tangan pria tua itu masih mencengkeram dadanya dengan kuat.
"Astagfirullah, Pak Rahman!" teriak Budi histeris.
Ia langsung berlutut dan menopang kepala bapak kosnya itu.
"Bapak kenapa, Pak? Bangun, Pak!" Dimas ikut panik dan menepuk-nepuk pipi Rahman.
Maya yang sedang bersiap ke kampus mendengar keributan itu dan langsung berlari ke sana.
Rina juga menyusul dari belakang dengan wajah cemas.
"Ya ampun, Pak Rahman kenapa bisa begini?" Maya menutup mulutnya terkejut.
"Jangan banyak tanya, cepat pesankan taksi online sekarang juga!"
"Kita harus bawa bapak ini ke rumah sakit sebelum terlambat!" perintah Budi dengan tegas.
Maya segera mengeluarkan ponselnya dan memesan taksi.
"Taksi sudah dapat, mobilnya sudah ada di depan gang!" seru Maya beberapa detik kemudian.
"Dimas, bantu aku angkat Pak Rahman!"
Budi dan Dimas langsung membopong tubuh Rahman yang terasa sangat berat dan kaku.
Mereka setengah berlari membawa tubuh tua itu menuju mobil yang sudah menunggu.
Brummm.
Taksi online itu langsung melaju kencang menuju rumah sakit umum terdekat.
Setibanya di rumah sakit, perawat langsung membawa Rahman ke ruang gawat darurat.
Budi, Dimas, Maya, dan Rina hanya bisa menunggu di ruang tunggu dengan perasaan campur aduk.
Rina terus mengusap air matanya.
"Semoga Pak Rahman tidak apa-apa."
"Beliau itu orang baik yang sudah menolong anak saya, Ya Allah," doa Rina pelan.
"Iya Mbak, walau mulutnya pedas, bapak itu selalu peduli sama kita," timpal Maya yang ikut cemas.
Satu jam kemudian, seorang dokter muda keluar dari ruang UGD.
"Keluarga dari Bapak Rahman Affandi?" panggil dokter tersebut.
Budi dan Dimas langsung berdiri menghampiri.
"Kami bukan keluarganya, Dok."
"Kami cuma anak kos yang menyewa di rumah beliau," jawab Budi jujur.
Dokter itu menghela napas pelan.
"Pasien mengalami serangan jantung ringan karena kelelahan."
"Kondisinya sudah stabil, tapi beliau harus dirawat inap setidaknya selama tiga hari untuk observasi."
"Syukurlah kalau sudah stabil, Dok," ucap Dimas lega.
"Masalahnya, kami butuh persetujuan keluarga kandung untuk tindakan medis selanjutnya."
"Selain itu, harus ada keluarga yang mengurus administrasi dan deposit kamar rawat inap," jelas dokter itu lagi.
Keempat anak kos itu saling pandang dengan bingung.
Mereka baru sadar bahwa mereka tidak tahu sama sekali tentang keluarga bapak kos mereka.
"Dimas, coba periksa saku celana Pak Rahman tadi waktu kamu ikut perawat ke dalam."
"Siapa tahu ada ponselnya, kita bisa hubungi keluarganya," saran Budi.
Dimas mengangguk dan mengeluarkan ponsel tua milik Rahman dari sakunya.
Ponsel itu tidak dikunci dengan kata sandi, jadi Dimas bisa langsung membuka menu kontak.
"Ini ada kontak namanya Keponakan Hendra."
"Saya coba telepon ya," ucap Dimas sambil menekan tombol panggil.
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.
ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...