NovelToon NovelToon
Broken Home

Broken Home

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:459
Nilai: 5
Nama Author: kiara lily

Lily seorang anak yang ditinggal berpisah oleh kedua orang tua nya. tetapi suatu saat, kedua ortunya saling menikah lagi. saat itu ia ikut dengan ibunya, suatu hal yang tak disangka oleh Lily. Ayah tiri nya ternyata mempunyai niat buruk pada nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unaa, isi konten hanya pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiara lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiket Sekali Jalan

Dua bulan telah berlalu sejak kata-kata terakhir Bambang menggema di rumah Nenek Surti. Debu-debu konflik mulai mengendap, namun realitas kehidupan justru semakin menekan dada Ratna. Tabungan yang dibawa dari rumah lama menipis dengan kecepatan yang menakutkan. Biaya sekolah Lily, kebutuhan sehari-hari, dan obat-obatan rutin Nenek yang kini sering sakit-sakitan karena stres, semuanya menuntut perhatian finansial yang tidak bisa ditutupi hanya dengan pekerjaan serabutan Ratna sebagai penjahit keliling.

Malam itu, udara terasa pengap. Lampu neon di ruang tengah berkedip-kedip, seolah ikut merasakan kegelisahan penghuninya. Ratna duduk di meja makan kayu yang sudah lapuk, menatap tumpukan tagihan listrik, air, dan surat peringatan dari sekolah Lily mengenai tunggakan SPP. Di hadapannya, secangkir kopi hitam dingin yang tidak pernah ia sentuh.

Lily masuk ke ruangan setelah selesai belajar. Ia melihat ibunya termenung, alisnya bertaut dalam, jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan gelisah.

“Ma, kenapa belum tidur?” tanya Lily sambil menarik kursi dan duduk di hadapan ibunya.

Ratna tersentak, lalu segera menyembunyikan surat-surat tagihan itu di bawah majalah bekas. “Ah, cuma… cuma mikirin jahitan besok. Ada pesanan kebaya yang harus selesai pagi-pagi.”

Lily menatap ibunya tajam. Ia bukan lagi anak kecil yang mudah dibohongi. Matanya menangkap kerutan lelah di sudut mata ibu, dan tangan ibu yang gemetar halus.

“Ma, jangan bohong,” ucap Lily pelan namun tegas. “Aku lihat surat dari sekolah tadi siang. Dan aku tahu Mama cuma punya sisa uang lima ratus ribu di dompet. Kita nggak bisa bayar SPP bulan depan kalau begini terus.”

Ratna menghela napas panjang, bahunya merosot. Topeng ketenangannya runtuh. “Mama bingung, Lil. Mama udah coba cari kerja tambahan, tapi orderan jahit sepi. Orang-orang juga lagi susah ekonomi. Nenek butuh obat, kamu butuh biaya sekolah… Mama merasa gagal.”

“Mama nggak gagal,” bantah Lily cepat, meraih tangan ibunya yang kasar karena jarum dan benang. “Kita cuma lagi di fase sulit. Pasti ada jalan lain.”

Ratna menatap putrinya, matanya berkaca-kaca. Ada sebuah keputusan berat yang sudah ia pendam selama seminggu terakhir, dan malam ini, ia merasa harus mengucapkannya. Meski rasanya seperti menelan pecahan kaca.

“Lil…” suara Ratna serak. “Ada tawaran kerja. Dari agen tenaga kerja di kota.”

Lily mengerutkan kening. “Kerja apa? Di pabrik? Atau jadi pelayan restoran? Kalau itu, Mama bisa kok, Ma. Aku bisa bantu jaga Nenek sepulang sekolah.”

Ratna menggeleng pelan. Ia mengambil napas dalam-dalam, seolah mengumpulkan keberanian untuk melontarkan bom yang akan mengubah hidup mereka selamanya.

“Bukan di sini, Nak. Di luar negeri.”

Hening. Suara jangkrik di luar tiba-tiba terdengar sangat nyaring di telinga Lily. Gadis itu menatap ibunya dengan ekspresi kosong, otaknya berusaha mencerna kata-kata tersebut.

“Luar negeri?” ulang Lily, suaranya datar. “Ke mana? Malaysia? Singapura?”

“Arab Saudi,” jawab Ratna lirih. “Sebagai pekerja rumah tangga. Gajinya… gajinya besar, Lil. Tiga kali lipat dari apa yang Mama dapatkan di sini. Dengan uang itu, Mama bisa lunasi semua utang, bayar sekolahmu sampai lulus, bahkan sisain buat tabungan kuliah. Nenek juga bisa dapat perawatan terbaik.”

Lily berdiri mendadak, kursinya bergeser mundur dengan suara keras. Wajahnya pucat, campuran antara kaget dan marah.

“Mama mau jadi TKW?” teriak Lily, suaranya memecah keheningan malam. “Mama mau ninggalin aku? Ninggalin Nenek? Demi uang?”

“Ini bukan demi uang semata, Lil! Ini demi masa depan!” Ratna ikut berdiri, air matanya mulai mengalir. “Apa pilihan Mama? Mau lihat kamu putus sekolah? Mau lihat Nenek sakit tanpa obat? Bambang nggak ngirim nafkah sepeser pun sejak talak itu! Mama nggak punya suami, nggak punya sandaran! Mama harus jadi kepala keluarga sekarang, dan kepala keluarga ini sedang tenggelam!”

“Tapi Mama bisa cari kerja lain di sini!” desak Lily, napasnya memburu. “Kenapa harus jauh? Kenapa harus sampai ke Arab sana? Mama tahu kan risikonya? Banyak cerita buruk tentang TKW di sana. Disiksa, ditelantarkan, dipulangkan dalam kondisi mengenaskan. Aku nggak mau kehilangan Mama juga, Ma! Aku udah kehilangan Ayah secara emosional, sekarang Mama mau hilang secara fisik?”

Ratna mendekati Lily, mencoba memeluknya, namun Lily menghindar. Tolakan itu menyakitkan, lebih sakit daripada ucapan talak Bambang dulu.

“Mama sudah berpikir matang, Lil,” kata Ratna, suaranya bergetar menahan tangis. “Agen ini terpercaya. Kontraknya dua tahun. Dua tahun saja, Nak. Cepat banget kan? Setelah dua tahun, Mama pulang. Kita bakal punya rumah sendiri, kamu bisa kuliah di universitas negeri impianmu. Mama rela menderita di sana asal kamu dan Nenek bahagia di sini.”

“Bahagia?” Lily tertawa pahit, air mata mengalir deras di pipinya. “Gimana Mama pikir aku bisa bahagia kalau setiap malam aku nungguin telepon dari Mama yang mungkin nggak bisa diangkat karena beda waktu? Gimana caranya aku merasa aman kalau orang yang paling aku sayang ada di seberang lautan, di negara yang asing, bekerja untuk orang lain?”

“Karena cinta, Lil!” Ratna menangis terbuka sekarang. “Karena Mama cinta sama kamu! Kalau Mama tetap di sini, kita akan hidup dalam kemiskinan yang menyesakkan. Kemiskinan itu lambat laun akan membunuh mimpi-mimpimu. Mama nggak mau kamu tumbuh dengan rasa minder karena nggak mampu beli buku, nggak mampu bayar les, nggak mampu ikut kegiatan sekolah. Mama mau kamu terbang tinggi, Lil. Dan sayap itu butuh bahan bakar. Uang itu bahan bakarnya.”

Lily terdiam. Ia menatap wajah ibunya yang hancur lebur. Ia melihat garis-garis penuaan yang muncul lebih cepat dari seharusnya. Ia melihat tangan ibu yang kapalan. Ia menyadari bahwa ibunya tidak memilih ini karena ia ingin pergi. Ibunya memilih ini karena ia terjepit. Tidak ada jalan keluar lain. Sistem sosial tidak ramah pada perempuan tunggal yang berjuang sendirian tanpa dukungan mantan suami.

“Aku takut, Ma,” bisik Lily akhirnya, amarahnya luruh menjadi keputusasaan. “Aku takut Mama kenapa-napa di sana. Aku takut Mama kesepian.”

Ratna memeluk Lily erat-erat, kali ini Lily tidak menolak. Ia membenamkan wajahnya di dada ibu, menangis tersedu-sedu.

“Mama juga takut, Sayang,” bisik Ratna di telinga putrinya. “Mama takut nggak bisa peluk kamu saat kamu sedih. Mama takut ketinggalan momen pentingmu. Tapi percayalah, setiap detik Mama bekerja di sana, Mama melakukannya dengan senyuman karena tahu itu untuk masa depanmu. Jarak itu cuma angka, Lil. Cinta kita nggak kenal jarak.”

Nenek Surti muncul dari balik tirai kamar,显然 ia sudah mendengar seluruh percakapan itu. Wanita tua itu berjalan pelan, matanya basah.

“Biarkan ibumu melakukan apa yang menurutnya terbaik, Cucuku,” kata Nenek lembut. “Dunia ini keras pada perempuan seperti kami. Tapi ibu kalian adalah pejuang. Dia berani mengorbankan kenyamanan dirinya demi kalian. Itu bentuk cinta tertinggi.”

Lily mengangkat wajahnya, menatap Nenek, lalu menatap Ibu. Ada pertempuran hebat di dalam hatinya antara ego seorang anak yang ingin dimanja dan kedewasaan yang dipaksa tumbuh terlalu cepat. Akhirnya, ia mengangguk pelan. Sebuah persetujuan yang berat, penuh air mata, dan penuh keraguan.

“Berapa lama lagi sebelum berangkat?” tanya Lily, suaranya parau.

“Minggu depan,” jawab Ratna. “Visa sudah proses.”

Lily menutup matanya, merasakan detak jantung ibunya yang kencang. Dua minggu. Waktu yang tersisa sangat sedikit. Ia harus belajar melepaskan, belajar mandiri, dan belajar percaya bahwa pengorbanan ibunya tidak akan sia-sia.

“Janji satu hal, Ma,” kata Lily, membuka matanya dan menatap lurus ke manik mata ibunya.

“Apa, Sayang?”

“Jangan lupa pulang. Dan jangan lupa kalau di sini ada anak yang menunggu ceritamu, bukan cuma transferan uangmu.”

Ratna tersenyum, meski air matanya masih mengalir. Ia mencium kening Lily. “Janji, Nak. Mama janji.”

Di luar, angin malam berhembus kencang, membawa daun-daun kering berterbangan. Seperti daun-daun itu, hidup mereka pun terhempas oleh angin takdir yang tak bisa mereka kendalikan. Namun, di tengah badai ketidakpastian itu, ikatan kasih sayang mereka justru menguat, dipersatukan oleh pengorbanan yang paling pahit namun paling tulus.

1
Unaa
maafkan yaa kalo banyak typo nyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!