NovelToon NovelToon
My Annoying Lecturer: My Hubby

My Annoying Lecturer: My Hubby

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: syshy

Lyana Shaqiera, mahasiswi fakultas hukum.
Di tahun keduanya menempuh pendidikan, Qiera justru mendapat gelar baru. Bukan gelar Sarjana Hukum, melainkan "istri" dari dosennya, tepatnya dosennya yang sangat menyebalkan, Ravian Aryasatya?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syshy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAL13. Jangan Tinggalkan Aku

“Mama tahu, Nak. Terima kasih sudah menemani Ravi.” ucap mama Ravi tersenyum meski tidak bisa dipungkiri ia sangat mengkhawatirkan putranya.

Kalimat itu membuat tenggorokan Qiera terasa tercekat. Ia tidak tahu harus menjawab apa selain mengangguk. Di hadapan orang tua Ravi, ia semakin menyadari bahwa pria itu bukan hanya seseorang yang selama ini membuat hari-harinya penuh perdebatan. Ravi adalah anak yang mereka khawatirkan, cucu yang disayangi kakeknya, dan kini seseorang yang terluka saat berusaha melindungi Qiera.

Waktu berlalu begitu lama hingga Ravi diizinkan untuk menerima kunjungan. Ketika akhirnya diizinkan masuk, Qiera berjalan di belakang kedua orang tua Ravi.

Sementara Nisa dan Arga telah berpamitan beberapa saat lalu karena harus kembali ke kampus. Sebelum pergi, Nisa memeluknya sebentar dan berjanji akan menghubunginya nanti.

“Aku akan datang lagi kalau kamu butuh teman,” katanya.

Qiera mengangguk. “Makasih, Nis.”

Arga juga berpesan agar Qiera tidak lupa mengabari BEM bahwa ia aman. Urusan organisasi untuk sementara akan ditangani pengurus lain, sehingga Qiera tidak perlu memaksakan diri kembali ke kampus.

Pintu ruang rawat terbuka, menampilkan sosok Ravi yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan wajah lelah. Ia sudah berganti pakaian, dan bagian punggungnya tertutup balutan perawatan. Meski masih tampak pucat, ia sadar dan dapat berbicara pelan.

Mama Ravi segera mendekati ranjang, mengusap rambut putranya dengan tangan gemetar. Papanya berdiri di sisi lain, menanyakan apa yang terjadi dan memastikan dokter telah memberikan penjelasan lengkap.

Ravi menjawab seperlunya. Ia mengatakan bahwa semuanya berlangsung begitu cepat, dan bahwa ia tidak sempat berpikir panjang ketika melihat Qiera berada dalam bahaya.

Setelah itu, pandangannya beralih kepada perempuan yang berdiri agak jauh di dekat pintu.

“Lily.”

Qiera segera mengangkat wajahnya dan mendekat. “Mas?”

“Kamu tidak terluka?”

Pertanyaan itu lagi.

Qiera menatapnya dengan mata yang kembali panas. “Mas masih sempat menanyakan aku?”

Ravi mengerutkan kening sedikit. “Tentu saja. Saya melihat kamu tepat di depan saya waktu itu.”

“Justru itu!” Suara Qiera bergetar. “Mas tidak berpikir dulu? Kalau Mas sampai kenapa-kenapa, gimana??”

Ravi terdiam sejenak. Ia tidak langsung menjawab, seolah memahami bahwa kemarahan kecil di balik suara Qiera sebenarnya lahir dari ketakutan. Akhirnya, ia berkata dengan suara rendah, “Saat itu saya hanya ingin memastikan kamu selamat.”

Qiera menggigit bibir. Air matanya jatuh sebelum sempat ia tahan.

“Jangan lakukan itu lagi,” bisiknya. “Aku ngga tahu harus gimana kalau sesuatu terjadi sama Mas.”

Keheningan menyelimuti kamar selama beberapa detik. Mama Ravi menatap keduanya dengan ekspresi lembut, sementara ayahnya memilih memberi mereka sedikit ruang. Qiera segera menyeka air mata, merasa malu karena emosinya meluap di hadapan keluarga Ravi. Namun, pria di ranjang itu justru mengulurkan tangan dan menggenggam jemarinya.

“Saya baik-baik saja, Lily. Dokter sudah menangani lukanya. Kamu tidak perlu menyalahkan diri sendiri.”

Qiera menunduk, menatap tangan mereka yang saling menggenggam. Ia ingin percaya pada ucapan itu, tetapi bayangan pisau yang terangkat ke arahnya masih terlalu jelas. Ia tidak bisa berhenti memikirkan bahwa Ravi mungkin tidak akan terluka jika ia bergerak lebih cepat.

“Mas,” katanya pelan, “aku takut.”

Genggaman Ravi mengerat sedikit. “Saya tahu.”

Hanya dua kata, tetapi entah mengapa cukup membuat Qiera kembali menangis tanpa suara.

...⛅⛅...

Menjelang siang, setelah kondisi Ravi dinyatakan cukup stabil untuk beristirahat, dokter meminta keluarga membatasi kunjungan agar ia bisa tidur.

Kini mereka masih menemani Ravi di kamar itu. Setelah berbicara sebentar dengan dokter, papa dan mama avi memutuskan keluar untuk mengurus beberapa keperluan administrasi. Mereka meminta Qiera beristirahat juga, tetapi perempuan itu menolak halus. Ia ingin menunggu sampai Ravi benar-benar tertidur.

Ravi memperhatikannya yang duduk di kursi dekat ranjang. “Kamu tidak pulang?”

Qiera menggeleng. “Aku mau di sini saja.”

“Kamu sudah menemani saya sejak pagi. Pergilah istirahat.”

“Nggak mau.”

“Lily..”

“Mas, aku nggak akan ke mana-mana.” Ia menatap Ravi dengan tegas, meskipun matanya masih sembap. “Mas boleh menyuruhku makan, tidur, atau berhenti mengerjakan tugas. Tapi kali ini, biarkan aku menemani Mas.”

Ravi tidak segera menjawab. Ia akhirnya menghela napas kecil, bukan karena kesal, melainkan karena tahu Qiera tidak akan mengubah keputusannya. “Baiklah. Tapi kalau kamu mengantuk, jangan memaksakan diri. Kursinya tidak nyaman untuk tidur.”

Qiera mengangguk. “Iya.”

Ravi memejamkan mata perlahan. Beberapa menit kemudian, napasnya mulai teratur, menandakan ia akhirnya tertidur. Qiera duduk diam di sampingnya, memperhatikan wajah yang biasanya selalu tampak tenang itu. Ada perban di bagian punggungnya, ada bekas lelah di wajahnya, dan ada sesuatu yang berubah dalam diri Qiera sejak melihat darah membasahi kemeja putihnya pagi tadi.

Ia menyadari bahwa ketakutan tadi bukan hanya karena Ravi adalah suaminya. Bukan pula semata-mata karena ia merasa bertanggung jawab atas luka itu.

Ia takut kehilangan Ravi.

Kesadaran tersebut datang begitu saja, membuat Qiera menunduk dan menggenggam tangannya sendiri. Ia belum tahu harus menyebut perasaan itu apa. Ia bahkan belum sepenuhnya terbiasa menjalani pernikahan yang terjadi begitu cepat. Namun, ia tahu bahwa membayangkan Ravi tidak lagi berada di sisinya adalah sesuatu yang tidak sanggup ia lakukan.

Ponselnya bergetar di atas meja kecil.

Sebuah pesan dari Nisa muncul di layar.

*Qie, aku tidak mau memaksamu menjawab pertanyaanku. Tapi setelah melihat reaksimu tadi, aku semakin yakin ada sesuatu yang belum kamu ceritakan.*

*Maaf yaa kalau aku terkesan nggak bisa baca situasi kamu dengan menanyakan hal seperti ini.. *

*Tapi aku harap yang kamu sembunyikan ini bukan hal yang buat kamu tertekan, dan aku harap aku masih bisa jadi tempat buat kamu cerita kapan pun itu*

Qiera membaca pesan itu berulang kali. Ia melirik Ravi yang masih tertidur, lalu kembali menatap layar.

Pesan berikutnya masuk beberapa detik kemudian.

*Apa pun itu, aku harap kamu engga memaksakan buat hadapi semuanya sendirian.*

Qiera memejamkan mata. Ia ingin membalas bahwa semuanya baik-baik saja, tetapi jari-jarinya tidak bergerak.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa menjaga rahasia pernikahan mereka bukan lagi sekadar persoalan mencari alasan yang masuk akal. Semakin banyak orang yang melihat kedekatan mereka, semakin sulit pula ia memisahkan kehidupan sebagai istri Ravi dari kehidupan sebagai mahasiswi di kampus.

Dan sekarang, setelah Ravi terluka demi melindunginya, ia bahkan tidak yakin sanggup berpura-pura bahwa pria itu hanya dosen yang menyebalkan.

Qiera meletakkan ponselnya, lalu kembali menggenggam tangan Ravi dengan hati-hati.

“Cepat sembuh, Mas,” bisiknya. “Aku masih punya banyak hal yang mau aku debatkan sama Mas.”

"Aku nggak mau.. kalau harus sendirian, Mas.. "

Ravi tidak menjawab. Ia masih tertidur, tidak mengetahui bahwa perempuan yang duduk di sisinya mulai memandang pernikahan mereka dengan cara yang berbeda.

Di luar kamar, langkah kaki terdengar mendekat. Pintu terbuka perlahan, dan mama Ravi masuk sambil membawa kantong berisi beberapa keperluan. Tatapannya langsung jatuh pada tangan Qiera yang menggenggam tangan putranya.

Ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya tersenyum kecil sebelum meletakkan barang-barang di meja.

Namun, saat Qiera mengangkat wajah dan mendapati mertuanya itu memperhatikannya, ia buru-buru melepaskan genggamannya, membuat perempuan yang lebih tua itu justru semakin tersenyum.

“Tidak perlu malu, Nak,” ujar mama Ravi lembut. “Kamu istrinya.”

Wajah Qiera memanas. Ia menunduk, sementara di ranjang, Ravi masih tertidur tanpa mengetahui percakapan singkat itu.

Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka, Qiera tidak merasa ingin menyangkal sebutan tersebut.

.

.

To be continued

See you🍀

1
Renjana
next next next😊
Renjana
hai... nama pena kita sama
saling support yuk,
biar semangat nulisnya😊
renjana biru: terimakasi udh mampir kk
total 2 replies
Tinta Putih
semangat kakak✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!