Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!
****
Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Intrik Ritual Langit dan Nyala Giok Takdir
"Hal itu membuktikan satu hal, Tuan Jin Wu... bahwa wanita yang ada di rumah Han Seol saat ini merupakan Jin So Hwa yang asli. Dia memiliki bakat spiritual murni Jinyowon, tidak seperti aku ataupun Jin So Hwa palsu lainnya yang dulu pernah kau buat bersama mendiang Jin Sang Wook."
Mendengar laporan medis spiritual dari Soi tersebut, benak Jin Wu seketika merasa sangat lega. Ketakutan yang menghantuinya selama beberapa hari ini akhirnya sirna. Selama ini prasangka dan kekhawatirannya salah besar; ia sebelumnya sangat cemas dan takut jika sosok Jin So Hwa yang bangkit itu adalah jiwa Nara yang kembali. Pasalnya, jika wanita itu benar-benar Nara, Jin Wu tahu bahwa seluruh kedok organisasi rahasia pemindah jiwa yang ia bawahi selama ini akan terungkap dan hancur di tangan Han Seol.
****
Di sisi lain, di dalam ruangan yang terisolasi di sudut istana tua, aura kegelapan terasa begitu pekat. Ratu Niskala yang asli, yang sampai saat ini jiwanya masih terjebak di dalam raga dukun Choi yang buruk rupa dan tua, terlihat duduk merenung dengan wajah murung. Ia sama sekali tidak bisa menerima keadaan fisiknya yang mengerikan itu.
"Sialan! Tubuh busuk ini membuatku muak!" amuk sang Ratu mendadak. Dengan murka, ia melemparkan mangkuk keramik dan mencengkeram leher seorang pelayan wanita hingga menjerit kesakitan.
Di sudut ruangan, berdiri Baek Yun O, kerabat dekat sang Ratu yang hanya bisa menatap ngeri tanpa berani mendekat. Beruntung bagi pelayan itu, pintu ruangan terbuka dan Jin Wu melangkah masuk. Kehadiran pemimpin Cheonbugwan itu seketika membuat sang Ratu menghentikan perbuatan kejamnya.
"Pergilah," perintah Jin Wu dingin kepada seluruh pelayan. Dalam sekejap, ruangan itu dikosongkan, hanya menyisakan Jin Wu, sang Ratu di raga dukun Choi, dan Baek Yun O saja.
Dengan hilangnya orang luar, terungkaplah sebuah kebenaran kelam bahwa mereka bertiga saat ini sedang bersekutu dalam sebuah konspirasi besar.
"Kita tidak bisa membuang waktu lagi, Jin Wu," desis sang Ratu dengan suara serak dukun Choi. "Tujuan utama kita adalah mengulang sejarah dua ratus tahun yang lalu. Kita harus menurunkan kembali Batu Es dari langit ke bumi ini!"
Jin Wu tersenyum penuh ambisi. "Tentu saja, Yang Mulia. Batu Es baru itu akan memberikan kekuatan mutlak bagiku untuk menguasai seluruh dunia, dan energi spiritualnya yang masif akan melepaskan jiwamu dari raga buruk rupa ini ke tubuh baru yang lebih sempurna."
Untuk melancarkan rencana gila tersebut, mereka telah merencanakan sebuah ritual besar kuno, yaitu ritual pemanggilan hujan spiritual seperti yang pernah terjadi dua ratus tahun silam. Jika ritual itu berhasil, diharapkan akan ada Batu Es istimewa baru yang jatuh dari langit. Namun, untuk mengeksekusi ritual tersebut, mereka terlebih dahulu harus menguasai benteng Jinyowon, sebab hanya di dalam tempat sakral itulah tersimpan seluruh artefak dan relik kuno yang diperlukan untuk membuka gerbang langit.
Akan tetapi, situasi saat ini menjadi sangat rumit. Dengan adanya sosok Han Seol—sang penyihir terkuat pemilik Batu Es asli— yang kini berstatus sebagai menantu sah Jinyowon, mereka bertiga harus memutar otak dengan keras untuk menyingkirkannya. Han Seol jelas akan membantai siapa saja yang mencoba menyentuh artefak Jinyowon.
"Han Seol terlalu kuat. Kita tidak bisa menghadapinya dengan sihir biasa," gumam Baek Yun O cemas.
Jin Wu menyeringai licik, matanya berkilat penuh kemenangan setelah menemukan sebuah celah jitu. "Kita tidak perlu melawannya dengan pedang. Aku sudah menemukan jurus paling jitu untuk menjauhkan Han Seol dari Jinyowon dan menghancurkan pertahanan batinnya."
"Apa rencanamu?" tanya Ratu penasaran.
"Aku akan menggunakan sisa energi mantra kelam untuk memanggil kembali jiwa Nara—kekasih lamanya yang asli. Kehadiran jiwa Nara yang bangkit di depan matanya dijamin akan menggoyahkan hati dan kewarasan Han Seol seutuhnya," jelas Jin Wu dengan nada licik.
"Saat Han Seol sudah dibutakan oleh obsesinya dan meninggalkan Jin So Hwa demi mencari jiwa Nara, dengan begitu pastinya posisi perlindungan Jinyowon akan melemah. Kita bisa dengan mudah menangkap Jin So Hwa kembali, lalu menikahkannya ulang secara paksa dengan Yun O, sepupumu."
Jin Wu tertawa rendah, sebuah tawa yang sarat akan malapetaka. "Lantas, jika Jin So Hwa sudah berada di bawah kendali pernikahan keluarga Baek, maka dengan begitu akan teramat mudah bagi kita semua untuk menguasai seluruh isi Jinyowon beserta relik dan artefak ritual di dalamnya tanpa ada yang bisa menghalangi lagi."
****
Di sebuah kawasan permukiman padat warga di sudut Kota Niskala, riuh rendah suara penduduk berkumpul di sekitar sebuah sumur tua. Di tengah kerumunan itu, berdiri Master Lee yang sedang dimintai bantuan oleh salah satu warga paruh baya.
"Master Lee, tolonglah kami," ratap warga itu sambil menunjuk ke dalam lubang sumur yang gelap. "Sejak kemarin malam, sumur ini mendadak kering kerontang. Tidak ada setetes air pun yang tersisa. Jika begini terus, seluruh keluarga di blok ini tidak bisa memasak."
Master Lee tersenyum teduh. Tanpa butuh waktu lama untuk merapalkan mantra yang rumit, ia hanya mengulurkan tangan kanannya di atas lubang sumur. Dengan satu hentakan halus dari energi spiritualnya yang masif, aliran air di dalam tanah seolah patuh pada perintahnya.
Gubrak!
Suara gemuruh air terdengar dari kedalaman bumi. Dalam hitungan detik, air jernih naik ke atas dengan cepat, memenuhi dinding-dinding sumur hingga hampir meluap ke permukaan. Warga yang menyaksikan fenomena tersebut sontak bersorak gembira dan terkagum-kagum oleh kemampuan magis Master Lee yang luar biasa.
Namun, perhatian Master Lee justru teralih pada sesuatu yang mengapung di atas permukaan air sumur yang baru pulih. Ia menjentikkan jarinya, membuat benda itu melayang ke telapak tangannya. Benda itu ternyata berbentuk patung seekor burung berukuran kecil dan berwarna merah menyala. Raut wajah Master Lee seketika berubah heran dan serius.
“Aneh sekali...” batin Master Lee sambil mengamati patung burung merah tersebut.
Ini bukan pertama kalinya ia melihat benda magis ini. Sejak pagi tadi, ia sudah menemukan total lima benda yang sama persis di dalam sumur-sumur warga lainnya yang mendadak mengering secara misterius. Instingnya mengatakan bahwa ada pergerakan sihir hitam terstruktur yang sedang menebar jangkar di kota ini.
****
Sementara itu, di kediaman keluarga Han, suasana makan siang terasa hening. Han Seol sedang duduk menikmati masakan lobak dan kacang buatan Do Kwang. Meskipun rasa masakan pamannya itu masih terasa aneh di lidah, Han Seol tetap mengunyahnya dalam diam demi menghormati sang paman.
Namun, keheningan itu mendadak pecah ketika Do Kwang meletakkan mangkuknya dengan kasar ke atas meja. Ia menatap keponakannya dengan sorot mata penuh teguran.
"Han Seol," ucap Do Kwang, suaranya terdengar berat dan menyudutkan. "Sampai kapan kau akan terus bersikap seperti ini? Tiga tahun telah berlalu, namun kau tidak pernah sekalipun menginjakkan kakimu atau mengunjungi Danau Cheon Gi. Tempat di mana Seol Ah mengakhiri hidupnya yang malang."
Han Seol menghentikan gerakan sumpitnya, namun ia tetap menunduk, enggan menatap mata pamannya.
Do Kwang semakin menyudutkan batin Han Seol. "Kau hanya bisa mengurung dirimu di sini, pergi memburu pemindah jiwa, lalu membuat tumpukan batu mati di dalam hutan itu tanpa sekalipun datang ke danau untuk mendoakan sukmanya agar tenang! Apakah kau begitu pengecut untuk menghadapi kenyataan bahwa dia sudah tiada?"
Mendengar rentetan kalimat tajam tersebut, Han Seol hanya bisa terdiam seribu bahasa. Dadanya terasa sesak, seolah sebilah pedang di dalamnya diputar secara paksa. Ia tidak menjawab sepatah kata pun, hanya bisa merenungkan dengan dalam setiap kata yang diucapkan oleh Do Kwang di dalam kesunyian hatinya.
****
Di belahan tempat lain, tepatnya di area taman padepokan Cheon Gi Won, Jin So Hwa sedang berjalan bersama Baek Chae Won. So Hwa yang berniat untuk menemui Han Seol demi mengucapkan terima kasih atas kejadian di Jinyowon, terus berjalan sembari memutar-mutar sebuah benda di jemarinya.
"Nona So Hwa, apa yang sedang kau pegang itu?" tanya Baek Chae Won penasaran.
Langkah kaki mereka terhenti. Chae Won menatap lekat-lekat pada batu giok berwarna biru tua yang dipegang oleh So Hwa. Begitu mengenali bentuk dan ukirannya, mata Chae Won membelalak kaget.
"Ini... bagaimana bisa giok ini ada padamu?" tanya Chae Won dengan nada suara yang berubah serius. "Ini adalah batu giok peninggalan milik seseorang bernama Seol Ah. Dia adalah pelayan sekaligus kekasih hati Han Seol di masa lalu. Wanita itulah yang tiga tahun lalu dikendalikan oleh sihir hitam hingga sempat menusukkan pedangnya tepat ke dada Han Seol sebelum akhirnya ia melompat dan meninggal di danau."
Jin So Hwa tersentak mendengarnya. Jantungnya berdegup kencang tanpa alasan yang jelas.
Chae Won kemudian melanjutkan penjelasannya dengan antusias. "Kakekku pernah bercerita bahwa giok biru Yin ini memiliki ikatan magis yang kuat. Ia bisa terhubung dan memanggil giok pasangannya, yaitu giok Yang berwarna merah yang saat ini disimpan oleh Han Seol. Cara untuk mengaktifkan hubungan itu adalah dengan mengalirkan energi spiritual murnimu langsung ke dalam batu giok tersebut."
Mendengar informasi yang teramat penting itu, niat awal Jin So Hwa yang semula ingin menuju padepokan Cheon Gi Won seketika berbelok arah. Didorong oleh rasa penasaran yang teramat besar dan desakan aneh di dalam jiwanya, ia segera beralih menuju hutan rimbun tempat ia menemukan giok biru itu pertama kali.
Sesampainya di tengah hutan tumpukan batu, Jin So Hwa berdiri di samping salah satu susunan batu milik Han Seol. Untuk membuktikan kebenaran ucapan Chae Won, ia memejamkan mata dan mulai mengalirkan energi spiritualnya yang baru saja bangkit ke dalam giok biru tersebut.
Wusss!
Giok biru di tangannya mendadak memancarkan cahaya terang.
Pada saat yang sama, Han Seol baru saja melangkah keluar dari gerbang Cheon Gi Won untuk berjalan pulang. Tiba-tiba, dada sebelah kirinya terasa hangat. Batu giok berwarna merah yang tersimpan di dalam jubahnya mendadak bergetar hebat dan memancarkan pendaran cahaya merah yang sinkron.
Jantung Han Seol seketika berdetak semakin kencang, berpacu dengan harapan liar yang mendadak membubung tinggi di dalam dadanya.
“Apakah giok ini bereaksi? Apakah Seol Ah... Seol Ah masih hidup dan sedang memanggilku?”