NovelToon NovelToon
Bayangan Sang Ratu Mafia

Bayangan Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Roman-Angst Mafia
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 - JEJAK PENGKHIANAT

Pagi itu, cuaca mendung menutupi langit kota. Awan abu-abu tebal menggantung rendah, seolah ngerti banget kalau *mood* di dalam ruang kerja lantai 50 gedung utama lagi nggak kalah gelapnya.

Valeria berdiri di depan jendela kaca raksasa, menyesap kopi hitamnya dalam diam. Ingatan tentang percakapan intimnya dengan Kael di dalam Maybach semalam masih nempel kuat di kepalanya. Pria yang selama sepuluh tahun cuma dia anggap sebagai bawahan paling setia itu ternyata menyimpan monster yang jauh lebih mematikan dari dugaannya. Dan yang bikin dada Valeria berdesir aneh, monster itu rela dirantai hanya demi berada di sisinya.

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.

"Masuk," sahut Valeria tanpa memutar tubuhnya.

Pintu terbuka pelan. Kael melangkah masuk membawa sebuah *tablet* di tangannya. Pria itu sudah kembali mengenakan setelan jas hitamnya yang rapi, dengan rambut yang disisir klimis ke belakang. Bekas kelelahan dari pertarungan semalam dan luka di bahunya seolah menguap begitu aja, tertutup oleh topeng kaku sang pengawal andalan.

"Pagi, Val," sapa Kael dengan suara baritonnya yang tenang. Pria itu berjalan mendekat dan berdiri di samping meja kerja.

"Pagi. Bahumu gimana? Jahitannya aman?" tanya Valeria memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah Kael. Matanya secara refleks mengecek postur tubuh pria itu, memastikan nggak ada noda darah yang merembes lagi.

"Aman, Val. Berkat jahitan Anda semalam, saya bisa tidur nyenyak," jawab Kael sedikit menunduk. Telinganya agak memerah tipis mengingat momen saat mereka berhadapan sangat dekat di mobil.

"Baguslah," senyum Valeria tipis, melangkah menuju kursinya dan duduk dengan santai. "Jadi, ada laporan pagi apa hari ini? Tuan Anton nggak komplain kan gara-gara kita ninggalin 'hadiah' di kabinet meja biliarnya?"

Kael menggeleng pelan. "Tidak. Anak buah Tuan Anton menemukan pelayan palsu itu pagi ini. Mereka langsung membuangnya tanpa banyak tanya, sesuai protokol dunia bawah. Tapi..."

Kael menggantung kalimatnya. Alis tebal pria itu berkerut dalam, raut wajahnya mendadak berubah sangat serius. Dia melangkah maju dan meletakkan *tablet* di atas meja, tepat di depan Valeria.

"Ada masalah yang jauh lebih besar dari sekadar penyusup semalam, Val," ucap Kael dingin.

Valeria mengerutkan kening. Dia meletakkan cangkir kopinya dan menarik *tablet* itu. Di layarnya, terpampang foto-foto dari *drone* yang menunjukkan deretan truk kargo terbakar di sebuah jalanan sepi pinggir kota, dengan beberapa mayat bergelimpangan di sekitarnya.

"Apa ini?" tanya Valeria tajam, matanya memindai foto-foto berdarah itu.

"Ini konvoi pengiriman senjata kita dari Rusia yang baru saja tiba subuh tadi," lapor Kael dengan rahang mengeras. "Setelah insiden Marco dan kematian Pak Hendra di pelabuhan sektor selatan, saya langsung mengalihkan rute pengiriman kargo itu ke jalur utara, masuk melalui pelabuhan kecil yang jarang dipakai, lalu diangkut menggunakan truk biasa agar tidak mencolok."

"Lalu kenapa bisa hangus begini?" desis Valeria, amarah mulai memercik di dadanya. Senjata dari Rusia itu nilainya ratusan miliar, aset penting untuk menjaga dominasi klan mereka.

"Mereka disergap, Val," jelas Kael sambil menunjuk salah satu foto yang menampilkan logo ular menyeringai yang dicat dengan darah di badan truk. "Klan Viper. Mereka menaruh bom di sepanjang jalan pintas yang dilewati konvoi kita, lalu membantai sisa anak buah kita yang selamat dari ledakan."

*BRAK!*

Valeria menggebrak meja dengan keras, membuat cangkir kopinya sedikit melompat. Mata wanita itu berkilat penuh amarah membunuh.

"Viper lagi?! Berani-beraninya tikus selokan itu terus-terusan gigit ekorku!" maki Valeria murka. Napasnya memburu. "Tunggu dulu... Jalur utara? Jalan pintas?"

Valeria mendongak, menatap Kael dengan tatapan horor yang mulai menyadari sesuatu.

"Tepat," angguk Kael mengerti jalan pikiran bosnya. Pria itu menempelkan kedua tangannya di tepi meja, mencondongkan tubuhnya ke depan dengan aura yang sangat mengintimidasi. "Pengalihan rute ini adalah rencana darurat tingkat tinggi. Saya baru menyusunnya kemarin sore setelah insiden potongan tangan di meja Anda."

"Nggak mungkin Viper bisa nebak rute itu secara kebetulan," gumam Valeria, otaknya bekerja dengan kecepatan penuh. "Jalur utara itu muter jauh dan medannya sulit. Kalau mereka bisa pasang bom di sana, artinya mereka udah nunggu di titik yang tepat. Mereka tahu kapan kargo itu lewat dan lewat jalan mana."

"Mereka tidak menebak, Val. Mereka diberi tahu," ucap Kael tajam, matanya menyipit memancarkan niat membunuh yang pekat. "Ada kebocoran informasi. Ada pengkhianat di lingkar dalam klan kita."

Suasana di ruangan itu mendadak anjlok menjadi sedingin es. Pengkhianatan tingkat bawah seperti yang dilakukan Marco itu biasa terjadi. Tapi kebocoran informasi taktis tingkat tinggi seperti ini adalah ancaman fatal. Ini artinya ada musuh dalam selimut yang bernapas di dekat Valeria.

Pintu ruang kerja tiba-tiba diketuk dengan sangat kasar, lalu terbuka sebelum Valeria sempat menyuruh masuk. Bastian berlari ke dalam dengan napas ngos-ngosan, wajah bertatonya terlihat panik.

"Nyonya! Konvoi utara—"

"Aku udah tahu, Bastian. Tutup mulutmu dan kunci pintunya," potong Valeria judes, melirik tajam ke arah kepala keamanannya itu.

Bastian langsung kicep. Dia buru-buru menutup pintu, menguncinya rapat, lalu berdiri dengan sikap sempurna meski keringat dingin membasahi pelipisnya. Kael menatap Bastian dengan tatapan menyelidik yang sedingin mata pisau. Di mata Kael, saat ini semua orang adalah tersangka, termasuk Bastian.

"Siapa saja yang tahu soal rute cadangan ini, Kael?" tanya Valeria pelan, tapi nadanya penuh racun. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, mengetuk-ngetukkan kuku merahnya ke sandaran tangan.

Kael berdiri tegak, mengeluarkan buku catatan kecil dari saku jasnya. "Selain Anda dan saya, dokumen rute baru itu hanya diserahkan kepada tujuh orang. Lima orang Tetua Klan saat rapat kemarin siang, Leon sebagai kepala divisi logistik yang menyiapkan truknya, dan Bastian yang mengatur regu pengawalan."

Bastian yang merasa namanya disebut langsung pucat pasi. Pria besar itu gelagapan dan maju satu langkah sambil mengangkat kedua tangannya.

"N-Nyonya! Sumpah demi Tuhan, bukan saya! Saya berani mati, saya nggak pernah buka mulut soal rute itu ke siapa pun di luar regu inti! Kael, lo tahu gue setia sama Nyonya!" bantah Bastian panik, suaranya sampai bergetar ketakutan karena ditatap oleh dua monster mematikan di depannya.

Kael tidak berkedip. Mata elangnya menembus langsung ke dalam pertahanan Bastian. "Kalau regu intimu yang membocorkannya, informasi itu butuh waktu untuk sampai ke telinga bos Viper. Sedangkan penyergapan ini terlalu terorganisir. Bom butuh waktu berjam-jam untuk dipasang di medan sulit seperti itu. Artinya, si pengkhianat langsung memberikan informasi ini segera setelah rute dibuat kemarin sore."

Valeria menyeringai dingin, memutar bolpoin peraknya dengan luwes. "Jadi, kalau bukan regu pengawal... berarti antara si Leon logistik, atau kelima kakek bangka yang kemarin baru aja aku hina-hina di ruang rapat."

"Leon memang licik dan serakah, tapi dia penakut. Bermain api dengan Klan Viper berisiko membuat nyawanya melayang dari dua sisi," analisis Kael objektif, otaknya terus menyaring kemungkinan layaknya komputer. "Sedangkan para Tetua... Tetua Haris punya motif balas dendam setelah Anda mempermalukannya kemarin. Dan mereka punya akses langsung ke bos-bos klan saingan."

"Tetua Haris," guman Valeria, membayangkan wajah bengkak pria tua itu yang kemarin dicekik oleh Kael. "Dia cukup bodoh dan cukup egois buat ngejual klan sendiri cuma demi nurunin aku dari takhta."

Bastian menelan ludah kasar. "T-tapi Nyonya, kalau kita nuduh Tetua Haris tanpa bukti, klan bisa pecah. Dia megang banyak saham dan anak buah setia di sektor barat. Kita bisa perang saudara."

Valeria mendecak sebal. Bastian memang benar. Mengusik dewan tetua tanpa bukti fisik sama aja nyodorin leher ke tiang gantungan politik dunia bawah. Dia butuh bukti telak yang bisa dipakai buat nyumpal mulut Haris sebelum memenggal kepalanya.

"Kita nggak akan main tuduh terang-terangan," ucap Valeria dingin. Matanya beralih menatap Kael yang berdiri tegap di depannya. "Kael."

"Ya, Val," sahut Kael cepat, siap menerima perintah.

"Aku butuh bukti. Rekaman telepon, transaksi bank, riwayat pertemuan rahasia, atau apa pun yang bisa ngebuktiin siapa tikus got yang ngejual rute senjata kita," perintah Valeria dengan suara mutlak seorang pemimpin. "Aku mau kau cari tahu siapa pelakunya."

"Beri saya waktu, Val," ucap Kael mantap. Pria itu sedikit memajukan langkahnya. "Saya akan bergerak di bawah radar. Tidak akan ada yang tahu saya sedang mengendus mereka. Saya akan menggeledah rumah Leon, dan memantau komunikasi Tetua Haris."

Valeria menatap bayangannya itu dalam-dalam. Dia ingat betul kekuatan mengerikan yang Kael sembunyikan. Kalau Kael yang turun tangan untuk investigasi diam-diam, nggak akan ada satu pun rahasia yang aman.

"Lakukan, Kael. Tapi ingat, kalau kamu udah nemuin siapa pelakunya..." Valeria menjeda kalimatnya, senyum iblis yang sangat menawan namun mematikan merekah di bibirnya. "...jangan langsung dibunuh. Bawa dia hidup-hidup ke hadapanku. Aku sendiri yang bakal nyabut kukunya satu-satu sampai dia nyesel pernah lahir."

"Akan saya bawa ke kaki Anda, Nyonya," janji Kael dengan suara serak yang memancarkan loyalitas buta.

"Bastian!" panggil Valeria mengagetkan kepala keamanannya.

"S-siap, Nyonya!"

"Kumpulkan anak buahmu yang paling bisa dipercaya. Jaga keamanan gedung ini lapis ganda. Kalau Kael lagi pergi berburu, aku nggak mau ada pembunuh Viper nyasar sampai ke pintu kantorku lagi," perintah Valeria galak.

"Laksanakan, Nyonya! Saya akan perketat penjagaan dari lobi sampai lantai 50!" seru Bastian sambil memberi hormat, lega karena setidaknya dia bukan lagi tersangka utama.

Bastian pamit mundur dan buru-buru keluar dari ruangan, meninggalkan Valeria dan Kael berdua lagi.

Setelah pintu tertutup, Kael menatap Valeria dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada kekhawatiran yang sangat mendalam di sana. Meninggalkan Valeria tanpa pengawalannya langsung selalu membuat Kael tersiksa secara batin, apalagi di tengah ancaman pengkhianat internal yang belum ketahuan wujudnya.

"Saya tidak suka meninggalkan Anda sendirian, Val," jujur Kael pelan. Pria itu menundukkan kepalanya, tangannya mengepal di sisi tubuh.

Valeria berdiri dari kursinya. Dia berjalan mengitari meja dan berhenti tepat di depan Kael. Wanita itu mengangkat tangan kanannya, merapikan dasi hitam Kael dengan gerakan lambat dan lembut, persis seperti yang dia lakukan di ruang VIP semalam.

"Aku bukan putri tidur yang lemah, Kael. Aku punya dua Glock dengan magasin penuh di laci mejaku," bisik Valeria menatap lurus ke dada Kael. "Pergilah. Jadilah hantu. Temukan pengkhianat sialan itu secepat mungkin dan kembali ke sisiku."

Kael menahan napasnya merasakan kedekatan itu. Sentuhan ringan Valeria selalu sukses melucuti semua logika perangnya. Dengan susah payah Kael mengumpulkan kewarasannya, lalu menatap manik mata Valeria dengan janji kematian yang absolut.

"Saya akan segera kembali, Val. Tidak ada yang bisa bersembunyi dari bayangan," desis Kael penuh tekad.

Pria jangkung itu memundurkan langkahnya perlahan, membungkuk hormat, lalu berbalik keluar dari ruangan. Saat pintu tertutup, Valeria tahu bahwa pemburuan berdarah baru saja dimulai. Sang monster akhirnya dilepas dari rantainya.

1
Putra kembar
sangat menegangkan, ceritanya bagus 🤙🏻
Putra kembar
ceritanya bagus, bikin greget dan menegangkan 😍👍
Nexora Verion
🔥
Fery Oktavian
🤙🏻
Jajal Anyar
semakin seru dan seniga mnjadi pasangan yg bisa saling mmbantu
Cukstaw: pantengin terus bang, sehari upload 5 bab.. 🤭🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!