Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.
Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.
Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.
Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.
Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Terlalu Kaku!
"Asli, Kak Aira! Lo dengar sendiri kan tadi di jalan? lagi band jadul yang kita putar di mobil itu benar-benar gila! Berasa lagi turing keliling sirkuit balap dengan kecepatan penuh!"
Tawa lepas Sean penggemar saat Porsche hitam miliknya melintasi gerbang otomatis The Wirasena compound.
Sean turun dari kemudi dengan gerakan santai. Ia masih asik mengobrol seru dengan Aira tanpa memadukan tatapan para pengawal di pos penjagaan privat tersebut. Kacamata hitamnya diselipkan begitu saja ke kerah kaus, memperlihatkan senyum lebar yang menular.
Aira ikut terkekang geli. Ia menepis kerah jaket cargo abu-abunya yang sedikit berdebu akibat aktivitas siang hari di bengkel.
"Lagian selera musik lo boleh juga, Sean. Gue pikir anak kota kayak lo cuma dengerin musik dugem atau pop galau zaman sekarang. Ternyata masih tau lagu legendaris."
"Hehehe! Tapi seru kan jalan bareng adik ipar lo yang paling keren ini?" canda Sean saat mereka sampai di persimpangan taman tengah.
Di sebelah kanan mereka membentang paviliun sayap barat, area tinggal Sean yang berdesain modern penuh kaca besar yang menghadap langsung ke kolam renang infinity. Ia membetulkan letak jam tangannya dengan gaya percaya diri yang khas.
"Gue balik ke markas gue dulu ya, Ra. Mau mandi dulu biar makin ganteng maksimal. Sampai ketemu di ruang makan!"
"Yee, pede bener! Ya udah, gue juga mau ke paviliun timur," sahut Aira sambil melambaikan tangannya.
Mereka berdua berpisah menuju paviliun masing-masing. Meninggalkan jejak keceriaan di udara malam yang biasanya terasa dingin dan kaku di mansion ini.
Di paviliun sayap timur yang kedap suara, Aira melangkah masuk ke dalam kamar barunya.
Sesuai dengan perintah dingin dari Evan malam setelah pernikahan, mereka berdua pisah kamar. Sang CEO arogan itu menyuruh Aira untuk tinggal di kamar sebelah yang berada tepat di sebelah kamar tidur utamanya. Bagi Aira, hal ini justru menjadi anugerah luar biasa karena dia tidak perlu berbagi ranjang dengan pria kaku itu.
Begitu pintu kamarnya tertutup rapat, Aira langsung mengembuskan napas lega dan merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk. Matanya menatap langit-langit kamar yang dihiasi kristal minimalis.
Untung ada Sean. Anak itu benar-benar asyik dan sefrekuensi kalau diajak mengobrol seputar dunia otomotif.
Coba kalau seluruh isi rumah ini modelnya mirip dengan Evan yang kaku itu. Bisa mati bosan dirinya setiap hari. Heran, apa pria itu tidak punya kesenangan lain selain memelototi angka saham dan grafik profit perusahaan yang membosankan? Hidupnya terasa begitu hambar.
***
Malam harinya, seluruh anggota inti Wirasena telah berkumpul mengelilingi meja makan panjang dari marmer Italia di mansion utama. Lampu kristal raksasa di atas kepala memancarkan cahaya keemasan yang hangat, namun suasana di sekeliling meja terasa menegang bagi setiap individu.
Malam ini, penampilan Aira terlihat sangat berbeda. Alih-alih mengenakan gaun malam yang merepotkan dan mengembang kaku ia memilih setelan celana cargo modern berwarna hitam yang dipadukan dengan kemeja putih bersih berpotongan longgar. Rambut panjangnya dikuncir kuda dengan sangat rapi, menampilkan wajah cantiknya tanpa kosmetik tebal. Hanya sedikit bedak tabur tipis yang menyamarkan kilau alami kulitnya.
"Wah! Kakak Ipar gue malam ini auranya beda banget! Keren banget, Kak! Nggak kalah sama model majalah internasional!" puji Sean heboh saat mengambil posisi duduk di sebelah Mami Helena.
Ia sengaja bersiul pelan sebagai bentuk apresiasi, langsung memicu tawa renyah yang memecah keheningan ruangan.
Kakek Baskara terkekeh bangga, mengetukkan tongkat naga emasnya pelan ke lantai marmer. Suaranya yang berat memancarkan kepuasan yang mendalam.
"Benar kata Sean. Aira ini mau pakai baju apa saja tetap kelihatan menawan dan punya wibawa sendiri. Kakek suka gaya kamu yang apa adanya ini. Sederhana, tapi berkelas."
"Papi juga setuju," timpal Surya dengan senyuman karismatik yang sangat hangat.
Ia menuangkan air mineral ke dalam gelas Aira dengan gerakan lembut. "Pernikahan ini benar-benar membawa warna baru di rumah kita yang biasanya terlalu sunyi dan formal."
Di ujung meja, Evan duduk membisu. Wajahnya terlihat tidak peduli, namun sepasang matanya diam-diam melirik ke arah Aira beberapa kali.
Pandangan Evan sempat tertahan pada kulit bersih dan leher jenjang istrinya bersinar di bawah pendar lampu kristal, sangat kontras dengan pembawaannya yang cuek. Ada gejolak asing yang mendadak terusik di dadanya—rasa dongkol karena Aira tampak begitu lepas tertawa bersama Sean, berbenturan dengan rasa kagum tersembunyi pada kepercayaan diri gadis itu.
Di sebelah Surya, Helena menatap menantu barunya dengan pandangan yang rumit. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk gagang garpu emas dengan ritme yang gelisah.
Di dalam lubuk hatinya, ia belum sepenuhnya ikhlas menerima kehadiran Aira. Namun, iya tidak bisa membohongi matanya sendiri bahwa meskipun Aira bekerja kasar di bengkel rumah kulit gadis itu sangat sehat dan memiliki kecantikan alami yang proporsional. Kecantikan yang tidak membutuhkan polesan meja operasi plastik.
Sebagai mertua yang masih menyimpan gengsi, Helena tetap berusaha menjaga suaranya di depan Kakek Baskara dan suaminya, meskipun nada bicaranya masih terselip sedikit sendiri yang merendahkan. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman palsu yang tidak mencapai matanya.
"Penampilanmu memang unik, Aira," ucap Helena. "Tapi sebagai bagian dari keluarga Wirasena kamu harus mulai membiasakan diri memakai gaun desainer kelas atas jika menghadiri pesta korporat perusahaan nanti. Kita tidak ingin relasi bisnis kita mengira kamu baru saja selesai membongkar ban truk di halaman belakang, kan? Citra keluarga sangat penting."
Kalimat itu tajam, sengaja ditembakkan untuk menusuk harga diri Aira. Tapi, sebelum Aira sempat merespon, Kakek Baskara langsung berdiri berat. Tatapan matanya menyiratkan peringatan keras yang tak terbantahkan kepada Helena.
"Helena, gaya pakaian bukan penentu kehormatan seseorang. Aira sudah sangat sopan dan tahu batas. Jangan terlalu kaku."
"Benar, Mi," bila Surya menimpali dengan suara tegas. Matanya menatap sang istri dengan serius. "Aira memiliki hak untuk menjadi dirinya sendiri di rumah ini. Kita menikahkannya karena karakternya, bukan karena gaya berpakaiannya."
"Duh, Mami ini bagaimana sih," sahut Sean ikut bertindak sebagai tameng demi membela kakak ipar kesayangannya.
Ia menopang dagu dengan sebelah tangan, lali melirik ibunya sambil nyengir usil. "Gaya Kak Aira ini justru sedang menjadi tren di kalangan anak muda kelas atas. Malah kelihatan mahal banget karena dia punya karakter kuat! Tidak seperti boneka pajangan yang cuma bisa melempar senyum palsu.
Aira yang menjadi pusat perdebatan panas itu hanya tersenyum tenang. Ia mengambil sendok supnya dengan santai, lalu menyuap makanannya tanpa ada rasa gemetar atau minder sedikit pun terhadap sindiran tajam ibu mertuanya.
Matanya mendadak bertemu dengan mata Evan sekilas. Dan untuk pertama kalinya, Aira melihat sesuatu yang berbeda di mata suaminya. Sebuah tantangan? Atau mungkin, seulas pengakuan tersembunyi?
"Makanan malam ini enak sekali, Mami Helena," ucap Aira tiba-tiba. Suaranya terdengar sopan, sepenuhnya mengabaikan ketegangan yang baru saja bergemuruh di sekitarnya. "Terima kasih banyak sudah menyiapkan hidangan sespesial ini."
Helena terdiam di tempatnya, sedikit terkejut dengan ketangguhan mental dan ketenangan yang ditunjukkan Aira. Sementara Sean tersenyum puas, dan Evan... pria itu akhirnya menurunkan pandangannya kembali ke piring, menyembunyikan ekspresi wajahnya yang semakin sulit untuk ditebak.
Malam itu, meja makan keluarga Wirasena tidak lagi sunyi, melainkan mulai dipenuhi oleh gemuruh perubahan yang tak terbendung.