Dewi Anjani yang baru saja dipecat dan nyaris bangkrut, tiba-tiba dipeluk erat oleh bocah tiga tahun bernama Elvan yang menangis dan memanggilnya "Mama" di pinggir jalan. Belum hilang rasa kagetnya, ayah anak itu—Raka Mahardika, sang CEO Grup Lentera yang terkenal sedingin es—muncul dan menyodorinya sebuah kontrak gila untuk menjadi ibu bayaran. Keadaan menjadi semakin tak masuk akal ketika sebuah suara mekanis mendadak berbunyi di kepala Dewi: "Ding! Sistem Ibu Super Hebat diaktifkan!" Kini, berbekal misi-misi ajaib dari sistem dan tingkah menggemaskan Elvan, Dewi tidak hanya perlahan mencairkan hati beku sang CEO, tapi juga bersiap memberikan tamparan paling telak pada mantan istri Raka yang gila harta saat wanita itu berani kembali untuk mengacaukan keluarga barunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Krek.
Suara pintu kamar Dewi dibuka dengan sangat terburu-buru mengagetkan wanita yang sedang rebahan santai itu.
Dewi yang sedang asyik memakan keripik kentang langsung terduduk dan menatap tajam ke arah pintu.
Raka berdiri di ambang pintu dengan nafas sedikit terengah-engah.
"Bos, kau tidak pernah diajari cara mengetuk pintu ya?" protes Dewi sambil mengelap sisa bumbu keripik di jarinya.
"Ibuku sedang berjalan menuju sayap kiri rumah ini untuk memeriksa setiap kamar," ucap Raka mengabaikan protes Dewi.
"Bram, cepat masukkan semua baju wanita ini ke dalam koper sekarang juga."
Bram yang tiba-tiba muncul dari belakang Raka langsung bergegas menuju lemari pakaian Dewi.
Dewi melongo melihat dua pria bersetelan rapi itu mengacak-acak lemarinya seperti perampok.
"Tunggu, tunggu! Ada apa ini Bos? Aku mau diusir hari ini juga?" tanya Dewi panik.
"Jangan bodoh, ibuku pasti curiga kalau melihat ada kamar tamu yang diisi penuh oleh pakaian wanita."
Raka menarik koper Dewi dan menutup resletingnya dengan sekali tarikan keras.
"Suami istri yang normal tidur di kamar yang sama. Jadi mulai detik ini, kau pindah ke kamarku."
Glekk.
Dewi menelan ludah yang tiba-tiba terasa sebesar biji salak di tenggorokannya.
"Pindah ke kamarmu? Bos, kita kan cuma pura-pura, masa harus tidur satu kamar sungguhan!" tolak Dewi dengan wajah memerah.
"Kau pikir aku mau? Ini keadaan darurat, cepat ikut aku sebelum ibuku sampai ke lorong ini," paksa Raka sambil menarik tangan Dewi.
Mereka bertiga bergegas keluar dari kamar tamu itu dan berjalan setengah berlari menuju ujung lorong sayap kanan.
Tepat saat Raka membuka pintu kamar utamanya, terdengar suara langkah hak tinggi Widyawati dari arah tangga.
Blam.
Pintu kamar utama ditutup rapat dan dikunci oleh Raka dari dalam.
Huuuh.
Dewi membuang nafas lega, jantungnya berdebar kencang seperti baru saja lari maraton menghindari kejaran anjing.
"Untung saja kita tidak ketahuan. Ibumu itu benar-benar seperti inspektur polisi yang sedang mencari buronan," keluh Dewi.
Raka tidak menjawab dan hanya meletakkan koper Dewi di sudut ruangan yang sangat luas itu.
Dewi baru pertama kali ini menginjakkan kaki di kamar pribadi sang CEO Grup Lentera.
Kamarnya luar biasa besar, mungkin ukurannya setara dengan lapangan futsal.
Semua perabotan didominasi warna hitam, abu-abu gelap, dan putih.
Ada sebuah tempat tidur ukuran super king yang terlihat sangat empuk di tengah ruangan.
"Kamar macam apa ini, suasananya suram sekali mirip goa kelelawar," gumam Dewi sambil melihat sekeliling.
"Ini kamarku, jangan banyak mengeluh. Setidaknya tempat ini jauh lebih bagus dari kamar kosmu," balas Raka ketus.
Aroma mint dan kayu aras yang sangat khas langsung menyeruak masuk ke hidung Dewi.
Itu adalah aroma parfum yang biasa dipakai Raka, kini mengelilingi Dewi dari segala arah.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan pintu yang sangat anggun namun tegas terdengar dari luar.
"Raka, kau di dalam? Mama ingin bicara sebentar," panggil Widyawati dari balik pintu.
Dewi langsung panik dan menatap Raka dengan mata melotot.
"Bos, bagaimana ini? Bajuku masih di dalam koper, ibumu pasti curiga!" bisik Dewi panik.
Raka menempelkan telunjuk di bibirnya menyuruh Dewi diam.
Pria itu lalu membuka lemari pakaiannya yang raksasa dan melemparkan beberapa helai kemejanya ke lantai secara asal.
Raka juga menarik lengan Dewi agar wanita itu berdiri sangat dekat di sampingnya.
Ceklek.
Raka membuka pintu kamarnya setengah, menampilkan wajah datarnya menyambut sang ibu.
"Ada apa Ma? Raka baru saja mau istirahat," ucap Raka dengan nada agak malas.
Widyawati menatap Raka, lalu tatapannya beralih pada Dewi yang berdiri sangat dekat di belakang Raka.
Mata tajam Nyonya Besar itu memindai isi kamar dari celah pintu yang terbuka.
Dia melihat kemeja pria yang berserakan di lantai dan koper Dewi di sudut ruangan.
"Kenapa koper istrimu ada di sudut sana? Jangan bilang kalian baru memindahkan barang-barangnya?" selidik Widyawati tajam.
Dewi buru-buru memeluk lengan kanan Raka dengan sangat erat, menempelkan tubuhnya pada pria itu.
"Ah, Mama Mertua bisa saja. Koper itu baru saja kami keluarkan karena kami berencana mencari baju untuk kencan besok," dusta Dewi dengan senyum manja.
"Iya kan Mas Raka sayang?" tambah Dewi sambil mencubit pelan pinggang Raka.
Raka menahan nafasnya merasakan tubuh Dewi yang menempel rapat di lengannya.
"Iya Ma, Dewi ingin mencari suasana baru untuk kencan kami. Ada masalah?" Raka menimpali dengan suara yang diusahakan setenang mungkin.
Widyawati mendengus pelan, matanya menyipit tidak sepenuhnya percaya pada alasan itu.
"Terserah kalian saja. Aku cuma mau bilang kalau besok aku akan mengundang beberapa teman sosialitaku minum teh di sini."
"Pastikan istrimu ini tidak membuatku malu di depan teman-temanku," pesan Widyawati dengan nada merendahkan.
"Tentu saja tidak akan Mama Mertua. Saya akan menyiapkan teh terenak sejagat raya untuk teman-teman Anda," jawab Dewi percaya diri.
Widyawati memutar bola matanya malas dan berbalik pergi meninggalkan pintu kamar Raka.
Begitu suara langkah Widyawati menghilang, Dewi langsung melepaskan pelukannya dari lengan Raka.
Fiuh.
Dewi mengusap dadanya lega sambil berjalan menuju sofa panjang di dekat jendela.
"Sandiwara macam apa ini, umurku bisa berkurang sepuluh tahun kalau setiap hari jantungan begini," keluh Dewi menjatuhkan dirinya di sofa.
Raka mengunci pintunya kembali dan menatap Dewi dengan pandangan yang sulit diartikan.
Sentuhan Dewi di lengannya tadi masih terasa sangat hangat dan tertinggal jelas di kulitnya.
"Gajimu sudah kunaikkan. Jadi jangan banyak mengeluh," ucap Raka mencoba kembali dingin.
Malam harinya, setelah menidurkan Elvan di kamar anak itu, Dewi kembali ke kamar Raka.
cuma sekedar tandatangan kayak nya
mampir thor, saking asik nya baca lupa interaksi🤭