NovelToon NovelToon
Kurebut Istri yang Ia Kurung

Kurebut Istri yang Ia Kurung

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Isabel Coração

Di malam ia ingin mengabarkan kehamilannya, Amelia justru menyaksikan suaminya memamerkan kekasih yang sedang hamil, dengan kembang api yang dulu dijanjikan untuknya.

Arga Wiratama sang miliarder teknologi tak sekadar mengkhianati. Rekening Amelia diblokir, kariernya dihapus diam-diam, dan rumah mewah mereka dipasangi kamera di setiap sudut. Maka Amelia kabur membawa satu tas kecil, satu rahasia di dalam perutnya, dan nama yang masih ia punya.

Di Surabaya, pintu yang selama tiga tahun terkunci tiba-tiba terbuka. Di baliknya berdiri Fariz Mahardika, mantan aktor, pewaris keluarga berpengaruh, lelaki tenang yang selalu memutar tasbih di jarinya dan seolah mengenal Amelia jauh sebelum mereka bertemu. Ia menolong tanpa menagih. Tapi dunia di sekelilingnya tidak sebersih senyumnya.

Arga tak mau melepaskan. Ibunya punya rencana lain. Dan ada kebenaran tentang siapa Amelia sebenarnya, yang mulai merembes dari rumah-rumah bersalin tua dan foto-foto yang wajahnya begitu mirip dengannya.

Bisakah seorang perempuan yang pernah dikurung merebut kembali hidupnya, melindungi anak yang ia sembunyikan, dan memilih siapa yang pantas dicintai, tanpa lagi menjadi sandera siapa pun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

POV: Amelia

Aku bangun jam enam pagi dengan keyakinan bahwa kalau tidak pergi saat itu juga, aku tidak akan pernah pergi.

Kukemas satu tas kecil. Hanya milikku, dan milikku tidak banyak. Beberapa potong baju, dokumen-dokumen, sepasang anting peninggalan ibuku, satu-satunya emas yang bisa kusebut benar-benar milikku. Alat tes itu kusimpan di saku dalam tas, di samping paspor, seperti barang paling berharga yang kupunya, karena memang begitu.

Aku turun tanpa suara. Bi Ningsih sudah berdiri di dapur, bercelemek, pura-pura membereskan dapur yang sudah rapi.

"Bi Ning, tolong bukakan gerbang."

"Pak Arga meninggalkan perintah untuk melapor kalau Ibu keluar."

"Aku tahu." Kupegang tangannya. "Makanya aku minta tolong. Bukakan, lalu lapor. Beri aku keunggulan sepuluh menit. Cuma sepuluh."

Lama dia menatapku, terasa panjang. Lalu dia mengeluarkan seikat kunci dari saku celemeknya.

"Lewat pos servis. Kamera di sana rusak sejak kemarin." Dia hampir tersenyum, dan ada bangga di wajahnya. "Saya yang mengakalinya. Segelas air di kabel yang tepat itu ajaib."

Kupeluk perempuan itu dengan kekuatan yang tak dia duga.

"Semoga Allah menyertaimu, Nak," bisiknya di telingaku. "Dan jangan menoleh ke belakang. Kata nenek saya dulu, perempuan yang menoleh ke belakang bisa jadi batu."

Aku memesan taksi online dua blok dari rumah, berjalan cepat, jantung di mulut tiap ada mobil lewat. Di kursi belakang, aku mencoba memindahkan sejumlah uang dari rekening bersama ke rekening lamaku, dari masa lajang, yang tak pernah kututup. Layar menolak. Kucoba lagi. Ditolak. Kucoba kartu kreditku di sebuah pom bensin untuk membayar ongkos di muka sebagai jaga-jaga, dan kartunya ditolak.

"Kartunya nggak tembus, Mbak," kata sopir lewat kaca spion, tanpa maksud buruk, hanya lelah pagi-pagi.

"Coba tunai saja. Saya punya uang tunai."

Ada. Selembar seratus ribu dan sedikit recehan lusuh di dasar tas. Cukup untuk sampai ke sebuah hotel di Kemang, jenis berfasad sederhana yang menerima bayaran tunai tanpa banyak tanya. Kubayar dua malam dengan hampir semua uang di sakuku dan naik ke kamar kecil yang menghadap sumur ventilasi. Aku duduk di ranjang berseprai murahan, dan untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, tak seorang pun tahu persis di mana aku berada.

Kutelepon Nenek Dina.

"Lia? Masih pagi, cucuku. Ada apa...?"

Dan aku tak sanggup menahan lagi. Kuceritakan semuanya. Makan malam itu, kembang api, Priska yang hamil, Bu Ratna, rekening yang diblokir, kamera-kamera. Aku menangis seperti anak kecil, ponsel basah di telinga.

"Tarik napas," katanya saat aku berhenti untuk bernapas. "Tarik napas, Nak. Dia memukulmu?"

"Tidak, Nek. Bukan begitu."

"Ada yang lebih buruk dari pukulan. Mengurung perempuan dalam sangkar emas itu salah satunya. Memotong uangnya itu yang lain." Suaranya jadi tegas, seperti yang tak kudengar sejak aku kecil dan pulang sekolah sambil menangis. "Dengar yang Nenekmu katakan. Kamu tidak lahir untuk jadi sangkar siapa pun. Kamu lahir untuk panggung, untuk cahaya, untuk berjalan dengan kakimu sendiri. Begitu Nenek membesarkanmu di Bekasi, tanpa lelaki kaya, tanpa apa-apa, dan kamu jadi orang. Jadilah orang lagi."

"Aku tidak punya apa-apa, Nek. Dia blokir semuanya."

"Kamu punya wajahmu dan namamu. Itu tidak bisa dia blokir." Dia berhenti sebentar. "Dan kamu punya satu hal yang dia tidak tahu kamu punya, kan? Nenek dengar kemarin dari suaramu."

Kuletakkan tangan di perut. Nenek selalu bisa membaca apa yang tak kukatakan.

"Nanti kuceritakan, Nek. Nanti."

Setelah menutup telepon, aku lama menatap langit-langit kamar yang berbercak. Lalu aku bangkit, membuka laptop tua yang kubawa, dan mencari namaku sendiri di internet. Amelia Pramesti, aktris.

Apa yang kutemukan membuatku paham seberapa besar semua ini.

Itu bukan sekadar lupa wajar yang menimpa orang yang lama menghilang. Ada peran-peran yang namaku sudah masuk bursa tapi tak pernah dipanggil. Sebuah sinetron yang namaku lenyap dari daftar pemain versi akhir. Sebuah agensi yang tiga tahun lalu "melepaskanku dari kontrak karena restrukturisasi", seorang sutradara yang memujiku di wawancara dan bulan berikutnya memberikan perannya pada orang lain tanpa penjelasan.

Tiga tahun. Dia tidak hanya mengurungku di rumah; dia menghapusku dari dunia, pelan-pelan, dengan kesabaran orang yang punya uang untuk membeli bungkamnya orang lain. Setiap pintu yang kukira tertutup karena nasib buruk, ternyata ditutupnya, dengan kunci bernama uang.

Kututup laptop. Aku ke cermin kamar mandi dan mengeluarkan alat tes itu dari saku tas. Dua garis itu masih ada, keras kepala.

"Kita akan baik-baik saja," kataku pada bayangan di cermin, pada perut yang masih rata. "Aku janji. Mama pernah miskin, dan dulu bahagia. Yang Mama sudah tidak bisa lagi adalah jadi kaya sekaligus terkurung."

Dan dari cermin itulah ide itu datang, utuh dan jernih.

Satu-satunya pintu yang gagal ditutup Arga adalah yang paling tua dari semuanya. Dia sudah membeli Jakarta, pasar Jakarta, para sutradara Jakarta. Tapi aku memulai di Surabaya, bertahun-tahun sebelum dia ada dalam hidupku. Di sana ada orang-orang yang mengenalku sejak aku hanya anak Bekasi dengan logat yang butuh bertahun-tahun untuk kuhaluskan.

Kuambil ponsel dan kukirim pesan pada seorang produser lama, salah satu dari sedikit yang masih membalas nomorku. Kutanya apakah ada sesuatu, apa saja, tes peran, peran kecil, iklan. Balasannya lama datang, dan aku menggenggam ponsel dua jam penuh sampai bergetar. "Amelia! Jangan menghilang gitu dong. Datang ke sini, aku punya kabar bagus. Serius, datanglah." Kutetapkan pertemuan tiga hari lagi.

Lalu aku membuka situs tiket. Uangku cukup untuk satu tiket kereta kelas ekonomi, sekali jalan, kalau kujual anting ibuku.

Kujual anting itu sore itu juga di sebuah toko emas di Cikini, dan aku sempat menangis sedikit di depan meja ketika perempuan itu menimbang emasnya di timbangan kecil dan menyebut angka sekecil itu untuk benda sebesar itu. Tapi tiketnya terbeli.

Surabaya. Sekali jalan.

Aku pergi membawa tas kecilku, namaku, dan perutku. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, akulah yang memutuskan ke mana harus pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!