NovelToon NovelToon
Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Ketos
Popularitas:856
Nilai: 5
Nama Author: nalana lalasya

• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.

• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Senja Hangat di Pinggiran Kota

Perjalanan selama hampir empat puluh lima menit itu akhirnya berakhir saat motor Angkasa berbelok memasuki pekarangan sebuah bangunan tua berasitektur kolonial yang asri di pinggiran kota. Sebuah papan nama kayu bertuliskan "Panti Asuhan Kasih Bunda" menyambut kedatangan mereka. Suasana di tempat itu sangat tenang, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, dikelilingi oleh pepohonan rindang dan hamparan rumput hijau yang luas.

Begitu mesin motor dimatikan, Eca buru-buru turun dari jok belakang dengan gerakan secepat mungkin, seolah menjauh dari Angkasa adalah hal paling mendesak demi menyelamatkan kewarasannya. Dia melepas helm besar itu dengan tangan yang sedikit gemetaran, menampilkan wajahnya yang sudah memerah sempurna mirip tomat matang akibat terlalu lama mendekap punggung Angkasa.

"Muka lo kenapa merah kayak gitu? Gerah?" sindir Angkasa santai sambil menerima helm dari tangan Eca, lalu menaruhnya di stang motor.

"Bukan urusan lo! Gara-gara lo bawa motornya kayak kesetanan!" sergah Eca defensif, memalingkan mukanya ke arah lain untuk menyembunyikan rasa salting brutal yang merayapi dirinya.

Angkasa tidak membalas. Dia melangkah masuk ke dalam panti asuhan diikuti oleh Eca yang berjalan mengekor di belakangnya. Tugas peninjauan lapangan itu ternyata berjalan jauh berbeda dari apa yang Eca bayangkan. Di dalam panti, Eca menyaksikan sisi lain dari seorang Angkasa Argantara Mahendra yang belum pernah dia lihat sebelumnya di sekolah.

Cowok yang biasanya bertindak sebagai penguasa sekolah yang berdarah dingin, kejam, dan manipulatif itu mendadak berubah menjadi sosok yang sangat hangat dan ramah saat dikerumuni oleh puluhan anak-anak panti asuhan yang masih kecil. Angkasa berjongkok, membiarkan anak-anak itu menarik-narik kemeja seragamnya, tertawa lepas bersama mereka, dan dengan telaten membagikan beberapa kotak susu serta camilan yang ternyata sudah dia siapkan di dalam bagasi motornya sejak pagi.

Eca berdiri mematung di dekat pintu aula, memandangi interaksi tersebut dengan perasaan yang campur aduk. Dari balik lensa kacamata tebalnya, sepasang mata asli Eca menatap lekat-lekat pada guratan senyuman tulus yang terukir di wajah tampan Angkasa. Kehilangan total raut arogan dan intimidasi pekat yang biasa dia pamerkan di koridor sekolah. Pada momen itu, Angkasa terlihat seperti manusia biasa yang sangat hangat, bukan titisan iblis seperti yang selalu Eca umpat dalam hati. Tanpa sadar, sudut bibir Eca ikut terangkat sedikit, membentuk senyuman tipis yang sangat manis.

Setelah menyelesaikan sesi wawancara dengan kepala panti dan mengambil beberapa foto dokumentasi, waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB. Matahari sore mulai tenggelam di cakrawala, memancarkan bias cahaya jingga keemasan yang sangat indah di langit barat.

Angkasa mengajak Eca untuk beristirahat sejenak di sebuah bangku kayu panjang yang terletak di bawah pohon beringin besar di halaman samping panti, menghadap langsung ke arah hamparan sawah yang luas.

Angkasa berjalan lebih dulu, lalu mendudukkan tubuh tegapnya di bangku kayu panjang yang permukaannya sudah agak halus dimakan usia. Dia menyandarkan punggungnya, meluruskan kedua kakinya yang panjang, lalu memejamkan mata sejenak sembari menghirup dalam-dalam udara sore pinggiran kota yang bersih tanpa polusi. Angin berembus pelan, menggoyahkan dedaunan beringin di atas kepala mereka dan menciptakan suara gesekan yang menenangkan.

Eca masih berdiri kaku di dekat bangku. Dia meremas ujung kemeja seragamnya, menimbang-nimbang apakah dia harus duduk di samping cowok itu atau tetap berdiri seperti satpam. Jarak mereka di atas motor tadi saja sudah sukses membuat jantungnya berantakan, dan sekarang duduk berdua di bawah suasana sesyahdu ini rasanya seperti sengaja menyerahkan diri ke dalam zona bahaya.

"Ngapain masih berdiri di situ? Kaki lo nggak pegal?" suara Angkasa terdengar berat, memecah keheningan. Dia membuka satu matanya, melirik Eca yang tampak gelisah. "Duduk. Gue nggak bakal gigit lo."

Eca mendengus pelan, berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Gue cuma lagi menikmati pemandangan, ya!" kilah Eca defensif. Namun, pada akhirnya dia menyerah dan ikut duduk di ujung bangku yang berlawanan, menyisakan jarak yang cukup luas di antara mereka—cukup luas untuk diduduki dua orang lagi.

Angkasa terkekeh sinis melihat pembatasan jarak yang sengaja dibuat oleh Eca. Namun, dia memilih untuk tidak berkomentar lebih jauh. Pandangannya beralih lurus ke depan, menatap hamparan sawah hijau yang mulai menguning di beberapa bagian, berkilau keemasan diterpa cahaya senja yang temaram.

Suasana kembali hening selama beberapa menit. Hanya ada suara jangkrik yang mulai bersahutan secara samar dan gemerisik angin sore. Eca sesekali melirik Angkasa dari sudut matanya. Cowok di sampingnya ini benar-benar tampak berbeda. Tidak ada aura permusuhan, tidak ada tatapan tajam yang mengintimidasi, dan tidak ada senyuman miring penuh rencana busuk. Yang ada hanyalah raut wajah lelah namun tampak sangat rileks.

Rasa penasaran yang sudah ditahannya sejak di dalam aula panti akhirnya tidak bisa dibendung lagi. Eca memutar sedikit tubuhnya menghadap Angkasa, memberanikan diri untuk membuka suara.

"Angkasa," panggil Eca pelan.

"Hm?" Angkasa menyahut tanpa menoleh, matanya masih setia menatap batas cakrawala.

"Lo... sering ke sini?" tanya Eca hati-hati. Nada suaranya tidak lagi ketus seperti biasanya, melainkan terdengar tulus penuh rasa ingin tahu.

Angkasa terdiam sejenak. Dia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. "Dua minggu sekali. Kalau gue lagi punya waktu luang, atau kalau isi kepala gue udah terlalu penuh."

Jawaban itu membuat Eca sedikit terkejut. "Isi kepala penuh? Maksud lo, lo ke sini buat nyari ketenangan?"

Angkasa akhirnya menoleh, menatap langsung ke dalam manik mata Eca yang tersembunyi di balik kacamata tebalnya. Tatapan cowok itu begitu dalam, membuat Eca menahan napas sejenak.

"Di sekolah, semua orang pakai topeng, Ca," ujar Angkasa dengan nada suara yang terdengar begitu dingin sekaligus hampa. "Orang-orang di sekitar gue, entah itu yang ngaku teman, musuh, atau bahkan guru-guru, semuanya bergerak karena ada maunya. Mereka munafik. Mereka mendekat karena takut, karena butuh perlindungan, atau karena status keluarga gue. Melelahkan harus terus-terusan jadi orang yang mereka ekspektasikan."

Angkasa kembali membuang muka, menatap anak-anak panti yang masih berlarian kecil di halaman depan. "Tapi di sini beda. Anak-anak itu nggak peduli siapa nama belakang gue. Mereka nggak peduli seberapa kaya keluarga gue, atau seberapa ditakutinya gue di sekolah. Mereka cuma tahu kalau gue Angkasa, kakak yang suka bawain mereka susu kotak dan main bola bareng mereka. Di sini, gue nggak perlu pakai topeng apa pun."

Eca tertegun mendengar penjelasan panjang lebar itu. Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Angkasa terasa begitu jujur, langsung menghantam persepsi buruk yang selama ini dia bangun tentang cowok itu. Di balik kekejaman dan kekuasaan mutlak yang Angkasa tunjukkan di sekolah, ternyata ada kekosongan besar yang berusaha dia tutupi. Cowok ini ternyata sangat kesepian di tengah keramaian.

"Gue nggak pernah nyangka lo bakal mikir kayak gitu," gumam Eca pelan, menundukkan kepalanya, menatap sepatunya sendiri yang sedikit kotor terkena tanah panti. "Gue pikir lo emang dasarnya suka menindas orang dan menikmati posisi lo sebagai penguasa sekolah yang ditakuti."

Angkasa tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat getir. "Gue emang bukan orang baik, Ca. Gue nggak bakal mengelak kalau lo sebut gue kejam atau manipulatif, karena di dunia tempat gue tinggal, kalau lo nggak jadi serigala, lo bakal berakhir jadi domba yang dikoyak-koyak. Tapi di sini... gue cuma pengen jadi manusia biasa."

Keheningan kembali merayap di antara mereka, namun kali ini rasanya tidak lagi canggung. Keheningan itu terasa hangat dan penuh pengertian. Eca merasakan getaran aneh di dalam dadanya. Rasa benci yang selama ini dia pelihara rapat-rapat perlahan-lahan mulai terkikis, digantikan oleh rasa empati yang mendalam.

Matahari kini sudah tenggelam setengahnya, menyisakan semburat warna merah dan ungu yang berpadu indah di langit malam yang mulai menjemput. Udara malam mulai terasa menusuk kulit seragam mereka yang tipis. Eca refleks mengusap kedua lengan atasnya, mencoba mengusir rasa dingin yang tiba-tiba datang bertamu.

Gerakan kecil Eca ternyata tidak luput dari perhatian Angkasa. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Angkasa bergerak mengikis jarak di antara mereka. Dia bergeser mendekat, membuat Eca menegang seketika saat mencium aroma parfum maskulin khas Angkasa—campuran antara kayu cendana dan sedikit aroma mint—yang langsung mendominasi indra penciumannya.

"A-Angkasa, lo mau ngapain?" bisik Eca panik, tubuhnya mendadak kaku saat Angkasa tiba-tiba mengulurkan tangan kanannya.

Bukannya menjawab, Angkasa justru mengangkat tangannya menuju wajah Eca. Ibu jari cowok itu bergerak sangat pelan, menyentuh sudut bibir Eca dengan lembut, lalu mengusapnya perlahan. Sentuhan hangat kulit jari Angkasa di wajahnya membuat Eca merasa seolah ada aliran listrik ribuan volt yang menyengat seluruh tubuhnya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dia takut Angkasa bisa mendengarnya.

"Ada bekas es krim di sini," kata Angkasa pelan, menunjukkan ujung jarinya yang sedikit basah pada Eca, merujuk pada es krim yang sempat ditawarkan anak panti kepada Eca di dalam aula tadi.

"O-oh... makasih," cicit Eca dengan suara yang nyaris habis. Wajahnya yang sempat mereda kini kembali matang sempurna, jauh lebih merah dari sebelumnya. Dia benar-benar merutuki reaksi tubuhnya yang sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama ini.

Angkasa tidak langsung menjauhkan tubuhnya. Dia tetap duduk sangat dekat dengan Eca, melirik ke arah kacamata tebal yang bertengger di hidung cewek itu. "Lo tahu nggak, Ca?"

"Tahu... tahu apa?" tanya Eca terbata-bata, tidak berani menatap mata Angkasa.

"Kacamata lo ini ganggu banget," ucap Angkasa tiba-tiba dengan nada santai namun penuh penekanan.

Eca langsung cemberut, rasa saltingnya sedikit tergantikan oleh rasa kesal. "Heh! Kacamata ini ngebantu gue buat melihat dunia dengan jelas, ya! Kalau nggak pakai ini, buram semua!"

Angkasa terkekeh kecil, suara tawanya terdengar sangat renyah di telinga Eca. "Bukan itu maksud gue. Kacamata ini ganggu karena dia nutupin sesuatu yang bagus." Sebelum Eca sempat mencerna kalimat itu, Angkasa dengan gerakan tak terduga menyelipkan jemarinya ke sela-sela rambut Eca yang sedikit berantakan karena angin sore, merapikannya ke belakang telinga cewek itu dengan gerakan yang teramat lembut.

"Mata lo itu bagus kalau nggak ketutupan kaca tebal ini," sambung Angkasa dengan suara yang melembut, menatap lekat-lekat pada sepasang mata asli Eca yang jernih. "Dan senyuman lo yang tadi di aula... itu juga manis. Harusnya lo lebih sering senyum kayak gitu daripada cemberut dan marah-marah terus ke gue."

Deg.

Eca merasa seluruh dunianya berhenti berputar pada detik itu juga. Pujian yang meluncur begitu saja dari bibir Angkasa terasa seperti hantaman telak yang meruntuhkan seluruh pertahanan dinding ego yang selama ini dia bangun tinggi-tinggi. Sentuhan tangan Angkasa di rambut dan telinganya meninggalkan sensasi hangat menjalar yang membuat bulu kuduknya meremang.

Eca mematung, benar-benar kehilangan kata-kata. Pandangannya terkunci pada sepasang mata elang Angkasa yang kini menatapnya tanpa ada satu pun niat jahat tersembunyi. Di bawah langit senja yang mulai menggelap di pinggiran kota, di bawah pohon beringin tua yang saksi bisu, Eca akhirnya menyadari satu hal dengan kepastian penuh.

Perasaannya terhadap Angkasa Argantara Mahendra tidak akan pernah sama lagi setelah hari ini.

"Udah mau malam," ucap Angkasa memecah keheningan yang sempat tercipta, sembari menarik kembali tangannya dan berdiri dari bangku kayu. "Ayo balik. Kalau kemalaman di jalan pinggiran kota kayak gini, jalannya gelap, nggak ada lampu."

Eca mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba mengembalikan kesadarannya yang sempat melayang entah ke mana. "Ah, i-iya. Ayo balik," jawabnya gugup, buru-buru berdiri hingga hampir saja tersandung kakinya sendiri kalau saja Angkasa tidak sigap memegangi lengan atasnya.

"Hati-hati, Ca. Lo saltingnya jangan sampai bikin celaka diri sendiri dong," goda Angkasa dengan seringai miring andalannya yang kini entah mengapa tidak lagi terlihat menyebalkan di mata Eca, melainkan justru terlihat sangat menawan.

"Siapa juga yang salting! Nggak ada!" sangkal Eca dengan suara tinggi yang dibuat-buat, berjalan mendahului Angkasa menuju motor dengan langkah yang dihentak-hentakkan untuk menyembunyikan rasa malu yang luar biasa.

Angkasa yang berjalan di belakang Eca hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah cewek itu. Senyuman tipis kembali terukir di wajahnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Angkasa merasa perjalanan pulang dari panti asuhan tidak lagi terasa sepi dan hampa, karena kali ini ada seseorang yang berjalan di sampingnya. Seseorang yang perlahan-lahan mulai berhasil melihat apa yang ada di balik topengnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!