Sejak kecil, Kirana Lin dibuang ke desa karena terlahir bisu. Meski tak mampu berbicara, ia memiliki kecerdasan luar biasa dan segudang prestasi.
Dua puluh tahun kemudian, Kirana kembali ke keluarga Lin untuk menggantikan putri angkat mereka menikah dengan Kendra Wu, penguasa keluarga Wu yang lumpuh akibat kecelakaan.
Semua orang mengira Kirana akan menderita di tangan Kendra. Namun, gadis bisu itu justru berhasil membuat sang penguasa jatuh cinta dan membantunya merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Yuk simak kisahnya! Yang tidak suka langsung skip!👊👊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ditampar
Malam harinya, sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki halaman kediaman keluarga Lin. Di dalamnya, Kirana baru saja pulang setelah menghabiskan hampir sepanjang hari bersama calon ibu mertuanya, Nyonya Cassia Wu.
Sejak pagi, Cassia mengajaknya berbelanja, makan di restoran mewah, hingga menjalani berbagai perawatan kecantikan. Bahkan, wanita itu tanpa ragu membelikan Kirana sebuah mobil Bugatti keluaran terbaru sebagai hadiah menjelang pernikahannya dengan Kendra.
Awalnya, Kirana sempat menolak karena merasa hadiah tersebut terlalu berlebihan. Tapi Cassia justru mengatakan bahwa mobil itu hanyalah hadiah kecil untuk calon menantu kesayangannya, sehingga Kirana akhirnya tidak bisa menolak lagi.
Begitu mobil tersebut memasuki halaman mansion, Shania yang sedang berdiri di dekat pintu utama langsung membelalakkan mata. Ia bahkan sempat mengira dirinya salah melihat ketika menyadari mobil mewah itu berhenti tepat di depan tangga kediaman keluarga Lin.
“Mobil itu ....” gumam Shania dengan wajah tidak percaya.
Belum sempat ia bertanya, pintu mobil sudah terbuka dan Kirana turun dengan penampilan yang begitu anggun. Rambutnya tertata rapi, kulitnya tampak segar setelah menjalani perawatan, sementara pakaian yang dikenakannya terlihat sederhana tetapi sangat berkelas.
Bukan hanya penampilan Kirana yang membuat Shania sesak napas. Beberapa pelayan yang ikut mengantar Kirana segera turun dari kendaraan lain dan mulai membawa masuk puluhan kantong belanjaan dari berbagai butik ternama.
Shania menatap semua barang itu dengan mata membesar. Ia mengenali beberapa merek yang bahkan selama ini hanya bisa ia lihat melalui katalog, sementara Kirana justru mendapatkannya dalam jumlah banyak.
“Bagaimana mungkin?” bisiknya tidak percaya. “Dari mana Kak Kirana mendapatkan semua itu?”
Di sampingnya, Julian Shu yang kebetulan baru tiba di mansion Lin juga terdiam. Tatapannya terpaku pada Kirana yang sedang berbicara melalui tulisan kepada salah seorang pelayan, bahkan tanpa sadar ia terus memperhatikan wajah gadis itu.
Julian tidak pernah menyangka bahwa kakak bisu Shania yang selama ini sering diceritakan sebagai gadis desa ternyata memiliki penampilan secantik itu.
Dibandingkan dengan Shania, Kirana justru terlihat jauh lebih cantik, alami dan anggun, membuat Julian tanpa sadar kehilangan fokus.
Shania yang menyadari arah pandangan kekasihnya langsung mengerutkan kening. Rasa cemburu yang sejak tadi tertahan semakin membesar ketika melihat Julian sama sekali tidak mengalihkan pandangan.
“Kak Kirana!”
Shania segera melangkah maju dan menghalangi jalan Kirana. Wajahnya menunjukkan senyum tipis, tetapi sorot matanya jelas dipenuhi rasa iri.
“Kakak, aku penasaran sekali,” ujarnya dengan nada dibuat-buat. “Kakak mendapatkan uang dari mana sampai bisa membeli mobil semahal ini?”
Kirana berhenti dan menatapnya datar.
Shania melipat kedua tangannya di depan dada. “Jangan-jangan Kakak melakukan sesuatu yang aneh untuk mendapatkan semua uang itu?”
Ia sengaja memperkeras suaranya agar Julian dan para pelayan dapat mendengar. “Seperti menjadi simpanan seseorang, misalnya?”
Suasana halaman mansion mendadak hening. Beberapa pelayan yang sedang membawa barang belanjaan langsung menghentikan langkah, sementara Julian mengernyit mendengar tuduhan Shania.
Kirana menatap adiknya selama beberapa detik. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya berubah dingin hingga membuat Shania sedikit kehilangan keberanian.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Shania. Kepala gadis itu langsung tertoleh ke samping, sementara matanya membelalak lebar karena sama sekali tidak menyangka Kirana akan bertindak secepat itu.
“Kau ....” Shania memegang pipinya dengan tangan gemetar. “Kau berani menamparku?!”
Kirana tidak menjawab. Ia hanya menatap Shania sekali lagi, kemudian melengos dan melanjutkan langkahnya menuju pintu utama mansion.
Para pelayan segera mengikuti Kirana sambil membawa seluruh barang belanjaannya. Tidak ada seorang pun yang berani menghentikan gadis itu, apalagi setelah menyaksikan sendiri bagaimana Shania menerima tamparan akibat ucapannya.
Shania berdiri mematung dengan wajah merah padam. Ia benar-benar tidak menyangka Kirana berani mempermalukannya di depan Julian, terlebih lagi tanpa memberikan kesempatan sedikit pun untuk membela diri.
Sementara itu, Julian masih berdiri di tempatnya. Tatapannya mengikuti punggung Kirana hingga gadis itu menghilang di balik pintu mansion, seolah-olah ia baru saja melihat sesuatu yang sulit dipercaya.
“Sayang!”
Suara Shania akhirnya menyadarkannya.
Julian berkedip dan menoleh. “Ada apa?”
Shania menatapnya tidak percaya. “Kamu lihat sendiri, kan? Kirana menamparku di depan semua orang, tapi kenapa kamu hanya diam saja?”
Julian langsung tersadar bahwa sejak tadi ia memang tidak melakukan apa pun. Ia buru-buru mendekati Shania dan mencoba memeriksa pipinya.
“Maaf, Sayang. Aku tadi benar-benar tidak menyangka dia akan berani melakukan itu,” katanya. “Mana yang sakit? Biar aku lihat.”
Shania menepis tangan Julian dengan kesal. “Kamu malah diam saja! Bukankah kamu bilang akan selalu melindungiku?”
Julian menghela napas, berusaha menenangkan kekasihnya yang mulai kehilangan kendali. “Sudahlah, jangan marah. Kamu tenang saja, aku tidak akan membiarkan dia memperlakukanmu seperti itu lagi.”
Shania menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Kamu harus memberinya pelajaran, Julian. Dia semakin tidak tahu diri sejak kembali ke keluarga Lin.”
Julian mengangguk pelan. “Baiklah. Aku akan mengurusnya, jadi kamu tidak perlu khawatir.”
Setelah itu, Julian menggenggam tangan Shania dan mengajaknya masuk ke dalam mansion. Namun, sebelum melangkah melewati pintu, ia sempat melirik ke arah tempat Kirana menghilang tadi.
Ada rasa penasaran yang tiba-tiba muncul dalam benaknya. Ia mulai bertanya-tanya, siapa sebenarnya Kirana Lin yang selama ini hanya dianggap sebagai gadis bisu dari desa?
Di sisi lain, Kirana sudah berada di lantai dua. Setelah menyerahkan barang-barang belanjaannya kepada pelayan, ia duduk santai di sofa sambil membuka ponselnya.
Ia sama sekali tidak merasa bersalah atas tamparan tadi. Baginya, Shania boleh saja tidak menyukainya, tetapi gadis itu tidak berhak menghina harga dirinya dengan tuduhan murahan.
Kirana kemudian menutup ponselnya dan menyandarkan kepala. Hari yang panjang bersama Cassia ternyata masih menyisakan keseruan dan baru saja merasakan kasih sayang seorang ibu.
Padahal Cassia baru calon mertua tapi sudah sangat baik. Sedangkan ibu kandungnya sendiri, semenjak ia lahir sampai sekarang, ibunya bahkan tidak pernah mengajaknya berbelanja.
sat set tnpa drama
keren pojok nya
wuih jous gandos
aaahhh mboh lah mumet AQ sweeter
otornya lho bikin penasaran Mulu 🤣🤣🤣
🤭🤭🤭🤭