🔥CRAZY UP🔥
Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.
Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Kamis, 13 November, daftar tamu gala Grand Aruna terkunci sebelum Alina sempat meminta namanya dicoret.
Sari membawa salinannya ke ruang baca lantai tiga puluh, satu lembar yang sudah distempel panitia, bukan draf yang masih bisa diberi coretan. Nama Alina Prameswari ada di blok Mahendra Artha, di bawah nama Adrian, dengan keterangan pendek: pendamping undangan. Di kolom catatan tertulis konsultan eksternal. Jam datang, pintu samping ballroom lantai dua, dan kalimat bahwa perubahan nama tidak diterima setelah pukul tiga sore. Pukul di kop surat sudah lewat.
Dimas berdiri di sisi meja, jaket di sandaran kursi, dan tidak menyentuh kertas itu. Sejak Senin ia lebih sedikit membuka folder. Beberapa arsip vendor yang sempat ia keluarkan sudah kembali ke dalam laci, penjepitnya rata, seolah tidak pernah ditarik. Ia tidak menjelaskan. Hari ini pun ia hanya berkata, “Daftarnya sudah dikirim ke hotel. Kalau nama itu hilang sekarang, panitia akan menelepon, dan telepon itu akan sampai ke orang yang tidak perlu tahu alasan kita.”
Alina membaca keterangan pendamping dua kali. “Saya bisa datang sebagai konsultan. Baris itu sudah ada.”
“Baris itu tidak menghapus baris di atasnya,” kata Adrian. Ia tidak duduk. Jam tali kulit di pergelangan tangannya bergerak ketika ia meletakkan pena yang tidak ia pakai. “Helena akan ada di meja depan. Kalau Anda tidak muncul, yang tersisa cerita orang lain. Anda harus hadir.”
“Harus, atau nama saya sudah terlanjur dipakai?”
“Keduanya,” jawab Adrian. “Saya tidak akan menyuruh Anda berpura-pura di luar kalimat yang sudah ditulis. Tapi tidak hadir bukan pilihan yang masih terbuka hari ini.”
Alina mengetuk tepi kertas dengan kuku, sekali. “Dress code-nya black tie. Saya tidak punya hidup yang cocok dengan dua kata itu.”
Sari, yang sejak tadi menjaga pintu agar pembicaraan tidak melebar ke koridor, membuka catatan di tablet tanpa menaikkan suara. “Panitia hanya meminta tamu tidak memakai pakaian kantor harian. Tidak ada arahan merek. Mobil jemput tidak saya pesan, karena Mbak Alina belum meminta. Saya bisa memesankan kalau diminta sebelum sore.”
“Jangan,” kata Alina. “Saya datang sendiri. Taksi. Pintu samping, sesuai lembar ini.”
Adrian mengangguk. Ia tidak menawarkan mobil dinas, dan tidak mengisi kekosongan itu dengan kalimat tentang keselamatan atau tentang bagaimana seseorang harus terlihat di samping direktur utama. “Jam tujuh. Kalau ada pertanyaan status, kalimat yang sama seperti di Kopi Sore. Di luar itu, Anda bicara pekerjaan. Helena tidak datang untuk cerita.”
“Saya tahu apa yang Helena beli,” kata Alina. “Bukan saya.”
Dimas menggeser map tertutup di mejanya supaya tidak ikut terseret lengan Alina. Tangannya berhenti sebentar di atas penjepit, lalu ia menariknya kembali. “Saya tidak ikut ke lantai ballroom. Kalau ada yang mencari keterangan internal, arahkan ke Sari atau ke saya besok. Jangan membuat jawaban baru di meja makan.”
Tidak ada yang menambahkan. Sari meninggalkan salinan undangan di sudut meja Alina dan keluar untuk mengunci jadwal lain. Dimas mengikuti, masih dengan map yang tidak ia buka. Adrian tinggal dua kalimat lagi.
“Jangan beli apa pun untuk malam ini,” katanya. “Kalau Anda muncul dengan barang yang baru, orang akan menghitung harganya, bukan mendengar kalimat Anda.”
“Saya tidak berniat belanja,” jawab Alina. “Dan saya tidak perlu diingatkan supaya tetap terlihat seperti orang yang membayar sewa sendiri.”
Adrian menerima itu tanpa membela nada kalimatnya. “Sampai besok.”
Ia pergi lebih dulu. Di meja, lembar undangan tetap terbuka pada nama yang sudah tidak bisa dicoret.
Sore harinya Alina tidak mampir ke mal. Ia naik dari halte Sudirman dengan tas yang sama, jas hitam dilipat di lengan karena udara dalam taksi terlalu dingin, lalu turun di Tebet ketika lampu toko kelontong sudah menyala separuh. Tangga studio lantai tiga tetap gelap di tanjakan kedua. Ia menaikinya dengan satu tangan di dinding, seperti setiap hari, dan tidak membeli bohlam di perjalanan. Di dalam, meja lipat masih penuh kertas. Angka 12,4 dan 18,9 masih menempel di samping daftar batas akses. Aturan sandiwara yang ditulis di Kopi Sore tidak ia turunkan dari dinding.
Mei datang setelah Kopi Sore ia titipkan pada barista penutup. Ia membawa kantong kecil, bukan kotak pakaian. Di dalamnya ada penjepit rambut, benang, dan gunting kuku. Ia melihat undangan di meja, melihat lemari yang tidak bertambah isinya, lalu melihat Alina masih memakai sepatu kerja.
“Buka lemari,” kata Mei. “Kalau kau mulai menggulir toko dalam ponsel, saya rebut.”
“Saya tidak menggulir.”
“Bagus. Dendam dan gala sama-sama tidak perlu paket baru.”
Gaun yang mereka keluarkan sudah ada. Hitam, bahan tebal, tanpa payet, pernah dipakai Alina untuk presentasi klien tahun lalu dan sejak itu tergantung di sisi lemari yang tidak kena cahaya tangga. Ada bekas lipatan di pinggang. Mei menyetrika lipatan itu di atas handuk di meja lipat, bukan di tempat lain. Panjangnya sampai betis. Lengan tidak terbuka. Ketika Alina memakainya, cermin pintu lemari menunjukkan orang yang sama, hanya tanpa jas.
“Sepatu,” kata Mei.
Alina mengeluarkan dua pasang. Satu hak tinggi yang ia pakai sekali dan sejak itu menyimpan karena membuatnya berjalan seperti sedang meminjam kaki orang lain. Satu lagi sepatu hitam rendah, tumitnya landai, yang biasa ia pakai kalau harus naik turun lantai klien tanpa lift yang bisa diandalkan. Mei menunjuk yang kedua.
“Pakai yang ini. Besok kau akan berdiri lama, dan tangga hotel tidak lebih jujur daripada tangga ini. Kalau kakimu sakit, wajahmu ikut bernegosiasi. Kita tidak butuh itu.”
Alina mengenakan sepatu rendah itu dan berjalan dari kasur ke dapur kecil, lalu ke pintu. Tidak ada yang menjepit jari. Ia membukanya dan turun tiga anak tangga, melewati tanjakan yang lampunya mati, lalu naik lagi. “Bisa.”
“Berarti nyaman. Simpan yang hak tinggi. Jangan dibawa sebagai cadangan supaya kau tergoda di lobi.”
Rambut Alina, yang seharian diikat rendah, Mei lepaskan dan sikat seadanya. Tidak ada catok. Tidak ada salon yang dibuka khusus. Mei membagi rambut itu, mengikatnya lagi di tengkuk, lebih rapi dari ikatan kantor tetapi tidak lebih tinggi, tidak lebih keras, dan tidak ditambah hiasan. Beberapa helai di pelipis dibiarkan. Mei mundur satu langkah, menilai, lalu menurunkan ikatan itu setengah jari supaya tidak menarik kulit dahi.
“Cukup,” katanya. “Rapi. Bukan pengantin, bukan juga orang yang baru saja diajari cara menghadap kamera.”
Alina menoleh ke cermin. “Saya kelihatan seperti sedang meminjam acara orang.”
“Kau memang meminjam tempat duduk,” jawab Mei. “Bukan meminjam hidup. Bedanya ada di barang yang tidak kau beli.”
Di laci kecil dekat kasur ada kotak logam bekas permen. Di dalamnya anting perak bulat, kecil, penutupnya longgar di satu sisi. Bukan beli baru. Mei mengeluarkan anting itu, menguji penutupnya, lalu berdiri di samping Alina dan menyematkannya ke daun telinga. Jarinya tidak gemetar. Ia memasang yang kiri, kemudian yang kanan, dan menekan penutup sampai berbunyi klik pelan.
“Jangan sampai kau kelihatan seperti orang yang tiba-tiba jadi pacar pejabat,” kata Mei sambil menyematkan anting sederhana. “Kelihatan seperti konsultan yang kebetulan datang. Lebih aman.”
Alina mengangguk. Anting itu tidak menangkap cahaya sebanyak lampu studio yang memang redup. “Kalau ada yang bertanya, saya konsultan. Kalimat pribadinya yang sudah ditulis. Tidak lebih.”
“Dan tidak ada yang memegang tanganmu supaya foto kelihatan lengkap,” kata Mei. “Kalau dia lupa, kau yang ingat. Aturan di dinding itu bukan wallpaper.”
Mereka tidak keluar untuk makan di tempat yang lebih terang. Mei menghangatkan sisa sayur di dapur kecil dan meletakkannya di mangkuk yang gagangnya retak. Alina makan dengan gaun itu masih terpasang, serbet di pangkuan, karena Mei ingin melihat apakah kainnya mengganggu saat duduk. Tidak mengganggu. Setelah makan, Mei mencuci mangkuk, memasukkan gunting kembali ke kantong, dan berhenti di pintu.
“Besok saya tidak ikut,” katanya. “Kafe tidak bisa ditutup hanya karena ballroom seseorang menyala. Kalau kau pulang dan ingin marah, lampunya tetap mati di tangga. Jangan jadikan itu alasan mencari apartemen baru.”
“Saya tidak mencari apartemen baru.”
“Bagus. Gaya hidupmu tidak sedang naik kelas. Yang naik hanya nama di daftar tamu, dan itu sementara.”
Mei pergi. Alina menggantung gaun itu kembali, sepatu rendah di bawahnya, anting di atas kotak logam supaya besok tidak perlu dicari. Ia tidak membuka aplikasi belanja. Ia tidak menyimpan alamat salon. Ia mengecek saldo taksi di ponsel, cukup untuk pergi dan pulang, lalu meletakkan ponsel itu menghadap bawah.
Malam itu ia berdiri di depan cermin, merasa aneh, tapi siap. Gaun yang sudah ada. Sepatu yang bisa menaiki tangga. Rambut yang besok akan diikat lagi dengan cara yang sama, rapi, tidak berlebihan. Tidak ada barang baru di lemari. Tidak ada kebiasaan baru di meja. Aturan sandiwara masih menempel di dinding: tidak ada ciuman, tidak ada pernyataan berlebih, sentuhan minimal.