NovelToon NovelToon
DITALAK ISTRI KARENA MISKIN, AKU PULANG SEBAGAI CEO

DITALAK ISTRI KARENA MISKIN, AKU PULANG SEBAGAI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / CEO
Popularitas:852
Nilai: 5
Nama Author: BayouDarda Novelis

“Laki-laki kok nganggur di rumah! Makan di belakang saja. Jangan duduk semeja sama tamu.” Selama tiga tahun, Arkana Pramudya—Arkan—dianggap pengangguran dan beban oleh keluarga istrinya, Laras Wijaya. Pada hari jadi pernikahan mereka, Laras menjatuhkan talak karena malu memiliki suami yang dianggap miskin. Ia tak tahu Arkan adalah pewaris tunggal Grup Pramudya sekaligus pemegang saham pengendali PT Nusa Karya, tempatnya bekerja. Setelah perceraian resmi, Arkan mengambil tanggung jawab sebagai CEO. Namun, kebangkitan Arkan bukan sekadar pamer kekayaan: pelanggaran anggaran harus dibuktikan, konflik warisan mengancam perusahaan, dan Reno—orang yang memanfaatkan ambisi Laras—kembali membawa fitnah. Saat penyesalan datang terlambat dan Laras meminta kesempatan kedua, Arkan harus memilih hidup yang dibangun atas rasa hormat, bukan rasa bersalah. Bersama Nadine Prasetya, teman lama sekaligus CEO yang setara dengannya, Arkan belajar bahwa memaafkan tak berarti harus kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BayouDarda Novelis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 — Nadine

Nama itu tercetak di bagian bawah undangan rapat yang dikirim Pak Surya pagi tadi.

Nadine Prameswari.

Aku membaca ulang jadwal pertemuan tersebut sambil duduk di meja kecil kamar kos. Di samping laptop, ada secangkir kopi yang belum kusentuh dan kuitansi pembayaran listrik yang harus kuserahkan kepada pengelola. Dua urusan berbeda, tetapi keduanya sama-sama menunggu keputusanku.

Di luar jendela, seseorang sedang memindahkan sepeda motor agar penghuni lain bisa keluar. Suara pintu pagar beradu dengan besi, disusul percakapan singkat yang tak sepenuhnya kupahami. Kehidupan di Kos Nomor 12 berjalan seperti biasa, tanpa peduli pada rapat yang akan kuhadiri atau nama yang tertera di undangan.

Aku menutup kuitansi, kemudian kembali membaca pesan Pak Surya.

Pertemuan itu membahas evaluasi awal terhadap sejumlah aset dan peluang investasi. Tidak ada keputusan final yang harus kuambil hari ini. Aku hanya perlu hadir, mendengarkan paparan, dan memastikan setiap usulan diperiksa melalui jalur yang benar.

Seharusnya pekerjaan itu sederhana.

Namun, aku tahu siapa yang akan berada di ruangan yang sama denganku.

Nadine bukan orang asing yang kebetulan pernah bekerja denganku. Kami mengenal satu sama lain jauh sebelum urusan perusahaan memenuhi hari-hariku. Ia tahu bagaimana aku berbicara ketika sedang menahan sesuatu, juga tahu kapan sebuah jawaban sengaja kubuat lebih pendek daripada yang seharusnya.

Aku mengambil kemeja bersih dari gantungan. Kemeja itu bukan pakaian yang biasa kupakai ketika harus menghadiri rapat penting. Warnanya sederhana, potongannya pun tidak istimewa. Aku merapikan kerahnya di depan cermin kecil yang menempel di dinding.

Laki-laki di cermin itu masih orang yang sama dengan yang meninggalkan rumah setelah menandatangani dokumen perceraian. Orang yang membawa beberapa kardus barang pribadi dan memilih kamar paling kecil di sebuah kos yang sebenarnya berada dalam kepemilikannya sendiri.

Aku bisa saja datang dengan kendaraan yang lebih pantas, mengenakan pakaian yang lebih mahal, dan membiarkan semua orang mengetahui siapa diriku sebelum rapat dimulai.

Aku tidak ingin menjadikan setiap ruangan sebagai tempat pembuktian bahwa orang-orang yang pernah meremehkanku telah salah menilai.

Pesan dari Pak Surya masuk.

Pak, kendaraan sudah disiapkan. Apakah saya perlu menjemput Bapak di alamat biasa?

Aku mengetik balasan singkat.

Tidak perlu. Saya berangkat sendiri. Kita bertemu di lokasi.

Aku memasukkan ponsel ke saku, mematikan lampu kamar, lalu mengunci pintu.

Di lorong, seorang penghuni sedang menempelkan kembali pemberitahuan yang sudutnya terlepas. Kertas itu berisi informasi tentang rencana pemeriksaan bangunan oleh calon investor. Ia menoleh ketika aku melewatinya.

“Pak, nanti kalau ada kabar soal pemeriksaan, kami diberi tahu lebih dulu, ya? Saya perlu mengatur jadwal kerja.”

“Kalau jadwalnya sudah pasti, pengelola akan memberi pemberitahuan. Jangan sampai ada yang kehilangan waktu kerja hanya karena informasinya terlambat.”

Aku melanjutkan langkah menuju tangga. Masalah kecil semacam itu tidak tercatat dalam agenda rapat, tetapi tetap membutuhkan perhatian. Sebuah bangunan bukan hanya angka dalam laporan. Ada orang-orang yang menyusun hidup mereka di dalamnya, menghitung uang sewa, waktu kerja, dan kebutuhan yang tidak bisa menunggu.

Atau mungkin aku hanya sedang mencari alasan untuk menunda hal-hal yang belum siap kuhadapi.

Aku berangkat sendiri dengan mobil sederhana yang biasa kupakai. Aku tidak menghubungi Pak Surya untuk meminta jalan dibuka atau seseorang menungguku di lobi. Rapat belum dimulai. Tidak ada alasan untuk membuat orang lain menyesuaikan pekerjaannya hanya karena aku terlambat beberapa menit.

Gedung pertemuan terlihat dari seberang jalan. Aku memarkir mobil, mengambil map berisi catatan, lalu berjalan menuju pintu masuk.

Pak Surya sudah menunggu di dekat meja resepsionis.

“Selamat pagi, Pak Arkana.”

“Pagi. Semua peserta sudah datang?”

“Sebagian. Tim investasi sedang menyiapkan laporan. Nadine sudah berada di ruang rapat.”

Aku mengangguk. “Ada perubahan agenda?”

“Tidak. Evaluasi aset tetap menjadi pembahasan utama. Ada beberapa dokumen yang perlu diklarifikasi sebelum pemeriksaan lanjutan.”

“Pastikan semuanya mengikuti prosedur. Kita periksa angka, kewenangan, dan dokumen hukumnya sebelum menarik kesimpulan.”

“Baik, Pak.”

Aku menyelesaikan pencatatan tamu, lalu mengikuti Pak Surya menuju lantai enam. Di sepanjang lorong, beberapa pegawai menyapanya. Mereka hanya mengangguk kepadaku, menganggapku peserta rapat yang datang bersama salah satu pejabat perusahaan.

Ketika pintu ruang rapat dibuka, pandanganku langsung menemukan Nadine.

Ia duduk di sisi kanan meja panjang, mengenakan blazer kerja berwarna gelap. Laptop terbuka di hadapannya, dengan beberapa lembar dokumen tersusun rapi di sampingnya. Ia sedang membaca catatan pada layar, sesekali membandingkannya dengan berkas cetak.

Nadine mengangkat wajah ketika kami masuk.

Ia mengenaliku. Aku tahu itu dari caranya berhenti menggerakkan tetikus, meski hanya sesaat. Namun, ia tidak memanggil namaku dengan nada terkejut, apalagi menyebut sesuatu yang bisa mengundang perhatian peserta lain.

“Selamat pagi,” sapanya kepada ruangan.

Aku membalas dengan anggukan dan mengambil tempat duduk yang tersedia.

Pertemuan dimulai setelah seluruh peserta siap. Seorang anggota tim investasi memaparkan daftar aset yang akan diperiksa, perkembangan penilaian awal, serta dokumen yang belum diterima. Di layar muncul beberapa tabel mengenai nilai properti, biaya operasional, dan potensi pengeluaran untuk perbaikan.

Aku mencatat angka yang perlu diperiksa kembali.

Salah satu aset yang masuk daftar adalah Kos Nomor 12.

Penjelasan pada laporan menyebutkan bahwa bangunan tersebut memerlukan evaluasi kondisi fisik, pemeriksaan catatan penerimaan sewa, dan peninjauan biaya pemeliharaan. Ada pula catatan mengenai keluhan penghuni tentang biaya tambahan yang belum dijelaskan secara terperinci.

Aku meletakkan pena.

“Biaya tambahan yang dimaksud itu apa saja?”

Petugas yang memaparkan laporan membuka halaman berikutnya.

“Masih dalam proses pengumpulan data, Pak. Ada pembayaran yang tercatat sebagai biaya pemeliharaan, tetapi rincian penggunaannya belum lengkap.”

“Berapa jumlahnya?”

Ia menyebutkan angka sementara, lalu menjelaskan bahwa jumlah itu belum diverifikasi dengan bukti pengeluaran.

“Kalau belum terverifikasi, jangan dianggap sebagai biaya yang sah ataupun langsung disebut penyimpangan. Minta rincian, bukti pembayaran, dan pihak yang menyetujuinya.”

Petugas itu mencatat instruksiku.

Nadine kemudian mengambil alih bagian evaluasi risiko. Ia menjelaskan bahwa pemeriksaan harus membedakan kondisi bangunan, kewajiban pengelola, serta catatan transaksi. Menurutnya, laporan yang menggabungkan semua temuan tanpa pemisahan akan menyulitkan tim menentukan tanggung jawab.

“Untuk Kos Nomor 12, kita juga perlu memastikan siapa yang berwenang memberikan dokumen,” katanya. “Jangan sampai tim menerima data dari pihak yang tidak memiliki kewenangan, lalu menganggapnya sebagai dokumen resmi.”

Aku mengangguk.

“Masukkan pemeriksaan kewenangan itu ke dalam daftar kerja.”

Nadine mengetik catatan singkat. Tidak ada upaya untuk terlihat paling memahami persoalan. Ia menyampaikan hal yang perlu diperiksa, kemudian membiarkan tim menindaklanjutinya.

Pak Surya membuka satu lampiran.

“Ada perkembangan lain yang perlu dicatat. Hendra telah mengajukan permintaan dokumen terkait warisan ayah Bapak. Tim hukum sedang menelaah ruang lingkup permintaan tersebut.”

Tanganku berhenti di atas kertas.

Nama Hendra mengingatkanku pada pesan yang kuterima beberapa hari lalu. Ia mulai mengumpulkan dukungan dan meminta dokumen yang sebelumnya tidak pernah dipersoalkan. Aku belum tahu apa yang sebenarnya ingin dicapainya, tetapi aku tidak akan menuduhnya melakukan pelanggaran hanya berdasarkan dugaan.

“Apakah permintaannya sudah diperiksa secara hukum?” tanyaku.

“Masih ditelaah. Kami belum menyerahkan dokumen apa pun di luar yang diizinkan.”

“Pertahankan itu. Catat dokumen yang diminta, dasar permintaannya, dan pihak yang berwenang menyetujui penyerahan. Jangan ada berkas yang keluar hanya karena seseorang mengatasnamakan keluarga.”

Pak Surya mengangguk.

Setelah paparan selesai, peserta rapat mulai membicarakan jadwal pemeriksaan. Nadine menutup laptopnya ketika tim meminta waktu untuk menyelaraskan catatan.

Aku sedang merapikan berkas ketika ia mendekat.

“Kamu sengaja tinggal di sana?” tanyanya pelan.

Aku mengangkat wajah. Nadine tidak perlu menyebut nama kos itu. Kami sama-sama tahu bangunan mana yang dimaksud.

“Sedang memeriksa pengelolaan. Ada keluhan biaya tambahan.”

Ia memandangku sejenak, lalu mengangguk.

“Jadi, kamu ingin melihat keadaan sebenarnya sebelum menilai laporan.”

“Kurang lebih begitu. Angka di atas kertas nggak selalu menjelaskan apa yang terjadi di lapangan.”

“Benar. Tapi kamu juga harus memastikan pemeriksaannya tidak bergantung pada pengamatanmu sendiri.”

“Itu sebabnya tim tetap harus bekerja berdasarkan dokumen dan prosedur.”

Nadine merapikan salah satu lembar catatan. Ia tidak bertanya mengapa aku memilih kamar terkecil di bangunan itu, atau mengapa aku tidak menggunakan fasilitas yang sebenarnya tersedia bagiku.

“Kamu bisa saja meminta laporan lengkap dari pengelola,” katanya.

“Bisa. Tapi aku ingin tahu apakah keluhan penghuni pernah dicatat dan ditindaklanjuti. Bukan cuma apakah laporan bulanan terlihat rapi.”

“Dan kalau ternyata masalahnya berasal dari prosedur yang buruk?”

“Kita perbaiki prosedurnya. Kalau ada pelanggaran, buktikan dulu siapa yang bertanggung jawab.”

Nadine mengangguk pelan. “Aku mengerti.”

Aku tahu ia memahami alasan di balik pilihanku. Ia tidak mencoba membujukku untuk menunjukkan kedudukan atau menggunakan jabatan untuk mempermudah urusan pribadi. Ia juga tidak menawarkan solusi instan seolah persoalan yang kami hadapi bisa selesai dengan satu instruksi.

Sikap itu membuat percakapan kami terasa lebih mudah.

“Bagaimana dengan permintaan Hendra?” tanyanya kemudian.

“Tim hukum masih memeriksa dasar permintaannya. Aku nggak akan menyerahkan dokumen hanya untuk membuktikan bahwa aku tidak takut.”

“Bagus. Jangan pula menahan dokumen yang memang wajib diberikan.”

“Memang begitu seharusnya.”

Ia memasukkan laptop ke dalam tas. “Aku akan menunggu hasil pemeriksaan sebelum memberi rekomendasi lebih jauh. Kalau ada temuan yang berhubungan dengan evaluasi aset, kita bahas berdasarkan bukti yang tersedia.”

“Silakan.”

Tidak ada janji pribadi di antara kami. Tidak ada percakapan tentang siapa yang pernah meninggalkan siapa, atau tentang hal-hal yang belum selesai dari masa lalu. Untuk saat ini, kami hanya dua orang yang memiliki pekerjaan dan sejarah bersama, tetapi tetap harus menjaga batas.

Sebelum beranjak, Nadine menatap kemeja sederhanaku.

“Kamu masih memilih cara yang sama.”

“Cara apa?”

“Tidak banyak menjelaskan diri sendiri.”

Aku memasukkan berkas ke dalam map. “Kadang-kadang, penjelasan memang belum diperlukan.”

“Kadang-kadang,” katanya. “Tapi diam juga bisa membuat orang lain salah memahami keadaan.”

Aku tidak membantah. Kalimat itu terlalu dekat dengan sesuatu yang pernah kulakukan, dan aku tidak punya alasan untuk berpura-pura bahwa semua pilihanku selalu benar.

Nadine tidak memperpanjang pembicaraan. Ia hanya mengangguk sebelum kembali ke tempat duduknya.

Ketika rapat dilanjutkan untuk menetapkan tindak lanjut, aku meminta perhatian seluruh peserta.

“Ada satu hal yang perlu ditegaskan sebelum pemeriksaan dimulai.”

Ruangan kembali tenang.

“Untuk data pribadi penghuni, jangan berikan akses penuh. Verifikasi ruang lingkup, kewenangan, dasar hukum. Dokumen kepemilikan dan laporan keuangan boleh diperiksa sesuai prosedur. Data pribadi harus disamarkan.”

Salah seorang anggota tim mengangkat tangan.

“Bagaimana jika pemeriksa memerlukan data identitas untuk mencocokkan pembayaran?”

“Ajukan kebutuhan spesifiknya. Pastikan ada dasar yang sah dan aksesnya dibatasi pada informasi yang benar-benar diperlukan. Jangan membuka seluruh data penghuni hanya karena sebagian informasi dibutuhkan.”

Nadine menambahkan bahwa tim sebaiknya mencatat setiap dokumen yang diterima, siapa yang mengaksesnya, dan untuk tujuan apa dokumen tersebut digunakan. Catatan itu akan membantu memastikan proses pemeriksaan bisa dipertanggungjawabkan.

Aku menyetujui usulan pencatatan tersebut, dengan syarat mekanismenya mengikuti aturan perusahaan dan tidak menambah prosedur yang tidak diperlukan.

Pak Surya kemudian meminta tim hukum memeriksa kembali batas kewenangan dalam permintaan dokumen warisan. Tim investasi diminta melengkapi rincian biaya Kos Nomor 12, sementara pengelola properti harus menyiapkan catatan yang relevan tanpa membuka informasi pribadi penghuni secara berlebihan.

Tidak ada keputusan penjualan aset. Tidak ada tuduhan yang dinyatakan sebagai fakta sebelum bukti diperiksa. Kami hanya menetapkan pekerjaan yang harus dilakukan dan siapa yang bertanggung jawab atasnya.

Setelah semua tugas dicatat, rapat berakhir.

Aku meninggalkan ruang rapat dengan map di tangan. Di dekat lift, Nadine sedang membaca pesan di ponselnya. Ia mengangkat wajah ketika melihatku, lalu memasukkan perangkat itu ke tas.

“Kita akan bertemu lagi saat hasil pemeriksaan keluar,” katanya.

“Ya. Pastikan laporan awalnya lengkap.”

“Aku akan memeriksa bagian evaluasi yang menjadi tanggung jawabku.”

Kami berpisah di lobi tanpa percakapan tambahan.

Dalam perjalanan pulang, aku tidak akan menyimpulkan apa pun tentang Kos Nomor 12 sebelum bukti diperiksa.

Ponselku bergetar ketika mobil berhenti di lampu merah.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan.

Pak Arkana Pramudya, kami perlu berbicara sebelum tim audit tiba.

Aku membaca pesan itu sekali lagi.

Pengirimnya tidak menyebut nama, jabatan, atau alasan yang jelas. Pesan tersebut bisa saja berkaitan dengan pemeriksaan Kos Nomor 12. Bisa juga menyangkut permintaan dokumen warisan yang diajukan Hendra.

Aku belum tahu siapa yang mengirimnya.

Yang jelas, seseorang ingin berbicara sebelum pemeriksaan dimulai.

Dan orang itu mengetahui namaku.

1
BayouDarda Novelis
Terimakasih atas kehadirannya kak, semoga sukses selalu.
Renjana
hadir kk
BayouDarda Novelis: Terimakasih atas kehadirannya kak, semoga sukses selalu.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!