NovelToon NovelToon
DUDAKU ANAK DUA

DUDAKU ANAK DUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Duda
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rania mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menerima pinangan Arkan, seorang duda kaya raya berparas rupawan yang berusia 38 tahun. Kehidupan barunya tidak hanya membawanya pada gelimang kemewahan, tetapi juga menuntut Rania untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sambung bagi dua putra Arkan yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang.
Zidan, putra sulung Arkan ternyata bersahabat baik dengan keponakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salah Paham

Rania menatap wanita di depannya tanpa berkedip. "Kenzie datang ke rumah saya dengan sekujur punggung, kaki, dan tangan penuh bekas lebam. Katanya sih gara-gara jatuh. Tapi saya bukan orang bego yang gampang percaya begitu saja. Anak sekecil itu mana mungkin bisa bikin badan sendiri babak belur sebanyak itu!"

Arkan langsung mengalihkan pandangannya tajam ke arah Wati, yang mulai kelihatan basah oleh keringat dingin. "Jawab, Wati. Dari mana anak saya bisa dapat luka-luka itu?!"

Wati kelihatan salah tingkah, otaknya berputar keras mencari alibi, tapi Rania langsung memotong dengan ketus.

"Harusnya, sebelum nuduh gue culik Kenzie, lu itu ngaca dulu pakai air comberan! Siapa sebenarnya di sini yang paling pantes ditahan, hah?!"

Suasana di ruangan itu mendadak menegang mencekam. Nathan, yang dari tadi diam menyimak, akhirnya buka suara dengan tenang tapi tegas. "Saya rasa ini sudah lebih dari cukup buat lanjutin penyelidikan. Pak Polisi, gimana kalau kita mulai dengan memeriksa kondisi Kenzie dulu?"

Pak Polisi mengangguk mantap. "Kami akan konfirmasi semua ini berdasarkan bukti-bukti yang valid."

Wati semakin panik bukan kepalang. "Pak, saya sumpah nggak—"

"Saya harap kamu nggak bohong, Wati." potong Arkan dengan suara dingin yang bikin merinding. "Karena kalau terbukti ada yang berani menyakiti putra saya, saya pastikan saya nggak akan tinggal diam."

Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Mereka semua duduk menanti kedatangan Kenzie yang sedang diantar langsung oleh Bu RT dari kompleks perumahan Rania.

Untungnya, dalam perjalanan menuju kantor polisi tadi, Rania sempat meminjam ponsel salah satu petugas untuk mengabari Bu RT.

"Rania !" panggil Bu RT begitu melangkah masuk ke ruangan didampingi Pak RT, sambil menggendong Kenzie erat dalam pelukannya.

Rania langsung bangkit dan menghampiri mereka. "Bu RT, maaf banget ya udah repot-repot." ujarnya lembut sambil mengambil alih Kenzie dari gendongan Bu RT. Bocah itu tampak tenang tapi wajahnya masih sembab, kelihatan banget kalau dia habis nangis lama.

"Rania, kamu ini sebenarnya kenapa sih? Beneran nyulik anak orang?" tanya Pak RT penasaran setengah mati. "Tapi kok ya aneh, bocahnya betah banget di rumah kamu? Tadi aja waktu saya dateng, dia tidur pulas banget di kasur kamu."

"Kebangun gara-gara suara kita berisik tadi, terus langsung nangis nyariin kamu." timpal Bu RT gemas.

Rania tersenyum tipis. "Nanti saya jelasin semuanya, Pak RT, Bu RT. Ini Kenzie, adiknya Zidan." ucapnya sambil ngelus punggung Kenzie dengan penuh kasih. Bocah itu langsung menyandarkan kepalanya manja di dada Rania, seolah menemukan tempat paling aman di dunia.

"Zidan? Temennya Galang itu? Yang hobi manjat pohon rambutan saya?" tanya Bu RT sambil mengerutkan dahi kebingungan.

"Iyah, yang suka malingin rambutan Bu RT lewat balkon kamar Galang." kekeh Rania pelan.

Tanpa mereka sadar, Arkan dan yang lain ikut memperhatikan interaksi hangat itu. Di sudut lain, Wati malah kelihatan semakin gelisah kayak cacing kepanasan.

"Permisi, Bu Rania." sela salah satu petugas kepolisian. "Bisa kita lanjutkan proses penyelidikannya?"

Rania menoleh lalu mengangguk. "Silakan, Pak." Ia kembali duduk, sementara Kenzie tetap menempel erat di dadanya, seolah sengaja mengabaikan keberadaan Arkan dan Nathan di ruangan yang sama.

"Saya punya bukti hasil pemeriksaan medis Kenzie dari rumah sakit hari ini, plus rekaman CCTV yang nunjukin Zidan datang ke rumah saya semalam." lanjut Rania tenang.

Petugas kepolisian langsung menerima dokumen laporan medis yang dikirimkan Karina lewat email. Begitu mulai membaca lembar demi lembar, ekspresi wajah sang petugas langsung berubah serius dan mengeras.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, ditemukan beberapa luka lebam baru dan lama di tubuh anak ini." ujar petugas itu tegas. "Ada indikasi kuat kekerasan fisik yang dilakukan secara berulang."

Arkan langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas meja. Tatapannya menajam penuh ampun ke arah Wati, yang sekarang wajahnya udah pucat pasi kayak mayat hidup.

"Saya... saya nggak tahu apa-apa, Pak!" elak Wati terbata-bata, suaranya bergetar hebat. "Mungkin itu karena dia kepeleset... namanya juga anak kecil, kan hobi banget jatuh sendiri."

Rania mendengus sinis. "Jatuh? Kalau cuma sekali dua kali sih wajar. Tapi ini jelas-jelas bukan luka karena jatuh biasa! Dokter aja bilang kalau luka-luka Kenzie itu akibat penganiayaan."

"Dan saya masih punya bukti satu lagi." sambung Rania. Ia mengambil ponselnya lalu memutar rekaman CCTV dari rumahnya.

Di layar, terlihat Zidan datang pada tengah malam dengan Kenzie yang tampak lemas di dalam gendongannya. Terdengar suara Zidan berkata di rekaman itu, *‘Gue nggak bisa tinggal diam lagi. Kalau Kenzie terus ada di sana, dia bisa mati, Gal. Lebih baik gue titipin Kenzie ke Tante Rania.’*

Semua orang di ruangan itu mendadak terdiam bisu.

"Jadi bener ya..." gumam Nathan pelan, menatap Wati dengan sorot mata penuh kekecewaan mendalam. "Zidan terpaksa bawa adiknya pergi ke tempat yang lebih aman karena dia tahu anak itu nggak bakal pernah dijaga dengan benar di rumah sendiri."

Arkan berdiri dari duduknya, menatap Wati dengan kemurkaan yang siap meledak. "Kamu yang seharusnya menjaga putra saya! Kurang ajar banget, berani-beraninya kamu nyiksa anak sekecil itu!"

"Saya nggak... saya sumpah nggak..." Wati semakin gugup setengah mati, matanya melotot ke sana kemari mencari celah buat kabur atau membela diri.

"Kami akan selidiki kasus ini lebih dalam lagi." ucap petugas polisi dengan nada mutlak. "Namun, berdasarkan alat bukti yang sudah lengkap ini, Ibu Wati, Anda resmi kami tetapkan sebagai tersangka dalam kasus penganiayaan anak di bawah umur."

Seketika itu juga, lutut Wati lemas. "Pak, saya... saya cuma... saya khilaf, nggak ada niat—"

Dua petugas langsung mendekati Wati dan memborgol kedua tangannya. "Anda berhak untuk tetap diam. Segala ucapan Anda bisa dan akan digunakan sebagai alat bukti sah di pengadilan."

Wati meronta-ronta panik, berusaha melepaskan diri. "Pak, tolong! Ini cuma salah paham! Saya nggak—"

Tapi percuma, petugas langsung menyeretnya keluar ruangan.

Suasana kembali senyap. Rania menunduk, merasakan jemari mungil Kenzie masih mencengkeram erat baju bagian depannya.

"Kenzie?" panggilnya lembut. "Sayang, kok diam aja dari tadi?"

Kenzie perlahan mengangkat wajahnya yang tadinya dibenamkan di dada Rania. Matanya berair dan berkaca-kaca, lalu mulai melirik ke sekeliling ruangan. Pandangannya akhirnya terkunci pada sosok Arkan yang masih berdiri kaku di dekat meja.

Bocah itu mengerjap-erjap beberapa kali, mencoba mengenali pria jangkung di hadapannya. "D-Daddy?"

Suara kecil Kenzie yang terdengar ragu-ragu itu sukses bikin dada Arkan sesak seketika.

"Iya, sayang..." jawab Arkan dengan suara parau yang nyaris tak terdengar. Perlahan, pria itu berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya dengan sang anak. "Daddy di sini, Nak."

Kenzie menggigit bibir bawahnya, genangan air mata di matanya tumpah seketika. Tanpa diduga, bocah itu melepaskan cengkeramannya dari baju Rania, merosot turun dari pangkuan wanita itu, lalu berlari kecil menerjang ke arah Arkan.

Arkan langsung merentangkan kedua lengannya lebar-lebar, mendekap tubuh mungil Kenzie erat-erat ke dalam pelukannya seolah tak akan pernah melepaskannya lagi.

"D-Daddy... Kenzie takut..." isaknya tertahan, sambil mencengkeram kemeja Arkan erat-erat seolah tak mau lepas.

Arkan menutup matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk menahan emosi yang bergemuruh di dadanya. "Maaf, Kenzie... Daddy telat datang."

Kenzie semakin menjadi-menjadi tangisnya, sementara Rania dan Nathan hanya bisa terdiam menyaksikan momen haru tersebut.

Bocah itu terus menempel pada Arkan setelahnya, takut kejadian buruk terulang lagi. Jemari kecilnya masih menggenggam erat kerah kemeja Arkan, sementara wajahnya basah oleh air mata. Dengan penuh kesabaran, Arkan mengusap lembut punggung putranya, berusaha menenangkan anak itu yang masih sesenggukan di dalam pelukannya.

Rania memperhatikan mereka dalam diam. Ada secercah kelegaan di hatinya melihat Kenzie akhirnya berada di dalam dekapan sang ayah.

Arkan menatap Rania dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ada binar penuh terima kasih yang tulus, bercampur dengan rasa bersalah yang amat dalam.

"Terima kasih." ucapnya dengan nada suara yang jauh lebih lembut dari biasanya. "Kalau bukan karena kamu, saya nggak tahu apa yang bakal terjadi sama Kenzie selama ini."

Rania mengangkat bahunya santai. "Saya cuma lakuin apa yang seharusnya. Kasihan banget anak sekecil itu harus menderita sendirian."

Arkan menghela napas berat, menatap putranya yang masih enggan melepas pelukan. "Saya nggak akan pernah biarkan hal kayak gini terjadi lagi."

Rania tersenyum tipis. "Bagus kalau begitu. Karena anak se-usia Kenzie itu emang butuh perlindungan nyata dari orang tuanya, bukan cuma sekadar uang dari mereka."

Arkan kembali menatap Rania. Tanpa kata-kata, sorot matanya sudah cukup mewakili segalanya rasa terima kasih yang mendalam, juga janji tegas untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Kenzie menggeliat pelan di dekapan Arkan, lalu mendongak menatap Rania dengan mata yang masih sembab. "Tante Rania..." panggilnya lirih.

Rania tersenyum hangat, mengusap pelan kepala bocah itu. "Iya, Sayang?"

Kenzie menggigit bibir bawahnya ragu, lalu berucap polos, "Makasih... Nanti Kenzie beliin Tante skincare" katanya, teringat ucapan Zidan tadi pagi yang berjanji akan membelikan Rania skincare.

Rania spontan tertawa kecil. "Emang Kenzie punya uang, Hm?" tanyanya gemas.

Kenzie terdiam sejenak, lalu menengadah menatap daddynya. "Daddy, Kenzie nggak punya uang." adunya polos pada sang ayah.

"Nanti Daddy yang kasih uangnya." jawab Arkan sambil tersenyum tipis.

"Abang juga dikasih uang?" tanya Kenzie tiba-tiba, teringat pada Zidan. "Abang suka makan di rumah Tante Rania nggak bayar. Soalnya nggak punya uang, nenek nggak kasih uang. Abang kerjanya di bengkel."

*Deg!*

Zidan kerja di bengkel?

Arkan langsung menoleh tajam ke arah Nathan, seolah meminta penjelasan detik itu juga.

"Axel nggak pernah kasih laporan apa-apa ke gue, Ar." jawab Nathan langsung paham arti tatapan tajam Arkan.

*‘Apa Mommy nggak pernah kasih uang jajan ke Zidan?’* batin Arkan gelisah setengah mati. Selama ini, Arkan selalu mempercayakan urusan uang saku Zidan dan segala kebutuhan kedua putranya kepada sang mama.

Sementara itu, Rania yang memang sudah tahu kalau Zidan sering bekerja di bengkel memilih bungkam. Ia sama sekali tidak mau terlalu ikut campur urusan dapur rumah tangga orang lain.

...****************...

Di tempat lain, suasana justru jauh dari kata tenang.

Rosa baru saja tiba kembali di Jakarta dan langsung bergegas pulang dengan panik bukan kepalang. Begitu melangkah masuk, ia langsung memberondong pertanyaan. "Gimana?! Wati udah berhasil nemuin Kenzie sebelum Arkan tahu, kan?!"

1
Sri Supriatin
Tks upnya thor 👍👍👍👍
Sri Supriatin
Semangat upnya thor semoga sukses kontraknya🙏🙏🙏
Noona Rara: Makasih kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Buru buru pindah rumah terus tancap gas, untuk gaet ibu sambung Zidan dan Kenzie
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 Kenzie baru sehari semalam.sudah suka sama Rania
Sri Supriatin
Semangat Arkan 💪💪💪😍😍😍
sunaryati jarum
Pas tuh Zidan,kamu sudah kenal
sunaryati jarum
Anak kecil diajak ngomong yang tidak benar
sunaryati jarum
Perkataan Zidan kok kasar dan tidak sopan dengan orang yang lebih tua.
sunaryati jarum
Baru mampir
Noona Rara: Makasih sudah mampir kak
total 1 replies
Sri Supriatin
Top upnya thor tjs 🙏🙏🙏😍😍
Sri Supriatin
Arkan g mau kok ngamuk🤭🤭🤭
Yunita Asep
yess kerren banget.. thorr.. lanjuutt...!!
Yunita Asep
🤭🤭
Yunita Asep
kaya sekar Rania, cepas ceploss
Yunita Asep
lanjutkAn
Yunita Asep
yess dah.. setuju...
Sri Supriatin
Seruuu dong ada Luna pasti kalah lah anak2 pro Rania🤭🤣🤣🤣🤣
Yunita Asep
ngawur Rania 😄😄😄
Sri Supriatin
Hadeuh Arkan aya2 wae 😄😄😄
Yunita Asep
lanjuutt,..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!