Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebohongan Yang Tertunda
Riska terdiam di tempatnya, tangannya mencengkeram amplop cokelat itu erat-erat sampai kuku telunjuknya memutih. Dia tidak menyangka Arka akan menolak mendengarkan tuduhan yang sudah dia siapkan sedemikian rupa.
Selama ini dia mengira Arka hanya terpesona sebentar, dan sedikit keraguan akan cukup untuk merusak kepercayaan itu. Tapi dia salah besar. Kepercayaan yang terjalin di antara mereka jauh lebih kuat dari yang dia duga.
Saat Arka berjalan mendekat ke arah Laras, Riska berbisik pelan namun cukup terdengar oleh siapa pun yang lewat di dekatnya. "Keras kepala sekali kalian. Ingat, tidak ada rencana yang sempurna selamanya. Suatu hari nanti kebenaran akan terungkap, dan saat itu terjadi, jangan kaget kalau kenyataan tidak seindah yang kalian bayangkan."
Arka berhenti melangkah sebentar, tapi dia tidak menoleh ke belakang. Dia tetap berjalan mendekati Laras yang berdiri terpaku di pintu kantin dengan air mata yang mulai menetes di pipinya.
"Kenapa lu menangis? Lu nggak salah apa-apa," ucap Arka lembut saat berdiri tepat di hadapan Laras. Dia mengeluarkan sapu tangan bersih dari saku seragamnya, lalu menyeka air mata di pipi Laras dengan gerakan yang sangat hati-hati.
Laras mengangguk pelan, suaranya bergetar saat berbicara. "Gue nggak sedih karena mereka memfitnah gue. Gue sedih karena mereka berusaha memisahkan kita saat waktu kita bersama sudah sangat sedikit. Gue takut, Ka. Takut sebelum lu pergi, kita justru berpisah karena kesalahpahaman yang dibuat-buat."
Arka tersenyum tipis, lalu meletakkan kedua tangannya di bahu Laras dengan lembut. Dia menatap mata gadis itu dalam-dalam, seakan ingin Laras membaca ketulusan yang ada di hatinya.
"Dengar ya, Laras. Seberapa keras pun mereka berusaha menanamkan keraguan di hati kita, itu tidak akan berarti selama kita saling percaya. Gue tahu siapa lu. Gue tahu kebaikan hati lu, kejujuran lu, dan ketulusan lu. Tidak ada satu kebohongan pun yang bisa mengubah apa yang sudah gue lihat dan rasakan selama ini. Mereka boleh berbicara apa saja, tapi keputusan tetap ada di hati kita masing-masing. Dan hati gue sudah memilih untuk percaya sepenuhnya kepada lu."
Kata-kata itu menenangkan kegelisahan Laras yang sedari tadi menggerogoti hatinya. Dia menarik napas panjang, mencoba mengembalikan ketenangannya. Di belakang mereka, Siska yang baru saja sampai berdiri di samping Riska.
Dia melihat bagaimana Arka membela Laras dengan begitu tegas dan tulus. Hati Siska terasa panas melihatnya. Dia menarik lengan Riska pelan, memberi isyarat untuk pergi dari sana sebelum keributan semakin memburuk. Mereka berdua berjalan pergi dengan wajah masam dan langkah yang tergesa-gesa.
Laras melihat mereka pergi, lalu menatap Arka kembali dengan senyum yang perlahan kembali terukir di bibirnya. "Makasih ya, Ka. Lu selalu tahu kata-kata apa yang gue butuhkan untuk mendengar."
"Itu karena gue selalu jujur kepada lu, sama seperti lu selalu jujur kepada gue. Sekarang ayo kita makan. Lu belum makan dari tadi kan? Gue belikan nasi goreng kesukaan lu, sebelum hujan turun dan kita tidak bisa pulang tepat waktu," ajak Arka sambil tersenyum hangat, lalu mereka berdua berjalan berdampingan menuju meja di sudut kantin, meninggalkan keributan dan ketidaknyamanan itu di belakang punggung mereka.
Makin seru aja nih, baca terus di part selanjutnya..