NovelToon NovelToon
Curriculum Of Death (Rahasia Di Balik Dinding Sekolah)

Curriculum Of Death (Rahasia Di Balik Dinding Sekolah)

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Mata Batin
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Z. F. Werr

Tiga dekade tersimpan rapi, rahasia kelam SMA Bhakti Mulia akhirnya meminta bayaran.

Tepat tengah malam, dentang lonceng kuno ke-13 bergema. Gerbang sekolah terkunci gaib, sinyal ponsel lenyap, dan enam murid—Revan, Anya, Bima, Sasha, Dika, dan Nisa—terjebak di dalam labirin maut berdarah.

Sebuah kotak hitam kuno terkuak, menyisakan enam simbol aneh yang persis dengan tanda lahir mereka, beserta pesan berdarah:

"Selesaikan Kurikulum Maut ini sebelum fajar, atau jadilah bagian dari dinding sekolah untuk selamanya!"

ATURAN BERTAHAN HIDUP:
1. Jangan pernah berpencar.
2. Selesaikan teka-teki sebelum jam pasir habis.
3. Jangan percayai apa yang kamu lihat, entitas bisa meniru wujud temanmu!

Mampukah mereka selamat dari dosa besar tahun 1996?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Z. F. Werr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 - Hari Pertama di Dunia Baru

​Langit pagi dua minggu setelah insiden runtuhnya kompleks SMA Graha Sentosa tampak cerah tanpa awan mendung yang biasanya menggelayut. Udara pagi terasa segar, jauh dari bau belerang, darah, dan formalin yang sempat melekat di paru-paru Revan dan kelima sahabatnya.

​Namun, kedamaian fisik itu tidak serta-merta menghapus trauma di kepala mereka.

​Revan duduk di bangku taman kota yang dikelilingi pohon-pohon trembesi rindang. Ia mengenakan kaos putih polos dengan jaket denim abu-abu, menampakkan leher dan dadanya yang kini benar-benar bersih. Tidak ada lagi ukiran gaib berdenyut, tidak ada lagi rasa panas membakar yang meremukkan tulang setiap kali bulan purnama mendekat.

​Ia memegang segelas es matcha latte dingin di tangan kanannya, menatap kosong ke arah jalan raya yang ramai oleh kendaraan berlalu-lalang. Rasanya seperti mimpi. Dua tahun terakhir hidupnya diabdikan untuk memecahkan teror Kurikulum Maut, kehilangan Kak Yudha, dan bertaruh nyawa di dua sektor sekolah berhantu. Dan sekarang... semuanya mendadak sunyi.

​"Udah diminum dari tadi tapi esnya malah cair duluan," sebuah suara lembut membuyarkan lamunan Revan.

​Anya datang membawa dua kantong kertas berisi roti manis hangat dari toko kue langganan mereka. Gadis itu mengenakan dress floral panjang berwana biru muda, dengan memakai pashmina dengan warna yang senada. Perban di pergelangan tangan kanannya sudah dilepas, digantikan oleh gelang tali rajut sederhana yang ia buat sendiri.

​Anya duduk di sebelah Revan, meletakkan kantong roti di antara mereka, lalu melirik sekilas ke arah gelas matcha Revan yang berembun.

​Revan tersenyum tipis, meneguk sedikit minumannya sebelum menoleh ke arah Anya. "Lagi mikirin kejadian dua minggu lalu. Rasanya aneh banget... kayak kita baru aja bangun dari mimpi buruk yang terlalu panjang."

​Anya mengangguk pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, menikmati hembusan angin pagi yang menerbangkan helaian rambut di wajahnya. "Tapi mimpi buruk itu nyata, Van. Dan yang paling penting... kita berhasil melewatinya. Bersama-sama."

​Anya menoleh, menatap mata hitam Revan lekat-lekat. Ada ketenangan dan kehangatan yang terpancar di sana—sesuatu yang sudah lama tidak mereka rasakan di tengah teror deteksi kematian. Tanpa sadar, tangan Revan terulur, menggenggam jemari Anya yang ada di atas bangku. Kulit mereka bersentuhan dengan lembut, menyalurkan rasa aman yang tak terucap.

​Wajah Anya merona merah tipis. Ia tidak menarik tangannya, justru membalas genggaman itu dengan jemarinya yang sedikit lebih erat. Di tengah dunia yang kembali normal, benih-benih perasaan yang selama ini tertahan oleh rasa takut dan beban kutukan akhirnya mulai mekar secara perlahan.

​"Makasih, Anya," bisik Revan tulus. "Kalau bukan karena kamu dan Kunci Perak itu... mungkin aku udah jadi wadah abadi buat entitas Sektor 00."

​"Kamu juga nyelamatin kita semua, Revan," balas Anya lembut, tersenyum manis hingga membuat debar di dada Revan bergemuruh hebat—bukan karena kutukan, melainkan karena debar cinta yang sesungguhnya.

​Sementara itu, tak jauh dari taman kota...

​Di sebuah kafe kecil di sudut jalan, Bima sedang berdebat sengit dengan Dika di meja pinggir kaca. Di hadapan mereka tersaji tiga mangkuk besar bakso urat pedas dan dua porsi mie ayam pangsit.

​"Sumpah ya, Dik, lo tuh hobi banget bikin dompet gue sekarat!" gerutu Bima sambil menyumpit bakso ukuran jumbo dengan wajah pura-pura kesal. "Katanya mau traktir gue bubur ayam, tapi malah berujung ngajak makan bakso sultan begini!"

​Dika tertawa terbahak-bahak sambil mengelap kuah bakso yang tidak sengaja terciprat ke kacamatanya. "Santai kali, Bim! Ini bentuk apresiasi karena lo udah jadi bodyguard pribadi kita selama di Graha Sentosa. Anggap aja investasi kesehatan otot tangan lo!"

​Nisa, yang duduk di sebelah Dika sambil membaca buku catatan kecil berisi ringkasan dokumen lama yayasan, menggelengkan kepala pelan. "Udah, Bima. Jangan suka ngomel mulu. Nanti cepet tua baru tahu rasa."

​"Eh, Nis, ngomong-ngomong soal dokumen lama, lo masih aja dibaca? Padahal kasusnya udah ditutup resmi sama kepolisian sebagai kebakaran gudang terbengkalai," sela Bima penasaran, menyeruput kuah baksonya.

​Nisa menutup buku catatannya dengan bunyi plak pelan. "Bukan soal kasusnya, Bim. Tapi ada beberapa catatan keuangan Yayasan Induk yang nyebutin kalau dana operasional mereka disalurkan ke beberapa titik yayasan lain di luar wilayah kita. Artinya..." Nisa menjeda kalimatnya, menatap serius ke arah Bima dan Dika. "...Sektor 00 dan 02 mungkin bukan satu-satunya cabang."

​Dika menghentikan sendoknya di udara. Wajahnya yang tadinya santai mendadak berubah tegang. "Maksud lo... masih ada cabang Kurikulum Maut di kota lain?"

​Sebelum Nisa sempat menjawab, pintu kaca kafe berdering nyaring. Sasha masuk dengan langkah tergesa-gesa, mengenakan jaket oversized hijau sage. Wajah gadis indigo itu tampak agak pucat, napasnya sedikit terengah-engah seolah baru saja berlari mengejar sesuatu.

​"Sha! Lo dari mana aja? Kita udah pesenin bakso favorit lo nih," sapa Bima cepat, melambaikan tangan.

​Sasha langsung menarik kursi di samping Nisa, merapatkan jaketnya erat-erat meski cuaca di luar cukup hangat. Matanya beredar ke sekeliling kafe sebelum menatap keempat temannya satu persatu dengan ekspresi yang sulit diartikan.

​"Gue nggak sengaja lewat depan bekas gerbang utama SMA Bhakti Mulia tadi pagi," bisik Sasha pelan, membuat suasana meja mereka mendadak hening.

​"Hah? Ngapain lo ke sana?" tanya Dika keningnya berkerut.

​"Gue tadinya cuma mau beli kue di dekat sana," jawab Sasha, suaranya sedikit bergetar. "Tapi waktu gue lewat di depan plang sekolah itu... indra gue nangkep sesuatu. Segel palka Sektor 02 yang tadinya udah nutup rapat... mendadak retak."

​Nisa langsung menegakkan duduknya. "Retak? Maksudnya gimana?"

​Sasha menggeleng pelan, rasa takut terpancar jelas di manik matanya. "Energinya beda, Nis. Bukan sisa energi R. Hartono atau Kurikulum Maut yang kemarin. Ini... energi baru. Seseorang—atau sesuatu—sedang mencoba membuka kembali gerbang dari dalam."

​Kembali ke taman kota...

​Revan dan Anya yang sedang menikmati waktu tenang mereka mendadak merasakan ponsel di saku celana Revan bergetar hebat. Pesan grup dari Bima masuk dengan huruf kapital semua:

​[URGENT! Kumpul di markas sekarang! Sasha nemuin kejanggalan baru di bekas sekolah lama!]

​Revan membaca pesan itu, lalu menoleh ke arah Anya. Senyum di wajah mereka perlahan memudar, digantikan oleh tatapan siaga yang tajam.

​Masa lalu mungkin telah hancur bersama abu Graha Sentosa, namun bayangan gelap dari lembaran kurikulum itu tampaknya belum benar-benar mau melepaskan mereka.

​Revan berdiri, mengepalkan tangannya pelan, lalu menatap Anya yang sudah siap beranjak dari bangku taman. "Ayo kita susul anak-anak."

​[CATATAN AUTHOR]

Terima kasih sudah membaca Bab 21! Perjalanan Revan, Anya, dan kawan-kawan berlanjut dengan ancaman baru yang mulai tercium di balik sisa reruntuhan. Jangan lupa klik tombol Favorit/Rak Buku, tinggalkan komentar terbaik kalian, dan beri rating bintang 5 ya! Sampai jumpa di Bab 22!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!