Blurb!
Tujuh tahun menikah, tapi belum dikaruniai anak? Siap-siap telinga panas mendengar julidan mertua!
Nisa dan Dimas harus bertahan dari teror Bu Ratna, mertua sosialita gengsian yang menghalalkan segala cara absurd, demi menimang cucu. Mulai dari minum jus delima pencahar, hingga tidur di kasur giok penyiksa raga. Sanggupkah Nisa bertahan dibawah tekanan mertuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 02
_____🌺
"Mama ngomongnya kok kejauhan sampai alam kubur segala sih," keluh Dimas sambil mengoleskan selai stroberi ke atas rotinya dengan kasar.
"Kita ini masih muda, Ma. Umur Dimas baru tiga puluh, Nisa baru dua puluh delapan. Masih banyak waktu."
"Banyak waktu matamu! Mama ini temannya udah pada main sama cucu semua. Tante Yuni tuh, cucunya malah kembar. Tante Hera, menantunya baru melahirkan bulan lalu di rumah sakit Pondok Indah, kamarnya VIP. Lah Mama? Tiap ditanya 'Jeng Ratna kapan nimang cucu?', Mama cuma bisa senyum kecut kayak orang nahan berak. Malu, Dim, malu beneran!"
"Ya udah, besok Dimas pinjem anak panti asuhan aja buat Mama bawa pas arisan, biar Mama nggak malu," celetuk Dimas asal.
Plak!
Sebuah pukulan ringan mendarat di bahu Dimas. Ibu Ratna menatap anaknya dengan sangat kesal. "Kamu ini diajakin ngomong serius malah bercanda terus! Pantas istrimu juga santai-santai aja. Wong suaminya nggak tegas sama sekali."
"Bukannya nggak tegas, Ma. Masalah anak itu kan hak prerogatif Allah. Kita cuma bisa ikhtiar. Udah ke dokter, udah minum vitamin dari luar negeri, olahraga juga udah rajin tiap libur kerja," sahut Nisa membela dirinya.
"Ikhtiar apanya? Olahraga cuma jalan santai di kompleks perumahan sambil jajan bubur ayam depan swalayan kamu bilang olahraga? Olahraga itu yang bener dikit! Senam kegel, yoga, aerobik! Biar panggul kamu itu lentur, gampang buat brojol nanti. Ini badan kamu tepos gitu, gimana mau nampung bayi?"
Nisa memejamkan matanya sejenak. Kesabarannya benar-benar diuji habis-habisan. "Ma, postur tubuh itu nggak nentuin gampang enggaknya melahirkan ..."
"Nggak usah ngajarin Mama deh! Nih ya, menantunya Bu Tejo itu, badannya gede, subur. Sekali hamil langsung dapet anak laki-laki besar. Kamu badannya kecil, kurus, kelihatan kurang gizi. Tiap hari makannya sayur bening, tempe, tahu. Sesekali tuh makan daging merah, ikan salmon, biar sel telurmu itu berbobot dikit."
"Kemarin Nisa masak rendang daging sapi lho, Ma. Mama sendiri yang bilang keras dagingnya," ucap Nisa mengingatkan.
"Ya memang keras! Kamu masaknya kurang lama bumbunya. Bumbu rendangnya juga kurang nendang di lidah. Belinya bumbu jadi di pasar kan? Makanya rasanya beda jauh sama buatan Mama. Orang Padang asli aja menangis bombay kalau makan rendang buatanmu itu."
"Udah, udah." Dimas menengahi sambil menelan minumannya cepat-cepat. "Ini kenapa jadi bahas masakan rendang sih? Tadi bahas anak Pak RW, sekarang nyasar ke rendang. Dimas berangkat kerja dulu aja deh, bisa telat ini kalau dengerin kalian debat."
Dimas buru-buru berdiri dari kursinya, mengambil tas kerjanya di meja samping, lalu menyalami tangan ibunya. "Dimas berangkat ya, Ma. Doain lancar kerjaannya di kantor."
"Kerja yang bener kamu, Dim. Biar bisa bayar program bayi tabung mahal kalau memang istrimu ini nggak bisa hamil normal," ucap Ibu Ratna tanpa rasa bersalah sedikit pun melihat wajah menantunya.
Dimas hanya menghela napas, tak berani membantah lagi karena takut urusannya semakin panjang. Ia lalu beralih menatap Nisa.
Nisa mencium punggung tangan suaminya dengan perasaan berat.
"Mas berangkat dulu ya, Nis. Kamu jangan terlalu dipikirin omongan Mama barusan. Sabar aja ya," bisik Dimas tepat di telinga Nisa.
Nisa hanya mengangguk pelan. "Hati-hati di jalan ya, Mas."
Sepeninggal Dimas, suasana ruang makan menjadi semakin dingin. Ibu Ratna masih duduk di kursinya, menyeruput teh hangatnya dengan gaya elegan, seolah tak peduli dengan perasaan menantunya yang sudah hancur lebur sejak menit pertama sarapan tadi.
Nisa mulai membereskan piring kotor milik Dimas dalam diam. Ia harus segera kembali ke kamarnya, menyelesaikan bab novelnya hari ini yang sedang mengejar tayang.
"Nis," panggil bu Ratna tiba-tiba dari meja makan.
"Iya, Ma?" Nisa menghentikan gerakannya yang sedang menumpuk piring.
"Nanti siang temenin Mama ke klinik dr. Boyke."
"Klinik kandungan? Ngapain, Ma? Kan Nisa udah bilang, hasil periksa bulan lalu Nisa sama Mas Dimas baik-baik aja semuanya."
"Siapa yang mau periksa kamu ke sana? GR banget kamu ini." bu Ratna meletakkan cangkirnya pelan.
"Mama yang mau periksa. Ini perut Mama agak kembung dari kemarin, sekalian Mama mau konsul sama dokternya, ada nggak suntik hormon buat menantu biar cepat hamil. Biar Mama yang bayar mahal nggak apa-apa. Kamu tinggal duduk manis aja nanti di sana disuntik."
Nisa menganga tak percaya mendengar ucapan itu. "Ma, mana ada suntik hormon buat menantu yang pasiennya mertua?"
"Pokoknya temenin Mama! Titik. Nggak pakai koma. Kalau kamu nolak, Mama aduin ke Dimas kalau kamu jadi istri mulai berani ngelawan mertuamu sendiri."
Bu Ratna bangkit dari kursinya, merapikan daster batiknya yang harganya setara dengan gaji manajer itu, lalu melangkah ke ruang tengah tanpa menoleh lagi.
"Jangan lupa piring-piring itu dicuci bersih. Sabun cucinya jangan kebanyakan, boros tahu. Terus lantai dapur pel lagi, tadi Mama lihat ada bekas cipratan minyak goreng semalam. Istri itu harus resik, biar suaminya betah dan gairahnya naik. Kalau rumah kotor, boro-boro mau bikin anak, ngelihat kamu aja suami udah sumpek duluan!" teriak bu Ratna dari kejauhan.
Nisa mematung sambil memegang tumpukan piring kotor di tangannya. Ia menarik napas panjang, sangat panjang, hingga dadanya terasa sedikit sesak.
"Sabar, Nis. Sabar. Ingat, dia ibu dari suami lo. Orang yang ngelahirin Mas Dimas ke dunia ini. Kalau nggak ada dia, lo nggak bakal ketemu cowok sebaik Mas Dimas," batin Nisa menenangkan dirinya sendiri dalam diam.
Ia menatap pantulan wajahnya di kaca jendela ruang makan. Lingkar hitam di bawah matanya terlihat jelas akibat begadang menulis bab novel semalaman. Ia lelah, tapi hidup harus terus berjalan maju.
"Tujuh bulan udah lahiran," gumam Nisa menirukan ucapan mertuanya tadi pagi. Ia tersenyum miris menatap jendela. "Itu mah bukan subur, Ma. Itu mah pesan dulu, bayar belakangan alias nabung duluan."
Nisa menggelengkan kepalanya pelan, lalu membawa tumpukan piring kotor itu ke arah wastafel dapur.
Hari ini baru saja dimulai, dan ia sudah merasa seperti habis lari keliling lapangan sepuluh putaran. Di rumah mewah ini, tak ada hantu yang menakutkan. Yang ada hanyalah sosok wanita paruh baya dengan bibir berlipstik merah yang setiap kata-katanya bisa menembus jantung melebihi peluru tajam.
Namun untuk saat ini, Nisa hanya bisa mengusap perutnya yang datar sambil menyalakan keran air. "Kapan ya kamu hadir di sini, Nak? Bunda udah capek banget dengerin nenekmu ngomel tiap hari."
anda sebenarnya sayang ma Nisa Bu ,, cuma julid ma gengsi ny tu looo gede banget same nutupin rasa sayang yg sbenarny besar tu ,,
jgn sampai km menyesal Bu ,, ayooo baikan ,, jgn2 julid2an lgi ,, 😁😁😁😁😁🤭
semoga cepat2 dapet momongan yx Nisa ,, buat nyumpel mulut mertua mu yg gx da rem ny ,,
ad nilai plus ny nih Bu Ratna ,,
hadeh