Yun Luofeng dikenal sebagai sampah Klan Yun—tak bisa berkultivasi, tergila-gila pada Putra Mahkota, bahkan menjadi bahan tertawaan seluruh Kota Kekaisaran.
Namun setelah sebuah percobaan bunuh diri, Yun Luofeng yang lama telah tiada.
Kini, di dalam tubuhnya hidup seorang genius medis dari dunia lain, membawa Kitab Dewa Medis dan rahasia yang mampu mengguncang Benua Longxiao.
Mereka bilang dia sampah? Dia akan menjadi kultivator yang membuat para genius menundukkan kepala.
Mereka menghina keluarganya? Dia akan membuat mereka membayar.
Dan Putra Mahkota yang membuangnya?
Maaf, bahkan untuk menjadi pelayannya pun belum tentu memenuhi syarat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwinanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 — Genius yang Disembunyikan
“Lalu bagaimana dengan Paman Kedua?”
Pertanyaan Yun Luofeng membuat Yun Luo terdiam. Kemarahan yang sebelumnya memenuhi wajah sang jenderal perlahan berubah menjadi kepahitan.
“Apakah kematiannya berhubungan dengan Jing Lin?” lanjut Yun Luofeng.
“Bukan dia yang mencelakai Qingya secara langsung.” Yun Luo mengepalkan tangan. “Namun ketika Qingya membutuhkan pertolongan, Jing Lin memilih membiarkannya mati.”
Yun Qingya dahulu merupakan genius terbesar Klan Yun. Ketika masih sangat muda, dia sudah mencapai puncak Tingkat Menengah dan hanya selangkah lagi menuju Tingkat Tinggi. Namanya pernah mengguncang seluruh Longyuan.
Sayangnya, bakat sebesar itu juga menarik masalah.
“Suatu hari Qingya mengalahkan seseorang dalam pertarungan. Orang itu tidak terima dan mengirim sejumlah ahli untuk membunuhnya.”
Tubuh Yun Luo bergetar menahan amarah.
“Qingya memang berbakat, tetapi saat itu dia masih terlalu muda. Mana mungkin dia menghadapi begitu banyak ahli sekaligus? Dia bertahan mati-matian dan akhirnya berhasil pulang dalam keadaan berlumuran darah.”
Yun Luo memejamkan mata sejenak.
“Aku pergi ke istana. Aku meminta para tabib kekaisaran menyelamatkannya. Bahkan aku sampai berlutut.”
Sorot mata Yun Luofeng berubah.
Seorang Jenderal Besar yang ditakuti berbagai kerajaan sampai berlutut?
“Jing Lin menghalangi mereka,” lanjut Yun Luo. “Tidak seorang pun diizinkan datang menolong Qingya.”
“Kenapa?”
“Karena hubungannya dengan Klan Mu. Jing Lin adalah guru Mu Wushuang, cucu Perdana Menteri Mu Xingchou.”
Kini semuanya menjadi jelas.
Mu Xingchou adalah orang yang membocorkan informasi militer hingga menyebabkan kematian kedua orang tua Yun Luofeng. Sementara Jing Lin, yang memiliki hubungan dekat dengannya, menolak menyelamatkan Yun Qingya.
Pemilik tubuh sebelumnya tidak mengetahui semua ini. Selama bertahun-tahun, pikirannya hanya dipenuhi Gao Ling hingga hampir tidak pernah memedulikan urusan keluarganya sendiri.
“Bagaimana dengan Kaisar?”
Yun Luofeng menatap kakeknya.
“Ayah dan Ibu gugur untuk kerajaan. Kau juga menghabiskan sebagian besar hidupmu menjaga Longyuan. Ketika Paman Kedua berada di ambang kematian, Kaisar hanya perlu mengeluarkan satu perintah agar tabib kekaisaran menolongnya.”
Yun Luo tidak menjawab.
Namun diamnya sudah memberikan jawaban.
Yun Luofeng tertawa dingin.
“Kalau begitu, untuk apa kau terus berjuang demi Kaisar seperti itu?”
“Feng’er, aku bukan berjuang demi Kaisar.” Yun Luo menggeleng. “Aku menjaga perbatasan demi rakyat Longyuan.”
“Rakyat?”
Yun Luofeng tidak paham.
“Ketika Ayah dan Ibu tewas, selain pasukanmu, siapa yang berdiri bersamamu untuk menuntut keadilan? Ketika Paman Kedua hampir mati, siapa yang datang memohon agar dia diselamatkan?”
Tatapannya tegas.
“Aku berbeda denganmu, Kakek. Aku tidak memiliki hati sebesar itu.”
Yun Luo menatapnya.
“Aku tidak peduli pada dunia jika harga yang harus kubayar adalah keluargaku.” Suara Yun Luofeng tenang, tetapi setiap katanya mengandung ketegasan. “Siapa pun yang menyentuh orang yang kuanggap keluarga, aku akan membalasnya. Bahkan jika untuk itu aku harus melawan seluruh dunia.”
Yun Luo terpaku.
Untuk sesaat, dia seperti baru pertama kali mengenal cucunya.
Gadis yang dahulu hanya tahu mengejar Putra Mahkota kini berdiri di hadapannya dengan keberanian yang bahkan membuat seorang jenderal veteran terdiam.
Lama kemudian, Yun Luo menghela napas.
“Mungkin kau benar. Aku sudah kehilangan terlalu banyak demi Longyuan.”
Dia tersenyum pahit.
“Aku sudah tua, Feng’er. Aku tidak tahu berapa tahun lagi bisa melindungimu. Karena itulah, jika Paman Keduamu dapat pulih, setidaknya setelah aku tidak ada, masih ada seseorang yang berdiri di belakangmu.”
Yun Luofeng mengernyit.
“Paman Kedua?”
Dia menatap Yun Luo tajam.
“Bukankah Paman Kedua sudah meninggal?”
Yun Luo sadar dirinya baru saja mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan.
Setelah beberapa saat, dia menghela napas.
“Qingya masih hidup.”
Mata Yun Luofeng membesar sedikit.
“Dulu kau terlalu kecil untuk mengetahui kebenaran. Setelah Qingya kembali dalam keadaan terluka parah, kami membuat semua orang percaya bahwa dia telah mati. Itu satu-satunya cara untuk menyelamatkannya.”
Kekuatan yang memburu Yun Qingya jauh melampaui Klan Yun. Bahkan setelah kabar kematiannya tersebar, mereka masih mengawasi kediaman selama bertahun-tahun.
“Kalau mereka mengetahui Qingya hidup, mereka akan datang lagi. Kali ini bukan hanya dia yang menjadi sasaran. Seluruh Klan Yun mungkin ikut dihancurkan.”
“Di mana dia sekarang?”
“Di kediaman ini.”
Yun Luofeng langsung berdiri.
“Aku ingin menemuinya.”
---
Yun Luo membawa cucunya melewati lorong rahasia menuju bagian bawah kediaman.
Udara semakin dingin dan lembap. Dinding batu di sepanjang lorong membuat Yun Luofeng mengerutkan kening.
“Paman Kedua tinggal di tempat seperti ini selama sepuluh tahun?”
“Tidak ada pilihan lain,” jawab Yun Luo. “Hanya beberapa orang kepercayaanku yang mengetahui keberadaannya. Makanan dan kebutuhan sehari-harinya selalu dikirim secara diam-diam.”
Mereka berhenti di depan sebuah dinding batu.
Yun Luo menekan mekanisme tersembunyi.
Gemuruh pelan terdengar sebelum pintu terbuka.
Berbeda dengan lorong yang lembap, ruangan di baliknya bersih dan tertata sederhana. Aroma kayu cendana memenuhi udara.
Seorang pria duduk di kursi roda sambil membaca buku.
Ketika pintu terbuka, dia perlahan mengangkat kepala.
Yun Luofeng terdiam sesaat.
Pria itu memiliki wajah tampan dengan pembawaan lembut dan elegan. Meski telah kehilangan kekuatannya dan hidup bertahun-tahun dalam persembunyian, ketenangan dalam dirinya masih sulit diabaikan.
“Feng’er?”
Tatapan Yun Qingya menghangat.
Yun Luofeng mengamatinya beberapa saat, lalu menoleh kepada kakeknya.
“Orang-orang bilang Gao Ling pria paling tampan di Longyuan.”
Yun Luo mengangkat alis, tidak mengerti mengapa cucunya tiba-tiba membahas itu.
Yun Luofeng tersenyum.
“Menurutku mereka semua buta. Dibandingkan Paman Kedua, Gao Ling tidak ada apa-apanya.”
Yun Qingya tertawa kecil.
“Bertahun-tahun tidak bertemu, ternyata gadis kecil kita sudah pandai merayu orang.”
Dia menatap kedua kakinya.
“Sayangnya, Pamanmu sekarang hanya seorang pria cacat.”
Yun Luofeng berjalan mendekat.
Sejak memasuki ruangan, matanya sebenarnya sudah mengamati kondisi Yun Qingya.
Warna kulit, posisi kaki, sirkulasi darah, hingga reaksi tubuhnya.
Pengetahuan medis dari kehidupan sebelumnya memberinya gambaran awal.
“Paman Kedua.”
Yun Qingya menatapnya.
“Jangan terlalu cepat menerima nasib.”
Yun Luofeng berjongkok dan memperhatikan kedua kakinya lebih dekat.
“Karena kau tidak akan duduk di kursi roda ini selamanya.”
Yun Qingya tertegun.
Yun Luo pun menatap cucunya dengan heran.
“Feng’er, apa maksudmu?”
Yun Luofeng berdiri kembali.
“Selama beberapa tahun terakhir, aku diam-diam belajar ilmu pengobatan dari seorang guru.”
Itu tentu saja kebohongan.
Keberadaan Kitab Dewa Medis terlalu berharga untuk dibocorkan, bahkan kepada keluarganya sendiri. Kebetulan Yun Luo berada di perbatasan selama sepuluh tahun, sementara Yun Qingya tidak pernah meninggalkan tempat persembunyiannya. Tidak seorang pun bisa memastikan apa yang sebenarnya dia lakukan selama ini.
“Belajar pengobatan?”
Wajah Yun Luo langsung dipenuhi kegembiraan.
“Bagus! Bagus sekali!”
Yang mengejutkan Yun Luofeng, pikiran pertama kakeknya bukanlah meminta dirinya menyembuhkan Yun Qingya.
“Kalaupun kau tidak dapat berkultivasi, seorang tabib tetap dihormati. Dengan kemampuan medis, setidaknya kelak kau tidak akan mudah ditindas.”
Yun Qingya mengangguk.
“Paman setuju. Tabib yang hebat dapat menjalin hubungan dengan banyak kultivator kuat. Itu akan memberimu perlindungan.”
Kehangatan perlahan memenuhi hati Yun Luofeng.
Kedua pria ini baru saja mengetahui dirinya mempelajari pengobatan, tetapi yang pertama mereka pikirkan tetap masa depannya.
“Paman Kedua,” katanya, “aku belum berani menjanjikan kekuatanmu akan kembali sepenuhnya.”
Yun Luofeng menatap kedua kakinya.
“Tapi membuatmu berdiri lagi seharusnya bukan masalah.”
Yun Qingya tersenyum pahit.
“Feng’er, kakiku sudah lumpuh selama sepuluh tahun. Bahkan aku sendiri tahu hampir tidak ada harapan.”
Dia kemudian tersenyum lembut.
“Tapi kalau kau membutuhkan seseorang untuk melatih kemampuan medismu, gunakan saja tubuh Paman. Tidak banyak lagi yang bisa kulakukan.”
Yun Luofeng menggeleng.
Dia tidak sedang bercanda.
Masalah pada kaki Yun Qingya memang cukup berat, tetapi berdasarkan pengetahuan medisnya, bukan berarti tidak bisa disembuhkan. Persoalan yang jauh lebih sulit justru fondasi kultivasinya yang telah hancur.
Namun kini dia memiliki Kitab Dewa Medis.
Mungkin sesuatu yang mustahil bagi orang lain belum tentu mustahil baginya.
“Aku akan membuat Paman berdiri kembali.”
Suaranya begitu yakin hingga senyum Yun Qingya perlahan menghilang.
Yun Luofeng kemudian memandang ruangan bawah tanah yang dingin itu.
“Tapi sebelum mulai mengobati Paman, ada satu hal yang harus dilakukan.”
“Apa?”
“Keluarkan Paman dari tempat ini.”
Tatapannya menyapu dinding batu yang lembap.
“Lingkungan seperti ini hanya akan memperburuk kondisinya.”
Setelah sepuluh tahun hidup sebagai orang mati, sudah waktunya Yun Qingya melihat cahaya matahari lagi.
......................
Bersambung...