NovelToon NovelToon
Begin Again

Begin Again

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mantan / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

📍Update 🚥 16 : 16 WIB


Duabelas tahun lalu, Elfiana Putri (Elle) dikhianati oleh taruhan konyol cinta pertamanya, William Adinata (Liam). Kini, takdir membawa mereka kembali dalam sebuah pernikahan pura-pura demi sang Papa.
Di antara luka masa lalu yang belum sembuh dan kebenaran yang perlahan terkuak, bisakah Elle menjaga hatinya agar tidak hancur untuk kedua kalinya?


❣️ I write what I want to write. ❣️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10 - Crazy

Kami semua masih terdiam di tempat masing-masing menatap Liam.

Seakan waktu berhenti seperti saat Quicksilver datang.

Kenapa pula Liam harus datang bersama Davin?

“Elle... ini siapa?” tanya Beni.

“Oh... ini...” Aku panik. Aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Aku pacarnya,” ucap Liam.

Kami semua kembali terkejut.

Kenapa Liam seperti itu?

Apa yang sebenarnya dia rencanakan?

“Pacar?” Beni menatapku. “Elle, katanya kamu nggak punya pacar.”

“Beni... itu...” Aku semakin panik.

“Sayang... kamu ngomong gitu?” ucap Liam sambil memasang wajah sedih. “Tega banget kamu. Setelah semuanya aku kasih ke kamu, sekarang aku udah bangkrut, kamu mau cari cowok lain?”

Hah?

Aku hanya terdiam. Aku benar-benar tidak menyangka Liam akan mengatakan hal seperti itu.

Liam kemudian menatap Beni.

“Aku nggak tahu seberapa jauh hubungan kalian. Tapi lebih baik kamu jangan berhubungan lagi sama Elle.”

Aku langsung menatap Liam.

“Dia pasti cuma ngincer uang kamu. Setelah uang kamu habis, dia pasti akan ninggalin kamu,” lanjutnya.

“Liam!” seruku sambil berdiri.

Orang-orang di dalam kafe langsung menoleh ke arahku.

Aku baru menyadari kalau suaraku terlalu keras.

Aku langsung duduk kembali.

“Beni...” panggilku.

“Elle, aku nggak nyangka kamu kayak gitu.” Beni menggelengkan kepala. “Tante aku bilang kamu wanita baik-baik, nggak aneh-aneh. Ternyata kamu tega ninggalin pacar kamu saat dia lagi jatuh.”

“Beni...”

“Aku nggak bisa menjalin hubungan dengan wanita seperti kamu.”

Beni berdiri lalu pergi.

“Beni!” Aku ikut berdiri dan mencoba mengejarnya.

Namun, tanganku tiba-tiba dipegang Liam.

“Udah, nggak usah dikejar.”

Aku menatap Liam tajam lalu melepaskan tanganku dari genggamannya dengan kasar.

“Mon, tolong bayarin minumanku dulu.”

Aku langsung keluar dari kafe.

Begitu sampai di luar, Beni sudah tidak terlihat.

Aku menghela napas kesal.

Aku sebenarnya senang kencan butaku gagal.

Tapi bukan seperti ini.

Bukan dengan cara dituduh sebagai wanita jahat.

Aku membalikkan badan dan menatap ke arah kafe.

Di pintu kafe, Liam sudah berdiri di sana. Davin dan Mona berada beberapa langkah di belakangnya.

Aku mengepalkan kedua tanganku, menahan amarah yang semakin memuncak.

Laki-laki itu benar-benar keterlaluan.

Aku melangkah mendekati mereka.

“Buka mobilnya. Ayo ke apartemenku,” ucapku.

“Ngapain?” tanya Liam.

“Kita ngobrol di sana.”

“Oke. Tapi mereka berdua?”

Aku menatap Davin dan Mona.

Mungkin sekarang sudah seharusnya mereka tahu tentang hubunganku dengan Liam.

“Mereka ikut,” jawabku.

“Baiklah.”

Kami berempat pun masuk ke mobil Liam.

Davin yang menyetir. Liam duduk di samping Davin, sementara aku dan Mona duduk di belakang.

Sepanjang perjalanan, kami berempat hanya diam.

Aku tahu Davin dan Mona pasti mempunyai segudang pertanyaan tentang aku dan Liam.

Begitu sampai di apartemenku, Davin memarkirkan mobil di basement. Setelah itu, kami berempat naik lift.

Di dalam lift pun kami masih diam.

Tidak ada satu pun dari kami yang membuka percakapan.

Ting!

Lift terbuka di lantai unitku.

Aku keluar lebih dulu lalu berjalan menuju unit.

Aku menekan kode sandi pintu.

“Kode sandinya masih ulang tahunku, ternyata,” ucap Liam. “Aku kira kamu akan menggantinya.”

“Belum sempat aku ganti.”

“Belum sempat atau kamu sengaja nggak ganti biar kamu inget terus ulang tahunku?” goda Liam.

“Nggak!”

Aku langsung menatapnya tajam.

“Ngapain aku inget-inget ulang tahun kamu? Nggak penting.”

“Tapi kamu masih inget, tuh. Kemarin.”

Aku mengepalkan kedua tanganku.

Aku benar-benar tidak ingin membahas itu.

“Maaf... sebenarnya hubungan kalian ini apa, ya?” tanya Mona tiba-tiba.

Aku langsung menoleh kepadanya.

“Kita masuk dulu. Nanti aku ceritain.”

“Kamu mau ceritain soal kita ke mereka?” tanya Liam.

“Iya. Biar mereka tahu kelakuanmu.”

Liam terdiam.

Aku lalu membuka pintu lebar.

“Silakan masuk.”

Mereka bertiga masuk lebih dulu.

Aku menyusul dan menutup pintu.

“Duduk... duduk...” ucapku sambil berjalan menuju dapur.

Aku mengambil gelas dan menuangkan air minum. Aku membutuhkan segelas air untuk menenangkan diri.

Setelah minum, aku ke menuju ruang tengah.

Aku berdiri di depan Liam dengan kedua tangan terlipat di dada.

“Maksud kamu tadi apa? Pacar?” tanyaku. “Kapan aku jadi pacar kamu?”

“Kita belum benar-benar putus, lho. Kan dulu aku nggak bilang iya atau oke.”

Aku menatap Liam tak percaya.

“Kita ini cuma pacaran. Bukan suami-istri yang mau cerai dan harus minta persetujuan kedua belah pihak.”

“Tapi buatku, meskipun kita cuma pacaran, kalau kita putus harus ada persetujuan kedua belah pihak.”

Aku mengepalkan kedua tanganku.

“Liam!”

Lalu aku menatap ke atas.

"Ya Tuhan... mengapa Engkau pertemukan hamba dengan laki-laki seperti ini?”

“Mungkin aku adalah laki-laki yang tepat buat kamu.”

Aku langsung menatap Liam dengan tajam.

“Laki-laki yang tepat apanya? Laki-laki yang tepat buat aku nggak percaya lagi sama laki-laki, iya.”

Liam diam.

Aku menarik napas panjang.

“Liam, sebenarnya mau kamu itu apa sih? Kamu mau balas dendam sama aku? Mau nyakitin aku lagi?”

“Nggak. Nggak gitu.”

“Terus kenapa kamu ngelakuin itu tadi?” tanyaku kesal. “Kalau Beni ngomong ke tantenya, terus tantenya ngomong ke orang tuaku, gimana? Aku harus ngomong apa? Astaga... kalau itu sampai terjadi, aku nggak bisa pulang kampung. Pasti citraku akan jelek.”

“Elle... aku nggak bermaksud begitu. Aku cuma...”

“Cuma apa?”

Liam terdiam sejenak.

“Aku nggak mau kamu sama cowok lain.”

Aku langsung terkejut.

“Apa? Kamu apa?”

“Aku nggak mau kamu sama cowok lain.”

Aku semakin tidak percaya mendengarnya.

“Apa hakmu kayak gitu?” tanyaku. “Liam, sekarang kita ini cuma rekan bisnis. Nggak lebih.”

Aku berhenti sejenak, mencoba menahan emosiku.

“Oke, aku berterima kasih sama kamu karena akhirnya kencan butaku gagal. Tapi harus banget kamu ngomong kayak gitu? Astaga...”

Liam diam.

“Hei... Ini maksudnya apa sih?” tanya Mona. “Kalian udah nggak punya hubungan? Kalian dulu pernah pacaran?”

Aku dan Liam diam.

Mona kemudian menatap Davin.

“Sayang, kamu tahu?”

Davin menggeleng.

“Elle... sebenarnya apa yang terjadi? Apa hubungan kalian?” tanya Mona.

Liam menatapku.

Aku menghela napas lalu berjalan menuju jendela dan menatap keluar.

“Dulu... kami pernah pacaran waktu SMA,” ucapku.

“Apa?!” Mona terkejut. “Benar begitu, Pak?”

Aku menoleh menatap Liam.

Liam mengangguk.

Mona menutup mulutnya sebentar. Dia terlihat sangat kaget.

“Aku benar-benar nggak nyangka kalian ternyata punya kisah masa lalu.”

Aku dan Liam hanya diam.

“Terus kenapa kalian putus?” lanjut Mona.

Aku dan Liam saling pandang.

“Kenapa kalian nggak jawab dan malah tatap-tatapan?” tanya Mona.

Aku menarik napas.

“Karena... karena dia jadiin aku bahan taruhan.”

“Apa?!”

Mona dan Davin langsung menatap Liam.

“Pak, Bapak serius melakukan itu sama Elle?” tanya Davin.

Mona terlihat kesal.

“Tega sekali Bapak menjadikan Elle bahan taruhan. Saya kira Bapak itu orangnya baik. Dari cerita Kak Davin, Bapak juga terlihat seperti itu. Tapi ternyata Bapak jahat.” Mona menggelengkan kepala. “Apa sebelum melakukan itu Bapak tidak berpikir terlebih dahulu?”

Liam diam.

“Sayang...” panggil Davin.

“Bapak melakukan itu dengan seorang wanita. Bukankah ibu Bapak juga seorang wanita?” lanjut Mona. “Apa Bapak tidak berpikir sampai situ?”

Aku langsung terkejut.

Kalau Mona membawa-bawa ibunya, Liam pasti sedih.

“Sayang...” panggil Davin lagi.

“Apa sih?” tanya Mona.

Davin mendekat lalu membisikkan sesuatu ke telinga Mona.

Mona terlihat terkejut.

Sepertinya Davin memberi tahu bahwa ibu Liam sudah meninggal.

“Maaf... Saya pergi dulu,” ucap Liam.

Liam pun berjalan keluar dari apartemenku.

“Liam!”

“Pak!” seru Davin. “Aku pergi dulu.”

Davin segera menyusul Liam.

Pintu apartemenku kembali tertutup.

Mona menatapku.

“Elle... Apa Pak William pergi karena ucapanku?”

“Mungkin...” jawabku. “Dia memang sensitif kalau membahas ibunya.”

“Ya ampun... gimana ini, Elle?” Mona terlihat panik. “Kalau gara-gara itu dia batalin proyek Ginsera ke kita gimana?”

Aku terdiam.

Aku bahkan tidak tahu apa yang akan dilakukan Liam setelah ini.

“Berdoa aja semoga nggak.”

Aku menatap pintu yang baru saja dilewati Liam.

Entah kenapa, kali ini aku justru merasa sedikit tidak tenang.

Bukan karena takut proyek Ginsera dibatalkan.

Tapi karena aku tahu, tanpa sengaja, Mona baru saja menyentuh luka Liam yang paling dalam.

1
Srie Wahyuni
nezt thor , like this 👍
사기타
Tidak akan? 😄 lihat aja nanti gimana. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!