NovelToon NovelToon
DUDAKU ANAK DUA

DUDAKU ANAK DUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Duda
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rania mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menerima pinangan Arkan, seorang duda kaya raya berparas rupawan yang berusia 38 tahun. Kehidupan barunya tidak hanya membawanya pada gelimang kemewahan, tetapi juga menuntut Rania untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sambung bagi dua putra Arkan yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang.
Zidan, putra sulung Arkan ternyata bersahabat baik dengan keponakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mau Pacaran Dulu atau Langsung Nikah???

Begitu pintu terbuka, benar saja Arkan berdiri di sana dengan senyum lelah tapi lega.

Kenzie langsung memeluk kakinya. "Daddy dateng!"

Arkan membungkuk, mengusap kepala anaknya dengan sayang. "Daddy nyariin kamu tadi..."

Rania tiba beberapa detik kemudian. "Sakitnya mana?" tanyanya sinis, menyilangkan tangan di dada.

Arkan berdiri tegak, masih membelai kepala Kenzie. "Hilang. Sakitnya ilang lihat dua orang ini yang harusnya ngerawat nggak ada di rumah."

Rania mendengus, "Caper tingkat dewa."

"Caper karena butuh perhatian calon pacar." balas Arkan santai.

Kenzie melongok ke atas menatap Arkan. "Daddy... panggil tante Rania calon pacar?"

Rania langsung menepuk jidat sendiri. "Astaga..."

Arkan malah nyengir lebar. "Iya, calon pacar daddy. Kenapa?"

Kenzie mengangguk seolah sedang menimbang. "Tapi tante suka ngambek."

"Namanya juga cewek, Kenzie." jawab Arkan kalem.

"Tapi tante juga bisa galak." lanjut Kenzie polos.

Rania melotot. "Kenzie!"

Arkan tertawa pelan. "Berarti daddy harus sabar."

Rania menghela napas. "Masuk sana. Sop-nya udah mau dingin."

Arkan tersenyum puas. "Jangan marah terus dong, calon pacar..." bisiknya sambil lewat di depan Rania.

Rania hanya bisa menatap langit-langit rumah sejenak. Demi apa hidupku jadi begini...

Kenzie dengan pedenya menarik tangan sang ayah ke ruang makan. Seolah-olah itu rumahnya sendiri, langkah kecilnya mantap.

Ini rumah siapa, sebenarnya? Kenapa Kenzie malah berlagak seperti tuan rumah?

Sementara itu, Rania hanya bisa mengekor di belakang mereka, sambil geleng-geleng.

Di ruang makan, aroma sop ayam yang menggoda sudah memenuhi udara. Mangkuk sop ayam telah tertata rapi di meja saat Kenzie menarik tangan Arkan masuk dengan semangat.

"Mbok." panggil Rania sambil mendekat. "Kenalin, ini Pak Arkan... Daddynya Kenzie."

Mbok Darmi langsung tersenyum ramah. "Lah, ini to bapaknya Den Kenzie? Wah, pantesan Den Kenzie ganteng, turun dari bapaknya!"

Arkan tertawa kecil, sedikit salah tingkah, lalu mengangguk sopan. "Salam kenal, Mbo. Saya Arkan."

Kenzie sudah duduk kembali dan langsung menunjuk mangkuk sop. "Kita makan bareng ya, Daddy! Mbok Darmi udah masakin."

"Silakan duduk, Pak Arkan." ujar Mbok Darmi sambil menyisakan ruang di meja. "Sop-nya masih hangat."

Rania menatap Arkan sejenak sebelum berkata, "Udah telanjur datang, ya udah duduk aja. Sop-nya keburu dingin."

Arkan pun menarik kursi dan duduk di sebelah Kenzie. Suasana ruang makan yang tadi tenang kini terasa agak canggung...

"Ra, ambilin..." pinta Arkan, setelah melihat Rania dengan sabar mengambilkan makanan untuk Kenzie.

"Ngiri sama Kenzie?" sindir Rania sambil menaikkan sebelah alis.

"Simulasi aja, kalau nanti kita jadi pasutri. Istri nyuapin suami kan indah." goda Arkan tanpa dosa.

Rania langsung mendelik tajam. "Siapa juga yang mau pasutri-an sama calon suami orang? Aku sih ogah, ya."

"Mana ada calon suami orang? Calon suami kamu, boleh sih..."

"Calon pacar apa calon suami?" celetuk Kenzie polos, ikutan nimbrung sambil menyeruput kuah sop.

Rania hampir tersedak, sementara Arkan tertawa puas.

"Diem!" tegur Rania sambil memelototi Arkan yang masih tertawa puas. "Atau jangan harap aku ambilin makan."

Arkan langsung duduk tegak, wajah serius pura-pura takut. "Siap." sahutnya sambil mengangguk patuh.

Rania hanya menggeleng pelan lalu akhirnya berdiri dan mengambilkan sepiring sop untuk Arkan. Kenzie tersenyum-senyum melihat interaksi mereka.

"Tunggu di ruang tengah. Aku beresin ini dulu. Mbok Darmi lagi ke pasar." ucap Rania sambil menggerakkan dagunya ke arah ruangan yang terhubung langsung dengan ruang makan.

"Saya bantuin." sahut Arkan sigap, tanpa pikir panjang.

Dan pada akhirnya, meski sudah dilarang, Arkan tetap mencuci piring. Sementara Kenzie sudah lebih dulu ke ruang tengah dan asyik menonton televisi.

"Marah?" tanya Arkan pelan, melirik Rania yang berdiri di sebelahnya, menunggu pria itu selesai mencuci.

"Enggak. Ngapain marah?" jawab Rania datar, tanpa ekspresi.

"Luna ngomong apa sama kamu?" tanya Arkan to the point. Cukup paham watak Luna tak mungkin perempuan itu bersikap manis melihat Rania di rumahnya.

"Katanya dia calon istri kamu. Pilihan mama kamu." ucap Rania jujur.

"Kamu percaya?" tanya Arkan sambil menyelesaikan cucian terakhir, lalu mengelap tangannya dengan serbet yang Rania siapkan di dekat wastafel.

Rania hanya menggeleng pelan, tanpa suara.

"Terus, kalau kamu nggak percaya, kenapa pergi?"

"Aku males ribut." jawab Rania singkat, mengangkat bahu seolah tak peduli meski sebenarnya kepalanya penuh.

Arkan menatap wajah Rania yang terlihat tenang, meski dari sorot matanya, pria itu tahu ada yang mengganjal.

"Kamu bisa tanya langsung, Ra. Apa pun yang bikin kamu ragu." Suaranya merendah, jauh dari nada menggoda seperti tadi.

Rania menarik napas dalam, lalu bersandar sebentar ke pinggiran meja. "Kamu serius sama aku?" tanyanya akhirnya, pelan tapi jelas.

Arkan tidak langsung menjawab. Ia menatap Rania dalam-dalam, seakan ingin memastikan bahwa wanita itu benar-benar ingin mendengarnya.

"Kamu udah bebas berkeliaran di rumah saya. Masuk kamar saya. Masih bisa nanya begitu?" Arkan menatap Rania, matanya serius. "Kalau saya nggak serius, saya nggak bakal izinin kamu deketin Kenzie. Sadar atau nggak, kamu udah masuk ke hidup kami, Ra."

Rania menghela napas pelan. "Tapi mama kamu pasti...."

"Saya yang hidup sama kamu nanti, bukan mama." potong Arkan lembut. "Wajar kalau kamu masih ragu. Kita balik aja ke rencana awal, kenal lebih dekat. Saya bisa sabar, asal kamu juga kasih kesempatan."

Rania mendongak, menatap Arkan. Sorot matanya mulai melelembut.

"Hm?" Arkan menyeringai tipis, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit, satu tangan meraih pinggang Rania, mendekatkan tubuh mereka. "Mau pacaran dulu... atau langsung nikah?"

Deg.

Jangan ditanya gimana jantung Rania saat itu. Sudah pasti jedag-jedug kacau balau.

Arkan semakin mendekat. Sorot matanya turun menatap bibir Rania, lalu kembali naik ke matanya. Tangan masih di pinggang Rania, menariknya perlahan.

"Boleh cium, Ra..." bisik Arkan, suaranya dalam dan pelan.

Rania hanya bisa mematung, napasnya tertahan. Dia tidak bilang iya, tapi juga tidak menolak. Dan Arkan menganggap itu sebagai lampu hijau.

Namun tepat ketika wajah Arkan tinggal beberapa senti dari wajahnya....

Drrt drrt... Drrt drrt...

Dering ponsel Rania yang ditinggalkan di meja makan membuat keduanya tersentak.

Rania buru-buru melangkah mundur, wajahnya memerah. "Itu... kayaknya telepon penting..." gumamnya gugup.

Arkan menghela napas, lalu terkekeh pelan. "Gagal romantis,m." ucapnya ringan.

Tapi sebelum Rania benar-benar pergi mengambil ponsel, Arkan menariknya sekali lagi, cepat dan mengecup pipi Rania sekilas.

"Biar gak gagal-gagal amat." bisiknya dengan senyum nakal.

Rania mendelik, "Nakal!"

"Tapi kamu gak marah." balas Arkan santai, lalu jalan mendahuluinya ke ruang tengah seolah tak terjadi apa-apa.

Rania masih berdiri di tempat, tangannya menempel di pipinya yang barusan dicium Arkan. Wajah masih merah padam, bukan karena marah tapi karena efek kejutan dan... deg-degan yang belum juga reda.

"Mas Aryo... adekmu dicium duda, Mas..." gumamnya pelan, nyaris seperti bicara pada diri sendiri.

Ia memejamkan mata sebentar, mencoba menenangkan diri. Tapi bayangan wajah Arkan yang mendekat tadi terus berputar di kepalanya. Dan parahnya pipinya yang tadi dicium itu, rasanya masih hangat.

"Haduh, gawat ini..." gumamnya lagi, sambil buru-buru mengambil ponsel yang terus berdering di meja makan.

Melihat nama Tristan muncul di layar ponselnya. "Lah, kakakku yang ganteng?" gumamnya, tersenyum kecil.

Segera ia menggeser ikon hijau dan menyapa,

"Ya... Mas."

"Di mana, Dek?" suara Tristan terdengar hangat dari seberang.

"Di rumah. Baru habis makan. Tumben telepon jam segini?" sahut Rania, berusaha santai.

"Nggak, cuma kangen aja. Sama siapa di rumah? Mbok Darmi mana?"

"Sendiri. Mbok Darmi lagi ke pasar, tuh." jawab Rania ringan, menyembunyikan kebenaran.

"Kasihan adekku. Sabar ya, nanti pindah sama Mas. Bentar lagi Mas udah balik ke Jakarta." kata Tristan menenangkan.

Setelah beberapa percakapan singkat, Tristan menutup telepon lebih dulu. Rania pun menghela napas, lalu berjalan ke ruang tengah bergabung bersama Arkan dan Kenzie.

Sementara itu, di tempat berbeda, Tristan menatap layar ponselnya dengan raut tak terbaca.

Satu pesan dari Mbok Darmi masuk tadi kembali ia baca:

Mbok Darmi: Non Rania di rumah, Pak. Saya ke pasar. Tapi ada Den Kenzie sama Daddy-nya. Kayaknya lagi deket sama Non Rania.

Tristan menghela napas dalam, matanya menyipit perlahan. "Kenapa nggak jujur, Dek? Siapa yang lagi deket sama kamu itu?"

Lalu, kenangan masa lalu perlahan menyelinap.

Tujuh belas tahun lalu...

Tangis Nadia masih terdengar jelas di telinganya.

"Maaf, Mas... Aku nggak tahu siapa ayah dari anakku. Maaf..."

1
Sri Supriatin
Tks upnya thor 👍👍👍👍
Sri Supriatin
Semangat upnya thor semoga sukses kontraknya🙏🙏🙏
Noona Rara: Makasih kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Buru buru pindah rumah terus tancap gas, untuk gaet ibu sambung Zidan dan Kenzie
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 Kenzie baru sehari semalam.sudah suka sama Rania
Sri Supriatin
Semangat Arkan 💪💪💪😍😍😍
sunaryati jarum
Pas tuh Zidan,kamu sudah kenal
sunaryati jarum
Anak kecil diajak ngomong yang tidak benar
sunaryati jarum
Perkataan Zidan kok kasar dan tidak sopan dengan orang yang lebih tua.
sunaryati jarum
Baru mampir
Noona Rara: Makasih sudah mampir kak
total 1 replies
Sri Supriatin
Top upnya thor tjs 🙏🙏🙏😍😍
Sri Supriatin
Arkan g mau kok ngamuk🤭🤭🤭
Yunita Asep
yess kerren banget.. thorr.. lanjuutt...!!
Yunita Asep
🤭🤭
Yunita Asep
kaya sekar Rania, cepas ceploss
Yunita Asep
lanjutkAn
Yunita Asep
yess dah.. setuju...
Sri Supriatin
Seruuu dong ada Luna pasti kalah lah anak2 pro Rania🤭🤣🤣🤣🤣
Yunita Asep
ngawur Rania 😄😄😄
Sri Supriatin
Hadeuh Arkan aya2 wae 😄😄😄
Yunita Asep
lanjuutt,..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!