NovelToon NovelToon
Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: EMPIRE RAJA

**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**

Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.

Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.

Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 rasa galau yang menyelimuti

Keesokan paginya, Reynan sudah terikat di sebuah tiang kayu di tengah tempat latihan, dengan tali tebal yang melilit dada dan kedua lengannya. Matahari baru naik, tetapi para kesatria yang berlatih di sekelilingnya sengaja menjaga jarak dan tidak berani menoleh, sebab di hadapan tiang itu berdiri Erin dengan kedua tangan terlipat dan sorot mata yang jauh lebih tajam daripada bilah pedang mana pun di tempat itu.

"Aku sudah memperingatkan semua orang di rumah ini agar tidak ada yang mengganggu putraku dan menantuku saat mereka menikmati waktu berdua," ucap Erin dengan suara tenang yang justru terdengar mengerikan. "Dan kau, orang yang paling dekat dengan putraku, justru berani mengetuk pintu kamar mereka hanya untuk membawa laporan sepele."

"Nyonya Erin, itu bukan laporan sepele!" Reynan menggeliat di balik ikatannya dengan wajah pucat dan keringat dingin yang mengalir di pelipisnya. "Laporan itu datang langsung dari Kekaisaran Uddine, dan batas waktunya sudah mendesak. Saya hanya menjalankan tugas sebagai ajudan Tuan Duke, saya tidak bermaksud mengganggu siapa pun!"

"Aku tidak peduli." Erin mengibaskan tangannya seolah menepis seekor lalat. "Walau Kekaisaran Uddine hancur sekalipun, aku tetap tidak mau putra dan menantuku diganggu. Mereka baru bisa duduk berdua tanpa saling menghindar, dan kau menghancurkannya hanya demi selembar kertas. Kau boleh merenungkannya di sini sampai besok, baru aku akan melepaskanmu."

Erin berbalik dan melangkah pergi dengan punggung tegak, meninggalkan Reynan yang hanya bisa melongo menatap kepergiannya. Para kesatria yang berlatih buru-buru menunduk dan berpura-pura sibuk mengasah pedang, tak ada satu pun yang berani menawarkan bantuan. Beberapa saat kemudian, Reynan menengadah ke arah jendela ruang kerja di lantai atas dan berteriak sekuat tenaga. "Tuan Duke! Tolong saya, Tuan Duke! Saya tidak bersalah!"

Di balik jendela itu, Altres berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung dan hanya menatap ke bawah dengan wajah kesal, sama sekali tidak bergerak untuk menolong. Entah mengapa, ia sendiri pun merasa murka pada ajudannya itu, padahal ia tahu betul Reynan hanya melakukan tugasnya. Ia mendengus pelan, lalu menarik tirai dengan kasar hingga teriakan Reynan teredam di baliknya, sementara dadanya masih terasa panas oleh kekesalan yang tak jelas arahnya. Namun begitu ia kembali duduk di balik meja kerjanya, kemarahannya perlahan menguap dan berganti dengan pikiran lain yang jauh lebih berat, yang tak bisa ia usir dengan mengayunkan pedang maupun memarahi bawahannya. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu, ia memikirkan Veronica dengan kepala dingin, tanpa gemetar dan tanpa alasan apa pun untuk menghindar. Ia, yang selama ini hidup dengan pedang dan medan perang, ternyata tak pernah sekalipun memikirkan akhir dari sebuah perjanjian yang ia sendiri setujui. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya bila ia sampai tergila-gila pada wanita itu. Suatu hari nanti Veronica akan kembali ke rasnya sebagai naga, dan saat itu tiba, apakah ia sanggup melepaskannya? Atau justru ia akan menjadi pria kejam yang merantai Veronica agar tidak pernah meninggalkannya? Ia teringat kehangatan tubuh Veronica dalam pelukannya kemarin, betapa pas wanita itu mengisi lengannya, dan justru karena itulah bayangan tentang perpisahan terasa semakin mengerikan. Jemarinya mengepal di atas tumpukan dokumen sementara pikiran itu terus berputar di kepalanya, seolah ia sedang memegang konsekuensi yang terlalu besar untuk dipikul seorang diri.

Sementara itu, di ruang kerja di sisi lain rumah, Veronica yang biasanya menyantap camilan buatan dapur dengan lahap kini hanya duduk terdiam menatap tumpukan tagihan di hadapannya. Matanya memang tertuju pada angka-angka itu, tetapi pikirannya sama sekali tidak ada di sana. Yang terus terulang di benaknya adalah kejadian sore kemarin, setiap detiknya, setiap kata yang diucapkan Altres, bahkan hembusan napas pria itu di dekat telinganya. Selama ini ia selalu yakin bahwa tangan seorang kesatria pembantai naga hanya akan digunakan untuk mengayunkan pedang ke tubuh dan lehernya, bukan untuk membelai pipi dan rambutnya dengan begitu lembut. Ia selalu yakin Altres akan menatapnya dengan kebencian yang sama seperti tatapan seluruh kesatria Vanguard dan bicara dingin padanya sampai akhir. Namun pria itu justru berbicara dengan begitu manis dan menatapnya sedemikian lembut hingga ia kehilangan kata-kata, dan sejak saat itu ada sesuatu yang aneh dalam dirinya yang tidak bisa ia jelaskan. Jemarinya tanpa sadar menyentuh pipinya sendiri, tepat di tempat telapak tangan Altres kemarin berada.

Lalu pikiran yang sama dengan Altres pun menghampirinya, pelan-pelan, seperti kabut yang merayap masuk lewat celah jendela. Ia menyandarkan punggung ke kursi dan menatap langit-langit sambil menghela napas. Suatu hari nanti mereka akan berpisah, dan saat itu tiba, apakah mereka akan kembali menjadi orang asing? Bagaimana bila perang pecah antara ras naga dan manusia, dan ia harus berdiri berhadapan dengan Altres untuk saling membunuh? Dadanya terasa sesak membayangkannya, dan pena di tangannya bergetar sedikit hingga meninggalkan noda tinta di tepi kertas, seakan ia tidak yakin sanggup melepaskan pria itu. Lalu ada hal lain yang jauh lebih menyakitkan. Ia sudah hidup lebih dari dua ratus tahun, melewati begitu banyak musim tanpa pernah merasa kehilangan siapa pun, dan akan terus hidup, sedangkan Altres hanya seorang manusia yang suatu saat pasti mati. Apa yang akan ia lakukan saat itu? Relakah ia kehilangan pria itu, dan apa yang tersisa darinya tanpa Altres di sisinya?

Entah berapa lama ia terpaku dalam lamunan itu, sampai akhirnya pintu terbuka pelan dan Emma masuk membawa nampan baru, tetapi langkahnya terhenti saat melihat nampan camilan dan teh yang tadi ia siapkan masih utuh di sudut meja, bahkan uap tehnya sudah lama hilang. Ia mengerutkan kening, lalu mendekat dengan hati-hati sambil mengamati wajah majikannya yang tampak muram. "Nyonya, ada apa? Anda sama sekali tidak menyentuh camilannya. Biasanya piringnya sudah kosong sebelum saya sempat keluar dari ruangan ini."

"Aku hanya sedang tidak nafsu makan," jawab Veronica tanpa mengangkat kepala dari kertas-kertas itu.

"Anda tidak perlu khawatir, Nyonya." Emma meletakkan nampan baru itu dengan senyum menenangkan. "Nyonya Erin sudah menghukum Reynan karena mengganggu waktu Anda berdua dengan Tuan Duke. Dia diikat di tiang tempat latihan sejak pagi dan baru akan dilepas besok."

Veronica akhirnya tersadar dari lamunannya, mendongak, memaksakan senyum tipis, dan melambaikan tangannya dengan wajah datar. "Aku tidak masalah dengan hal itu. Altres pasti punya pekerjaan penting yang harus dilakukan, dan Reynan hanya menjalankan tugasnya."

"Tapi tidak ada yang lebih penting daripada urusan cinta Anda dan Tuan Duke, Nyonya!" Emma sama sekali tidak terlihat yakin dan malah menggenggam kedua tangannya di depan dada dengan mata berbinar, nyaris melompat-lompat kecil di tempatnya berdiri. "Saya benar-benar ingin Anda berdua hidup bahagia bersama. Saya bahkan sudah tidak sabar membantu merawat anak-anak yang akan lahir dari hubungan Anda dan Tuan Duke nanti."

Mendengar itu, bahu Veronica langsung merosot dan wajahnya tampak murung. Ia menunduk menatap pena di tangannya sambil memutarnya pelan, seakan benda kecil itu lebih mudah dihadapi daripada tatapan Emma. "Itu tidak akan pernah terjadi, Emma. Jangan membayangkan hal yang tidak mungkin."

Emma tersentak dan hampir menjatuhkan nampan di tangannya, lalu cepat-cepat meletakkannya di meja. Ia menatap majikannya dengan kaget, lalu bertanya hati-hati, seakan takut menyakiti perasaan wanita itu. Senyum di wajahnya sudah lenyap sepenuhnya. "Maksud Anda... Anda dan Tuan Duke tidak saling menyukai?"

"Aku tidak tahu apa yang ada di pikiranku sendiri," jawab Veronica lirih, lalu menghela napas panjang dan menatap jendela yang menampakkan langit biru cerah di luar sana. "Tapi aku yakin Altres juga sedang memikirkan hal yang sama, bahwa hubungan ini tidak akan pernah bisa bertahan selamanya. Dia hanya seorang manusia biasa, Emma. Dia tidak akan bisa hidup bersama seekor naga yang usianya bisa mencapai ribuan tahun."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!