NovelToon NovelToon
Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:310.1k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6 - Dokter yang Membuatnya Gelisah

Nadira kembali bekerja seperti tidak terjadi apa-apa.

Itu yang paling membuat Bima kagum sekaligus takut. Pagi setelah pindah dari rumah keluarga Wijaya, perempuan itu tetap masuk IGD tepat waktu. Rambutnya diikat rapi, jas dokternya bersih, suaranya stabil saat memberi instruksi pada perawat.

Kalau tidak tahu ceritanya, Bima akan mengira Dokter Nadira hanya dokter dingin yang tidak mudah tersentuh.

Padahal perempuan itu baru saja meninggalkan rumah suaminya sendiri.

"Mas Bima."

Bima tersentak. Ia sedang berdiri di depan nurse station, menunggu obat Arga dari farmasi.

Nadira menatapnya dengan alis sedikit terangkat. "Anda menunggu obat pasien VIP 702?"

"Iya, Dok."

"Farmasi masih validasi resep antibiotik. Tunggu sepuluh menit."

"Baik."

Nadira hendak pergi, tapi Bima refleks memanggil, "Dokter."

Ia berhenti.

Bima menggaruk kepala. "Komandan... maksud saya Mayor Arga, ingin tahu apakah Dokter yang akan visit hari ini."

"Saya bukan DPJP utama lagi. Dokter Rendra yang menangani."

"Tapi Komandan lebih percaya Dokter."

Nadira menatapnya datar. "Kepercayaan pasien tidak mengubah jadwal dokter."

Bima langsung diam.

Nadira berjalan pergi.

Di ruang rawat VIP, Arga mendengar laporan itu dengan wajah tidak senang.

"Dia menolak visit?"

"Bukan menolak. Beliau memang bukan dokter penanggung jawab utama."

"Aku mau dia."

Bima menatap langit-langit. "Kalimat Komandan terdengar sangat tidak medis."

Arga melempar tatapan tajam.

"Maksud saya, sebagai dokter, tentu."

Arga bersandar di bantal. Tubuhnya masih lemah, tapi kepalanya sudah lebih jernih. Semakin jernih, semakin sulit ia menahan bayangan Nadira.

Ia mengingat tangan perempuan itu saat memeriksa tekanan darahnya. Tenang. Terampil. Tidak bergetar walau ia tahu pasien di depannya adalah suami yang baru menyakitinya.

Ia mengingat suaranya ketika berkata, "Saya menggugat cerai karena selama empat tahun saya menjadi istri tanpa suami."

Kalimat itu seperti jarum yang tertinggal di bawah kulit.

"Komandan," kata Bima pelan, "mungkin sebaiknya beri beliau waktu."

"Aku sudah memberi dia empat tahun tanpa sengaja."

"Justru karena itu."

Arga memejamkan mata. Ia benci ketika Bima benar.

Pintu terbuka. Dokter Rendra masuk bersama perawat.

"Pagi, Mayor Arga. Bagaimana nyerinya?"

"Masih."

"Skala satu sampai sepuluh?"

"Tujuh."

Dokter Rendra mengangguk, memeriksa luka, lalu tersenyum. "Penyembuhan bagus. Kalau tidak ada komplikasi, beberapa hari lagi boleh pulang."

"Saya mau konsultasi dengan Dokter Nadira."

Dokter Rendra menoleh ke Bima, lalu kembali pada Arga. "Untuk keluhan apa?"

Arga diam.

Bima cepat berkata, "Komandan merasa lebih nyaman karena Dokter Nadira yang operasi."

"Wajar. Tapi secara medis, semua catatan sudah lengkap." Dokter Rendra tersenyum sopan. "Dokter Nadira sedang bertugas di IGD. Kasusnya banyak."

Arga menatap jendela.

Setelah dokter pergi, Bima meletakkan bubur di meja.

"Makan dulu."

"Aku tidak lapar."

"Kalau tidak makan, Mama Renata datang."

Arga mengambil sendok.

Bima menahan senyum. Ancaman paling efektif untuk komandan pasukan khusus ternyata ibunya sendiri.

Siang itu, Arga memaksa berjalan di koridor dengan alasan latihan ringan. Bima tahu tujuan sebenarnya bukan latihan. Setiap kali melewati lift, mata Arga mencari sosok berjas putih.

"Komandan, IGD di lantai bawah."

"Aku tahu."

"Kalau mau turun, bilang saja."

"Aku sedang latihan."

"Latihan mencari istri?"

Arga berhenti.

Bima pura-pura melihat ponsel. "Maaf. Refleks."

Arga tetap turun.

Di lantai IGD, suasana sibuk. Seorang anak demam tinggi menangis. Seorang pria tua mengeluh sesak. Perawat berlari membawa hasil lab.

Nadira berdiri di ruang tindakan, sedang menjahit luka di lengan seorang pemuda. Ia memakai masker, hanya matanya yang terlihat. Mata itu fokus pada luka, bukan pada orang-orang di sekeliling.

Arga berdiri di balik kaca.

Ia melihat Nadira menenangkan pasien.

"Jangan lihat lukanya kalau takut. Lihat saya saja."

Pemuda itu meringis. "Dok, sakit banget."

"Makanya lain kali kalau naik motor jangan merasa jalanan milik keluarga sendiri."

Perawat Santi tertawa kecil. Pasien yang tegang ikut tersenyum.

Arga tanpa sadar menatap lebih lama.

Nadira tidak hanya dingin. Ia bisa lembut, tapi tidak manis berlebihan. Ia bisa bercanda tanpa kehilangan wibawa. Ia bisa membuat orang merasa aman dengan kalimat pendek.

Dan ia melakukan semua itu bukan untuk menarik perhatian siapa pun.

Perempuan seperti itu pernah tinggal di rumahnya selama empat tahun.

Ia tidak tahu.

Lebih buruk lagi, ia tidak mencoba tahu.

Nadira selesai menjahit. Saat ia keluar, pandangannya langsung bertemu Arga.

Senyum kecil yang tadi ia berikan pada pasien menghilang.

"Mayor Arga." Nadira menatap infus port di tangan Arga. "Anda turun tanpa izin dokter?"

"Aku latihan jalan."

"Latihan jalan tidak dilakukan di IGD."

Bima di belakang Arga langsung menunduk.

Arga berkata, "Aku ingin bicara."

"Saya sedang bekerja."

"Lima menit."

"Pasien saya tidak menunggu lima menit karena urusan pribadi saya."

Arga menahan rahang. "Kamu selalu begini?"

"Profesional?"

"Menghindar."

Nadira menatapnya. "Saya tidak menghindar. Saya memilih prioritas."

Seorang perawat memanggil, "Dok, pasien nyeri dada datang."

Nadira langsung berbalik. "EKG sekarang. Siapkan oksigen."

Arga tidak sempat menahan.

Ia hanya bisa melihat Nadira pergi.

Bima berdiri di sampingnya.

"Komandan baru saja kalah dari pasien nyeri dada."

"Diam."

"Siap."

Malamnya, Arga menerima pesan dari nomor tidak dikenal.

Foto.

Dalam foto itu, Nadira keluar dari rumah sakit bersama seorang pria muda. Pria itu membawa tasnya, wajahnya tampan, tubuhnya tinggi. Nadira tampak lelah tapi tidak menolak saat pria itu membuka pintu mobil untuknya.

Pesan berikutnya masuk.

Istrimu cepat juga cari pengganti.

Arga menatap foto itu lama.

Dadanya yang sedang dijahit terasa panas.

Bima yang sedang makan nasi uduk di sofa melihat wajahnya berubah.

"Ada apa?"

Arga melempar ponsel. Bima menangkapnya, melihat foto, lalu langsung mengerutkan kening.

"Ini..."

"Siapa dia?"

Bima memperbesar foto. "Sepertinya adik Dokter Nadira."

"Kau yakin?"

"Saya pernah lihat dia di rumah keluarga Wijaya waktu mengantar dokumen. Namanya Fadli. Kalau tidak salah adik angkat beliau."

Arga terdiam.

Adik.

Jadi pria yang dulu ia lihat di rumah juga adiknya?

Bima membaca wajah Arga dan langsung paham. "Komandan mengira..."

"Tidak."

"Belum saya bilang apa-apa."

Arga mengambil ponselnya kembali. Ia melihat foto itu sekali lagi. Rasa malu merayap pelan, tapi rasa cemburu masih keras kepala.

"Cari tahu siapa yang kirim."

"Siap."

"Dan cari tahu Fadli tinggal di mana."

Bima berhenti. "Untuk apa?"

"Aku harus minta maaf."

"Kepada Fadli?"

"Kepada Nadira. Tapi mungkin aku harus mulai dari orang-orang yang ikut aku hina dalam kepala."

Bima menatap komandannya lebih lama dari biasanya.

Selama bertahun-tahun, Arga adalah orang yang paling sulit mengakui kesalahan. Di lapangan, ia bisa mengakui perhitungan salah jika menyangkut strategi. Tapi untuk urusan hati, ia selalu berlindung di balik kata tugas, tanggung jawab, dan situasi darurat.

Mendengar Arga menyebut "minta maaf" tanpa dipaksa membuat Bima sadar sesuatu benar-benar berubah.

"Komandan," katanya hati-hati, "minta maaf bukan berarti beliau harus menerima."

Arga menatap foto Nadira lagi. "Aku tahu."

"Dan kalau beliau marah?"

"Dia berhak."

"Kalau Fadli memukul?"

Arga meliriknya. "Kau pikir dia berani?"

Bima mengangkat bahu. "Untuk kakak perempuan, laki-laki biasa bisa mendadak merasa pasukan khusus."

Untuk pertama kalinya malam itu, Arga tidak marah. Ia justru merasa jawaban itu masuk akal.

Bima menatap komandannya, kali ini tanpa bercanda.

"Itu kalimat paling masuk akal yang Komandan ucapkan minggu ini."

Arga menatapnya dingin.

Bima cepat mengambil mangkuk nasi uduknya dan mundur. "Saya makan di luar."

Setelah Bima pergi, Arga membuka lagi foto Nadira. Ia memperhatikan wajah lelah perempuan itu.

Ada lingkar gelap di bawah matanya.

Ia tahu Nadira pasti baru selesai sif panjang. Pria bernama Fadli itu mungkin hanya menjemput kakaknya.

Tapi pesan itu sengaja dikirim untuk memancingnya.

Laras?

Atau orang lain?

Arga menyimpan foto itu, bukan karena ingin menyakiti dirinya sendiri, tapi karena ia perlu mengingat satu hal.

Setiap kesimpulan yang ia ambil tanpa bertanya pernah membuatnya kehilangan Nadira.

Ia tidak boleh mengulanginya.

Namun saat layar ponsel gelap, bayangan Nadira masuk ke mobil pria lain tetap membuat tangannya mengepal.

Ia cemburu.

Dan ia tidak punya hak.

1
Katherina Ajawaila
vania pasti teropsesi dgn kevin 🤑
Katherina Ajawaila
itu dramanya laras sm vania kgn percaya kalian kan aparat jgn terkecok. sm alasan pepesan , 😡
Katherina Ajawaila
dasar janda gatel maksa in kehendak nya ngk mikir, ada istrinya kemana aja rasa malunya 🤑
Katherina Ajawaila
Vania bodok sibuk urusin Rmh tangga org bikin soe jeblosin in aja kn rodeo rencana cekokolin org dgn alkohol 😡
Katherina Ajawaila
unutung ada Arga mh orsinil cuiiiii, dasar laras penjaht kelamin🤑
Katherina Ajawaila
yg fi tolong lupa daratan, di ksh hati minta empela, dasar pelskor main. cak rata aja 😡
Katherina Ajawaila
gampang benar Agra mentang" aparat anggap gampang perempuan. sombong😡
Katherina Ajawaila
laki" edan sana sini. tebar pesona, SMP anak. org bisa panggil PP, keren bae, perempuan yg bukan, istri bisa mau menguasai 🤑
Katherina Ajawaila
awal cerita yg. sangat menarik, yg buat greget yg baca 🤭
Riski Afriansyah
judulnya bab 41 tapi kok isinya bab 51
Jetva
Setuju..
Jetva
MENOLONG BUKAN BERARTI MEMILIKI APALAGI MENIKAHI.....DITOLONG MALAH NGELUNJAK...
Eka
semoga secepatnya kebongkar kalao memang vania dalang semua kejahatan nya,arga semoga zecepatnya bisa bongkar kalau nadira memang cucunya pak aditya👍👍👍
Eka
reza salah lawan kamu akan menyesal ssh mengusik nadira lihat saja vania paati benyar lagi hancur
Eka
lanjut tjor makin seru
Eka
nadira buktikan kamu kuat bikin arga menyesal dan menangis darah,kamu masih panjang masa depan mu semangat nadira
𝒯𝒽𝒾𝒶𝒶
bagus nadira pergi aja , ditinggal 4 tahun itu lama
Hadi Mulyono
kata bahasa terlalu kaku formal banyak argumen ..bukan dgn bahasa sehari hari yg mudah di fahami
Hadi Mulyono
untungnya Arga gak yg cowok main celap celup atau playboy
Hadi Mulyono
nyebelin banget arga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!