"Gue capek jadi badut. Mulai hari ini, lo bebas dari gue."
Selama tiga tahun di SMA Nusantara, semua orang tahu kalau Elsa Nur Cahyani adalah cegil (cewek gila) garis keras yang bucin mati-matian ke Muhammad Firdaus, Ketua OSIS sempurna yang sedingin es. Elsa rela dipermalukan, jadi seksi sibuk OSIS tanpa dibayar, sampai dihukum lari keliling lapangan demi cari perhatian Firdaus. Hasilnya? Nol besar. Firdaus tetap menganggap Elsa gangguan yang tidak punya harga diri.
Titik balik itu datang di hari ulang tahun Firdaus. Setelah kuenya dihancurkan dan cintanya ditolak mentah-mentah di depan satu sekolah, Elsa sadar: dia sudah selesai. Elsa memutuskan pensiun jadi budak cinta. Dia berubah total—menjadi cuek, fokus pada ujian, dan benar-benar menganggap Firdaus tidak ada.
Tapi anehnya, saat Elsa melangkah pergi, justru Firdaus yang mulai kehilangan arah. Cowok yang tadinya antipati itu mendadak sadar kalau dunia tanpa gangguan Elsa ternyata terasa sangat sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pindah Tempat Duduk 03.
Rasa tidak nyaman itu ternyata enggan pergi. Bahkan setelah bel masuk jam pelajaran pertama berbunyi nyaring, sensasi aneh di dada Firdaus justru makin menguat, mirip seperti efek samping kafein yang terlalu pekat.
Di depan kelas, Bu Ratna sedang menjelaskan rumus integral linear.
Jari-jari Firdaus bergerak lincah mencatat di buku tulis. Otaknya yang biasa bekerja seperti komputer, hari ini mendadak lagging.
Setiap kali matanya melirik ke arah jendela corak kotak-kotak yang menghadap langsung ke koridor, bayangan Elsa yang tertawa lepas bersama cowok lain di kantin tadi mendadak berputar ulang.
"Fokus, Daus," bisiknya pada diri sendiri. Dia memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Gak logis. Lo yang mau ini dari dulu."
Sialnya, logika Firdaus sedang kalah telak oleh instingnya yang mendadak hiperaktif.
Sorenya, rapat pleno OSIS berjalan lambat dan melelahkan. Sebagai Ketua OSIS, Firdaus dituntut untuk tetap presisi. Namun, Reno—yang duduk di sebelahnya—bisa membaca gestur tidak tenang sahabatnya itu sejak dua jam lalu. Firdaus terlalu sering mengetuk-ngetukkan pulpennya ke meja.
"Rapat kita sudahi sampai di sini. Sisa revisi proposal silakan dikirim ke e-mail OSIS malam ini," ucap Firdaus menutup forum, suaranya terdengar datar namun tegas.
Satu per satu anggota OSIS keluar dari ruangan. Saat ruangan menyisakan mereka berdua, Reno langsung menyandarkan tubuhnya ke kursi besi sembari menatap Firdaus remeh.
"Muka lo kusut banget, Pak Ketua. Kenapa? Proposal dari seksi humas kurang sreg?" sindir Reno sengaja memancing.
Firdaus merapikan berkas-berkasnya ke dalam map plastik dengan gerakan super rapi. "Gue cuma capek. Kurang tidur."
"Atau lo baru sadar kalau pusat semesta lo udah ganti haluan?" Reno terkekeh, berdiri lalu menepuk pundak Firdaus. "Saran gue, jangan kelamaan bengong. Cowok yang tadi siang duduk di sebelah Elsa di kantin itu namanya Aris, anak kelas sebelah. Dia udah lama naksir Elsa, tapi mundur teratur karena Elsa cuma lihat lo. Sekarang pintu gerbangnya udah kebuka lebar, Daus. Jangan egois kalau lo sendiri yang pasang tanda 'Dilarang Masuk'."
Firdaus tidak merespons sampai Reno benar-benar menghilang di balik pintu. Dia menarik napas dalam-dalam. Dinginnya ruangan AC ini mendadak terasa mencekik.
**
Esok paginya, atmosfer di kelas XII A berubah total sejak pukul enam lewat tiga puluh menit.
Elsa datang lebih awal dari biasanya. Tidak ada lagi langkah kaki yang terburu-buru demi mencegat Firdaus di gerbang sekolah, atau senyum lebar yang dipaksakan ceria padahal matanya sembap. Elsa berjalan dengan tenang, menyandang tas ransel hitamnya yang polos—menggantikan tas jinjing penuh gantungan kunci kelinci yang kemarin-kemarin selalu berisik.
Dia berjalan lurus menuju mejanya di barisan nomor dua dari depan.
Meja strategis yang sengaja dia pilih sejak awal semester agar bisa langsung memandang koridor luar tempat Firdaus sering mondar-mandir mengurus absensi OSIS.
Di sana sudah ada mutiara kecil pelengkap "ritual" paginya: sebuah botol minum berwarna pastel dan buku catatan kecil bermotif bunga.
Elsa menatap meja itu selama beberapa detik tanpa ekspresi.
"Napa lo, Sa? Kok gak duduk?" tanya sapaan dari Sherly, teman sebangkunya yang baru saja meletakkan tas.
Elsa menoleh, memberikan senyuman tipis yang sangat sopan—namun terasa berjarak. "Sher, lo keberatan gak kalau gue pindah bangku?"
Sherly mengernyit heran. "Hah? Pindah ke mana? Ini kan spot terbaik lo buat mandangin pangeran es lo itu?"
"Gak ada pangeran es lagi, Sher. Udah cair jadi air biasa," jawab Elsa santai, nadanya sangat kasual tanpa ada getaran sedih sama sekali. "Gue mau pindah ke belakang. Bangku pojok kanan deket jendela belakang kosong, kan? Si joni kan pindah sekolah minggu lalu."
"Tapi, Sa—"
"Gue mau fokus belajar buat UTBK. Di depan sini terlalu banyak distraksi," potong Elsa halus. Dia langsung membereskan buku dan botol minumnya tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut.
Bagi Elsa, meja depan ini bukan lagi tempat yang menyenangkan. Setiap kali dia duduk di sini, sudut matanya otomatis akan memindai koridor, mencari sosok tinggi tegap berwajah datar yang selalu mengabaikannya. Dan Elsa sudah berjanji pada sisa harga dirinya yang hancur di koridor lantai dua kemarin: tidak akan ada lagi ruang untuk Firdaus di dalam radarnya.
Proses pindahan itu berlangsung cepat. Elsa menyeret kursinya sendiri ke barisan paling belakang, pojok kanan. Tempat yang paling terisolasi, paling jauh dari jangkauan pandangan orang-orang yang lewat di koridor depan.
Saat Elsa mendudukkan dirinya di bangku baru tersebut, dia bersandar pada sandaran kursi dan mengembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, dadanya terasa begitu ringan. Bebas dari ekspektasi. Bebas dari rasa sakit karena penolakan.
Pukul tujuh kurang lima belas menit. Firdaus berjalan menyusuri koridor lantai dua membawa map absensi harian kelas, tugas rutinnya sebagai perwakilan OSIS.
Langkah kakinya, entah disengaja atau tidak, melambat tepat di depan pintu kelas XII A. Matanya secara refleks melirik ke barisan kedua dari depan—tempat yang biasanya langsung menyuguhkan lambaian tangan heboh dari seorang gadis berambut jepit warna-warni.
Kosong. Bangku itu kini hanya diisi oleh Sherly yang sedang bermain ponsel sendirian.
Dahi Firdaus berkerut tipis. Matanya menyisir seisi kelas yang mulai ramai, mencari keberadaan sosok familiar yang mendadak hilang dari koordinat biasanya.
Hingga akhirnya, pandangannya terkunci pada pojok paling belakang kelas.
Di sana, di balik bayang-bayang pilar kelas, Elsa sedang duduk tenang sembari menatap ke luar jendela arah lapangan belakang. Sinar matahari pagi menerpa separuh wajahnya, menonjolkan garis wajahnya yang tegas namun tampak begitu tenang. Dia mengenakan hoodie abu-abu longgar di atas seragamnya, tenggelam dalam dunianya sendiri dengan earphone yang menyumbat kedua telinga.
Elsa benar-benar memindahkan seluruh hidupnya ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh pandangan Firdaus dari koridor.
Firdaus mematung di ambang pintu selama beberapa detik. Map absensi di tangannya mendadak terasa lebih berat. Ada perasaan ganjil yang merayap di benaknya—sebuah kesadaran pahit bahwa gadis itu tidak sedang bermain drama atau pura-pura merajuk untuk menarik perhatiannya.
Elsa beralih dari barisan depan bukan cuma tentang pindah posisi duduk.
Itu adalah pernyataan visual yang jelas: Elsa telah resmi menarik diri dari orbit kehidupan Firdaus. Dia telah membangun benteng yang tinggi, dan kali ini, Firdaus-lah yang berada di luar gerbang, sama sekali tidak memiliki akses untuk masuk lagi.
......................
...****************...
Tbc,