NovelToon NovelToon
Isteri Sah Di Balik Bayangan

Isteri Sah Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

**Isteri Sah di Balik Bayangan**

Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.

Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.

Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama yang Tercatat Lebih Dulu

Pagi itu Aina tiba di Kantor Camat Pujut lebih awal dari biasanya. Gerbang baru saja dibuka oleh "Amaq Sahnan", Sebutan bagi penjaga kantor yang sudah bekerja di sana sejak Aina pertama kali diangkat menjadi PNS.

"Tumben pagi sekali, Bu Aina," sapa lelaki tua itu sambil menyapu dedaunan ketapang di halaman.

"Iya, Amaq. Ada laporan yang harus diselesaikan," jawab Aina, memaksakan senyum.

Itu bukan sepenuhnya bohong. Laporan bulanan memang harus diserahkan hari ini. Tetapi bukan itu yang membuatnya tidak tidur semalaman, lalu berangkat sebelum matahari benar-benar naik.

Ruang pelayanan masih kosong. Kursi-kursi plastik tempat warga menunggu tersusun rapi. Aina duduk di mejanya, menyalakan komputer, dan menunggu layar menyala dengan jantung berdebar seperti hendak menghadapi ujian.

Ia membuka aplikasi data kependudukan. Aplikasi yang sama yang ia gunakan ratusan kali setiap bulan untuk membantu warga. Mencari nama, mencocokkan NIK, memeriksa status, mencetak pengantar. Pekerjaan rutin yang biasanya ia lakukan tanpa berpikir.

Hari ini, jarinya kaku di atas papan ketik.

Ia mengetik pelan: LALU RAKA.

Deretan nama muncul, Ada belasan Lalu Raka di wilayah Lombok Tengah. Aina menggulir pelan, mencocokkan tanggal lahir yang sudah ia hafal di luar kepala. Lima belas Maret tahun yang sama dengan kakak sulungnya.

Beberapa lama mencocokkan nama dengan tanggal lahir, Akhirnya Aina menemukan nama Lalu Raka yang sesuai dengan tanggal lahir yang Aina sudah hafal.

Setelah menemukan data itu, Aina tampak menahan napas, lalu mengeklik nama itu.

Data terbuka. Nama lengkap, NIK, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan: wiraswasta. Agama: Islam. Status perkawinan: kawin.

Aina menggulir ke bawah, ke bagian alamat.

Dusun bunut, Desa Kuta, Kecamatan Pujut.

Bukan Sengkol. Bukan rumah mereka.

Tangannya mulai gemetar. Ia mengeklik tautan kartu keluarga yang terhubung dengan NIK itu. Layar memuat sebentar, lalu menampilkan tabel sederhana yang biasanya ia baca dengan cepat tanpa perasaan apa pun.

Kali ini, setiap baris terasa seperti tamparan.

Kepala keluarga: Lalu Raka.

Istri: Baiq Sekar Ayu.

Anak: Lalu Arsya Pratama. Lahir lima tahun lalu.

Aina membaca nama itu berulang-ulang. Baiq Sekar Ayu, Jadi itu nama wanita berkerudung krem kemarin. Nama yang terdengar anggun, berasal dari keluarga bangsawan Sasak, sama seperti Raka. Nama yang tercetak rapi di samping nama suaminya.

Ia menggulir ke kolom tanggal perkawinan. disitulah dunianya runtuh untuk kedua kalinya.

Tanggal perkawinan Raka dan Sekar tercatat dua belas tahun lalu. Dua tahun sebelum Raka berdiri di berugak rumah orang tuanya di Praya, menggenggam tangan Aina, dan berkata dengan suara bergetar bahwa Aina adalah satu-satunya perempuan yang ia inginkan dalam hidupnya.

Dua tahun sebelum akad nikah mereka.

Aina menutup mulutnya dengan telapak tangan, Seketika ruangan itu terasa berputar.

Selama ini ia mengira dirinya istri yang dikhianati. Istri sah yang diduakan. Ternyata kenyataannya jauh lebih kejam.

Dialah yang datang belakangan, Dialah istri kedua. Dialah yang selama sepuluh tahun hidup di balik bayangan perempuan lain, tanpa pernah tahu bayangan itu ada.

Dengan tangan yang semakin gemetar, Aina mengetik namanya sendiri di kolom pencarian.

Data dirinya muncul. Nama, NIK, pekerjaan: PNS. Status perkawinan: kawin.

Tapi ketika ia membuka kartu keluarganya, yang tampil bukan kartu keluarga bersama Raka. Namanya masih tercantum di kartu keluarga lama milik ayahnya di Praya, sebagai anak ketiga. Hanya statusnya yang diubah menjadi kawin, tanpa nama suami, tanpa alamat baru.

Aina teringat kata-kata Raka bertahun-tahun lalu. Biar Mas saja yang urus, kamu sudah capek kerja.

Ternyata Raka memang mengurusnya. Mengurus agar nama Aina tidak pernah tercatat di sampingnya.

Fotokopi buram kartu keluarga yang selama ini disimpan di map biru itu, entah milik siapa. Mungkin hanya kertas palsu yang sengaja dibuat agar Aina tidak bertanya.

Semua pagar yang Raka bangun selama sepuluh tahun kini terlihat jelas. Larangan ikut acara keluarga besar. Dompet yang selalu disimpan rapi. Proyek di Mandalika yang tidak pernah selesai. Ibu mertua yang selalu menepuk perutnya dengan tatapan iba.

Iba......Aina baru mengerti sekarang. Tatapan itu bukan iba karena ia belum punya anak. Tatapan itu iba karena mereka semua tahu, dan ia tidak.

"Bu Aina? Ibu kenapa?"

Aina tersentak. Rini sudah berdiri di samping mejanya, menatapnya dengan cemas. Entah sejak kapan rekan kerjanya itu datang. Aina buru-buru menekan tombol untuk menutup layar.

"Tidak apa-apa, Rin," jawabnya cepat, menyeka sudut mata. "Kelilipan."

Rini tidak langsung percaya. Ia meletakkan tasnya, lalu menarik kursi ke dekat Aina. "Bu, matanya bengkak begitu. Kemarin Ibu senyum-senyum terus, katanya ada kabar gembira. Sekarang malah…"

"Rin," potong Aina pelan. Suaranya hampir patah. "Nanti ya. Ibu belum sanggup cerita."

Rini menatapnya lama, lalu mengangguk. Ia tidak bertanya lagi, hanya meremas bahu Aina sebentar sebelum kembali ke mejanya. Sikap sederhana itu hampir membuat tangis Aina pecah di sana juga.

Pukul delapan, pintu pelayanan dibuka. Warga mulai berdatangan. Aina memaksa dirinya bekerja. Melayani satu per satu, tersenyum seperlunya, mencetak berkas, membubuhkan paraf. Tangannya bergerak otomatis, tetapi pikirannya berada di tempat lain.

Di Dusun bunut. Di sebuah rumah yang tidak pernah ia kunjungi, tempat suaminya tidur semalam bersama istri pertamanya.

Sesekali tangannya menyentuh perut. Tadi pagi ia sempat mual hebat di kamar mandi. Tubuhnya mengingatkan bahwa ada kehidupan yang harus ia jaga, apa pun yang terjadi pada hatinya.

"Kamu bukan anak dari kebohongan, Nak, bisiknya dalam hati. Kamu anak dari doa Ibu selama sepuluh tahun".

Menjelang pukul sepuluh, antrean mulai berkurang. Aina baru saja meneguk air putih untuk meredakan mual ketika Rini memanggil nomor antrean berikutnya.

"Nomor dua puluh tujuh, silakan ke loket Bu Aina."

Aina meletakkan gelas dan merapikan berkas di mejanya. Ia mendengar langkah kaki mendekat, langkah ringan seorang perempuan, disusul suara anak kecil yang bersenandung riang.

"Inaq, nanti beli es lagi, ya?"

"Iya, Sayang. Tapi diam dulu, Inaq mau urus surat buat daftar sekolahmu."

Suara itu.

Aina mengangkat wajah perlahan, seolah lehernya ditarik oleh tali yang berat.

Di depan loketnya berdiri seorang wanita berkerudung warna salem, cantik dan tenang, dengan tas kulit kecil di bahu. Di sampingnya, seorang bocah laki-laki berbaju kaus bergambar dinosaurus menggenggam ujung baju ibunya.

Bocah yang kemarin diangkat tinggi-tinggi ke udara oleh suami Aina.

Wanita itu tersenyum sopan, tidak menyadari apa pun. Ia membuka tasnya dan menyodorkan selembar map plastik bening ke atas meja.

"Selamat pagi, Bu. Saya mau minta legalisir kartu keluarga untuk pendaftaran TK anak saya."

Aina menunduk menatap map itu. Di balik plastik bening, terbaca jelas tulisan yang baru saja ia lihat di layar komputer setengah jam lalu.

Kepala Keluarga: LALU RAKA.

Wanita itu menunggu dengan sabar, tangannya mengelus kepala anaknya.

"Nama saya Baiq Sekar Ayu Bu," katanya ramah. "Kalau perlu tanda tangan suami, nanti bisa saya minta. Suami saya sedang di rumah hari ini."

1
falea sezi
si aina di jadikan ban serep saat istri. pertama gugat cerai🤣 najis amat bloon
niaww
semngat kak mampir cerita aku juga ya🥰
falea sezi
pake pengacara lah bodoh
falea sezi
🤣🤣🤣 goblok si aina suami berbagi aja dia mau
Emily: kesel ya klo ada istri oon
total 1 replies
falea sezi
cerai aina bloon🤣
falea sezi
cerai aina enak y berbagi batangan satu itu🤣🤣 cari batangan yg gk usah di bagi😒 begooo🤭
falea sezi
aina tololl menye menye
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!