Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31 Nasib Derita Istri pekerja kuli bangunan
Suara tangisan bayi bergema makin nyaring. Anisa dengan cekatan berdiri, merengkuh buah hatinya sambil mengayun-ayunkannya pelan. Meski dadanya terasa nyeri dan kepalanya pusing karena belum makan sejak pagi, Anisa tetap berusaha menyusui bayinya dengan sisa-sisa tenaga yang ada.
Burhan menatap istri dan anaknya dengan dada yang sesak. Di dalam hatinya, ia terus berdoa meratapi nasibnya, memohon pertolongan pada Sang Pencipta.
Saat ketegangan dan keputusasaan mencapai puncaknya, pintu kamar rawat tiba-tiba terbuka kembali. Kali ini yang masuk bukan suster ataupun dokter, melainkan seorang wanita paruh baya berpenampilan bersahaja namun anggun, didampingi oleh seorang pria berjas rapi.
Anisa menatap kedua orang asing itu dengan bingung. "Maaf, Bapak dan Ibu mencari siapa ya? Salah kamar?"
Wanita paruh baya itu menatap Anisa dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu pandangannya beralih ke Burhan yang terbaring lemas di ranjang. Matanya berkaca-kaca saat melihat bayi mungil dalam dekapan Anisa.
"Apakah ini dengan keluarga Adik Burhan?" tanya wanita itu dengan suara lembut dan penuh kehangatan.
"Iya, betul, Bu. Saya Anisa, istrinya Mas Burhan. Ada apa ya, Bu?" tanya Anisa hati-hati.
Pria berjas rapi di sebelah wanita itu melangkah maju. "Perkenalkan, Bu Anisa. Saya Hendra, kuasa hukum dari Bapak H. Gunawan, pemilik utama dari pengembang properti tempat suami Ibu bekerja."
Anisa dan Burhan saling berpandangan. Keduanya langsung merasa cemas. Burhan berpikir pihak pengembang datang untuk menuntutnya atau menolak bertanggung jawab secara resmi.
"Pak... saya mohon maaf kalau kejadian kecelakaan saya kemarin merusak steger proyek..." potong Burhan panik. "Tapi demi Allah, Pak, saya tidak lalai. Besi penyangga itu memang sudah haus dan..."
"Ssst... Sudah, Nak Burhan. Jangan bicara dulu," potong wanita paruh baya itu pelan. Ia mendekati ranjang Burhan dan menepuk bahu Burhan dengan penuh kasih sayang. "Kami ke sini bukan untuk menyalahkan kamu."
Wanita itu lalu berbalik menatap Anisa. "Perkenalkan, nama Saya Ibu Hajah Rahma. Saya istri dari Pak Gunawan. Kami baru saja kembali dari luar kota tadi pagi dan langsung mendengar kabar tentang kecelakaan di lokasi proyek cabang Siak."
Ibu Rahma menghela napas panjang, wajahnya memancarkan rasa penyesalan yang mendalam. "Kami sangat terkejut saat tahu laporan dari oknum manajer lapangan pak selamet " ucap ibu Rahma
Anisa terperanjat mendengarnya. "Jadi... Mas Burhan tidak disalahkan?"
"Sama sekali tidak!" tegas Pak Hendra, sang pengacara. "Berdasarkan investigasi tim independen yang ditunjuk Pak Gunawan, kecelakaan itu murni kegagalan struktur material proyek yang tidak memenuhi standar. Suami Ibu adalah korban dari kelalaian manajemen lapangan."
Ibu Rahma meraih tangan Anisa yang terasa dingin, lalu menggenggamnya erat. "Ibu sangat minta maaf ya, Nak Anisa... Ibu mendengar dari Pak Slamet kalau kamu baru saja melahirkan tiga hari lalu dan harus menanggung semua beban ini sendirian di rumah sakit."
Air mata Anisa kembali menetes, namun kali ini bukan karena penderitaan, melainkan karena rasa haru yang membuncah.
"Ibu... kami bingung harus bayar tagihan rumah sakit dari mana..." bisik Anisa lirih.
Ibu Rahma tersenyum manis, mengusap air mata di pipi Anisa. "Kamu tidak perlu memikirkan biaya apa pun lagi, Nak. Mulai detik ini, seluruh biaya perawatan medis Burhan sampai sembuh total, biaya operasi patah tulang, hingga perawatan pasca melahirkan untuk kamu dan bayimu, semuanya ditanggung penuh oleh perusahaan kami."
Burhan melotot tak percaya. "Benarkah itu, Bu?"
"Benar, Burhan," sahut Pak Hendra. "Bahkan Pak Gunawan sudah menyetujui untuk memberikan uang santunan kecelakaan kerja yang semestinya, plus biaya kompensasi pemulihan selama kamu tidak bisa bekerja. Dana sebesar lima puluh juta rupiah sudah kami siapkan dan akan ditransfer ke rekening Bu Anisa sore ini."
Mendengar hal itu, Burhan menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan menangis sejadi-jadinya. Ia mengucap syukur berkali-kali kepada Allah SWT atas keajaiban yang datang di saat mereka sudah berada di titik nadir keputusasaan. Anisa terduduk di kursi, memeluk bayinya lebih erat, menumpahkan segala duka yang selama ini menghimpit dadanya.
"O ya," tambah Ibu Rahma seraya melihat bayi dalam dekapan Anisa. "Boleh Ibu lihat bayimu?"
"Boleh, Bu... Silakan," kata Anisa pelan.
Ibu Rahma menatap wajah tenang bayi mungil itu dengan tatapan penuh kasih. "Anak yang tangguh. Lahir di tengah ujian besar orang tuanya. Sudah diberi nama, Nak?"
Anisa menatap Burhan, lalu tersenyum tipis. "Belum resmi, Bu. Tapi Mas Burhan bilang, kalau anak kami laki-laki, kami ingin memberi nama 'Sabran'."
"Sabran?" ulang Ibu Rahma.
"Artinya kesabaran," sahut Burhan dari ranjangnya. "Karena hanya kesabaran yang dimiliki istrinya saya untuk bertahan merawat saya dan melahirkan anak kami di tengah semua cobaan ini."
Ibu Rahma mengangguk-angguk terharu. "Nama yang sangat indah. Sabran... Anak yang lahir dari rahim seorang ibu yang luar biasa sabar."
Ibu Rahma kemudian merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop tebal. "Ini ada sedikit rezeki awal dari Saya pribadi untuk membeli perlengkapan bayi, susu, dan kebutuhan Bu Anisa. Nanti sore, dokter spesialis bedah terbaik di rumah sakit ini akan memindahkan Burhan ke kamar perawatan VIP agar bisa beristirahat dengan nyaman."
"Terima kasih banyak, Bu Rahma... Terima kasih banyak, Pak Hendra... Kami tidak tahu bagaimana membalas kebaikan Bapak dan Ibu," ucap Anisa dengan tulus, membungkukkan badannya berkali-kali.
"Tidak perlu membalas apa-apa, Nak Anisa. Ini sudah menjadi kewajiban kami untuk bertanggung jawab. Tuhan sudah menunjukkan jalan-Nya melalui kesabaran kalian," jawab Ibu Rahma hangat.
Kini, ruangan yang tadinya dipenuhi aroma keputusasaan dan duka mendalam berlanjut menjadi hangat dan penuh harapan. Roda kehidupan Anisa dan Burhan yang tadinya berada di paling bawah, perlahan mulai berputar naik. Kesabaran Anisa yang tak terbatas akhirnya membuahkan buah yang manis, membuktikan bahwa setelah kesulitan yang begitu pekat, selalu ada kemudahan dan pertolongan yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka.
Dua perusahaan menanggung semua perobatan Burhan dan uang kompensasi untuk istri dan anaknya