Seratus ribu tahun setelah Perang Senja yang memusnahkan para Dewa Asli dan Iblis Primordial, para "Penguasa Abadi" di Sembilan Langit menjadikan dunia fana sebagai ladang ternak spiritual yang dipanen setiap sepuluh ribu tahun. Lin Xuan, seorang murid yatim piatu dari Sekte Pedang Awan Biru yang dikhianati dan diambil Akar Spiritualnya demi menghidupkan putra mahkota sekte, dibuang ke dasar Jurang Tulang Iblis. Di ambang kematian, darahnya menyalakan Lentera Abu Senja—pusaka terlarang peninggalan Dewa Senja terakhir—yang membentuk kembali tubuhnya dengan Meridian Kembar Dewa-Iblis. Dengan menggenggam pedang di satu tangan dan api senja di tangan lain, Lin Xuan merangkak naik dari dasar jurang untuk menumbangkan sekte-sekte munafik, menyatukan ras Iblis dan Manusia, serta meruntuhkan takhta palsu di Sembilan Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Guncangan di Aula Utama & Ketakutan Gu Changge
Langit senja di atas Puncak Utama Sekte Pedang Awan Biru tampak tenang dan bermandikan cahaya keemasan. Di sepanjang tangga marmer menuju aula utama, ratusan murid luar sedang memasang lentera merah dan panji-panji sutra berlapis emas untuk menyambut perayaan besar sepuluh hari lagi: Upacara Pengangkatan Putra Suci Gu Changge sekaligus pembukaan Turnamen Tujuh Sekte Wilayah Timur.
Namun ketenangan itu pecah seketika ketika seberkas cahaya merah darah melesat jatuh dari langit selatan dan menghantam halaman depan Aula Utama Awan Biru!
BRAAAK!
Sosok gadis bergaun putih yang telah basah oleh keringat dan darah—Liu Ruyan—terguling di atas lantai marmer dengan rambut terurai berantakan dan separuh terpotong, sementara pipinya tergores luka pedang yang masih mengeluarkan darah segar.
"Kakak Senior Ruyan?!" para murid penjaga aula terkejut dan bergegas menghampirinya. "Bukankah Kakak Senior Ruyan pergi ke Kota Kabut Hitam bersama Tetua Ketujuh Wang? Di mana Tetua Wang?!"
"Minggir! Bawa aku menghadap Ketua Sekte dan Kakak Changge sekarang juga!" jerit Liu Ruyan dengan suara serak dan mata yang masih dipenuhi teror luar biasa.
Di dalam Aula Utama Awan Biru, Ketua Sekte Gu Tianheng (kultivator Ranah Inti Emas Awal) sedang duduk di singgasana giok sambil membimbing putranya, Gu Changge, yang sedang memantapkan kekuatan Akar Spiritual Pedang Murni rampasan di dalam tubuhnya. Delapan tetua inti sekte, termasuk Tetua Pertama Han (kultivator Setengah Langkah Inti Emas), turut hadir di dalam aula.
Begitu melihat Liu Ruyan merangkak masuk ke aula dengan wajah sepucat mayat dan tubuh gemetar hebat, Gu Changge mengerutkan keningnya dengan tidak senang.
"Ruyan, ada apa dengan penampilanmu yang memalukan ini?" tanya Gu Changge dingin. "Bukankah kau meminta Tetua Wang menemanimu ke Kota Kabut Hitam untuk menyelidiki siapa yang membunuh pamanmu dan mengambil Batu Inti Petir Langit untukku? Mana Batu Inti Petir itu, dan mana Tetua Wang?"
"Kakak... Kakak Changge! Ketua Sekte!" Liu Ruyan bersujud hingga dahinya menghantam lantai marmer, air mata ketakutan mengalir deras di wajahnya. "Tetua Wang... Tetua Wang sudah mati! Tubuhnya dibelah menjadi dua hanya dalam satu tebasan pedang di Lembah Tebing Guntur!"
PRAAANG!
Cangkir giok di tangan Tetua Pertama Han langsung remuk menjadi bubuk! Seluruh tetua di dalam aula serempak berdiri dari kursi mereka dengan wajah tak percaya.
"Apa kau sudah gila karena ketakutan, Liu Ruyan?!" bentak Tetua Pertama Han dengan suara menggelegar. "Tetua Wang adalah kultivator Ranah Pembangunan Fondasi Tingkat Menengah yang menguasai Teknik Pedang Awan Membelah Gunung! Siapa di sekitar Kota Kabut Hitam yang sanggup membelah tubuhnya dalam satu tebasan?! Dan siapa yang membantai keluarga pamanmu semalam?!"
"Dia... orang yang membantai seluruh kediaman pamanku, yang merampas Batu Inti Petir Langit di pelelangan, dan yang menebas mati Tetua Wang... adalah orang yang sama!" suara Liu Ruyan pecah menjadi isak tangis yang mencekam. "Dia membuka topengnya di depanku... Dia adalah Lin Xuan! Lin Xuan belum mati!"
DUMMM!
Nama "Lin Xuan" itu bagaikan petir di siang bolong yang menyambar tepat ke tengah Aula Utama Awan Biru!
Wajah para tetua yang dua minggu lalu ikut mencabut Akar Spiritual Lin Xuan di Aula Penegak Dharma langsung berubah pucat pasi.
"Mustahil!" Ketua Sekte Gu Tianheng bangkit berdiri dari singgasananya, jubah emasnya berkibar oleh gelombang Qi Ranah Inti Emas yang membuat udara di aula menjadi berat. "Aku sendiri yang mengawasi pencabutan Akar Spiritual Pedang Murninya hingga Dantiannya berlubang! Dan dia dilempar ke dasar Jurang Tulang Iblis yang penuh miasma mematikan! Kalaupun dia selamat karena pil tua bangka Mo Chen itu, dia seharusnya hanyalah manusia cacat tanpa Qi! Bagaimana mungkin dia bisa membunuh Liu Zhen dan Tetua Wang?!"
"Saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri, Ketua Sekte!" jerit Liu Ruyan sambil memegang kepalanya yang gemetar. "Di Lembah Tebing Guntur tadi, dia menelan empat harta karun alam sekaligus dan langsung menembus Ranah Pembangunan Fondasi! Saat dia menerobos, langit sepanjang sepuluh mil berubah gelap gulita dan muncul fenomena langit Naga Emas dan Burung Gagak Hitam! Qi-nya berwarna emas dan hitam, dan satu tebasan pedangnya sepanjang dua puluh tombak langsung membelah tubuh Tetua Wang beserta tebing gunung di belakangnya!"
Tepat saat Liu Ruyan menceritakan hal itu—
DEG! BZZZZT!
Gu Changge tiba-tiba mengerang kesakitan sambil memegangi dadanya sendiri! Di dalam tubuh Gu Changge, Akar Spiritual Pedang Murni yang ia rampas dari tubuh Lin Xuan dua minggu lalu tiba-tiba bergetar hebat penuh ketakutan—seolah seorang budak yang merasakan kembalinya sang raja asli yang jauh lebih mengerikan!
"Ayah..." wajah tampan Gu Changge memucat, keringat dingin menetes dari pelipisnya. "Ruyan tidak berbohong. Akar Pedang di dadaku baru saja bergetar ketakutan saat mendengar namanya! Bocah sialan itu pasti menemukan warisan iblis kuno di dasar Jurang Tulang Iblis!"
"Dan... dan dia sengaja membiarkanku hidup untuk menyampaikan pesan kepada Ketua Sekte dan Kakak Changge," bisik Liu Ruyan dengan bibir gemetar. "Dia berkata... dalam sepuluh hari, saat Upacara Pengangkatan Putra Suci, dia akan naik ke Puncak Awan Biru untuk menjemput gurunya, Tetua Mo Chen, mengambil kembali Akar Spiritualnya dari dada Kakak Changge, dan mencabut nyawa kita semua!"
Hening yang mencekam menyelimuti Aula Utama Awan Biru.
Wajah Gu Tianheng menggelap hingga sehitam dasar kuali. Sebagai seorang kultivator Ranah Inti Emas, ia tidak takut pada kultivator Pembangunan Fondasi mana pun. Namun fakta bahwa seorang pemuda berusia tujuh belas tahun yang telah dicabut akarnya bisa bangkit dari Jurang Tulang Iblis dan menembus Pembangunan Fondasi dengan fenomena langit dalam waktu dua minggu adalah ancaman yang harus dimusnahkan sebelum tumbuh dewasa!
"Bagus, bagus sekali!" suara Gu Tianheng terdengar sedingin es abadi. "Tadinya aku menyesal tidak menghancurkan kepalanya langsung di Aula Penegak Dharma. Tapi karena dia berani mengantarkan nyawanya kembali ke gunung ini, aku sendiri yang akan mengubahnya menjadi abu! Tetua Pertama Han, dengarkan perintahku!"
"Saya siap, Ketua Sekte!" Tetua Pertama Han membungkuk hormat.
"Pertama, tutup rapat berita ini agar tidak merusak reputasi sekte kita menjelang Turnamen Tujuh Sekte! Kedua, aktifkan Formasi Pelindung Awan Biru di seluruh gerbang gunung dan perketat patroli dua kali lipat! Ketiga, tambah penjagaan di Penjara Air Hitam tempat Mo Chen dikurung—gunakan tua bangka buta itu sebagai umpan! Begitu Lin Xuan berani menginjakkan kaki untuk menyelamatkan gurunya, kunci formasi dan bunuh dia di tempat!"
kalo bisa alur ceritax dibuat liku2 jgn baru 100 chapter sudah sampai di alam atas...buat panjang ceritax....