"Jangaaaaan, jangan bunuh aku! "
Ardian berlari kencang di tengah Desa ketika dia melihat sesuatu yang sangat mengerikan mengejar dirinya malam ini, tidak ada yang mendengar suara jeritan pria itu sehingga sosok yang menyerang dia dengan leluasa memberikan serangan.
Kematian secara misterius datang di Desa ini karena mereka semua telah melakukan perbuatan yang sangat buruk di Malam Satu Suro, dendam yang sangat membara karena ketidakadilan yang telah dia terima sehingga membuat para pelaku harus menebus dengan derita yang begitu besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Batu penangkal
"Kau siapa?!" Ardian agak membentak dan dia segera meraba pinggang yang selalu sedia pisau itu.
Sebab kalau berjaga di gudang minyak memang selalu siap senjata karena takut bila nanti ada maling yang mendadak masuk dan mereka jauh lebih kuat, Oleh sebab itu para lelaki ini selalu saja membawa alat-alat atau benda tajam agar mereka bisa selalu siap sedia ketika musuh datang untuk membantai.
"Jangan main-main karena aku tidak memiliki waktu untuk itu!" Ardian sangat kesal karena pikiran dia saat ini sedang kacau sekali.
Kresek.
"Kau bila tertangkap dengan aku maka aku tidak akan pernah memberi ampunan." ancam Ardian sambil berjalan mendekat.
Meski saat ini jarak pandang dia begitu terbatas namun pria itu tetap tidak peduli karena bisa dikatakan Ardian memang memiliki Nyali yang begitu besar, padahal area perkebunan sawit itu cukup gelap dan dia tidak akan pernah bisa melihat dengan jelas bila ternyata yang sedang membuat keributan itu adalah hewan atau pun sesuatu yang sangat menakutkan.
Bayangan itu ketika Ardian mendekat Malah seperti berjalan menjauh seolah dia tidak ingin didekati oleh Ardian, melihat hal itu tentu saja Ardian merasa semakin kesal dan dia mengambil kayu yang ada di sekitar situ untuk senjata, apa saja yang ada di sana bisa dia gunakan untuk senjata.
Wuuussh.
Wuusssh
Buaaaaak.
"Bangsat, jangan terus mempermainkan aku seperti ini." Ardian yang marah langsung menghantam bayangan itu.
Namun kayu yang besar itu justru menghantam batang sawit sehingga langsung hancur berantakan, sementara bayangan tadi semakin mengelilingi sawit yang lain seolah dia memang sangat ingin bermain-main dan membuat Ardian merasa sangat kesal karena tidak berhasil mendekati dia.
"Hihihiiii....
"Wanita, bayangan itu seorang wanita." Ardian kaget setelah mendengar suara tawa.
"Ayo kejar aku, kejar aku seperti kemarin." suara lembut namun menggema masih dapat Ardian dengar.
"Tunjukan wujud kau sekarang!" tantang Ardian.
"Hihihiiii.....
"Bajingan gila, aku tidak punya waktu untuk mengikuti permainan kau ini." Ardian semakin terbuai emosi dan dia segera mengejar bayangan tersebut.
Wuusssh.
Wuusssh.
"Hihihiiii....
"Aku tidak akan takut meski kau melakukan hal seperti itu, Kau pikir aku akan percaya bahwa kau itu adalah Yayuk?" Ardian menyeringai.
"Kau kejam!" teriak suara melengking yang entah berasal dari mana.
Ardian reflek menutup telinga karena dia sama sekali tidak menyangka bahwa suara itu mampu menutup gendang telinga, bahkan Ardian langsung kaget ketika dia merasakan cairan hangat dan keluar dari telinga dia saat ini, dapat dipastikan bahwa itu adalah cairan darah yang keluar ketika dia mendengar suara jerit melengking tadi.
"Hihihiiii...... kau akan sangat menderita karena telah membunuh aku seperti ini." suara Yayuk terdengar di antara pepohonan sawit itu.
"Bajingan, aku tidak takut karena kau itu sama sekali tidak nyata." Ardian tetap menantang.
Jreeeeeeng.
Ardian melotot kaget karena kali ini dia melihat langsung Bagaimana wujud wanita yang sejak tadi terus mengejek dia, ternyata omongan dari beberapa teman yang sudah melihat sendiri itu benar semua dan kini dia melihat sendiri Bagaimana wujud Yayuk yang sangat mengerikan itu, tatapan mata yang begitu kosong dan juga tubuh memakai baju compang-camping sehingga arwah itu terlihat sangat menyedihkan sekali untuk di pandang mata.
''Ini aku.'' Yayuk muncul dengan sorot mata begitu kosong.
''Pergi, kau sudah mati dan tidak akan pernah bisa membalas kepada diriku." Ardian mundur sembari memegang kalung yang ada di leher.
"Aku memang sudah mati namun aku tidak akan mati sendirian, kau akan bertanggung jawab atas apa yang sudah kau lakukan terhadap diriku!'' geram arwah Yayuk.
''Musnah kau wanita gila!'' teriak Ardian yang memegang erat batu liontin.
Blaaaaap.
Tubuh Yayuk yang sebelumnya terlihat begitu nyata kini mendadak saja hilang berubah menjadi asap dalam kegelapan, Ardian menarik nafas lega karena dengan batu ini maka dia bisa selamat dan tidak akan dihantui oleh arwah gadis yang sudah dia perkosa dan bunuh itu.
"Kau bisa menghantui semua orang namun kau tidak bisa menghantui aku.'' Ardian berkata dengan penuh percaya diri.
"Saat kau masih hidup saja bisa berhasil mati di tangan ini, maka saat menjadi arwah kau pun tidak akan pernah luput dari genggamanku sekarang." Ardian berkata dengan penuh percaya diri.
Tidak ada yang mengetahui bahwa sebenarnya Ardian sudah memiliki batu liontin itu sejak lama, Ibu dari Pak Kades itu sendiri adalah orang yang memiliki kemampuan untuk melihat segala sesuatu yang bersangkutan dengan dunia iblis, sehingga ketika Pembunuhan itu terjadi maka Adian langsung menemui sang nenek untuk meminta benda berharga itu untuk melindungi diri sendiri.
"Kau sedang berbicara kepada siapa?" Amri dan yang lain segera datang menghampiri ketika mendengar suara Ardian berteriak sejak tadi.
"Ah tidak, aku hanya mengusir babi hutan yang sedang datang untuk merusak sawit." dusta Ardian sambil tersenyum.
"Dari tadi kami mendengar kau terus saja berteriak seolah ada sesuatu di sini." Iwan menatap sekeliling untuk memastikan.
"Ini sepertinya sudah musim hama lagi sehingga banyak babi yang datang untuk merusak sawit yang masih rendah." Ardian Berkata sambil berjalan menuju gudang mereka.
Jamal menoleh kanan kiri untuk memastikan terlebih dahulu bahwa tadi memang babi yang sedang diusir oleh Ardian, Entah mengapa perasaan dia semakin tidak enak saja dan menganggap Kalau itu bukan babi tapi sesuatu yang lain dan kemungkinan besar Ardian sengaja menutupi hal tersebut.
"Bau bangkai ini apa ada hewan yang mati di sekitar sini ya?" Amri mencium aroma yang sangat tidak sedap.
"Iya, tadi aku tidak mencium aroma ini dan baru sekarang." Iwan juga menyadari hal itu.
"Itu karena mulut kalian terlalu dekat dengan hidung sehingga bau busuk sangat terasa." Ardian tetap tidak peduli dan segera masuk ke dalam gudang.
"Kok aku merasa Ardian ini semakin hari Malah semakin keras saja." Jamal mulai lelah dengan sikap Ardian.
"Ya mau bagaimana lagi karena kita juga kerja dengan dia sehingga harus tahan bagaimanapun sikap Ardian." Amri hanya bisa pasrah karena memang mereka bekerja dengan pemuda itu.
"Aku merasa dia semakin mudah emosi setelah kejadian Yayuk kemarin." ujar Iwan.
"Sudah lah, jangan kau bahas terus soal Yayuk itu karena nanti justru akan mengundang emosi dia semakin tinggi saja." Amri terlihat juga tidak ingin membahas tentang hal itu.
Iwan Hanya bisa menarik nafas panjang karena sebenarnya dia ingin banyak berbicara tentang masalah Yayuk, tapi mau bagaimana lagi karena Ardian terlihat sangat tidak suka dan dia hanya bisa pasrah menunggu Kapan momen yang tepat untuk membicarakan masalah tersebut.
Selamat pagi, jangan lupa like dan komentar nya ya untuk cerita author Novita jungkook ini.
yg penting Ada purnama the gang
semangat💪👍
tapi apa iya Yayuk sudah ga perawan ya...