"Kamu sudah menganggap anak kita adalah sebuah kutukan, maka suatu hari nanti dia akan benar benar menjadi sebuah kutukan untuk keluarga kamu mas!"
Itu adalah kata kata terkahir Riyanti yang bisa di dengar oleh suaminya Raditya ketika di tepi jurang.
Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa bisa seseorang bisa menjadi terkutuk?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba-tiba lemas
"Matilah! karena nyawamu bahkan tidak sebanding dengan mobil milikku!" bentak Raditya pelan sambil menekan ubun ubun supir itu hingga matanya melotot dan tak lama kemudian dia menjadi lemas dengan mata yang berubah menjadi putih semua.
"Hhkkkk...."
"Dengan begini rasa kesal ku akan hilang sedikit" umpat Raditya mengambil handuk di mulut si supir dan melemparkannya ke bawah jok.
"Merepotkan saja, aku jadi tidak bisa menyuapi Kanaya makanan sisa di mulutku" kesal Raditya
Kanaya mematung, dia shok dengan apa yang dia dengar bahkan saat itu dia ada di belakang Raditya dan bisa saja ketahuan, tapi sebuah tangan menariknya dan membawanya kembali ke dalam warung.
"Ka.. kamu.." kaget Kanaya
"Jangan lengah, dia bukan manusia sepenuhnya, ingat itu" ucap lelaki yang membawa Kanaya.
"Kak Gerhana, makan" panggil Shaquilla membuat Gerhana terkekeh karena Shaquilla sudah menghabiskan tiga piring nasi.
"Iya, kakak mau beli makanan juga untuk makan siang" jawab Gerhana lalu duduk bersama Shaquilla.
Kanaya melihat ke arah Raditya, Raditya masih di sana berpura pura membantu warga mengeluarkan jasad supir itu, bahkan Kanaya merasa heran kenapa orang orang di sana tidak bisa menyadari apa yang sudah di lakukan oleh Raditya.
"Kanaya cepat makan, aku mau pesan juga untuk kak Sultan, dia pasti belum makan kalau tidak ada aku padahal aku sudah habis dua piring" panggil Shaquilla
"Pacarnya ya kang?" tanya pemilik warung karena Gerhana terus tertawa melihat Shaquilla makan.
"Adik saya Bu, ini adik angkat saya" jawab Gerhana mengambil sebutir nasi yang menempel di pipi Shaquilla.
"Jangan goda Qilla kak, Qilla ini setia dan Qilla tidak terima pacar baru" ucap Shaquilla begitu percaya diri.
"Iya, kakak hanya membersihkan pipi kamu tadi, GeEr sekali anak pak Thariq ini, coba saja Meir ada di sini dia pasti akan meledek kamu terus terusan" jawab Gerhana lalu kembali menatap Kanaya.
"Kanaya, duduk, kalau kamu terlihat gugup seperti itu, dia akan curiga" ucap Gerhana
"I.. iya kak" jawab Kanaya
"Kamu tahu kenapa mobil orang itu tertabrak sampai hancur?" bisik Gerhana dan Kanaya menggelengkan kepalanya.
"Itu karena tanganmu, tangan kamu menyentuh gagang pintu mobil ayahmu jadi mobil itu kena sial" bisik Gerhana membuat Kanaya menyembunyikan tangannya.
"Itu tidak berpengaruh pada kami tapi pada orang yang sudah mengutuk kamu, pada mereka saja" bisik Gerhana lagi yang sekarang bisa melihat kulit Kanaya yang begitu bersih.
Grep.
Gerhana masih mengagumi wajah Kanaya ketika sebuah tangan tiba tiba saja mencengkram kerah bajunya dan meminta Gerhana untuk berdiri bahkan mendorong Gerhana.
"Siapa kamu!" bentak Raditya melotot.
"Om.. jangan sakiti kakak saya Om" ucap Shaquilla ketika Raditya akan memukul Gerhana.
"Kakak kamu?" tanya Raditya menatap tajam Gerhana bahkan sosok Hala yang keluar untuk melindungi Gerhana.
"Iya Om, itu kakak saya, kebetulan dia tinggal di pesantren karena sedang mengurus proyek pembangunan rumah sakit" jawab Shaquilla
"Pesantren?" tanya Raditya dan Shaquilla mengangguk.
"Pantas saja dia berbau menyengat" sinis Raditya mengambil handphone miliknya dan menghubungi seseorang.
Raditya menghubungi salah satu karyawannya untuk menjemput Raditya, dia tidak mau berlama-lama berada di sana karena dia tidak nyaman di tatap tajam oleh Hala yang sengaja membuat Raditya kepanasan.
"Jangan campuri urusanku!"
"Selama kamu tidak menggangu cucuku maka aku tidak akan ikut campur"
"Cih.. jin pelindung seperti kamu hanya jin rendahan!"
"Aku yang rendah ini bahkan seorang raja di tempatku, kamu siapa?" ejek Hala hampir membuat Gerhana tertawa karena dia bisa mendengar perang batin antara Raditya dan Hala.
"Sial! akan aku balas dia nanti" gumam Raditya kembali duduk dan menatap Kanaya supaya hatinya kembali tenang.
"Minum Om" ucap Kanaya menyodorkan air minum untuk Raditya.
"Terima kasih cantik" ungkap Raditya tersenyum.
"Bodoh" gumam Hala karena dengan meminum air itu, sosok yang mendiami tubuh Raditya akan melemah.
"Pesanan kakak sudah jadi, kakak pulang dulu ya, jaga diri baik-baik dan kalau ada apa apa hubungi kakak" ucap Gerhana memberikan nomornya pada Kanaya.
"Ashiap kakak" jawab Shaquilla
"Saya pamit pak Raditya, Kanaya" pamit Gerhana mengangguk sopan dan keduanya mengangguk juga.
Tak lama setelah Gerhana pergi, Raditya merasakan pusing di kepalanya dan berkeringat dingin, itu adalah karena air dari Kanaya tapi Raditya menuduh Hala yang melakukan itu karena kebetulan yang dia rasakan saat itu adalah energi Hala yang sama kuatnya dengan dirinya.
"Om, Om baik baik saja?" tanya Kanaya
"Tidak apa apa, kita pulang saja langsung karena sepertinya saya kelelahan karena membantu warga" jawab Raditya dan keduanya mengangguk patuh.
"Apa tidak apa apa Om? Kami bahkan belum satu hari bekerja di pabrik" tanya Shaquilla
"Tidak apa apa Qilla, saya juga tidak bisa membiarkan kalian pulang berdua saja dengan teman laki laki kalian itu, kalian akan pulang dan berangkat dengan Om" jawab Raditya membuat Kanaya heran karena ucapan Raditya terdengar begitu posesif.
Mereka pulang setelah mobil jemputan datang, saat sampai di rumah Raditya juga Eva terlihat khawatir dan segera memberikan air berwarna hitam pada Raditya yang langsung membuat Raditya tertidur.
"Apa yang terjadi?" tanya Eva dan Kanaya menjelaskan apa yang terjadi tadi ketika mereka sedang makan siang, bahkan Kanaya juga menceritakan tentang Raditya yang membantu warga mengeluarkan supir truk itu.
"Apa mungkin Raditya terluka juga?" tanya Hilda khawatir.
"Tidak ma, kan mas Raditya sama sekali tidak keluar warung makan, mobilnya di tabrak pas mas Raditya sedang makan" jawab Eva.
"Lalu kenapa Raditya terlihat lemah begini" gumam Hilda.
"Kalian istirahat saja, kamar kalian yang ada di dekat dapur" ucap Eva
"Baik Tante" jawab keduanya membiarkan Eva mengurus Raditya.
Kanaya membawa Shaquilla untuk melihat kamar mereka, ternyata kamar mereka cukup luas juga dan punya kasur yang cukup empuk, tapi Kanaya khawatir bagaimana cara mereka melaksanakan shalat di tempat itu karena Eva melarang mereka untuk beribadah bahkan memeriksa tas mereka dengan alasan keamanan.
"Kita shalatnya gimana?" bisik Shaquilla
"Aku juga bingung, apa kita ijin keluar saja untuk shalat?"
"Terus pas Ashar, Magrib, isya, subuh?" tanya Shaquilla membuat Kanaya memelas.
"Shalat di sajadah yang di simpan Kiai Adrian di tas kamu, sajadah itu tidak akan bisa di lihat oleh mereka, alat shalat kalian juga" ucap Sanca
"Kita shalat saja di sini tapi jangan bilang kalau kita shalat ya" bisik Kanaya dan Shaquilla setuju.
"Hiks... "
"Kenapa lagi?" keluh Kanaya.
"Makanan kak Sultan belum aku kasih, dia nggak akan makan kalau belum lihat aku makan" jawab Shaquilla merengek.
"Ya Allah bucin dua ini" keluh Kanaya