Aurelia baru saja akan menikmati masa mudanya sebagai gadis single yang bebas, sampai sebuah kecelakaan menyeret jiwanya ke tubuh Nadia Atmaja. Saat terbangun di ranjang rumah sakit, hal pertama yang ia rasakan bukanlah sakit kepala, melainkan beban berat di bagian perutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30
***
Mansion Hadiwinata telah kembali ke dalam kesunyian yang mencekam. Di dalam kamar utama yang temaram, Raditya masih memeluk Nadia, memastikan napas istrinya benar-benar stabil dan dalam. Setelah yakin Nadia telah terlelap jauh ke dalam alam mimpinya terbius oleh kelelahan fisik dan emosional Raditya perlahan melepaskan dekapannya.
Ia bangkit dari ranjang tanpa suara sedikit pun, seperti bayangan yang bergerak di tengah malam. Ia tidak langsung pergi. Ia berdiri sejenak di sisi ranjang, menatap wajah Nadia yang tampak rapuh dalam tidurnya. Amarah yang tadi sempat diredam oleh gairah, kini kembali membakar dadanya, namun kali ini suhunya jauh lebih dingin dan mematikan.
Raditya melangkah ke ruang ganti. Ia menanggalkan piyamanya dan mengenakan pakaian serba hitam kaos taktis, celana kargo, dan jaket kulit hitam yang membalut tubuh tegapnya. Sebelum keluar, ia melirik tangannya yang memar. Ia tidak mengobatinya. Luka itu adalah pengingat bahwa ada bajingan yang berani menyentuh miliknya.
**
Tiga puluh menit kemudian, mobil SUV hitam yang dikendarai Raditya sendiri berhenti di depan sebuah gudang tua di pinggiran industri yang terisolasi. Aldi sudah menunggu di sana dengan wajah tegang. Ia tahu, jika Raditya datang dengan pakaian seperti itu, artinya tidak ada ruang untuk negosiasi atau protokol hukum.
"Di mana mereka?" tanya Raditya singkat. Suaranya serak, rendah, dan penuh ancaman.
"Di ruang bawah tanah, Pak. Sesuai perintah Anda, mereka masih bernapas, meskipun saya ragu mereka menginginkannya sekarang," jawab Aldi sambil membukakan pintu besi yang berderit.
Raditya melangkah masuk. Ruangan itu kedap suara, berbau amis darah, keringat, dan ketakutan yang pekat. Di tengah ruangan, lima pria yang tadi menyerang Nadia terikat di kursi besi yang dipaku ke lantai. Pimpinan mereka, pria dengan tato besar di lengannya, tampak paling mengenaskan namun matanya masih terbuka.
Raditya menarik sebuah kursi kayu, duduk tepat di hadapan pria bertato itu. Ia mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya, dan menyesapnya dalam-dalam. Asap putih mengepul di bawah lampu gantung yang berayun pelan.
"K-ampun... Pak... tolong bunuh kami saja..." rintih salah satu preman dengan suara yang nyaris hilang karena rahangnya yang sudah hancur dihajar Aldi sebelumnya.
Raditya tidak menjawab. Ia hanya terus menyesap rokoknya, menatap mereka dengan kegelapan murni di matanya. Setelah puntung rokok itu memendek, Raditya berdiri. Ia melepaskan jaket kulitnya, menyisakan kaos hitam yang menonjolkan otot lengannya yang berurat.
"Kalian tahu..." Raditya mulai berbicara, suaranya begitu tenang hingga terdengar mengerikan. "...istri saya sedang hamil enam bulan. Dia adalah wanita paling tulus yang pernah saya temui. Dan kalian..."
Bugh!
Tanpa aba-aba, Raditya menghantam wajah pimpinan preman itu dengan tinju mentahnya. Bunyi tulang hidung yang patah bergema di ruangan itu. Raditya tidak menggunakan senjata. Ia ingin merasakan setiap hantaman, setiap retakan tulang di bawah kepalan tangannya.
"Tangan ini yang memegangnya tadi siang?" tanya Raditya dingin. Ia mencengkeram tangan kanan pria itu, meletakkannya di atas meja besi.
"A-ampun! Akhhh!"
Krek!
Dengan satu gerakan brutal, Raditya mematahkan pergelangan tangan pria itu ke arah yang berlawanan. Jeritan memilukan memenuhi ruangan, namun Raditya tidak bergeming. Wajahnya tetap datar, seolah ia sedang melakukan tugas rutin yang membosankan.
"Tangan ini yang mencoba menyentuh bahunya? Mencoba menariknya ke dalam kegelapan?" Raditya melanjutkan tindakannya. Satu per satu jari pria itu ia patahkan dengan tekanan yang lambat dan menyiksa.
Aldi dan anak buah yang lain hanya bisa berdiri membeku di sudut ruangan. Mereka sudah sering melihat Raditya yang dingin dan kejam, namun kebrutalan fisik yang dilakukan secara langsung oleh tangan sang CEO adalah pemandangan yang membuat bulu kuduk berdiri. Raditya sedang berubah menjadi iblis demi menebus ketakutan istrinya.
Raditya beralih ke pria kedua. Pria yang tadi mencoba menusuknya dari belakang di gang.
"Mata ini yang melihatnya dengan pandangan menjijikkan itu?" bisik Raditya.
Tanpa peringatan, Raditya mengambil sebuah tang besi dari meja peralatan di sudut ruangan. Ia tidak hanya ingin menyiksa; ia ingin menghapus jejak memori yang mungkin tertinggal di mata para bajingan ini. Suasana menjadi sangat sadis. Raungan meminta tolong berubah menjadi tangisan darah.
"Kalian pikir saya hanya seorang pengusaha yang bermain dengan angka di atas kertas?"
Raditya mencengkeram rahang pimpinan preman itu, memaksa pria yang sudah setengah mati itu menatapnya. "Saya adalah mimpi buruk yang kalian ciptakan sendiri saat kalian memutuskan untuk menyentuh Nadia Hadiwinata."
Pria bertato itu terbatuk, memuntahkan darah dan gigi ke sepatu Raditya. "K-kakeknya... Atmaja... dia yang mulai... kami hanya..."
"Atmaja bukan urusan kalian," potong Raditya. "Urusan kalian adalah dengan saya. Dan di dunia saya, hukumnya sederhana Mata ganti mata, tangan ganti tangan. Tapi untuk Nadia... nyawa kalian pun tidak akan cukup."
Selama hampir dua jam, gudang tua itu menjadi saksi kebiadaban yang tak terperikan. Raditya menghajar mereka hingga mereka tidak lagi menyerupai manusia.
Tangannya sendiri sudah bersimbah darah, buku jarinya lecet dan pecah, namun ia seolah tidak merasakan sakit. Setiap rasa perih di tangannya adalah bayaran untuk setiap tetes air mata Nadia.
Setelah merasa cukup, Raditya berdiri tegak. Ia mengambil handuk bersih yang diberikan Aldi, menyeka darah dari wajah dan tangannya dengan gerakan elegan, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan makan malam mewah.
"Bereskan sisanya," perintah Raditya. Suaranya kembali dingin, tanpa emosi, seolah kemarahan iblis tadi tidak pernah terjadi.
"Jangan tinggalkan jejak. Jangan sampai ada satu berita pun yang keluar ke media. Pastikan mereka menghilang dari peta bumi ini malam ini juga. Buang mereka ke laut dengan pemberat beton."
"Siapa pak," jawab Aldi dengan suara yang sedikit bergetar.
"Satu lagi," Raditya berhenti di ambang pintu, menoleh ke arah Aldi dengan tatapan maut.
"Cari tahu siapa yang memberi mereka informasi tentang rute Nadia hari ini. Jika ada orang dalam di mansion yang berkhianat... bawa mereka ke sini besok malam."
"Baik, Pak."
Raditya keluar dari gudang. Udara malam yang dingin menusuk kulitnya, namun ia merasa hampa. Kemarahannya belum sepenuhnya padam, namun ia tahu ia harus kembali menjadi suami sebelum fajar menyingsing.
Ia mengendarai mobilnya kembali ke mansion. Sesampainya di sana, ia masuk melalui pintu belakang untuk menghindari para pelayan. Ia segera mandi di kamar mandi tamu, menggosok tubuhnya berkali-kali hingga aroma darah dan asap rokok benar-benar hilang, digantikan oleh aroma sabun yang netral.
Pukul empat pagi, ia kembali ke kamar utama.
Nadia masih terlelap. Ia tampak sedikit bergerak, mencari kehangatan. Raditya perlahan merayap naik ke ranjang, menarik Nadia kembali ke dalam pelukannya.
Tangannya yang memar terasa berdenyut, namun saat merasakan napas hangat Nadia di lehernya, denyut itu terasa seperti melodi kemenangan.
Nadia terbangun sedikit, matanya terbuka sayu. "Mas...?"
"Sshhh... ini saya. Tidurlah lagi," bisik Raditya, suaranya kembali lembut, sangat kontras dengan suara iblis di gudang tadi.
"Tangan Mas... bau besi..." gumam Nadia setengah sadar, indra penciumannya yang tajam masih menangkap sisa-sisa tipis aroma logam darah meski Raditya sudah mandi.
Raditya tertegun sejenak, namun ia hanya mengecup puncak kepala istrinya. "Itu hanya bau kunci mobil. Tidurlah, Nadia. Semuanya sudah selesai. Tidak akan ada yang menyakitimu lagi."
Nadia mengeratkan pelukannya, merasa aman sepenuhnya dalam dekapan pria yang baru saja menumpahkan darah demi dirinya. Ia tidak tahu, dan mungkin tidak perlu tahu, bahwa pria yang memeluknya dengan begitu lembut malam ini adalah monster yang paling ditakuti di seluruh kota.
Raditya memejamkan mata, membiarkan kehangatan istrinya membasuh kegelapan di jiwanya, setidaknya sampai matahari terbit kembali.
****
Bersambung
mskpn kaku ky papan,tp trnyta d blakang rmntis bgt....bnr2 udh kna virus bucin akut....
baby udh ga sbr ktmu ortu badas y....
sbr y....