NovelToon NovelToon
Gadis Desa Diremehkan Ternyata Tabib Legendaris

Gadis Desa Diremehkan Ternyata Tabib Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Terdengar suara pisau yang sedang memotong karet pelindung kaca jendela dari luar.

Srettt.

Jendela itu terbuka perlahan tanpa menimbulkan suara decit sedikit pun.

Satu per satu sosok hitam itu melompat masuk ke dalam kamar Astiana.

Tap tap tap.

Mereka bergerak mendekati ranjang yang terlihat menonjol karena guling di balik selimut.

"Tusuk sekarang."

Pemimpin pembunuh itu memberi isyarat tangan pada anak buahnya.

Jleb jleb.

Lima bilah pisau beracun menancap sangat dalam menembus selimut dan kasur tersebut.

Namun mereka langsung terkejut saat pisau mereka hanya mengenai kapas guling yang empuk.

"Sial, dia tidak ada di ranjang."

Suara hati para pembunuh itu langsung dipenuhi kepanikan dan kebingungan.

"Kalian mencari siapa, Tuan-tuan."

Suara datar Astiana tiba-tiba terdengar dari arah sudut gelap di belakang mereka.

Kelima pembunuh itu refleks berbalik dan mengayunkan pisau mereka ke arah suara tersebut.

Namun Astiana sudah bergerak mendahului mereka bagaikan hantu di tengah malam.

Wushhh.

Astiana merendahkan tubuhnya dan menyapu kaki dua pembunuh terdekat dengan tendangan melingkar.

Brak.

Dua orang itu jatuh terlentang menghantam lantai kayu kamar paviliun.

Sebelum mereka bisa bangkit, Astiana melompat dan mendaratkan tumitnya tepat di ulu hati mereka.

Bugh bugh.

Dua pembunuh itu langsung kejang sesaat dan kehilangan kesadaran tanpa sempat berteriak.

Tiga pembunuh lainnya langsung menyerang Astiana secara bersamaan dari tiga arah berbeda.

Mereka sangat terlatih dan tidak panik melihat rekan mereka tumbang dengan cepat.

Syut syut syut.

Bilah pisau membelah udara dalam jarak yang sangat dekat dengan wajah Astiana.

Namun ajaran kakek Astiana tidak pernah gagal membaca arah pergerakan otot lawan.

Astiana memiringkan kepalanya sedikit menghindari tusukan pertama dari arah depan.

Tangan kirinya langsung memelintir pergelangan tangan penusuk itu dengan gerakan kilat.

Krak.

Tulang pergelangan tangan pembunuh ketiga patah hingga pisaunya jatuh ke lantai.

Klotang.

Astiana tidak berhenti di situ, dia menggunakan siku kanannya untuk menghantam wajah pembunuh itu.

Bugh.

Pembunuh ketiga pingsan dengan hidung yang remuk dan darah yang mengalir deras.

Kini tersisa dua orang, termasuk sang pemimpin yang mulai menyadari betapa berbahayanya target mereka.

"Mundur, kita harus melapor ke markas kalau gadis ini bukan manusia biasa."

Suara hati pemimpin itu memerintahkan dirinya sendiri untuk kabur dari misi bunuh diri ini.

Dia berbalik dan berniat melompat keluar dari jendela tempat mereka masuk tadi.

"Bibi Miranda tidak mengajari kalian sopan santun bertamu ya."

Astiana berbisik pelan tepat di telinga pemimpin pembunuh itu.

Grep.

Tangan Astiana mencengkeram kerah belakang baju hitam pria itu dan menariknya dengan sangat kasar.

Pemimpin itu terpelanting ke belakang dan punggungnya menghantam dinding kamar dengan keras.

Bruk.

Pembunuh terakhir yang mencoba menolong pemimpinnya langsung dihentikan oleh Astiana.

Astiana melempar sebuah bantal tebal tepat ke wajah pembunuh terakhir itu.

Saat pandangan pria itu terhalang, Astiana melepaskan satu tendangan lurus ke arah dadanya.

Brak.

Pembunuh terakhir itu terlempar menabrak lemari pakaian hingga pintunya hancur.

Dia langsung pingsan tak sadarkan diri di bawah tumpukan baju-baju Astiana.

Sekarang hanya tersisa pemimpin kelompok yang sedang meringis kesakitan bersandar di dinding.

Astiana berjalan pelan menghampirinya dalam kegelapan yang pekat itu.

Mata Astiana memancarkan aura membunuh yang jauh lebih mengerikan dari para pembunuh bayaran ini.

"Katakan pada Nyonya Besar kalian."

Astiana berjongkok dan menatap lurus ke dalam mata pria yang sedang ketakutan itu.

"Jika dia berani mengirim lalat-lalat bodoh seperti kalian lagi ke rumah ini."

"Aku sendiri yang akan datang memenggal kepalanya dan menggantungnya di depan gerbang mansionnya."

Pesan itu disampaikan dengan nada suara yang sangat tenang namun membekukan aliran darah.

Astiana lalu menekan satu titik saraf mematikan di leher pria itu dengan ujung jarinya.

Puk.

Pemimpin itu langsung tertidur lelap menyusul keempat rekannya yang sudah pingsan lebih dulu.

Astiana berdiri dan membersihkan kedua tangannya yang sama sekali tidak terluka.

Pertarungan brutal itu terjadi dalam diam tanpa membangunkan penjaga keamanan di depan rumah sama sekali.

Dia tidak ingin membuat Kakek Darma dan Raka khawatir jika mengetahui paviliun ini berhasil ditembus.

Astiana menyalakan lampu kamarnya yang remang-remang.

Klik.

Dia melihat lima tubuh berpakaian hitam tergeletak berantakan di lantai kamarnya.

"Tuan Muda Raka pasti akan sangat terkejut melihat sampah-sampah ini besok pagi."

Astiana bergumam pelan sambil tersenyum tipis.

Malam ini dia membuktikan bahwa tidak ada bayangan kematian yang bisa menyentuhnya.

Sebaliknya, dialah bayangan kematian yang sesungguhnya bagi Keluarga Adibrata.

1
Was pray
katanya tempat paling berbahaya adalah tempat paling aman untuk bersembunyi, tapi nyatanya seba si jagal bisa melacak keberadaan astiana di tempat lelang bawah tanah gudang obsidian
Was pray
kalau otaknya waras ya pasti panik lah . Raka gak punya kemampuan beladiri secuilpun...
Was pray
cip nya gak ditukar dengan uang tunai dulu sebelum kabur astiana? cip itu gak laku dijual ..... ya elah dasar penjudi amatir .. ya buang duit sia2..... capek deh. ..
Was pray
kok main kartunya cuma kartu yg dibagikan bandar doang untuk menentukan jumlah angka nya? terus kelihaian bermain kartunya di mana nih?
Was pray: emang benar astiana bisa mendengar pikiran bandar. .biasanya kartu pertama dibagikan kan dua , pemain nambah satu kartu, jika angkanya lebih besar dari bandar dia menang.
total 2 replies
Was pray
tindakan tanpa perhitungan mu menyeret keluarga kakek darma dalam konflik yg membahayakan keselamatan seluruh keluarga kakek darma jasa mengobati kakek darma bukan menyelamatkan tapi menunda kematian. tiada guna pertolonganmu astiana. karena dihatimu terselip niat terselubung yg resikonya lebih berat
Was pray
kamu masuk kawasan be💪bahaya tanpa memahami dulur jalur evakuasi yg aman dulu astiana, kamu dari awal terlalu banyak merepotkan keluarga darma, jasa kamu mengobati kakek Darna dijadikan pijakan untuk menyelesaikan urusan pribadimu. kamu seorang tabib tapi jiwa mu bukan penyembuh dan penolong, tapi penodong , kamu memang tidak langsung minta imbalan harta. tapi menodong kesetiaan
Was pray
ngapainn membocorkan identitasmu pada tuan Kusuma sih astiana? kan itu beresiko buat keluarga darma... jamu gak berbakat jadi agen rahasia/ intelijen. kemampuanotakmu gak memenuhi syarat
Was pray
yeee ... jangan samakan kita metropolitan dengan kampung di puncak gunung yg primitif astiana... makanya punya HP gunakan untuk update pengetahuan bukan cuma buat ngisi kantong bututmu.... biar kuoeng... 🤣
Was pray: kampung it's oke.... tapi jangan sampai rampungan... malu maluin orang asal pedesaan .
total 4 replies
kiyoe
okeii Kaka terima kasih yaaa 🥰
Diana Lely
lanjut thor...makin rame aja...
Was pray
ternyata astiana benar-benar bodoh... seharusnya jam tangan bima jangan dia yang ambil .. bisa minta agar Raka yg mengambil jam itu dari semak2, kalau jam itu ditangan astiana ya otomatis menjadi bukti bahwa astiana benar2 mencuri .. dan bima juga tolol, udah jelas barang bukti ada ditangan astiana seharusnya itu jadi bukti kalau tuduhan mencuri itu benar..ha... ga... ga.... alur ceritanya jadi aneh.
Was pray
buat masalah tapi gak becus menyelesaikan masalah yg ditimbulkannya, idan menyeret orang lain dalam lingkaran permasalahan itu ciri-ciri pengecat
Was pray
hatimu penuh empati tapi otakmu tebal astiana
Was pray
astiana terlalu berani apa bodoh sih sebenarnyar? keberanian tanpa berpikir panjang bukan menyelesaikan masalah , tapi memicu permasalahan yg lebih besar resikonya, tujuan utama dikesampingkan cuma gara sok bijak dengan ikut campur urusan yg bukan urusannya
Was pray
emang burung elangnya terbuat dari karet?, kok bisa melilit ? kecuali kalau burung elang ya lagi lapar ... terus perut elang melilit .. karena perut si elang lapar. .🤭🤭🤣
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
rasakan, akhirnya tempat kasino itu hancur 🤣

selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣
Anisa
gila² thor😄
kiyoe: Hehehe 🤭
total 1 replies
Was pray
jakarta jadi surga buat orang kaya, tapi neraka bagi orang miskin
kiyoe: heheheh iyaa bener Kak
total 3 replies
Was pray
hati manusia bisa sekeras baja jika privasinya terusik, tapi bisa jadi selembut salju jika hatinya tersentuh oleh hutang Budi / nyawa
kiyoe: iyaa bener kak 🤭
total 1 replies
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
Astiana yang menyamar, tapi, aku malah ikut deg degan /Scream/
kiyoe: wkwkw tembak tembak dor dor dor
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!