Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Terdengar suara pisau yang sedang memotong karet pelindung kaca jendela dari luar.
Srettt.
Jendela itu terbuka perlahan tanpa menimbulkan suara decit sedikit pun.
Satu per satu sosok hitam itu melompat masuk ke dalam kamar Astiana.
Tap tap tap.
Mereka bergerak mendekati ranjang yang terlihat menonjol karena guling di balik selimut.
"Tusuk sekarang."
Pemimpin pembunuh itu memberi isyarat tangan pada anak buahnya.
Jleb jleb.
Lima bilah pisau beracun menancap sangat dalam menembus selimut dan kasur tersebut.
Namun mereka langsung terkejut saat pisau mereka hanya mengenai kapas guling yang empuk.
"Sial, dia tidak ada di ranjang."
Suara hati para pembunuh itu langsung dipenuhi kepanikan dan kebingungan.
"Kalian mencari siapa, Tuan-tuan."
Suara datar Astiana tiba-tiba terdengar dari arah sudut gelap di belakang mereka.
Kelima pembunuh itu refleks berbalik dan mengayunkan pisau mereka ke arah suara tersebut.
Namun Astiana sudah bergerak mendahului mereka bagaikan hantu di tengah malam.
Wushhh.
Astiana merendahkan tubuhnya dan menyapu kaki dua pembunuh terdekat dengan tendangan melingkar.
Brak.
Dua orang itu jatuh terlentang menghantam lantai kayu kamar paviliun.
Sebelum mereka bisa bangkit, Astiana melompat dan mendaratkan tumitnya tepat di ulu hati mereka.
Bugh bugh.
Dua pembunuh itu langsung kejang sesaat dan kehilangan kesadaran tanpa sempat berteriak.
Tiga pembunuh lainnya langsung menyerang Astiana secara bersamaan dari tiga arah berbeda.
Mereka sangat terlatih dan tidak panik melihat rekan mereka tumbang dengan cepat.
Syut syut syut.
Bilah pisau membelah udara dalam jarak yang sangat dekat dengan wajah Astiana.
Namun ajaran kakek Astiana tidak pernah gagal membaca arah pergerakan otot lawan.
Astiana memiringkan kepalanya sedikit menghindari tusukan pertama dari arah depan.
Tangan kirinya langsung memelintir pergelangan tangan penusuk itu dengan gerakan kilat.
Krak.
Tulang pergelangan tangan pembunuh ketiga patah hingga pisaunya jatuh ke lantai.
Klotang.
Astiana tidak berhenti di situ, dia menggunakan siku kanannya untuk menghantam wajah pembunuh itu.
Bugh.
Pembunuh ketiga pingsan dengan hidung yang remuk dan darah yang mengalir deras.
Kini tersisa dua orang, termasuk sang pemimpin yang mulai menyadari betapa berbahayanya target mereka.
"Mundur, kita harus melapor ke markas kalau gadis ini bukan manusia biasa."
Suara hati pemimpin itu memerintahkan dirinya sendiri untuk kabur dari misi bunuh diri ini.
Dia berbalik dan berniat melompat keluar dari jendela tempat mereka masuk tadi.
"Bibi Miranda tidak mengajari kalian sopan santun bertamu ya."
Astiana berbisik pelan tepat di telinga pemimpin pembunuh itu.
Grep.
Tangan Astiana mencengkeram kerah belakang baju hitam pria itu dan menariknya dengan sangat kasar.
Pemimpin itu terpelanting ke belakang dan punggungnya menghantam dinding kamar dengan keras.
Bruk.
Pembunuh terakhir yang mencoba menolong pemimpinnya langsung dihentikan oleh Astiana.
Astiana melempar sebuah bantal tebal tepat ke wajah pembunuh terakhir itu.
Saat pandangan pria itu terhalang, Astiana melepaskan satu tendangan lurus ke arah dadanya.
Brak.
Pembunuh terakhir itu terlempar menabrak lemari pakaian hingga pintunya hancur.
Dia langsung pingsan tak sadarkan diri di bawah tumpukan baju-baju Astiana.
Sekarang hanya tersisa pemimpin kelompok yang sedang meringis kesakitan bersandar di dinding.
Astiana berjalan pelan menghampirinya dalam kegelapan yang pekat itu.
Mata Astiana memancarkan aura membunuh yang jauh lebih mengerikan dari para pembunuh bayaran ini.
"Katakan pada Nyonya Besar kalian."
Astiana berjongkok dan menatap lurus ke dalam mata pria yang sedang ketakutan itu.
"Jika dia berani mengirim lalat-lalat bodoh seperti kalian lagi ke rumah ini."
"Aku sendiri yang akan datang memenggal kepalanya dan menggantungnya di depan gerbang mansionnya."
Pesan itu disampaikan dengan nada suara yang sangat tenang namun membekukan aliran darah.
Astiana lalu menekan satu titik saraf mematikan di leher pria itu dengan ujung jarinya.
Puk.
Pemimpin itu langsung tertidur lelap menyusul keempat rekannya yang sudah pingsan lebih dulu.
Astiana berdiri dan membersihkan kedua tangannya yang sama sekali tidak terluka.
Pertarungan brutal itu terjadi dalam diam tanpa membangunkan penjaga keamanan di depan rumah sama sekali.
Dia tidak ingin membuat Kakek Darma dan Raka khawatir jika mengetahui paviliun ini berhasil ditembus.
Astiana menyalakan lampu kamarnya yang remang-remang.
Klik.
Dia melihat lima tubuh berpakaian hitam tergeletak berantakan di lantai kamarnya.
"Tuan Muda Raka pasti akan sangat terkejut melihat sampah-sampah ini besok pagi."
Astiana bergumam pelan sambil tersenyum tipis.
Malam ini dia membuktikan bahwa tidak ada bayangan kematian yang bisa menyentuhnya.
Sebaliknya, dialah bayangan kematian yang sesungguhnya bagi Keluarga Adibrata.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣