Terlahir kembali usai tewas disiksa, Aira bertekad membalas dendam pada Azka dan keluarganya. Ia bangkit merebut tahta, menggagalkan pengkhianatan, dan membuka hati untuk paman Azka, Rizky.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10. DUA MINGGU DALAM SANGKAR
Berbeda total dibanding saat persiapan acara pertunangan yang terkesan acuh, dingin, dan lepas tangan, kali ini Azka menunjukkan performa yang sangat luar biasa gila.
Selama dua minggu terakhir, pria itu mendadak menjelma menjadi calon suami impian yang hampir sempurna. Azka terlibat sangat aktif dalam setiap jengkal detail persiapan pernikahan kilat mereka—mulai dari pemilihan konsep busana, lokasi resepsi bintang lima, hingga urusan katering mewah bernilai miliaran rupiah.
Di hadapan Nenek Dina dan jajaran sesepuh klan Gunawan, Azka memainkan perannya dengan sangat lihai dan tak tertandingi. Pria itu selalu datang memandah, bersikap santun, membawakan buah tangan, dan memamerkan binar mata penuh kasih sayang setiap kali menatap Aira. Bagi orang luar yang menyaksikan, Azka tampak seperti pria yang begitu dimabuk cinta dan bertobat dari kesalahan masa lalunya.
Aira menikmati seluruh pertunjukan sinetron menjijikkan yang dipamerkan Azka dan keluarganya. Ia membiarkan Azka membual tinggi di depan media, tersenyum manis saat disanjung di hadapan keluarga besar, dan mengikuti alur busuk yang dirancang keluarga cabang tanpa ada perlawanan sedikit pun.
Bagi Aira yang membawa ingatan kelam dari kehidupan sebelumnya, semakin tinggi Azka dan Rani dibiarkan melambung dalam ilusi kemenangan manis ini, semakin hancur, bernanah, dan mengenaskan pula saat mereka dihempaskan ke dasar jurang kelak. Balas dendam atas nyawa dan penderitaannya di masa lalu harus tuntas hingga ke akar-akarnya tanpa ada yang tersisa.
Namun di balik kelancaran skenario balasan yang ia susun dengan rapi, ada satu celah dingin yang terus-menerus mengganjal dan mengusik ketenangan benak Aira: Paman Rizky.
Sejak hari pertemuan menegangkan di kediaman utama dua minggu lalu—saat Aira melempar ide pernikahan kilat yang membuat pria itu murka—Rizky bagaikan hilang ditelan bumi. Pria berkuasa itu secara terang-terangan dan konsisten menghindarinya dari segala rute kehidupan.
Puluhan pesan singkat yang dikirimkan Aira sama sekali tidak pernah dibalas, panggilan teleponnya dibiarkan berdering panjang hingga mati berulang kali, dan ketika Aira nekat mendatangi kantor pusat klan Gunawan pada minggu pertama, sekretaris pribadi Rizky hanya menyampaikan permohonan maaf dengan raut wajah kaku bahwa Tuan Rizky sedang sangat sibuk dan tidak menerima tamu tanpa janji temu resmi.
Bahkan di saat Aira sengaja menunggu di area parkir eksekutif hingga malam menjelang, mobil sedan hitam milik Rizky berlalu begitu saja melewati tubuhnya tanpa henti sedikit pun.
Aira menghela napas panjang, menatap bayangan dirinya di balik kaca jendela. Biarlah, batinnya berulang kali menenangkan gejolak di dadanya yang mulai riuh. Fokus utamanya detik ini adalah menuntaskan eksekusi mati untuk Azka, Tante Mia, dan Rani.
Setelah seluruh sampah yang menodai hidupnya disingkirkan dan dibakar habis hingga tak bersisa, barulah ia bisa menghadapi, menjelaskan segalanya, dan mengejar Rizky dengan ketenangan jiwa yang utuh.
Hari ini, tepat seminggu menjelang hari H pernikahan, Aira dan Azka dijadwalkan berada di sebuah boutique gaun pengantin eksklusif di kawasan elite Jakarta untuk proses pengukuran dan pemantauan akhir.
Tante Sofi dan Rani ikut hadir dengan dalih mendampingi, meski tatapan mata Rani tak pernah berhenti memancarkan dengki saat melihat jajaran gaun pengantin mewah berhias kristal yang disiapkan khusus untuk Aira.
Saat pintu ruang ganti bergeser pelan, Aira melangkah keluar. Ia mengenakan gaun pengantin putih berbahan sutra Italia dengan potongan off-shoulder yang amat anggun, memperlihatkan jenjang leher dan kulit mulusnya yang seputih porselen.
Penampilannya begitu memesona, memancarkan aura seorang ratu yang tak bercelah.
Tepat di saat yang bersamaan, pintu kaca utama boutique berbunyi denting halus saat terbuka dari luar.
Suasana di dalam ruangan berpendingin udara itu seketika berubah menjadi mendingin, berat, dan sarat akan intimidasi yang pekat. Sosok tegap berselimut jas hitam berpotongan sempurna melangkah masuk didampingi oleh dua orang pengawal pribadi berpakaian serba gelap. Paman Rizky. Pria itu menghentikan langkah kakinya sejenak di ambang pintu.
Sepasang mata elangnya yang pekat, tajam, dan dingin bagaikan belati langsung terkunci pada sosok Aira yang berdiri menawan di tengah ruangan dalam balutan gaun pengantin putih.
Aira menahan napasnya seketika. Dadanya berdesir hebat. Kerinduan yang menumpuk selama dua minggu dan rasa bersalah yang teramat dalam berkecamuk hebat saat matanya bertabrakan langsung dengan tatapan dingin nan asing milik pria itu.
Namun sebelum Aira sempat mengikis jarak atau sekadar membuka bibirnya untuk menyapa, Azka yang menyadari kehadiran paman mudanya seketika menyunggingkan senyum kemenangan yang penuh provokasi. Azka merasa di atas angin, mengira posisinya kini telah direstui sepenuhnya dan berada di atas Aira.
Dengan pergerakan yang sangat cepat dan terencana, Azka meraih jemari lentik Aira lalu menggenggamnya erat-erat. Tak berhenti di situ, Azka memajukan tubuhnya dan secara sengaja mendaratkan sebuah ciuman yang dalam, lama, dan hangat di punggung lengan Aira yang terbuka—tepat di bawah garis pandang mata Rizky yang sedang berdiri membeku!
"Gaun ini benar-benar sangat sempurna dan cantik untuk calon istriku, Sayang," puji Azka dengan suara yang disengaja mengeraskan volume intonasinya agar bergema jelas ke seluruh sudut boutique.
Aira menghempaskan dan menarik tangannya secara refleks dengan rasa jijik yang luar biasa mendalam hingga kulitnya terasa panas geli, namun segalanya sudah terlambat.
Rizky telah menyaksikan seluruh adegan intim dan provokatif itu dari tempatnya berdiri.
Sepasang mata elang milik pria itu berkilat menajam dengan amarah yang teramat pekat, rahang tegasnya mengeras kaku hingga urat-urat di sepanjang leher dan pelipisnya menonjol tegang. Aura membunuh yang amat tebal dan mematikan menguar dahsyat dari tubuh tegapnya, membuat para staf boutique di sekitar mereka mendadak gemetar ketakutan tanpa tahu apa yang terjadi.
Tanpa menyapa, tanpa melirik kembali, dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rizky memutar tubuhnya dengan sangat kasar. Langkah kakinya yang lebar dan cepat
membawa tubuh tegap itu melangkah keluar dari boutique, membiarkan pintu kaca tertutup berdentam keras di belakangnya. Rizky menghilang ke dalam mobil mewahnya yang langsung melaju membelah jalanan, meninggalkan atmosfer dingin membekukan yang menyisakan kepedihan menusuk dan sesak yang tak kasat mata di dalam dada Aira.